MAKNA RUANG BAGI ORANG JAWA
C. Makna ruang
Makna bersifat intersubjektif karena ditumbuhkembangkan secara individual, tapi makna-makna itu dihayati secara bersama dan diobjektivikasikan dalam masyarakat.
Konfigurasi ruang dikonsepkan sebagai pengejawantahan dari kekuasaan yang mengaturnya, maka akan selalu ada kewenangan atas setiap ruang yang memiliki aturan. Ide tentang ruang menjadi identik dengan ide tentang teritori (kewilayahan) sebagai ruang yang terkontrol, sehingga secara konseptual setiap ruang ada pemiliknya sebagaimana bapak menguasai rumah dan raja memerintah negara. Teritori atau kewilayahan dalam hal ini adalah merupakan tempat yang nyata, relatif tetap dan tidak berpindah –pindah mengikuti gerakan individu yang bersangkutan.
Teritori juga dapat dikatakan sebagai wilayah yang dianggap sudah menjadi hak seseorang62. Kepemilikan atau hak dalam kewilayahan atau teritori ditentukan oleh persepsi dari orang lain atau orang-orang yang bersangkutan sendiri.
Secara mendalam ruang terbentuk dalam interaksi antara seseorang dengan permukaan bumi. Orang Jawa melakukan upacara-upacara yang memuliakan interaksi awal manusia dengan tanah. Untuk memapankan eksistensi di bumi, segera sesudah seorang bayi lahir, ari-ari sang bayi (yang merupakan bagian dari “empat saudara kandung” yang menjaga seorang individu, yakni : air ketuban, ari-ari, darah dan tali pusar) dikubur didekat rumah menyusun “kakaknya” sang air ketuban yang telah tumpah lebih dahulu. Sebuah periuk tanah yang dilubangi alasnya diletakkan terbalik diatas kubur tersebut untuk melingkupinya sepenuhnya dengan tanah.
Menata ruang tidak hanya menyelaraskan dengan semesta tetapi dengannya kesejahteraan wilayah dapat dicapai.dengan kesadaran akan tatanan yang dominan, tradisi Jawa menganggap bahwa huru hara dan
62 Oman Sukmana, Dasar-Dasar Psikologi Lingkungan, Malang, Bayu Media dan UMM Press, 2003, hlm. 161.
musibah diakibatkan oleh kondisi lupa akan tatanan atau “lali”. Dengan melupakan tatanan, seseorang tidak sadar terhadap keteraturan sosial dan fisikal disekelilingnya khususnya posisi relatifnya dalam keluarga dan masyarakat sehingga dia cenderung untuk melanggar aturan moral. Dalam kebiasaan orang Jawa, seseorang akan membasuh kakinya ketika masuk rumah untuk melepaskan emosi dan kesialan yang mungkin menempel pada tubuhnya di jalanan. Di luar rumah adalah dunia yang berbahaya karena kacau balau dan penuh huru hara. Di rumahlah orang menemukan ketentraman terlindung dari galau dunia luar. Mencuci kaki akan melunturkan sarap sawan, hal buruk yang harus dilepaskan ketika masuk rumah. Sarap sawan juga berati halangan yang lekat pada orang yang penuh kesialan, sebagai ungkapan sarap sawane wong sukerta, yang baru bisa dilepaskan dari orang tersebut dengan upacara ruwatan. Dalam kesejajaran ini, rumah dapat dianggap sebagai struktur untuk meruwat yang akan melindungi penghunuinya dari ancaman kekacauan dan kesialan.
Ruang, suatu unsur kunci arsitektur dialami orang Jawa melalui arah (orientasi) dan suasana. Tempat bagi orang Jawa lebih kongkrit karena tindakan yang tepat selalu didasari atas posisi seseorang dalam dunia.
Tempat adalah unsur kunci dalam pandangan dunia orang Jawa. Tempat dinilai sebagai lokasi dan dibatasi oleh arah-arah, yang maknanya terungkap sepenuhnya dalam pelaksanaan ritual.
Pemahaman penghuni terhadap makna yang terbentuk di dalam rumahnya akan terwujud sebagai susunan ruang dan tercermin dalam perilaku keseharian dengan mengekspresikan pemahamannya terhadap rumah melalui penyusunan obyek maupun penempatan tubuh dalam ruang.
Dalam hubungan antara susunan ruang dan tindakan ragawi, terdapat dua cara utama untuk menyatakan suatu setting ruang secar positif dengan mengartikulasikan pusatnya dan secara negatif dengan mendefinisikan batasnya. Berkait dengan tindakan ragawi dalam ruang, suatu pusat cenderung akan menjadi orientasi bagi pengguna, sementara suatu
pembatas akan mengisyaratkan partisipannya: siapa saja yang boleh dan siapa saja yang tidak boleh memasuki ruang tersebut. Batas bagi suatu ruang dapat berupa elemen fisik dan dapat berupa non fisik. Elemen fisik dapat berupa peninggian lantai, jajaran kolom, teritis ataupun perbedaan derajat terang yang kontras. Sementara itu pembatas ruang non fisik dapat mengambil bentuknya dalam suatu regulasi atau aturan, baik yang mempersilahkan atau yang melarang orang untuk memasuki ruang tertentu63. Dalam banyak hal, mekanisme kontrol berupa “aturan masuk”
ke dalam ruang ini berlaku secara berbeda terhadap orang yang berbeda.Seperti diketahui bahwa setiap orang mempunyai jarak pribadi (personal space) dan privasi yang berbeda-beda. Secara umum jarak pribadi mempunyai dua fungsi yaitu fungsi perlindungan (protective function) untuk mencegah dari potensi ancaman fisik dan psikologis, privasi yang tidak cukup. Selanjutnya fungsi yang kedua adalah fungsi komunikasi yang akan menjadi sangat penting dalam interaksi manusia64. Pusat adalah posisi yang relatif. Suatu objek akan menjadi pusat jika melalui tindakan penghuninya, ia dianggap sebagai hal yang penting, lebih dari sekedar berada di tengah-tengah ruang atau memiliki bentuk yang secara mencolok berbeda. Sosok pusat akan menjadi orientasi, baik bagi tubuh atau bagi objek-objek lain.
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa rumah Jawa pada umumnya dibagi menjadi tiga ruang ( depan, tengah dan belakang). Dalam bab ini, ruang depan dan rumah tengah akan digabung karena mempunyai fungsi yang sama yaitu sebagai ruang publik. Sehingga dalam pembahasan ini hanya terdapat dua atau sepasang ruang yaitu ruang depan/luar dan ruang belakang/dalam. Pasangan ini mewujudkan gagasan utama yang melandasi pembentukan setting domestik: sebagai tempat bermukim dan tempat untuk membangun hubungan.
63 Lihat Revianto Budi Santosa, 2000, hlm. 42.
64 Lihat Oman Sukmana, 2003, hlm. 149.
Bagian depan sebuah rumah merupakan wilayah yang berorientasi keluar tempat prestise domestik dan keteraturan sosial ditampilkan dalam bentuk perbedaan-perbedaan status dan formalitas65. Dalam hubungan sosial, status terjelas diekspresikan dalam penggunaan bahasa Jawa yang memiliki banyak tingkatan. Dengan memainkan dan mencoba beberapa tingkatan bahasa dalam ujaran, seorang pembicara secara sadar menilai status lawan bicaranya dan menilai status relatifnya sendiri dengan tujuan menegosiasikan pola hubungan. Seperti bahasa, setting spasial disusun untuk membentuk kecenderungan beberapa hubungan tertentu. Krama atau bahasa Jawa tinggi yang formal guna menegaskan jarak dan penghormatan diekspresikan dengan baik dalam setting rumah depan, dimana seseorang muncul untuk menemui orang lain. Menemui orang lain sering diasosiasikan dengan laki-laki, karena laki-laki dianggap (atau menganggap dirinya) sebagai pewakilan dari rumah yang harus berhadapan dengan dunia luar. Sebagai figur teladan dalam rumah tangga, dia wajib memelihara prestisenya. Dia harus memperhalus kemampuan berbahasa dan tingkah laku karena masyarakat mengawasinya. Sehingga jarak pribadi yang terjadi pada ruang bagian depan termasuk dalam kategori jarak pribadi dan jarak sosial. Menurut teori jarak pribadi berkisar antara 0-1,5 kaki dan biasanya merupakan kontak antara teman, tetangga, kenalan dan sebagainya dengan media komunikasinya berupa kata-kata. Sedang jarak sosial berkisar antara 4-1 kaki dan biasanya merupakan kontak bisnis dan kontak dengan orang tertentu66.
Kekuasaan, sesuatu yang secara sosial berkesesuaian dengan status, tidak selayaknya dipamerkan secara mencolok pada bagian paling depan kepada masyarakat luas. Derajat kesederhanaan tertentu pada bagian luar harus diekspresikan; begitu pula kekuasaan harus mendominasi sekelilingnya dengan cara yang tidak kentara. Ruang depan mengemban tugas mengindikasikan status sosial dari sang pemilik. Ia biasanya merupakan
65 Lihat Revianto Budi Santosa, 2000, hlm. 211.
66 Lihat Oman Sukmana, 2003, hlm. 150.
bagian dari rumah yang secara sosial paling rapi dan paling prestisius, guna menaikkan status pemiliknya dihadapan tetamu. Namun demikian, fasad atau sisi paling depan dari tempat ini biasanya tampil sederhana.
Karena ruang ini berfungsi sosial, maka ruang ini mempunyai sifat terbuka. Sebagai pengimbang terhadap keterbukaannya, ruang depan harus meneguhkan pusatnya agar orientasi ruang masih dapat dikenali. Pusat yang mengikat diekspresikan pada sosok dan tindakan. Kolom-kolom yang tinggi dengan mahkota tumpang sari di tengah pendhapa atau jogan adalah sosok vertikal yang mendefinisikan pusat ruangan. Tindakan mendefinisikan pusat ini dapat juga berarti mengekspresikan kewenangan tuan rumah sebagai pumpunan kekuatan di ranah yang dikuasainya.
Sedangkan rumah dalam merupakan wilayah yang berorientasi ke dalam, tempat kita bertemu diantara diri kita sendiri dalam lingkungan terdekat kita. Sebagai setting tempat seseorang bermukim dan menjadi bagiannya, bagian belakang rumah dikonstruksikan sebagai ranah yang terjaga.
Bagian ini terlingkup dengan baik dengan memaksimumkan pembatasnya.
Diantara berbagai cara untuk mengartikulasikan sosok ruang belakang ini untuk mencapai karakternya sebagai bagian yang terjaga adalah meninggikan, menebalkan dan menyusun berlapis-lapis dinding pelingkup, serta mereduksi bukaan sehingga mengurangi penembusan sinar matahari. Secara fungsional, keterjagaan ini berarti membatasi akses. Sifat dasar bagian ini lebih berkarakter protektif daripada privat semata. Sehingga ruang ini mempunyai fungsi teritori yang lebih tinggi daripada ruang depan. Orang-orang yang telah diakrabi yang kepadanya penghuni percaya ataupun orang-orang dengan status yang lebih rendah yang berada dibawah kekuasaan tuan rumah adalah diantara kelompok orang yang diperkenankan memasuki lingkup ini. Sehingga dapat dikatakan jarak yang terjadi dalam ruang ini adalah jarak intim dan jarak pribadi.
Pendhapa yang bersifat terbuka
Bagian dalam dari rumah, yang diasosiasikan dengan perempuan, merupakan tempat kaum perempuan secara rutin melakukan tugas-tugas domestik mereka67. Berkenaan dengan kekeramatan, ditempat ini mereka melakukan ritual-ritual domestik. Khususnya yang berkaitan dengan penyimpanan beras nasi dan pemeliharaan pusaka. Dalam ritus itu, perempuan mengemban kapasitas untuk menjaga kesejahteraan keluarga dan akumulasi kekuatan dalam rumah.
Sebagai tempat yang berorientasi ke dalam, rumah dalam juga bebas dari pengawasan publik tanpa adanya kesempatan untuk menunjukan status, sebuah penampilan yang mengesankan dan susunan yang rapi menjadi kurang penting dalam wilayah ini. Senthong yang berada pada ruang dalam dianggap sebagai ruang suci.
67 Lihat Revianto Budi Santosa, 2000, hlm. 215.
Ruang dalem yang sakral dengan cahaya yang minimal
Gadri atau ruang makan merupakan ranah privat dan miliknya perempuan
Sifat ruang pada rumah Jawa
Berdasarkan kedudukan pemilik dalam tata jenjang dan kekayaanya, komplek perumahannya dianjurkan untuk disesuaikan menjadi lebih besar atau lebih kecil. Bentuk yang terkecil merupakan reduksi atas rumah induk dalem agung. Dalam pengertian komplek perumahan tradisional berperan pola antropomorf sebagai ekspresi berhubungan dengan seni bangunan yang dirangkaikan pada sumbu utara selatan. Antropomorf berarti berbentuk mirip dalam wujud manusia. Menurut pola antropomorf, bagian pendopo dan pringgitan (ruang luar ) sepadan dengan kepala, ruang dalam dan gandhok sepadan dengan badan dengan pengertian gandhok sebagai lengan. Dapur sepadan dengan kaki68.
68 Lihat Heinz Frick, 1997, hlm. 88.
Kegunaan ruang dalam rumah tradisional Jawa
Kegunaan ruang dalam rumah tradisional jawa merupakan suatu tata ruang yang didasarkan pada kegiatan yang secar terus menerus berlangsung dan berulang–ulang, yang dilakukan setiap rumah tangga, baik berperan sebagai pribadi–pribadi, kelompok keluarga, maupun sebagai manusia yang melakukan kegiatan kemasyarakatan di dalam salah satu atau beberapa ruang.
Jenis ruang Kebutuhan kepentingan
Regol Pernikahan
Senthong kiwo Kelahiran Adat persiapan
Pernikahan Senthong tengen Kerumah tanggaan Pembinaan/ pendidikan
Pawon Kerumah tanggaan Proses kerja
Gandhok wetan Pendewasaan
Tabel 1 : kegunaan ruang pada rumah tinggal tradisional jawa.
Sumber : Arya Ronald, 1999