• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Etnisitas Responden dengan Respon Nelayan Terhadap Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Buleleng Barat

Hubungan Etnisitas Responden dengan Respon Nelayan Mengenai Sistem Zonasi

Hubungan antara kedua variabel diuji menggunakan perangkat lunak SPSS 20 for Windows melalui uji Chi-Square. Data yang didapat mengenai respon nelayan terhadap sistem zonasi ditotalkan, dikelaskan dan diintervalkan menjadi dua kelas, yaitu respon positif dan respon negatif. Kemudian variabel etnisitas dikodekan berdasarkan nominal menjadi etnis Bali dan non Bali. Tabel 20 menunjukkan bahwa responden yang beragama Hindu tidak memberikan respon negatif, sedangkan responden yang beretnis non Bali memiliki respon negatif sebesar 100 persen. Hal ini dikarenakan responden yang beretnis non Bali tidak ikut serta dalam pembuatan zonasi yang dibuat oleh masyarakat adat. Selain itu, mereka juga tidak mengetahui peta zonasi yang telah dibuat oleh masyarakat adat.

Tabel 20 juga menunjukkan bahwa respon positif mengenai sistem zonasi sebesar 88.2 persen diberikan oleh responden beretnis Bali, sedangkan respon yangdiberikan masyarakat beretnis non Bali adalah sebesar 11.8. Masyarakat non Bali yang mererespon positif adanya zonasi tidak terlalu mempermasalahkan peta zonasi yang telah dibuat. Hal yang menjadi penting bagi mereka adalah wilayah tangkapan mereka yang tidak diganggu dengan adanya penetapan zonasi berdasarkan hukum adat yang berlaku.

Tabel 20 Jumlah dan persentase responden menurut etnisitas responden dengan sistem zonasi

No Etnisitas responden

Respon nelayan mengenai sistem zonasi Negatif Positif Jumlah

∑ % ∑ % ∑ %

1. Non Bali 6 100.0 4 11.8 10 25.0

2. Bali 0 0.0 30 88.2 30 75.0

Jumlah 6 100.0 34 100.0 40 100.0

Hubungan antara agama responden dengan sistem zonasi diuji dan didapatkan nilai Sig 0.001. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara variabel etnisitas responden dengan respon mengenai sistem zonasi, maka H1 dierima dan H0 ditolak. Hal ini disebabkan pembuatan zonasi di wilayah Kawasan Konservasi Perairan hanya mengikutsertakan masyarakat beretnis Bali. Hal ini menyebabkan masyarakat non Bali tidak memiliki hak untuk ikut serta dalam menyalurkan pendapat sebagai seorang nelayan di Desa Pemuteran. Masyarakat non Bali hanya bisa menerima keputusan yang telah dibuat sesuai aturan adat.

48

Hubungan Etnisitas Responden dengan Respon Nelayan Mengenai Aturan Awig-Awig

Awig-awig yang dibuat Tabel 21 menunjukkan bahwa responden yang beretnis Bali memiliki respon negatif sebesar 41.7 persen mengenai aturan awig-awig, sedangkan responden yang beretnis non Bali memiliki respon negatif sebesar 58.3. Respon negatif yang diberikan oleh responden beretnis non Bali ini dipengaruhi karena responden tidak diikutsertakan dalam pembuatan awig-awig. Tabel 21 juga menunjukkan bahwa respon positif mengenai aturan awig-awig

sebesar 83.3 persen diberikan oleh responden beragama Bali, sedangkan responden beretnis non Bali memberikan respon sebesar 10.7 persen. Hal ini dikarenakan aturan yang telah dibuat memberikan dampak yang positif bagi responden yang beretnis Bali yaitu memberikan rasa aman dari pihak-pihak yang memiliki potensi untuk merusak kelestarian kawasan tersebut. Walaupun masyarakat non Bali tidak diikutsertakan dalam pembuatan awig-awig, namun mereka menerima atas semua aturan yang telah dibuat berdasarkan aturan adat setempat selama tidak menganggu kepercayaan yang mereka miliki.

Tabel 21 Jumlah dan persentase responden menurut etnisitas responden dengan aturan awig-awig

No Etnisitas responden

Respon nelayan mengenai aturan awig-awig

Negatif Positif Jumlah ∑ % ∑ % ∑ %

1 Non Bali 7 58.3 3 10.7 10 25.0

2 Bali 5 41.7 25 83.3 30 75.0

Jumlah 12 100.0 28 100.0 40 100.0

Hubungan antara etnisitas responden dengan aturan awig-awig diuji dan didapatkan nilai Sig 0.01. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara variabel etnisitas responden dengan respon mengenai aturan awig-awig, maka H1 diterima dan H0 ditolak. Hal ini disebabkan oleh pembuatan awig-awig yang dibuat oleh masyarakat adat disesuaikan dengan aturan adat yang baeraku dan responden non Bali tidak diikutsertakan dalam pembuatannya.

Hubungan Etnisitas Responden dengan Respon Nelayan Mengenai Hak Pengelolaan KKP

Tabel 22 menunjukkan bahwa responden yang beretnis Bali memiliki respon negatif sebesar 20 persen mengenai hak pengelolaan KKP, sedangkan responden yang beretnis non Bali memiliki respon negatif sebesar 80 persen. Halini disebabkan responden non Bali merasa tidak diberikan hak untuk ikut menetukan aturan dalam mengelola KKP. Tabel 22 juga menunjukkan bahwa respon positif mengenai hak pengelolaan KKP sebesar 82.9 persen diberikan oleh responden beretnis Bali, sedangkan responden non Bali merespon sebesar 17.1 persen. Hal ini disebabkan oleh responden yang beretnis Bali memiliki hak pengelolaan yang lebih besar dibandingkan dengan responden yang beretnis non Bali. Perbedaan tersebut

49 dikarenakan dalam pembuatan aturan mengenai pengelolaan kawasan konservasi hanya melibatkan responden beretnis Bali.

Tabel 22 Jumlah dan persentase responden menurut etnisitas responden dengan hak pengelolaan KKP

No Etnisitas responden

Respon nelayan mengenai hak pengelolaan

Negatif Positif Jumlah

∑ % ∑ % ∑ %

1 Non Bali 4 80.0 6 17.1 10 25.0

2 Bali 1 20.0 29 82.9 30 75.0

Jumlah 5 100.0 35 100.0 40 100.0

Hubungan antara agama responden dengan hak pengelolaan KKP diuji dan didapatkan nilai Sig 0.02 .Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara variabel etnisitas responden dengan respon mengenai hak pengelolaan, maka H1 diterima dan H0 ditolak. Hal ini disebabkan dalam membuat aturan pengelolaan KKP, masyarakat non Bali tidak diikutsertakan, sehingga aturan yang dibuat pun mnegacu pada kepercayaan agama Hindu. Masyarakat non Bali tidak memiliki hak untuk ikut serta menentukan aturan main yang dibuat untuk mengelola KKP Buleleng Barat.

Hubungan Etnisitas Responden dengan Respon Nelayan Mengenai Sistem Pengambilan Keputusan

Tabel 23 menunjukkan bahwa responden yang beretnis Bali memiliki respon negatif sebesar 20 persen mengenai sistem pengambilan keputusan, sedangkan responden yang beretnis non Bali memiliki respon negatif sebesar 80 persen. Hal ini disebabkan dalam sistempengambilan keputusan diserahkan kepada masyarakat adat, sehingga masyarakat non Bali hanya memberikan masukan atau pendapat saja tanpa ikut musyawarah secara adat. Tabel 23 juga menunjukkan bahwa respon positif mengenai sistem pengambilan keputusan sebesar 17.1 persen diberikan oleh responden beretnis non Bali, sedangkan responden yang beretnis Bali merespon sebesar 82.9 persen. Responden yang beretnis Bali lainnya yang memberikan respon negatif karena merasa pengambilan keputusan lebih banyak dilakukan oleh masyarakat adat. Faktor lainnya adalah masyarakat merasa bahwa keputusan sering diputuskan oleh masyarakat tanpa musyawarah dengan pemerintah. Hal ini dikarenakan pemerintah yang sudah memberikan kepercayaan bagi masyrakat Desa Pemuteran, namun masyarakat sendiri merasa bahwa masih perlu mengikutsertakan pemerintah untuk mengambil keputusan dalam mengelola KKP Buleleng.

50

Tabel 23 Jumlah dan persentase responden menurut etnisitas responden dengan sistem pengambilan keputusan

No Etnisitas responden

Respon nelayan mengenai sistem pengambilan keputusan

Negatif Positif Jumlah

∑ % ∑ % ∑ %

1 Non Bali 4 80.0 6 17.1 10 25.0

2 Bali 1 20.0 29 82.9 30 75.0

Jumlah 5 100.0 35 100.0 40 100.0

Hubungan antara etnisitas responden dengan sistem pengambilan keputusan diuji dan didapatkan nilai Sig 0.02. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara variabel etnisitas responden dengan respon mengenai sistem pengambilan keputusan, maka H1 diterima dan H0 ditolak. Hal ini dikarenakan dalam pengambilan keputusan hanya mengikutsertakan masyarakat yang beretnis Bali, sehingga masyarakat non Bali tidak ikut dalam musyawarah pengambilan keputusan.

Hubungan Etnisitas Responden dengan Respon Nelayan Mengenai Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan KKP

Tabel 24 menunjukkan bahwa responden yang beretnis Bali memiliki respon negatif sebesar 25 persen mengenai monitoring dan evaluasi pelaksanaan, sedangkan responden yang beretnis non Bali memiliki respon negatif sebesar 75 persen. Hal ini disebabkan masyarakat non Bali merasa bahwa monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh pecalang segara dan masyarakat adat. Tabel 24 juga menunjukkan sebesar 80.6 persen responden beretnis Bali merespon positif dan sebesar 19.4 persen responden non Bali merepon negatif. Hal ini dikarenakan walaupun dilakukan oleh pecalang segara dan masyarakat adat, namun dalam pengawasannya nelayan yang beretnis non Bali pun ikut dalam mengawasi KKP. Tabel 24 Jumlah dan persentase responden menurut etnisitas responden dengan

monitoring dan evaluasi pengelolaan KKP No Etnisitas

responden

Respon nelayan mengenai monitoring dan evaluasi pengelolaan KKP

Negatif Positif Jumlah

∑ % ∑ % ∑ %

1 Non Bali 3 75.0 7 19.4 10 25.0

2 Bali 1 25.0 29 80.6 30 75.0

Jumlah 4 100.0 36 100.0 40 100.0

Hasil ini diuji dan didapatkan nilai Sig 0.015. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara variabel etnisitas responden dengan respon mengenai monitoring dan evaluasi, maka H1 diterima dan H0 ditolak. Hal ini dikarenakan monitoring dan evaluasi yang dilakukan biasanya hanya mengikutsertakan masyarakat beretnis Bali. Evaluasi biasnya dilakukan berbarengan dengan

51 perkumpulan rutin adat desa Pakraman, sehingga responden beretnis non bali tidak bisa ikut dalam rapat evaluasi tersebut.

Hubungan Alternatif Pekerjaan Responden dengan Respon Nelayan Terhadap Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Buleleng Barat Hubungan Alternatif Pekerjaan Responden dengan Respon Nelayan Mengenai Sistem Zonasi

Hubungan antara kedua variabel diuji menggunakan perangkat lunak SPSS 20 for Windows melalui uji Rank Spearman. Data yang didapat mengenai respon nelayan terhadap sistem zonasi ditotalkan, dikelaskan dan diintervalkan menjadi dua kelas, yaitu respon positif dan respon negatif. Kemudian variabel alternatif dikodekan berdasarkan tingkatan (ordinal) menjadi resonden yang memiliki alternatif pekerjaan dan yang tidak memiliki alternatif pekerjaan. Tabel 25 menunjukkan bahwa responden yang memiliki alternatif pekerjaan memiliki respon negatif sebesar 33.3 persen mengenai sistem zonasi, sedangkan responden yang tidak memiliki alternatif pekerjaan memberikan respon negatif sebesar 66.7 persen. Tabel 25 menunjukkan bahwa respon positif mengenai sistem zonasi sebesar 82.4 persen diberikan oleh responden yang tidak memiliki alternatif pekerjaan. Jumlah ini menunjukkan bahwa responden yang memiliki alternatif pekerjaan tidak merasa bahwa sistem zonasi tidak menghalangi daerah tangkapan ikannya. Pekerjaan yang dimiliki oleh mereka hanyalah menangkap ikan, sehingga dengan adanya kejelasan zona tangkap ikan ini membuat mereka tidak khawatir akan kehilangan daerah tangkap mereka.

Tabel 25 Jumlah dan persentase responden menurut alternatif pekerjaan responden dengan sistem zonasi

No

Alternatif pekerjaan responden

Respon nelayan mengenai sistem zonasi

Negatif Positif Jumlah

∑ % ∑ % ∑ %

1 Memiliki 2 33.3 6 17.6 8 20.0

2 Tidak memiliki 4 66.7 28 82.4 32 80.0

Jumlah 6 100.0 34 100.0 40 100.0

Hubungan antara alternatif pekerjaan responden dengan sistem zonasi diuji dan didapatkan nilai korelasi sebesar -1.4 dengan siginfikan sebesar 0.4. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara variabel alternatif pekerjaan yang dimiliki responden dengan respon mengenai sistem zonasi, maka H1 ditolak dan H0 diterima. Hal ini dikarenakan sistem zonasi dibuat untuk memberikan kejelasan daerah tangkap bagi nelayan, bukan hanya nelayan yang memiliki alternatif pekerjaan saja, melainkan juga nelayan yang hanya menggantungkan hidupnya dari menangkap ikan.

Hubungan Alternatif Pekerjaan Responden dengan Respon Nelayan Mengenai Aturan Awig-Awig

Tabel 26 menunjukkan bahwa responden yang memiliki alternatif pekerjaan memiliki respon negatif sebesar 33.3 persen mengenai aturan awig-awig,

52

sedangkan responden yang tidak memiliki alternatif pekerjaan memberikan respon negatif sebesar 66.7 persen. Selain itu juga, Tabel 26 menunjukkan bahwa respon positif mengenai aturan awig-awig sebesar 82.4 persen diberikan oleh responden yang tidak memiliki alternatif pekerjaan. Hal ini dikarenakan responden yang tidak memiliki alternatif pekerjaan merasa bahwa aturan awig-awig dibuat untuk menjaga kelestarian biota laut yang ada. Ketergantungan akan laut lebih dimiliki oleh responden yang tidak memiliki alternatif pekerjaan karena mereka tidak memiliki pekerjaan lain untuk diandalkan ketika laut itu rusak akibat pihak yang tidak bertanggung jawab.

Tabel 26 Jumlah dan persentase responden menurut alternatif pekerjaan responden dengan aturan awig-awig

No

Alternatif pekerjaan responden

Respon nelayan mengenai aturan awig-awig

Negatif Positif Jumlah

∑ % ∑ % ∑ %

1 Memiliki 2 33.3 6 17.6 8 20.0

2 Tidak memiliki 4 66.7 28 82.4 32 80.0

Jumlah 6 100.0 34 100.0 40 100.0

Hubungan antara alternatif pekerjaan responden dengan aturan awig-awig

diuji dan didapatkan nilai korelasi sebesar 0.5 dengan siginfikan sebesar 0.7. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara variabel alternatif pekerjaan yang dimiliki responden dengan respon mengenai aturan awig-awig, maka H1 ditolak dan H0 diterima. Hal ini dikarenakan responden yang memiliki ataupun tidak memiliki alternatif pekerjaan menganggap bahwa dengan adanya aturan awig-awig tidak memberikan dampak yang berarti bagi jumlah penghasilan mereka. Alternatif yang dimiliki oleh nelayan merupakan alternatif pekerjaan ketika tangkapan ikan mereka menurun akibat musim bukan karena suatu hal yang melanggar aturan awig-awig, misalnya pengeboman.

Hubungan Alternatif Pekerjaan Responden dengan Respon Nelayan Mengenai Sanksi

Tabel 27 menunjukkan bahwa responden yang tidak memiliki alternatif pekerjaan memberikan respon negatif sebesar 100 persen. Tabel 27 menunjukkan bahwa respon positif mengenai sanksi sebesar 78 persen diberikan oleh responden yang memiliki alternatif pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa responden yang tidak memiliki alternatif pekerjaan mendukung adanya sanksi yang diberikan sesuai dengan aturan awig-awig yang telah dibuat. Adanya sanksi ini diharapkan mampu menjaga kelestarian wilayah KKP, sehingga tidak mengganggu hasil tangkapan ikan mereka.

53 Tabel 27 Jumlah dan persentase responden menurut alternatif pekerjaan responden

dengan sanksi No

Alternatif pekerjaan responden

Respon nelayan mengenai sanksi

Negatif Positif Jumlah

∑ % ∑ % ∑ %

1 Memiliki 0 0.0 8 22.0 8 20.0

2 Tidak memiliki 4 100.0 28 78.0 32 80.0

Jumlah 4 10.00 36 100.0 40 100.0

Hubungan antara alternatif pekerjaan responden dengan sanksi diuji dan didapatkan nilai korelasi sebesar 0.17 dengan siginfikan sebesar 0.3. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara variabel alternatif pekerjaan yang dimiliki responden dengan respon mengenai sanksi, maka H1 ditolak dan H0 diterima. Hal ini dikarenakan keberadaan sanksi bukan menjadi alasan untuk mencari alternatif pekerjaan.

Hubungan Alternatif Pekerjaan Responden dengan Respon Nelayan Mengenai Hak Pengelolaan KKP

Tabel 28 menunjukkan bahwa responden yang memiliki alternatif pekerjaan memiliki respon negatif sebesar 60 persen mengenai hak pengelolaan KKP, sedangkan responden yang tidak memiliki alternatif pekerjaan memberikan respon negatif sebesar 40 persen. Tabel 28 menunjukkan bahwa respon positif mengenai hak pengelolaan KKP sebesar 14.3 persen diberikan oleh responden yang memiliki alternatif pekerjaan. Hal ini dikarenakan responden yang memiliki alternatif pekerjaan menjadi jarang melakukan aktivitas di wilayah KKP, sehingga mereka juga jarang ikut serta dalam pengelolaan KKP.

Tabel 28 Jumlah dan persentase responden menurut alternatif pekerjaan responden dengan hak pengelolaan KKP

No

Alternatif pekerjaan responden

Respon nelayan mengenai hak pengelolaan KKP

Negatif Positif Jumlah

∑ % ∑ % ∑ %

1 Memiliki 3 60.0 5 14.3 8 20.0

2 Tidak memiliki 2 40.0 30 85.7 32 80.0

Jumlah 5 100.0 35 100.0 40 100.0

Hubungan antara alternatif pekerjaan responden dengan hak pengelolaan KKP diuji dan didapatkan nilai korelasi sebesar 0.02 dengan siginfikan sebesar -0.378. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara variabel alternatif pekerjaan yang dimiliki responden dengan respon mengenai hak pengelolaan KKP, maka H1 diterima dan H0 ditolak. Hal ini dikarenakan keikutsertaan responden yang memiliki alternatif pekerjaan dalam mengelola KKP dirasa jarang. Kesibukan bekerja di tempat lain membuat mereka jarang ikut dalam perkumpulan yang dilakukan untuk membahas pengelolaan KKP. Selain itu juga, mereka juga jarang terlibat langsung untuk mengelola KKP secara langsung.

54

Hubungan Alternatif Pekerjaan Responden dengan Respon Nelayan Mengenai Sistem Pengambilan Keputusan

Tabel 29 menunjukkan bahwa responden yang memiliki alternatif pekerjaan memiliki respon negatif sebesar 20 persen mengenai sistem pengambilan keputusan, sedangkan responden yang tidak memiliki alternatif pekerjaan memberikan respon negatif sebesar 80 persen. Tabel 29 menunjukkan bahwa respon positif mengenai sistem pengambilan keputusan sebesar 80 persen diberikan oleh responden yang tidak memiliki alternatif pekerjaan. Hal ini dikarenakan responden yang memiliki alternatif pekerjaan lebih bersikap menyerahkan segala keputusan yang akan diambil oleh masyarakat. Sikap ini juga dipengaruhi karena mereka juga jarang ikut serta dalam rapat, sehingga dalam hal ini responden yang tidak memiliki alternatif pekerjaan lebih sering ikut terlibat dalam pengambilan keputusan.

Tabel 29 Jumlah dan persentase responden menurut alternatif pekerjaan responden dengan sistem pengambilan keputusan

No

Alternatif pekerjaan responden

Respon nelayan mengenai sistem pengambilan keputusan

Negatif Positif Jumlah

∑ % ∑ % ∑ %

1 Memiliki 1 20.0 7 20.0 8 20.0

2 Tidak memiliki 4 80.0 28 80.0 32 80.0

Jumlah 5 100.0 35 100.0 40 100.0

Hubungan antara alternatif pekerjaan responden dengan sistem pengambilan keputusan diuji dan didapatkan nilai korelasi sebesar 0.0 dengan siginfikan sebesar 0.1. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara variabel alternatif pekerjaan yang dimiliki responden dengan respon mengenai sistem pengambilan keputusan, maka H1 ditolak dan H0 diterima. Hal ini dikarenakan sistem pengambilan keputusan tidak hanya dilakukan oleh responden yang memiliki atau tidak memilki alternatif pekerjaan, melainkan juga mengikutsertakan pihak lain seperti ketua adat dank kepala desa.

Hubungan Alternatif Pekerjaan Responden dengan Respon Nelayan Mengenai Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan KKP

Tabel 30 menunjukkan bahwa responden yang memiliki alternatif pekerjaan memiliki respon negatif sebesar 20 persen mengenai monitoring dan evaluasi pelaksanaan KKP, sedangkan responden yang tidak memiliki alternatif pekerjaan memberikan respon negatif sebesar 80 persen. Tabel 30 menunjukkan bahwa respon positif mengenai monitoring dan evaluasi pelaksanaan KKP sebesar 80.6 persen diberikan oleh responden yang tidak memiliki alternatif pekerjaan. Hal ini dikarenakan responden yang tidak memiliki alternatif pekerjaan lebih sering berada di lokasi KKP dan bisa memantau langsung kegiatan yang terjadi di sana. Berbeda halnya dengan responden yang memiliki alternatif pekerjaan yang jarang berada di lokasi KKP dan memantau langsung kegiatan yang terjadi di sana.

55 Tabel 30 Jumlah dan persentase responden menurut alternatif pekerjaan responden

dengan monitoring dan evaluasi pelaksanaan KKP No

Alternatif pekerjaan responden

Respon nelayan mengenai monitoring dan evaluasi pelaksanaan KKP

Negatif Positif Jumlah

∑ % ∑ % ∑ %

1 Memiliki 1 25.0 7 19.4 8 20.0

2 Tidak memiliki 3 75.0 29 80.6 32 80.0

Jumlah 4 100.0 36 100.0 40 100.0

Hubungan antara alternatif pekerjaan responden dengan mengenai monitoring dan evaluasi diuji dan didapatkan nilai korelasi sebesar -0.42 dengan siginfikan sebesar 0.8. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara variabel alternatif pekerjaan yang dimiliki responden dengan respon mengenai aturan awig-awig, maka H1 ditolak dan H0 diterima. Hal ini dikarenakan monitoring dan evaluasi yang dilakukan melibatkan semua pihak yang berkepentingan, seperti pecalang segara, pemerintah desa, dan pemerintah desa adat, bukan hanya responden saja.

Ikhtisar

Hasil pengujian statistik menggunakan uji rank spearmen menunjukkan bahwa hanya terdapat satu variabel yang memiliki hubungan, yaitu hubungan antara alternatif pekerjaan dengan respon nelayan mengenai hak pengelolaan. Hal ini dikarenakan keikutsertaan responden yang memiliki alternatif pekerjaan dalam mengelola KKP dirasa jarang. Kesibukan bekerja di tempat lain membuat mereka jarang ikut dalam perkumpulan yang dilakukan untuk membahas pengelolaan KKP. Selain itu juga, mereka juga jarang terlibat langsung untuk mengelola KKP secara langsung. Hasil penelitian pada variabel lain yang menggunakan uji Chi square

menunjukkan bahwa erdapat hubungan antar variabel. Etnisitas dan respon nelayan menunjukkan hubungan dalam pengelolaan KKP. Responden yang beretnis Bali lebih memiliki hak untuk mengelola KKP dan pembuatan awig-aewig. Walaupun dalam pembuatan aturan dan pengelolaan lebih sering mengikutsertakan nelayan yang beretnis Bali, hal tersebut tidak menjadi pembatas bagi nelayan yang beretnis non Bali. Nelayan yang beretnis Bali maupun non Bali memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk menjaga kelestarian Kawasan Konservasi Perairan Buleleng Barat.

57

FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN PENGELOLAAN

KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN BULELENG BARAT

Faktor-Faktor Internal Keberhasilan Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Buleleng Barat

Keberhasilan dari sebuah pengelolaan kawasan konservasi perairan tidak lepas dari peran pihak internal, yaitu masyarakat. Faktor masyarakat yang dimaksud adalah mencakup aturan main yang berlaku di sebuah KKP. Aturan yang berlaku harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat lokal di sana, sehingga tercipta keharmonisan diantara berbagai pihak. Konflik yang terjadi di sebuah kawasan konservasi biasanya timbul karena tidak ada kesesuaian dengan masyarakat setempat. Kawasan Konservasi Perairan Buleleng Barat terletak di tengah pemukiman masyarakat Desa Pemuteran. Berdasarkan penelitian, KKP Buleleng Barat ini adalah KKP yang diajukan langsung oleh masyarakat kepada pemerintah dalam hal ini adalah Dinas Perikanan dan Kelautan, Kabupaten Buleleng. Masyarakat memiliki tingkat kesadaran yang tinggi akan kelestarian terumbu karang, sehingga dalam pengelolaannya masyarakat diikutsertakan dalam pengelolaan KKP mulai dari pembentukan awig-awig hingga sampai pengawasan. Selain dari masyarakat yang aktif ikut serta dalam pengelolaan, Desa Pemuteran juga memiliki kekuatan dari segi adat. Kepatuhan masyarakat terhadap hukum adat yang berlaku sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan ketua adat yang menjadi panutan bagi masyarakat yang beragama Hindu. Faktor-faktor internal yang memengaruhi pengelolaan di KKP Buleleng Barat di antaranya, kejelasan batas wilayah, kesesuaian aturan dengan kondisi lokal, karakteristik masyarakat, dan kepemimpinan.

Kejelasan Batas Wilayah

Satria et al (2006) menjelaskan bahwa kejelasan batas wilayah adalah batas wilayah dirumuskan secara jelas sehingga setiap orang mudah untuk mengidentifikasi dan mengenalnya. Sementara, menurut penelitian yang dilakukan oleh Tawakal (2011), dari beberapa kasus pembentukan kawasan konservasi, banyak penolakan dari para nelayan dan masyarakat karena ternyata menghalangi aktivitas dan area tangkap ikan yang dimanfaatkan oleh nelayan setempat. Konflik yang sering terjadi ini dapat dicegah dengan adanya kejelasan dari batas wilayah atau sistem zonasi dari sebuah kawasan konservasi perairan. Kejelasan dari batas wilayah ini meliputi sistem zonasi yang dibuat harus dibuat dan dilaksanakan sesuai dengan peruntukannya.

Kawasan Konservasi Perairan Buleleng Barat merupakan kawasan konservasi perairan yang diinisiasi oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan kerusakan terumbu karang di wilayah tersebut sangat merugikan nelayan. Inisiasi masyarakat ini dikelola oleh pemerintah adat. Masyarakat adat bersama dengan pemerintah adat melakukan sebuah pertemuan untuk membahas kelanjutan dari kasus kerusakan terumbu karang di Perairan Pemuteran. Hasil dari kesepakatan yang telah dibuat oleh masyarakat adat di desa Pakraman adalah dibuatnya sebuah sistem zonasi di Perairan Pemuteran tersebut. Zonasi yang dibagi menjadi tiga bagian, yaitu zona

58

inti, zona tangkap, dan zona wisata dibuat dengan pertimbangan masing-masing

Dokumen terkait