Isi utama naskah Kawruh Kalang ini adalah pembuatan bagian-bagian konstruksi dari sebuah lingkungan bina Jawa dan mencakup pengukuran serta penyelesaian detil-detil konstruksi. Hal ini memberi kesempatan untuk melihat adanya rangkaian antara bagian konstruksi yang satu dengan bagian konstruksi yang lain.
Prijotomo menjelaskan bahwa terdapat beberapa naskah Kawruh Kalang yaitu:
TABEL I.
Nama-Nama Naskah Kawruh Kalang41
Kode Judul Keterangan
Aksara latin bahasa Jawa, ketikan, penyusun R. Sasrawiryatma, pelatinan atas perintah Dr.
Th. Pigeaud.
KSN Serat Tjarijos Bab Kawroeh Kalang (1992)
Aksara latin bahasa Jawa, ketikan, penyusun R. Sasrawiryatma, pelatinan oleh E. Siti Nuryanti.
KM Kawroeh Kalang (1906) Aksara Jawa, bahasa Jawa, tulisan tangan, penyusun Mangoendarma
KMN Kawroeh Kalang (1936) Aksara latin, bahasa Jawa, ketikan, penyusun Mangoendarma, yang melatinkan nn.
(Periksa: Prijotomo, Re) Konstruksi Arsitektur ..., 2006, 54).
41 Kode-kode di atas dilakukan oleh Josef Prijotomo, (Re-)Konstruksi Arsitektur Jawa (Surabaya: PT. Wastu Lanas Grafika, 2006, 54.
Tabel II yang dikutip dari Josef Prijotomo berikut memperlihatkan naskah yang masuk dalam rekomendasi menjadi naskah baku.
TABEL II.
Naskah yang Masuk Rekomendasi Menjadi Naskah Baku
Kode Judul Hasil Pemerikasaan Saran
KMN Kawroeh Kalang Naskah aksara latin bahasa Jawa,
KM Kawroeh Kalang Naskah aksara Jawa bahasa Jawa Dinominasikan menjadi naskah baku
KSW Serat Tjarijos Naskah aksara Jawa bahasa Jawa Dinominasikan menjadi naskah
(Periksa Prijotomo, (Re) Konstruksi Arsitektur ..., 2006, 110).
Naskah yang direkomendasikan menjadi Naskah baku yaitu:
TABEL III.
Naskah Baku
Kawruh Kalang
Dari pemeriksaan fisik KSW dan KM
Dari pemerikasaan Isi/Substansi KSW dan KM (Periksa Prijotomo, (Re) Konstruksi Arsitektur ..., 2006, 110).
Menurut Prijotomo, KM (Kawruh Kalang – disusun oleh Mangoendarma) memiliki usia yang lebih muda daripada KSW (Serat Tjarijos Grijanipun Tijang Djawi – penyusun R. Sasrawiryatma), padahal baik isi maupun fisik dari kedua naskah ini memperlihatkan kesamaan yang tinggi, hingga nyaris dapat dikatakan sebagai sebuah dokumen yang sama tetapi ditulis oleh dua orang yang berbeda.
Dengan demikian tidak terlihat adanya kerugian dan kehilangan signifikasi apabila KM disisihkan dari penunjukan sebagai naskah baku. Oleh karena itu, ditetapkan bahwa dalam kelompok Kawruh Kalang ada satu naskah yang ditetapkan sebagai naskah baku yakni KSW.42
Buku ini (KSW) memuat keterangan tentang pembuatan rumah Jawa tradisional : rumah Taju, jug loro, limasan, gajah sap, saka, tumpang 5, suh kuningan atau mamas, umpak dari marmer atau batu, gaya diukir, panitih, molo, ander, dudur, takir, tumpang, reng, sirap, wuwung, cukil, tutup kèyong, tutup kèncong, tanda, angka Kalang yang disebut angka ageng, dapur rumah, sajèn, kayu jati. Teks ini disusun oleh R. Sasrawiryatma di Surakarta pada tahun 1928.
Sekarang, teks tersebut disimpan di Perpustakaan Museum Sonobudoyo dengan kode PB A 285 31.
Jika dilihat dari angka tahun pembuatan Naskah Kawruh Kalang yang direkomendasikan yaitu KSW seperti tertera pada tabel 1 yaitu tahun 1901, maka dapat diinterpretasikan bahwa rumah pangeran yang dibangun pada abad ke-19 sampai abad ke-20 diasumsikan menggunakan kaidah Kawruh Kalang.
A. Saka
Menurut Ismunandar, setelah pemasangan umpak selesai, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan saka. Setiap saka harus berjarak sama agar supaya bangunan tersebut tidak miring. Saka guru harus lebih besar dari saka penanggap dan saka peningrat (dalam Prijotomo disebut dengan saka èmpèr yang selanjutnya istilah tersebut akan dipergunakan dalam analisis). Selain itu saka
42 Periksa Prijotomo, (Re) Konstruksi Arsitektur ..., 2006, 111.
guru akan menyangga atap brunjung43. Selanjutnya menurut Ismunandar, saka (tiang) yang akan dibuat biasanya berbentuk bulat dan bujur sangkar (segi empat) serta dibuat dari bambu dan kayu tahun. Yang dimaksud dengen kayu tahun adalah kayu yang tidak pernah dimakan oleh rayap dan mempunyai warna-warna yang sangat indah, misal coklat muda atau coklat tua (kayu jati), hitam (glugu) dan kuning (kayu nangka).44
Saka juga dihias dengan bermacam-macam ragam hias yaitu semacam kaligrafi, mirong, saton, dan probo.
a
b
c
Gambar 6. Ragam hias (a) kaligrafi, (b) praba dan (c) mirong pada saka (Gambar: Dakung, 1998, 167-191).
Penerapan ragam hias ini dapat dilihat pada foto 3 di bawah ini:
43 Brunjung adalah atap rumah bentuk joglo yang paling atas (Periksa Hamzuri, Rumah Tradisional Jawa (Jakarta: Proyek Pengembangan Permuseuman DKI Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tanpa tahun), 177.)
44 Periksa Ismunandar K, 2007, 46
Foto 3. Ragam hias kaligrafi, mirong, dan praba di Bangsal Witono, Kraton Yogyakarta. (Foto: Martino Dwi Nugroho, 2008)
Tentang griya tajug untuk hastana – istana, panjangnya saka diambil dari diagonal dalam yang terjadi di dalam sektor gajah (belahing pojokan salebeting gajah), diukur pada pojok –pojok yang luar, karena jerambahnya atau lantainya rata (jarambahipun waradin). Hal tersebut terdapat pada naskah Kawruh Kalang pada Bab III yang ditulis oleh R. Sasrawiryatma di Surakarta dilatinkan oleh KRT. Rintaiswara:
Pangkat kaping tiga : Bab pandamelipun saka
Menggah griya taju ingkang kagem ing astana panjanging sakanipun amendhet ukur belahing pojokan salebeting gajah, katerusaken pojok sami angsal manisipun ing jawi amargi astana makaten jarambahipun waradin.
(Bab III)
(Tentang Pembuatan Saka)
(Mengenai griya taju yang di bangun untuk istana, ukuran panjang dari saka supaya mengambil jauhnya sudut sampai sudut (diagonal) dari gajah, ukuran dijatuhkan pada tepi luar sebab lantainya rata.)
Bab ini memang hanya ini menyampaikan ukuran saka dari griya taju yang berkaitan dengan ada atau tidaknya pembedaan tinggi lantai. Menurut Prijotomo, untuk griya-griya yang lain (griya jugloro, griya limasan, dan sebagainya) berlaku asas mengukur yang sama yakni digunakan panjang dari diagonal pamidhangan (pamidhangan = rangkaian balandar dan pangeret di dhapur (tipe pokok) juglo). Panjang saka (guru) = panjang dari diagonal pamidhangan (Balandar-Pengeret)45
Gambar 7. Rumus Penentuan Tinggi Saka guru (Gambar: Martino Dwi Nugroho, 2009)
Untuk dhapur (tipe pokok) taju = panjang balandar = panjang balandar hingga diagonal pamidhangan.46
45Periksa Prijotomo, (Re) Konstruksi Arsitektur ..., 2006, 128.
46 Prijotomo, (Re) Konstruksi Arsitektur ..., 2006, 127-128.
Gambar 8. Saka (tiang) (Frick, 1997, 116).
Naskah Kawruh Kalang pada bab tiga ini hanya mengatur ukuran dari tinggi saka guru saja. Sedangkan saka penanggap dan saka èmpèr tidak diatur lebih lanjut. Selain itu, naskah ini juga tidak mengatur tentang ukuran keliling saka guru. Untuk mengetahui perbandingan atau proporsi saka guru dengan saka penanggap dan saka èmpèr, lihat gambar di bawah ini.
Gambar 9. Tinggi saka guru, saka pananggap, dan saka èmpèr (Prijotomo, 2006, 417)
Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa tinggi saka guru lebih tinggi dari saka penanggap (di tiap ruangan ketinggian saka guru berbeda-beda). Saka penanggap lebih tinggi dari saka èmpèr. Sektor guru adalah bagian pertama dan bagian inti dari konstruksi dalam pembuatan rumah Jawa. Saka guru adalah saka
di sektor atau bagian guru. Sehingga dapat dikatakan bahwa tinggi saka guru menjadi pedoman atau perbandingan untuk menentukan tinggi saka penanggap dan saka èmpèr. 47
B. Umpak
Konstruksi rumah Jawa tradisional berdasarkan atas sistem yang dapat dibongkar-pasang (knock down). Konstruksi ini dapat dilihat dari fondasinya. Fondasi umpak yang tradisional ini terletak di atas permukaan tanah dan tidak boleh tertanam di dalam tanah seperti yang terdapat di bangunan vernakular Eropa.
Umpak, terutama yang mengalasi saka guru, berasal dari batu alam dan biasanya bermotif ragam hias padma yang menambah keindahan.
Menurut Ismunandar, umpak mempunyai bermacam-macam arti, ialah batu penyangga tiang, corak kain batik, kata-kata pujian dalam surat, hiasan karangan, dan irama gending yang terakhir. Tetapi yang dimaksudkan di sini adalah batu penyangga tiang (saka). Umpak dipasang pada seluruh bangunan rumah, entah itu berbentuk joglo, limasan dan lain-lainnya pada umumnya dibuat dari batu alam yang keras dan biasanya berwarna hitam. Pembuatan umpak pada umumnya dilakukan oleh para pembuat kijing (maésan).48
Menurut Prijotomo, ukuran tinggi umpak saka-guru adalah sama dengan besarnya ukuran keliling penampang (badan) saka guru. Bila untuk umpak saka – penanggap, tingginya adalah sebesar setengah dari badan saka-penanggap. Bila untuk saka-èmpèr, tingginya adalah sepantasnya saja, asalkan tidak menyamai atau bahkan melebihi tinggi dari umpak-umpak yang
47 Penelitian ini hanya membahas tentang tinggi saka saja, dikarenakan jika akan mengetahui tentang konstruksi secara lengkap tentang pembuatan saka harus membongkar bangunan. Hal tersebut jelas tidak mungkin untuk dilakukan. Secara lengkap pada Bab III tentang pembuatan saka juga mengatur pembuatan purus, tentang tatahan pada badan saka, dan pembuatan gulu maled (periksa Prijotomo, (Re) Konstruksi Arsitektur ..., 2006, 345-346)
48 Periksa Ismunandar , 2007, 36-39.
telah disebut tadi. Saka guru adalah saka/tiang yang berada di sektor guru, sedangkan saka-pananggap adalah saka/tiang yang berada di sektor penanggap. Umpak masing-masing saka itu ditentukan ketinggiannya dengan mendasarkan pada ukuran dari ukuran keliling penampang saka. Tinggi umpak saka-guru = keliling penampang (badan) saka guru. Tinggi umpak saka-penanggap = ½ keliling penampang saka penanggap.49
Gambar 10. Rumus tinggi umpak saka guru (Gambar: Martino Dwi Nugroho, 2009)
Hal tersebut terdapat pada naskah Kawruh Kalang pada Bab IV yang ditulis oleh R. Sasrawiryatma di Surakarta dan dilatinkan oleh K.R.T.
Rintaiswara :
Pangkat kaping sekawan Bab pandameling umpak
Menggah inggiling umpak punika ingkang tumrap ing saka guru sami kaliyan agenging badanipun saka. Bilih kaanggé dedeging saka pananggal (penanggap), dedegipun amung sapalih agenging saka pananggal (pananggap). Bilih kanggé dedeging umpak saka èmpèr amung kapantesa kémawon saprayoginipun uger boten nyamèni kaliyan umpak sanès-sanèsipun wau. Déné bab wewangunan amung wewaton sakaparengipun ingkang badhé nganggé.
49 Periksa Prijotomo, (Re) Konstruksi Arsitektur ..., 2006, 128.
Saka guru
(Bab III) (Pembuatan Umpak)
(Ukuran tingginya umpak (neut-pen) untuk saka guru sama dengan besarnya badan (ukuran keliling sisi penampang –pen.) saka guru tersebut. Umpak untuk penanggap, tingginya hanya separo dari besar badan saka-penanggap, tetapi bila untuk umpak dari saka-emper, tingginya hanya sepantasnya asalnya tidak menyamai ukuran umpak yang terdahulu itu.
Mengenai bangun atau wujudnya, boleh sesukanya.)50
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa penentuan tinggi umpak berdasar ukuran keliling saka. Adapun keliling umpak tidak dijelaskan lebih lanjut. Dalam naskah Kawruh Kalang ini hanya diatur tinggi umpak saka guru dan tinggi umpak saka penanggap. Adapun tinggi umpak saka èmpèr tidak diatur lebih lanjut. Ukuran umpak untuk dalem lebih besar dan lebih tinggi dibanding dengan pendapa. Hal tersebut disesuaikan dengan keluasan ruang, yaitu pendapa dan dalem. Tentang keluasan ruang, di dalam naskah Kawruh Kalang menyebutkan bahwa pendapa (griya ngajeng) lebih kecil dibanding dengan dalem (griya wingking), seperti yang terdapat di Bab IV yang ditulis oleh R. Sasrawiryatma di Surakarta dan dilatinkan oleh K.R.T. Rintaiswara:
Griya wingking punika pandamelipun ageng utawi panjang. Kadamela ageng panjangipun angungkuli saking griya ngajeng. Sanadyan inggiling siti bebatur ing griya pisan, inggih kadamela inggil griya wingking.
Pamanggihipun para leluhuring kina anggènipun kadamel béda ageng lan panjangipun makaten wau tumrapipun ingkang nganggèni ing bab kaluhuring pangkat sarta kalangkunganing rejekinipun sageda ageng inggil ing wingking utawi saya panjanga ing wingking, dados tegesipun sageda anglangkungi bapa tuwin kaki ing ngajeng.
50 Periksa Prijotomo, (Re) Konstruksi Arsitektur ..., 2006, 347
(Griya wingking (bangunan atau rumah belakang) itu dalam hal besar dan panjang, dibuat melebihi ukuran dari <hal. 11> griya ngajeng (=pandhapa-pen.); demikian pula dengan ketinggian siti bebaturan (lantai-pen.), juga dibuat lebih tinggi dari pada griya ngajeng. Pendapat dari para leluhur jaman dulu adalah dengan maksud dan harapan, semoga pada akhirnya penghuninya mendapat keluhuran pangkat dan derajat, bahagia dan penuh rejeki, atau dengan kata lain supaya enak dan berbahagia dibelakang meskipun berjerih payah di muka.)51
Meski dalan naskah kawruh kalang tidak disebutkan tentang kesakralan pada ruang dalem, perbedaan dimensi pada umpak ini mengindikasikan bahwa terdapat nilai kesakralan pada ruang dalem dibanding dengan pendapa. Selain itu, terdapat aturan bahwa umpak yang dicat dan diprada serta berukir hanya boleh digunakan oleh kraton, sedangkan masyarakat umum hanya boleh menggunakan umpak yang berwujud polos. Seperti yang terdapat Bab IV : Wondéné umpak punika ingkang sampun kaagem ing karaton boten angemungaken mawi cèt utawi prada kémawon, nanging sami dipun elis utawi sami kaukir. Mila umpak ingkang wujud makaten wau lajeng dados awisan. Ingkang kénging amung ing karaton. Tumrapipun ing ngakathah amung kénging nganggé ingkang wujud lus-lusan utawi lugas (bares salumrahing umpak ) tanpa cèt sasampunipun.
(Umpak yang digunakan di istana tidak hanya dicat dan di-prada tetapi juga diukir. Oleh karena itu, wujud ini menjadi pantangan, yang dibolehkan hanyalah keraton. Untuk masyarakat umum, yang di buat adalah umpak yang lus-lusan (polos-pen.) saja wujudnya, tanpa dicat.)52
51 Periksa Prijotomo, (Re) Konstruksi Arsitektur ..., 2006, 347
52 Periksa Prijotomo, (Re) Konstruksi Arsitektur ..., 2006, 347
Bab III yang membahas pembuatan umpak, juga mengulas tentang griya yaitu sama dengan kata giri raya atau gunung yang besar. Tampaknya pembuatan umpak yang terdapat pada naskah Kawruh Kalang berbentuk seperti gunung.
Dalam penentuan dimensi, sistem ukuran (petungan) menggunakan proporsi ukuran tubuh manusia. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar 11 berikut ini.
Gambar 11. Satuan pètungan dalam Kawruh Kalang (Periksa Prijotomo, Pètungan, Sistem…, 1995, 38)
Frick memperjelas sistem proporsi dalam pembuatan rumah Jawa (lihat tabel 4 di bawah ini)
TABEL IV.
Satuan Pétungan Dengan Proporsi Anatomi Tubuh Manusia
Gambar Keterangan
Depo: panjang dua tangan yang direntangkan (± 1.70 cm)
Kilan: jarak antara ujung jempol dan ujung jari
kelingking. 2 kilan = 1 hasta (16-20 cm)
Hasta: jarak antara ujung jari tangan dan ujung siku (4 hasta = 1 depo).
Tapak /pecak: panjang telapak kaki dari tumit sampai ujung jari kaki. 1 tapak = 10 jempol (22-28 cm).
Kaki: panjang antara tepi luar dari 2 kepalan tangan kanan dan kiri dengan ibu jari yang direntangkan dan dipertautkan ujungnya. 1 kaki
= 12 jempol = 31,4cm
Nyari/jempol = lebar jempol tangan.
1 jempol = 2.6 cm
Sakpengawe/awean : tinggi badan antara telapak kaki dan tangan menyudut yang direntangkan. 1 awean mungkin dapat disamakan dengan 12 cengkang = 162-198 cm.
Dedeg : satuan tinggi badan manusia.
Cengkang : jarak antara ujung ibu jari dan ujung telunjuk apabila jari-jari tersebut direntangkan (13,5 – 16,5 cm)
Tebah : satuan ukuran ini adalah selebar telapak tangan (± 9 cm).
(Periksa: Frick, 1997, 76-78)
BAB V