Replika Kapal Flor De Lamar Atau Kapal Samudera Yang Penuh Cerita Pilu
KAPAL
perang Portugis bernama Flor De Lamar, yang menjadi kapal induk me- naklukkan Melaka pada 1511, terlihat ber- sandar angkuh. Satu tiang layar induk dan dua tiang penopang dihiasi temali berpilin- pilin membentuk tangga, mengesankan nuansa kesombongan kapal kelas penjela- jah itu. Dinding badan kapal abad 16 itu, dihiasi pintu-pintu meriam yang siap me- muntahkan peluru api, sehingga mampu meluluh lantakkan benteng di daratan. Se- dangkan body kapal menggelembung ke bawah, menandakan siap memuat seluruh hasil kekayaan yang diperoleh di tanah jaja- han. Inilah kapal layar terbesar di masa itu yang dibuat Portugal di Lisabon pada 1502. Flor del Lamar memiliki kisah buram, ka- rena perilaku para kelasinya. Usai menak- lukkan Melaka, anak buah kapal dipimpin D’ Albugerque itu menjarah isi negeri Melaka. Termasuk salah satu barang ber- harga yang dilarikan, adalah mahkota ber- tatahkan permata lambang kewibawaan raja Negeri Melaka. Agakya, karena ku- tukan masyarakat negeri Melaka, atas tin- dakan penjarahan itu kapal Flor de Lamartenggelam di lepas pantai Aceh pada 1512, saat akan kembali ke Lisabon. Namun, hingga kini bangkai kapal itu belum bisa ditemukan. Padahal, diperkirakan ada 200 ton permata serta berbagai barang perhi- asan mewah hasil jarahan di Negeri Mela- ka yang ikut tenggelam bersama kapal itu. Mengenang pahitnya penjarahan Portugis atas Melaka, kapal Flor de Lamar itu pun diabadikan dengan membangun replikan- ya. ‘Kapal Samudera’ begitu pemerintah Negara Bagian Melaka menamainya. Rep- lika kapal perang plus kargo itu, kini bisa kita saksikan di museum maritim Negeri Melaka, di mana ruang dalam replika itu telah disulap jadi arena pameran. Lama penulis tertegun pada salah satu prasasti di depan replika kapal itu, ketika mengunjun- gi museum maritim (samudera), bersama keluarga, Maret lalu. Salah satu kalimat prasasti yang bernas adalah; ‘Hilangnya kuasa politik maka hilanglah segalanya.’
The World Heritage
Kunjungan ke Melaka ini, merupakan yang kedua kalinya penulis lakukan, setelah sebe-
lumnya pada 2007, saat mengikuti kegiatan ‘Konfensyen Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI).’ Pada kunjungan pertama itu, pe- nulis tak berkesempatan mengeksplorasi berbagai hal tentang Melaka. Hal itu menim- bulkan rasa penasaran, hingga berniat suatu saat akan kembali ke negeri yang didirikan seorang bangsawan dari Kerajaan Sriwijaya bernama Parameswara antara 1400-1403. Berniat mengajarkan arti tadabbur alam (mengenal alam) kepada anak. Penulis memutuskan berangkat ke Melaka secara estafet melalui darat dan menyeberangi laut dengan tidak menggunakan pesawat udara. Dari kota kediaman, kami berangkat dengan rute Tebingtinggi-Dumai-Melaka. Jarak tempuh Tebingtinggi hingga ke Dumai, Prov. Riau berkisar 10 jam. Kami pun me- mutuskan untuk berangkat malam, dan tiba di Dumai pagi hari. Sesampainya di Dumai, kabut asap menyelimuti kota pelabuhan itu, akibat kebakaran hutan di pinggiran kota. Mengaso sekira satu jam di rumah keluarga, Kami pun segera meluncur ke loket kapal motor cepat (speed boat), pada salah satu ja- lan utama Dumai. Harga tiket Dumai-Melaka
pulang pergi dipatok Rp540 ribu/orang. Hanya ada satu agensi yang mengoper- asikan speed boat Dumai-Melaka. Jam keberangkatan hanya tiga kali dalam satu minggu, dengan sekali keberangkatan/hari. Speed boat berkapasitas 250 penumpang itu, berangkat sekira pukul 11.00. Dengan jarak tempuh sekira 2,5 jam jika cuaca di se- lat Sumatera cerah. Kapal motor ‘Malindo’ itu tiba di pelabuhan Melaka sekira pukul 14.00 waktu Melaka. Pelabuhan Melaka terkesan unik. Pasalnya, pelabuhan itu tidak berada di tepi laut, tapi berada di tepian sun- gai, sekira 100 meter dari muara Melaka. Bangunan pelabuhan pun cukup megah, yang kabarnya direhab setahun belakangan. Petugas imigresyen yang mengawal wisa- tawan/pendatang terlihat berwibawa, tapi tetap ramah. Tak ada pemeriksaan passport yang bertele-tele. Meski sempat juga terli- hat beberapa pekerja asal Indonesia yang diperlakukan sedikit khusus oleh petugas imigresyen. Hanya dalam rentang 30 menit, semua pemeriksaan imigresyen clear sudah. Di ruang kedatangan, sejumlah penawaran penginapan menghampiri kami. Namun, berbekal alamat hotel yang sudah kami kantongi, taksi langsung meluncur menuju hotel kelas ‘homestay’ di kawasan ‘Dataran Merdeka’, Melaka. Sewa taksi hanya RM20. Syukur di penginapan itu, masih ada dua kamar yang bisa kami tempati dengan sewa RM90 per hari. Meski kamar ‘Hollitel ho- tel’ di Jalan PM 5 Plaza Mahkota Bandar Hilir itu kecil, maklum sekelas homestay, tapi kebersihan serta fasilitas kamar mandi dan air conditionnya cukup melegakan. Kami pun mematok tiga hari menginap di kawasan rumah tua berjarak beberapa pu- luh meter dari tepian muara sungai Melaka. Kawasan kota tua itu memang menjadi fa- vorit wisatawan, karena suasananya yang nyaman dengan bangunan ruko-ruko tua berusia satu abad. Kawasan itu jadi menarik, karena menjadi tempat mengaso kawanan burung gagak (corvus enca) yang ribuan jumlahnya. Jika sore hari, burung-burung itu hinggap di puncak deretan ruko dan mengeluarkan suara ‘jeleknya’ disaat sem- burat matahari senja memancar nyala. Tapi lama kelamaan suara itu menjadi nikmat se- bagai penanda masuknya kegelapan malam. Di sekitar komplek ruko tua itu, tidak pula susah mencari kedai nasi. Ada sejumlah kedai yang menyediakan makanan Melayu yang pas untuk lidah orang Sumatera. Han- ya jika mau makan, kita harus ambil sendiri apa yang diinginkan. Penjual hanya meli- hat ke piring kita dan menghitung berapa
harganya. Jarak antara ruko tua itu dengan Dataran Merdeka, hanya berkisar 50 me- ter saja. Dari esplanade Melaka itu, kami menikmati indahnya malam di Melaka. Sejenak mengunjungi Megamall, kami bergerak kembali memasuki Dataran Merdeka menikmati harum aroma bunga dengan temaram lampu-lampu hias yang menerangi kegelapan taman. Di ujung ta- man hingga pukul 21.00 waktu Malay- sia, menara Taming Sari masih berop- erasi memanjakan wisatawan yang hendak cuci mata di suasana malam negeri Hang Tuah itu. Menara Taming Sari merupa- kan menara pandang setinggi 110 meter yang dapat berputar 360 derajat dengan putaran jenis gyro yang pertama kali di Malaysia. Kabarya menara pandang ini mulai beroperasi pada 18 April 2008 lalu. Sedikit lasak, malam itu penulis sem- pat blusukan di lintasan sekitar menara Taming Sari. Berjalan sekira 30 meter ke belakang dari bangunan menara itu, pe- nulis menemukan replika kapal Flor de Lamar yang diceritakan di awal tulisan ini. Ternyata, lintasan itu menuju komplek museum maritim Tentara Laut Diraja Ma- laysia (TLDM). Dari titik itulah keesokan harinya, penulis coba menyusuri keunikan negeri ‘warisan dunia’ (The World Herit- age) yang telah ditetapkan Unesco PBB itu. Keesokannya, saat matahari masih malu- malu menyapa semesta, penulis pun berger- ak menuju museum maritim TLDM. Dari sana, terbukalah semua lokasi wisata Mel- aka yang ternyata sebagian besar berada di tepian sungai. Berbagai situs yang jadi war- isan dunia itu, umumnya berada sisi kiri dan kanan sungai Melaka. Situs-situs warisan du- nia itu menunjukkan betapa Melaka dulun- ya merupakan bandar perdagangan di muara sungai. Ada sejumlah peninggalan Portugis dan Belanda di tepian sungai Melaka. Kita bisa menikmati gereja tua Christ Church dibangun 1741, St Peter’s Church dibangun pada 1710 yang kini masih terawatt rapi. Kawasan stadhuys berada di inti kota berja- rak sekira 50 meter dari bibir sungai. Kom- plek ini merupakan pusat pemerintahan Belanda di masa lalu. Seiring waktu sempat pula dijadikan sekolah. Belakangan kom- plek ini dijadikan sebagai museum sejarah
dan etnografi. Di komplek ini juga ditemu- kan galeri Laksamana Cheng Ho, museum sastera, museum demokrasi, dan museum Yang Dipertugan Negeri. Komplek Stad- huys member kesan menarik, karena um- umnya bangunan tua di sana bercat merah. Terdapat juga situs masa lalu, semacam kin-
cir air Sultan Melaka, juga sisa benteng di tepian sungai dan komplek Jonkeers Street yang merupakan ‘China Town’ Melaka, dari masa lalu hingga kini. Lebih ke hilir dari berbagai bangunan itu, kita bisa menikmati keindahan sebuah hotel di tepian sungai Melaka, namanya ‘Casa del Rio.’ Hotel ini salah satu hotel mewah ‘Five Star’ yang tampilannya ditata apik, sehingga memikat pengunjung yang melihatnya. Apalagi di malam hari. Pada hari-hari tertentu, yakni Sabatu-Minggu kawasan di seberang Casa de Rio, terdapat tempat penyewaan sampan untuk melayari sungai Melaka, dengan ta- mannya yang indah. Sayang penulis dan ke- luarga tak sempat menikmati naik sampan, karena hari itu tak ada kegiatan dimaksud. Ada juga beberapa lokasi wisata yang agak berjauhan dengan tepian sungai, berada di perbuktian dengan ketinggian sekira 20-30 meter. Misalnya benteng Portugis A Fa- mosa atau Porta de Santiago. Benteng tua ini persis berada di puncak bukit. Meski cuma sisa bangunan masa lalu, tapi bisa dikemas secara menarik, sehingga layak dikunjungi wisatawan. Di dalam bangunan itu, ada sejumlah penawaran untuk kenang- kenangan, misalnya lukisan diri yang bisa diselesaikan dengan cepat oleh pelukisnya. Menghilangkan rasa penasaran lain, berom- bongan Kami juga mengunjungi masjid ter- apung Melaka yang berada di tepian pantai. Keberadaan masjid ini mengingatkan penu- lis pada masjid terapung Jeddah Arab Saudi. Masjid terapung Jeddah itu berada di tepian Laut Merah dan jadi persinggahan akhir je- maah umroh, sebelum kembali ke tanah air. Penataan bangunan masjid terapung Mel- aka, sangat memikat. Dengan satu kubah induk berbentuk separuh bulatan, masjid itu juga memiliki empat kubah di setiap sisinya. Puncak kubah berbentuk kuncup persegi empat. Terdapat juga menara yang tinggi menjulang serta taman di halaman masjid yang tertata rapi. Dengan pintu mas- jid yang lebar, angin masuk secara bebas, sehingga suasana di dalam masjid itu jadi sejuk, membuat mengantuk. Komplek mas- jid itu dilengkapi dengan perpustakaan mas- jid dan kamar wudhu’ yang representatif.
Keunikan Sungai Melaka
Jika hendak menjadikan sungai seba- gai salah satu daya tarik wisata, pergilah belajar ke Melaka bagaimana cara men- gelola sungai dengan baik. Anjuran ini tak lah berlebihan, andai kita mau melihat bagaimana seriusnya pemerintah Neg- eri Melaka menata sungai mereka yang
R
a g a m P l u r a l i sR
a g a m P l u r a l i slebarnya kurang dari 10 meter, dengan panjang dari muara hingga batas wilayah pariwisata Melaka hanya sekira 10 km. Sepanjang tahun muka air sungai ini tidak pernah surut atau banjir dan meluber ke kawsan sekitarnya. Ketinggian muka air terjaga, baik di musim hujan maupun kema- rau. Tak pernah terdengar laporan maupun berita, sungai Melaka meluap dan men- imbulkan kerusakan maupun korban, sep- erti yang banyak kita dengar di negeri ini setiap musim penghujan. Bahkan, tepian alias bantaran sungai, dipenuhi bangu- nan yang berderet dari era masa lalu mau- pun bangunan modern yang megah dan mewah, tanpa ada kekhawatiran pemilikn- ya, suatu saat mereka akan diserang air bah. Warna air pun demikian, sepanjang tahun air sungai Melaka berwarna hijau sejak dari muara hingga ke hulu sungai. Airnya mengalir dengan tenang ditingkahi sedikit gelombang kecil dari sapuan angin sepoi dipermukaannya. Tak sehelai sampah pun terlihat di permukaan sungai, meski ada ribuan orang setiap hari yang melintasi tepi- an sungai, meski terdapat areal pedestrian di kedua sisi tepi sungai. Itu karena di berbagai tempat tersedia tong sampah dan peringa- tan untuk tak membuang sampah ke dalam sungai. Tumbuhan perusak semisal eceng gondok juga tak kelihatan, di tepian sungai, meski sejumlah tanaman air lainnya seperti kangkung tumbuh bebas, namun terkontrol. Pada hari-hari tertentu, aliran sungai ini dibuka sebagai transportasi wisatawan yang ingin menikmati lintasan sungai se- jauh 5 km ke hulu dan kembali ke muara.
Ada sejumlah ‘sampan’ yang dimodifi- kasi sedemikian rupa untuk memanja- kan pengunjung. Harganya pun tak ma-
hal. Untuk sekali pelayaran pulang-balik cukup mengeluarkan kocek RM30/orang. Seorang pemancing di muara sungai, ke- pada penulis, mengatakan kedalaman sun- gai Melaka mencapai 10 meter di muara dan rata-rata 3-5 meter di sepanjang aliran sungai. Kedalaman sungai, kata pemanc- ing itu, dikontrol setiap saat oleh sebuah instansi dengan menempatkan eskava- tor yang siap mengeruk dasar sungai ka- pan pun diperlukan. Dengan kedalaman badan sungai, dipastikan debit sungai sebesar apapun pada musim hujan akan mampu tertampung dan tidak meluap. Akan tetapi untuk mengontrol muka air itu, sebuah dam (bendungan) disiapkan di muara sungai. Dari maket yang dipajangkan di taman sungai, kontrol air sudah dimulai dengan menutup sungai sekira 100 meter sebelum titik muara. Selanjutnya, air sungai dialihkan ke jalur buatan dengan panjang dua kali lipat atau sekira 200 meter dari nor- malnya. Kemudian, di ujung jalur sungai yang dibuat itulah, terletak dam pengatur debit air. Saat debit air surut di musim ke- marau dam ditutup, tapi saat musim hujan dam dibuka. Kondisi itu lah yang membuat debit air sungai Melaka dalam posisi stabil. Penasaran dengan kondisi kawasan sungai Melaka yang memikat, penulis menetap- kan hati berjalan kaki sejuah 10 km, sejak dari muara sungai. Menyusuri pedestrian sebelah kiri sungai, saat blusukan, penu- lis menemukan sejumlah komplek rumah toko atau kawasan pecinan modern, kemu- dian melintasi halaman depan hotel Casa del Rio. Dari sana, penulis tiba di titik masuk Jonkeers Street yang dikenal seba- gai kawasan perdagangan atau China Town. Menyeberangi jembatan Jonkeers Street,
penulis sempat mengabadikan pelayaran sampan menggunakan mesin temple, di badan sungai. Kali ini perjalanan menelu- suri sisi kanan tepian sungai. Di sisi kanan ini, suasananya membuat kita seperti kem- bali ke masa lampau. Dari tepian sungai itu, kita bebas memandang kawasan Stad- huys yang terkenal dan penuh memories itu. Dari sekian panjang perjalanan menyusuri sungai itu, penulis terpaku pada peran serta penduduk sekitar sungai. Meski bangunan rumah masih tetap membelakangi sungai, tapi bangunan dapur mereka dihiasi dengan lukisan mural yang menarik. Lukisan mural itu juga menggambarkan semangat multi- kulturalisme budaya yang hidup dikalangan warga Melaka. Selain itu, nama-nama kam- pung juga terlihat diabadikan dalam plakat- plakat yang menarik. Misalnya, Kampung Jawa dan Kampung Bugis yang telah ada sejak ratusan tahun lalu di sana. Kampung itu tetap mencirikan etnisitas yang menetap di sana, mulai dari rumah, gedung perte- muan hingga rumah ibadah. Pada kedua kampung itu, ciri-ciri Kejawaan dan Ke- bugisan, terlihat terpelihara dengan apik. Banyak hal sebenarnya yang belum terung- kap dalam perjalanan penulis. Ruang yang terbatas mengharuskan penulis membatasi diri mengungkapkan semua yang menge- sankan di Negeri Melaka ini. Hanya satu hal yang terpenting dari itu; Melaka ada- lah negeri yang miskin sumber daya alam tapi kaya sumber peninggalan masa lalu. Ditengah dua kekurangan dan kelebihan itu, Melaka mampu memaksimalkan po- tensinya dengan baik, sehingga membuat tertarik wisatawan mengunjungi negeri itu. Lalu kita bagaimana? **Abdul Khalik
Pelabuhan Melaka Dengan Bangunan Imigresyen Berada Di Tepiannya
Deretan rumah di tepian sungai Melaka dengan hiasan lukisan mural yang indah