DESKRIPSI DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN 4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
4.3. Analisa Data
4.3.1. Keadaan Desa Suka Makmur Masa Lalu
4.3.1.1. Desa Suka Makmur Pada Masa Lalu
Desa Suka Makmur ini dulunya meruupakan suatu perkampungan kecil dan
masih sepi yang dipenuhi persawahan, perkebunan dan hutan. Jumbelah penduduknya
masih sedikit dan mayoritas penduduknya adalah etnis batak karo dan didominasi marga
Guru Singa. Rumah-rumah penduduk pun masih berjauhan satu dengan rumah yang
lainya dan bentuk rumahnya masih berbentuk rumah panggung ataupun dari dingding
tepat dan beratapkan daun rumbia.
Dari hasil wawancara dari informan, masyarakat Suka Makmur dulunya masih
berciri agraris dan menggantungkan hidupnya dengan menanam padi, menanam
syur-sayuran, berternak, dan memancing ikan di sungai yang hasilnya digunakan untuk
keperluan sehari-hari. Jalan lintas yang tersedia dulunya masih jalan setapak, berbatu,
dan tidak beraspal. Sementara dikanan dan kiri jalan masih ditumbuhi ilalang. Pada saat
hari turun hujan, maka jalan tanah akan berlumpur bila matahari sedang terik, panas dari
tanah dapat melepuhkan telapak kaki pejalan kaki. Pada malam harinya suasana
listrik dan alat bantu peneranganya hanya obor atau lampu semperong saja. Seperti
beberapa kutipan dari informan berikut ini :
“Desa Suka Makmur tidak seperti saat ini, masih sepi dan gelap, apalagi sewaktu malam tiba, masih banyak hutan dan ilalang, rumah masih berjauhan dan masih jalan setepak” ( Bapak Bonanja Tarigan).
“kalau untuk makanan sehari-hari dari hasil tanaman di sawah yang diolah sendiri seperti padi,dan satur- mayur” ( Bapak Pasangan Tarigan).
Masyarakat yang dulunya pertama sekali tinggal disini adalah keluagra yang bermarga Guru Singa dan disebut “ si pemantek kuta” terdiri dan marga-marga lainya dengan keluagranya masing-masing dan biasanya diantara masyarakat masih memiliki
hubungan saudara dengan yang lainya. Mereka mengajak anggota keluarga dan sanak
saudara untuk membuka lahan pemukiman dan pertanian yang baru karena masih
banyaknya lahan kosong dan pada waktu itu lahan belum diperjual belikan, jadi siapa
keluarga yang rajin membuka lahan maka akan mandapat lahan yang paling banyak dan
menjadi hak milik peribadinya. Lama kelamaan jumblah penduduk bertambah dan
bertambah lagi dengan masuknya penduduk yang juga berasal dari luar untuk menetap
di Desa Suka Makmur ini.
4.3.1.2. Awal Terbentuknya Desa Suka Makmur
Pada sekitar tahun 1948 Desa Suka Makmur diresmikan oleh Asisten Wedana
(pembantu pinpinan wilayah daerah tingkat II kabupaten) yaitu Dame Gurusinga. Awal
terbentuknya Desa Suka Makmur adalah Desa Suka Makmur merupakan gabungan dari
Seribu, Desa Tinembuk, Desa Beranti, Desa Jambu, dan Desa Batu Seri. Menurut Pak
Pasangan ke 6 desa terdahulu itu masih sangat kecil-kecil dan berpenduduk sedikit,
karena yang tinggal di desa terdahulu berdasarkab marganya, seperti Desa Lau Purba
yang tinggal di sana adalah orang-orang yang bermarga purba, Desa Bangun Seribu
yang tinggal di sana adalah oranr-orang yang bermarga Bangun/ Pernangin-nagin, Desa
Batu Seri yang tinggal di sana adalah orang-orang yang bermarga karo seperti barus,
Gurusinga, Ketaren, sinuhaji. Karena kata Seri pada bahasa karo adalah sama, dan
semua marga yang disebut di atas masih satu rumpun. Sedangkan Desa Jambu, Desa
Beranti, Desa Tinembuk dulunya adalah persawahan dan ladang yang masih dekat
dengan hutan yang ditinggali warga per kepala keluarga, Pada sekitar tahun 1948
masyarakat desa semakin bertambah dan masyarakat saling bercerita dan bertukar
fikiran dengan masyarakat lainya, maka ke 6 desa ini di gabung menjadi satu desa yaitu
Desa Suka Makmur, nama Suka Makmur disebut adalah agar senantiasa penduduk yang
bertempat tinggal di desa ini senantiasa dalam keadaan makmur dan sejahtra, serta hidup
damai, jadi nama desa ini adalah sebuah doa dan harapan bagi masyarakatnya. Seperti
beberapa cerita dari informan berikut ini :
“Desa Suka Makmur ini dulunya merupakan kampungan yang masih sepi yang merupakan gabungan dari 6 desa, setelah orang-orang saling bercerita maka
memutuskan membangun rumah berdekatan” (Ibuk Rehulina).
“Desa Suka Makmur waktu itu masih sepi sekali,tapi setelah 6 desa gigabungkan menjadi satu jadi lumayan rame” (Pak Bonanja Tarigan).
Meskipun jumbelah penduduk desa mulai bertambah dan seiring bertambahnya
terhadap kemajuan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Desa Suka Makmur, hal ini
mungkin dikarenakan belum terlalu berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi
pada waktu itu. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi serta
pendidikan yang tinggi dan interaksi sesama masyarakat ataupun dengan masyarakat
luar, maka Desa Suka Makmur pada saat ini sudah sangat banyak mengalami perubahan
dalam kemajuan sosial, ekonomi dan budaya serta lokasi wisata yang dimilikinya seperti
Taman Jubelium 100 Tahun GBKP, Perumahan Green Hill, Hotel De Hill dan Hill Park
Sibolangit.
4.3.1.3. Awal Terbentuknya Wisata Hill Phak
Hill Park Sibolangit ini terletak di Desa Suka Makmur Kecamatan Sibolangit,
sebelum menjadi Lokasi Wisata seperti saat ini, dulunya lokasi ini adalah tanah milik
warga asli penduduk Suka Makmur yang berbentuk persawahan dan ada juga masih
lahan kosong karena tidak dikelolah oleh pemiliknya, namun sekitar tahun 2000an satu
per satu tanah milik warga tersebut dibeli oleh orang yang sama. Dan setehah tahun
2005 tanah warga itu semuanya sudah terjual dan pada tahun ini juga sudah dimulai
pembangunan Hill Park, hingga pada 2007 pembangunanya sudah selesai dan resmi
dibuka untuk umum pada tanggal 7 juni 2008 dan memiliki luas mencapai sekitar 8
hektar. Berbagai fasilitas serta pusat-pusat hiburan juga telah dibangun di area yang
diberi nama Green Hill Sibolangit ini. Berbagai wahana permainan yang terdapat di Hill
Park Sibolangit ini dikelompokkan kedalam beberapa tempat wisata, hal ini bertujuan
agar wisatawan yang berkunjung dapat dengan mudah memilih dan menentukan sendiri