• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadaan Fisik Kawasan 1 Letak dan luas kawasan

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.2. Keadaan Fisik Kawasan 1 Letak dan luas kawasan

Menurut UPT TAHURA R. Soerjo (2010) kawasan Taman Hutan Raya R. Soerjo secara geografis berada di 70 40’ 10’’- 70 49’ 31’’ LS dan 1120 22’ 13’’- 1120 46’ 30’’ BT. Kawasan Tahura R. Soerjo memiliki luas 27.868, 30 ha. Secara administratif kawasan Tahura R. Soerjo terletak di lima kabupaten yaitu Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Jombang dan Kota Batu. Untuk lebih jelasnya tersaji pada Gambar 1 mengenai peta provinsi jawa timur dan letak Taman Hutan Raya R. Soero. Batas-batas kawasan Tahura R. Soerjo secara administratif adalah sebagai berikut :

• Batas sebelah barat : Kawasan hutan Perum Perhutani KPH Malang dan KPH Jombang

• Batas sebelah utara : Kawasan Hutan Perum Perhutani KPH Pasuruan

• Batas sebelah timur : Kawasan Hutan Perum Perhutani KPH Pasuruan

• Batas sebelah selatan : Kawasan Hutan Perum Perhutani KPH Malang dan APL Kota Batu

4.2.2. Topografi

Menurut UPT TAHURA R. Soerjo (2010) kawasan Taman Hutan Raya R. Soerjo merupakan sebuah dataran tinggi yang membentang dari barat ke timur dan selatan ke utara dengan konfigurasi topografi yang bervariasi yaitu antara datar, berbukit dan bergunung . Ketinggian kawasan Tahura R. Soerjo mulai dari 1000 – 3339 meter di atas permukaan laut.

4.2.3. Iklim

Menurut klasifikasi iklim Schmid dan Ferguson Tahura R. Soerjo termasuk tipe iklim C dan D dengan curah hujan rata-rata 2.500 - 4.500 mm per tahun. Suhu udara di Taman Hutan Raya R. Soerjo berkisar antara 5 0C – 10 0C (UPT TAHURA R. Soerjo 2010).

4.2.4. Hidrologi

Menurut UPT TAHURA R. Soerjo (2010) kawasan Taman Hutan Raya R. Soerjo termasuk dalam wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Terdapat beberapa sumber mata air di kawasan Taman hutan Raya R. Soerjo yaitu sumber mata air sungai brantas yang terletak di Gunung Anjasmoro (wilayah desa Sumber Brantas), sumber mata air yang terdapat di kompleks Gunung Arjuno (sumber mata air di pondok welirang dan di pondok lalijiwo), dan Sumber mata air panas cangar (Gunung Arjuno bagian barat). Terdapat tiga sumber air di sumber mata air panas cangar dan dua diantaranya telah dimanfaatkan sebagai tempat pemandian/tempat rekreasi.

4.3. Aksesibilitas

Menurut UPT TAHURA R. Soerjo (2010) kawasan Taman Hutan Raya R. Soerjo dapat dicapai melalui beberapa alternatif, antara lain:

1. Malang - Batu - Sumber Brantas, berjarak ± 38 km dan dapat dicapai dengan kendaraan umum maupun kendaraan pribadi.

2. Mojokerto – Pacet, berjarak ± 30 km dan hanya dapat dicapai dengan kendaraan pribadi.

3. Surabaya - Pandaan - Priden – Tretes, berjarak ± 74 km dan dapat dicapai dengan kendaraan umum, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Pondok Welirang, Padang rumput Lalijiwo terus ke Gunung Welirang selanjutnya turun ke lokasi dengan waktu perjalanan 14 jam.

Kondisi jalan menuju lokasi sangat baik dengan kondisi aspal yang masih baik. Namun jalan tersebut pada saat hujan rawan longsor dan jalannya licin serta jalannya yang menanjak dan turunan.

4.4. Keadaan Biologi

Menurut UPT TAHURA R. Soerjo (2010) di Tahura R. Soerjo terdapat tiga tipe vegetasi dengan kondisi yang masih baik yaitu :

1. Hutan alam cemara (Casuarina junghuhniana) pada ketinggian 1800 m dpl yang terdapat di gunung Arjuno lalijiwo

2. Padang rumput dengan luas 200 ha yang terdapat di bagian bawah pondok Welirang dengan dominasi tanaman jenis padi-padian dan kolonjono (Panicum repens)

3. Daerah hutan hujan tengah yang terdapat pada ketinggian 2000 – 2700 m dpl yang merupakan hutan campuran tiga tingkatan vegetasi yaitu pohon, semak dan tumbuhan bawah dengan dominasi jenis pasang (Quercus sp.), pohon nyampuh, Sumbung, dan gempur gunung.

4. Jenis-jenis flora yang terdapat di taman hutan raya R. Soerjo berjumlah 136 jenis yang terdiri dari pohon dan tumbuhan bawah. Jenis pohon yang terdapat di Tahura R. Soerjo antara lain cemara gunung (Casuarina junghuhniana), kukrup (Engelhardia spicata), pasang (Quercus sundaicus), treteh (Ficus sp.), anggrung (Trema orientalis), kebek (Ficus padana), cemberit

(Tabernemontana sphaercarpa), putihan (Buddleja asiantica Lour). Sedangkan untuk jenis tumbuhan bawahnya antara lain anggrek (Cymbidium simulans Rofle), Bambu (Bambusa sp), ciplukan (Physalis peruviana), lempuyangan (Globba marantina L), meniran merah (Phyllanthus urinaria), paku gunung (Pteris sp.), Wedusan (Ageratum conyzoides), dan edelweis (Analpalis javanica).

Fauna yang terdapat di Taman Hutan Raya R. Soerjo antara lain monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), elang jawa (Spizaetus bartelesi), kera hitam (Trachypitthesus auratus), landak (Histryx brachura), ular sawa (Python reticulatus), ayam hutan (Gallus Verius), Kutilang (Pycnonotus aurigaster), tupai (Sejuridae), alap-alap jambul (Accipiter trivigatus), dan alap-alap tikus/putih (Elanus hypoleuscus).

4.5 Keadaan Sosial Budaya Masyarakat

Tahura R. Soerjo di wilayah kota Batu berdekatan dengan sebuah desa yaitu Desa Sumberbrantas yang memiliki luas 541,1364 ha. Desa Sumberbrantas merupakan sebuah desa baru yang berasal dari pemekaran wilayah Desa Tulungrejo dan dulunya adalah sebuah dusun yang merupakan bagain dari wilayah Desa Tulungrejo. Jumlah penduduk yang ada di Desa Sumberbrantas berjumlah 4542 jiwa dengan rincian penduduk laki-laki berjumlah 2352 jiwa dan perempuan berjumlah 2190 jiwa. Penduduk yang ada di Desa Sumberbrantas mayoritas memeluk agama Islam dengan jumlah 4435 jiwa, kemudian agama Kristen sebanyak 102 jiwa, dan agama Khatolik sebanyak 5 jiwa. Mayoritas penduduk di Desa Sumberbrantas memiliki pendidikan terakhir yaitu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Masyarakat di Desa Sumberbrantas mayoritas berprofesi sebagai petani dengan komoditas pertanian yang ditanam yaitu kentang wortel dan gubis (kol). Namun ada juga yang berprofesi sebagai buruh, pegawai negeri sipil, pegawai swasta, dan pedagang. Selain itu masyarakat juga memiliki ternak yang dipelihara di masing-masing rumah dengan komoditas peternakan yang dipelihara yaitu sapi, kambing, ayam, dan kelinci.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Komposisi Vegetasi di Tahura R. Soerjo 5.1.1 Komposisi famili

Komposisi vegetasi yang terdapat di Tahura R. Soerjo berdasarkan famili dapat dilihat pada Gambar 6 .

Gambar 3 Komposisi Tumbuhan Berdasarkan Famili di lokasi penelitian Tahura R. Soerjo.

Hasil dari analisis vegetasi seperti pada Gambar 3 diketahui 39 famili yang berhasil diidentifikasi di lokasi penelitian Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo. Famili yang paling banyak spesiesnya jika dibandingkan dengan famili lainnya adalah dari Euphorbiaceae dengan 4 spesies yang ditemukan yaitu ketupuk (Claoxylon longifolium), kopian (Glochidion macrocarpum), tutup (Macaranga

sp.), dan patikan emas (Euphorbia hirta). Menurut Partomihardjo (1999) diacu dalam Purwaningsih dan Yusuf (2008) sistem pemencaran biji atau buah dari banyak spesies dalam suku Euphorbiaceae ini memiliki efektivitas yang tinggi dan pada umumnya dapat dipencarkan oleh angin, burung dan mamalia. Selain itu, menurut Riswan (1987) diacu dalam Purwaningsih dan Yusuf (2008) famili Euphorbiaceae merupakan salah satu famili yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam beradaptasi pada berbagai kondisi lingkungan.

Famili selanjutnya yaitu Moraceae teridentifikasi 3 spesies yang terdiri dari dampul (Ficus lepicarpa), kebek (Ficus padana), dan tritih (Ficus sp.). Selain itu famili Rosaceae juga teridentifikasi sebanyak 3 spesies yang terdiri dari spesies baros (Prunus cf. arborea ), ri bandel (Rubus chrysophyllus), dan sebra (Rubus fraxinifolius).

5.1.2 Komposisi spesies

Komposisi spesies tumbuhan yang diperoleh dari hasil analisis vegetasi tersaji pada Tabel 1.

Tabel 1 Daftar komposisi spesies berdasarkan tingkatan tumbuhan

No. Tingkat tumbuhan Jumlah spesies

1. Pohon 22

2. Tiang 22

3. Pancang 18

4. Semai 23

5. Tumbuhan bawah 25

Berdasarkan hasil analisis vegetasi seperti yang tersaji pada Tabel 1 tersebut diperoleh hasil 50 spesies dari 39 famili. Namun, hanya 40 spesies (80 %) yang berhasil diketahui sampai dengan spesiesnya sedangkan 10 spesies (20 %) belum berhasil teridentifikasi. Menurut keterangan tabel 1 di atas jumlah spesies yang paling banyak ditemukan adalah pada tingkat tumbuhan bawah sebanyak 25

spesies. Kemudian secara berurutan adalah semai 23 spesies, Tiang dan Pohon 22 spesies,dan pancang 18 spesies.

5.1.3 Komposisi tumbuhan berdasarkan habitus

Komposisi tumbuhan yang terdapat di Tahura R. Soerjo berdasarkan habitusnya tersaji pada Gambar 4.

Gambar 4 Komposisi Tumbuhan Berdasarkan Habitusnya di lokasi penelitian Tahura R. Soerjo.

Berdasarkan hasil analisis vegetasi tumbuhan yang paling mendominasi di dalam kawasan Tahura R. Soerjo adalah spesies yang berhabitus pohon dengan jumlahnya sekitar 25 spesies (50 %). Spesies tumbuhan selanjutnya adalah berhabitus semak dengan jumlah sekitar 12 spesies (24 %). Kemudian spesies berhabitus terna dengan jumlah sekitar 13 spesies (26 %).

5.1.4 Dominansi vegetasi

Dominansi adalah proporsi antara luas bidang dasar yang ditempati oleh spesies tumbuhan dengan total luas habitat. Nilai dari dominansi spesies ditunjukkan dengan nilai INP (Indeks Nilai Penting) yang merupakan parameter kuantitatif yang dapat dipakai untuk menyatakan tingkat dominansi tingkat penguasaan (Mukrimin 2011). Menurut Soegianto (1994) diacu dalam Maisyaroh (2010) Indeks Nilai Penting (INP) digunakan untuk menggambarkan tingkat penguasaan yang diberikan oleh suatu spesies terhadap komunitas, semakin besar nilai INP suatu spesies semakin besar tingkat penguasaan terhadap komunitas dan sebaliknya. Menurut Abdiyani (2008) Indeks Nilai Penting menunjukkan peranan

suatu spesies dalam kawasan. Spesies yang memiliki nilai INP paling besar, maka spesies tersebut mempunyai peranan yang penting di dalam kawasan tersebut. Selain itu, spesies ini juga mempunyai pengaruh paling dominan terhadap perubahan kondisi lingkungan maupun keberadaan spesies lainnya dalam kawasan.

Semakin tinggi INP suatu spesies maka spesies tersebut adalah yang paling dominan dari spesies yang lainnya. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan yang berkaitan dengan persaingan antar spesies yang lain. Persaingan akan meningkatkan daya juang untuk mempertahankan hidup, spesies yang kuat akan menang dan menekan yang lain sehingga spesies yang kalah menjadi kurang adaptif dan menyebabkan tingkat reproduksi rendah dan jumlahnya juga sedikit (Syamsuri 1993 diacu dalam Maisyaroh 2010). INP tertinggi pada spesies tumbuhan tingkat pohon, tiang, pancang, dan semai tersaji pada Tabel 2.

Tabel 2 Nilai INP tertinggi pada masing-masing tingkat tumbuhan

No. Nama jenis INP (%)

Pohon Tiang Pancang Semai

1. Pasang (Quercus sundaica) 78,86 - - -

2. Dampul (Ficus lepicarpa) - 42,65 - -

3. Kopian (Glochidion

macrocarpum) - - 34,30 51,40

4. Nyampuh gunung (Neonauclea

excels) - - - -

5. Endog-endogan (Fagraea blumei) - - - -

6. Tritih (Ficus sp.) - - - -

Berdasakan data pada Tabel 2 spesies yang memiliki nilai INP tertinggi pada tingkat pohon adalah pasang (Quercus sundaica) yaitu sebesar 78,86 %. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat pohon spesies yang mendominasi adalah pasang (Quercus sundaica). Sedangkan, spesies yang memliki nilai INP terendah pada tingkat pohon adalah cemara gunung (Casuarina junghuhniana) 1,66 %; tutup (Macaranga sp.) 2,20 %; nangkan (Litsea diversifolia) 1,53 %; putihan (Buddleja asiantica) 1,81 %, dan katesan (Macropanax dispermus) 2,11 %.

Pada spesies tumbuhan tingkat tiang yang mendominasi adalah dampul (Ficus lepicarpa) dengan nilai INP sebesar 42,65 %. Spesies yang memiliki INP terendah pada tingkat tiang adalah bima (Symplocos lucida) dengan nilai INP

sebesar 0,78 %; anggrung (Trema Orientalis) 0,79 %; baros (Prunus cf. arborea) 0,87 %; putihan (Buddleja asiantica) 0,87 %; tutup (Macaranga sp.) 1,68 %.

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai INP untuk tingkat pancang yang tertinggi yaitu kopian (Glochidion macrocarpum) dengan nilai sebesar 34,3 %. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat pancang, spesies kopian (Glochidion macrocarpum) adalah spesies yang paling dominan. Spesies yang memiliki nilai INP terendah yaitu tutup (Macaranga sp.) 1 %, genitri (Elaeocarpus sphaericus) 1 %, kukrup (Engelhardia spicata) 2 %, kupu ketek (Astronia spectabilis) 4 %, dan ketupuk (Claoxylon longifolium) dengan nilai INP 4,4 %. Menurut Kade et al.

(2006) tingkat pancang dapat dikatakan sebagai komponen permudaan yang sangat penting karena kunci sukses tidaknya proses permudaan tersebut berlangsung dapat dilihat pada fase ini. Banyak jenis pohon sangat sukses dalam memproduksi semai namun secara lambat-laun semai tersebut akan mati karena kondisi lingkungan yang tidak mendukung.

Nilai INP tertinggi untuk tingkat semai dimiliki oleh spesies kopian (Glochidion macrocarpum) dengan nilai 51,40 %, hal ini menunjukkan bahwa spesies tersebut yang mendominasi pada tingkat semai. Selain itu, hal tersebut juga berarti bahwa frekuensi perjumpaan yang sering serta jumlah individu yang lebih banyak dibandingkan spesies yang lain. Berdasarkan data pada Tabel 2 diketahui dominansi spesies pada tingkat semai berbeda dengan tingkat pohon. Spesies yang dominan pada tingkat pohon adalah pasang (Quercus sundaica) sedangkan pada tingkat semai adalah kopian (Glochidion macrocarpum). Keadaan ini dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap regenerasi dari spesies pasang (Q. Sundaica) karena jumlah semainya yang sedikit. Hal tersebut akan mengakibatkan kelangkaan spesies pasang (Q. Sundaica) di Tahura R. Soerjo.

Spesies tumbuhan yang mempunyai nilai INP terendah pada tingkat semai adalah kukrup (Engelhardia spicata) dengan nilai 0,9 %. Menurut Abdurrohim et al. (2004) permudaaan untuk spesies kukrup (Engelhardia spicata) di alam jarang dan tersebar jauh dari pohon induknya oleh karena itu dapat dilakukan permudaan buatan dengan cara menyemaikan biji-biji dari spesies ini. Selanjutnya, spesies yang memiliki INP terendah yaitu nangkan (Litsea diversifolia Blume), lembayungan (Turpinia montana), dan kebek (Ficus padana) dengan nilai 0,9 %.

Selanjutnya, putihan (Buddleja asiantica) dan baros (Prunus cf. arborea) dengan nilai 1,9 %.

Hasil analisis vegetasi tingkat tumbuhan bawah berhabitus semak dan terna diketahui bahwa spesies yang mempunyai nilai INP tertinggi adalah seperti yang tercantum pada Tabel 6.

Tabel 3 Nilai INP tertinggi pada tingkat tumbuhan bawah di lokasi penelitian

No Nama Spesies Nama Ilmiah INP (%)

1 Remejun Euphatorium riparium 74,91

2 Urang-rangan merah Elatostema latifolium 36,78

3 Paku-pakuan Pteris sp. 14,23

4 Jengkon merah Pilea sp. 14,04

5 Suruhan Piper miniatum 12,26

Spesies remejun (Euphatorium riparium) yang berhabitus semak memiliki nilai INP yang paling tinggi yaitu sebesar 74,91 %. Hal ini menunjukkan bahwa spesies tersebut adalah yang paling dominan dengan jumlah individu lebih banyak dibandingkan spesies tumbuhan bawah lainnya. Setiap spesies tumbuhan mempunyai suatu kondisi minimum, maksimum dan optimum terhadap faktor lingkungan yang ada. Spesies yang mendominasi berarti memiliki batasan kisaran yang lebih luas jika dibandingkan dengan spesies yang lainnya terhadap faktor lingkungan, sehingga kisaran toleransi yang luas pada faktor lingkungan menyebabkan spesies ini akan memiliki sebaran yang luas. Adanya spesies yang mendominasi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain persaingan antara tumbuhan yang ada yaitu berkaitan dengan iklim dan mineral yang diperlukan. Apabila iklim dan mineral yang dibutuhkan mendukung maka spesies tersebut akan lebih unggul dan lebih banyak ditemukan (Syafei (1990) diacu dalam Maisyaroh (2010)).

Tumbuhan bawah yang memiliki nilai INP terendah adalah temu ireng (Curcuma aeruginosa), codo (Elaeagnus latifolia), anggrek (Macodes sp.) dengan nilai INP sebesar 0,32%. Selanjutnya yaitu piji (Pinanga sp.) dengan nilai INP 0,67% dan patikan emas (Euphorbia hirta) dengan nilai INP 0,96 %.

5.5 Keanekaragaman spesies (H’)

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh keanekaragaman spesies untuk semua tingkat spesies seperti yang tersaji pada Gambar 5.

Gambar 5 Keanekaragaman spesies pada semua tingkat tumbuhan di lokasi penelitian Tahura R. Soerjo.

Berdasarkan Gambar 5, menunjukkan besarnya nilai keanekaragaman spesies tumbuhan pada tingkat pohon sebesar 2,5; tiang dengan keanekaragaman spesies sebesar 2,7; pancang dengan keanekaragaman spesies sebesar 2.6; semai yang mempunyai nilai keanekaragaman sebesar 2,6 dan tumbuhan bawah dengan keanekaragaman spesies sebesar 2,2. Apabila derajat keanekaragaman (H’) dalam suatu komunitas <1 maka keanekaragamanya rendah, 1≤ H’ ≤3 keanekaragamannya sedang, dan H’>3 maka keanekaragamannya tinggi (Shannon-Wiener (1963) diacu dalam Fachrul (2008)). Berdasarkan keterangan tersebut, maka keanekaragaman spesies yang terdapat pada lokasi penelitian tergolong memiliki tingkat keanekaragaman spesies yang sedang.

Tingkat keanekaragaman spesies menunjukkan tingkat kestabilan suatu komunitas hutan. Semakin tinggi tingkat keanekaragaman tersebut maka semakin tinggi pula tingkat kestabilan suatu komunitas (Whitmore 1990 diacu dalam Kade

et al. 2006). Kestabilan yang tinggi juga menunjukkan kompleksitas yang tinggi. Hal ini terjadi akibat adanya interaksi yang tinggi sehingga akan mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dalam menghadapi gangguan yang terjadi. Menurut Odum (1993) diacu dalam Maisyaroh (2010) keanekaragaman spesies penyusun komunitas tumbuhan pada suatu tempat merupakan hasil interaksi dari beberapa faktor. Faktor yang pertama adalah waktu, keanekaragaman spesies dalam suatu komunitas tumbuhan merupakan hasil dari evolusi sehingga keanekaragaman spesies tergantung pada panjang waktu. Faktor kedua adalah heterogenitas ruang, komunitas tumbuhan yang terbentuk sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang

ada. Semakin heterogen dan kompleks suatu lingkungan maka keanekaragaman spesies penyusun komunitas semakin meningkat. Faktor yang ketiga adalah adanya persaingan diantara individu dalam suatu komunitas yang merupakan salah satu bagian dari seleksi alam. Oleh karena itu, spesies penyusun komunitas yang ada pada suatu waktu merupakan spesies yang mampu bersaing. Faktor yang keempat adalah predasi, adanya spesies tertentu yang dimakan oleh herbivora berarti akan mengurangi persaingan. Pemangsaan dan parasitisme dalam lingkungan akan cenderung untuk membatasi kelimpahan spesies tertentu dan dengan demikian akan mempersulit spesies untuk menambah kerapatan populasinya. Faktor yang kelima adalah stabilitas lingkungan, pada lingkungan yang stabil akan menghasilkan spesies yang lebih banyak. Oleh karena itu, pada daerah tropis yang mempunyai iklim lebih stabil memiliki keanekaragaman spesies yang lebih tinggi daripada daerah yang berilklim sedang dan kutub. Faktor yang keenam adalah produktivitas, faktor ini berhubungan dengan stabilitas iklim. Pada daerah yang mempunyai iklim stabil maka akan mempunyai produktivitas yang tinggi dengan keanekaragaman yang tinggi pula.

Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa keanekaragaman spesies di Tahura R. Soerjo khusunya di lokasi penelitian memiliki keanekaragam spesies yang sedang. Kondisi tersebut memungkinkan pada masa yang akan datang Tahura R. Soerjo masih memiliki ketersediaan plasma nutfah. Hal ini dikarenakan pohon-pohon yang ada sekarang masih mempunyai semai yang dapat berguna bagi regenerasi spesies untuk masa kedepannya.

Disisi lain, tumbuhan pada tingkat semai mempunyai kerentanan yang cukup tinggi terhadap gangguan baik dari manusia maupun alam. Gangguan dari alam seperti angin, longsor, dan tumbangnya pohon sehingga menimpa semai yang dapat menyebabkan semai mati. Masyarakat yang tinggal berdekatan dengan kawasan Tahura R. Soerjo sering memanfaatkan rumput dan tumbuh-tumbuhan lain sebagai pakan ternak. Hal ini akan berdampak buruk terhadap kondisi semai di dalam kawasan karena kebanyakan masyarakat dalam mengambil rumput tidak mengerti tentang tumbuhan yang mereka ambil. Oleh karena itu, diperlukan tindakan dari petugas untuk mengambil keputusan yang lebih tegas.

5.6 Kemerataan individu spesies (Evenness)

Nilai indeks kemerataan individu di dalam spesies (Evenness) untuk masing-masing tingkatan tumbuhan tersaji pada Gambar 6.

Gambar 6 Kemerataan spesies di lokasi penelitian Taman Hutan Raya R. Soerjo. Indeks kemerataan digunakan untuk mengetahui kemerataan penyebaran individu suatu spesies dalam komunitas. Berdasarkan hasil perhitungan seperti yang tersaji pada Gambar 6 di atas diketahui nilai indeks kemerataan spesies pada setiap tingkat tumbuhan di lokasi penelitian yaitu untuk tingkat pohon sebesar 0.809, tiang sebesar 0.873, pancang 0.899, semai sebesar 0.829, dan tingkat tumbuhan bawah sebesar 0.683. Menurut Krebs (1978) nilai indeks kemerataan yang mendekati satu menunjukkan bahwa suatu komunitas tumbuhan semakin merata, sementara apabila semakin mendekati nol, maka semakin tidak merata.

Berdasarkan hal tersebut maka nilai indeks kemerataan yang paling tinggi terdapat pada tingkat pancang sedangkan untuk indeks kemerataan yang paling rendah yaitu pada tingkat tumbuhan bawah. Indeks kemerataan yang paling tinggi menunjukkan bahwa individu-individu spesiesnya lebih merata dibandingkan dengan tingkat tumbuhan yang lain. Sedangkan untuk tingkat tumbuhan yang memiliki nilai indeks kemerataan rendah menunjukkan bahwa penyebaran individu-individu spesiesnya kurang merata dan terkonsentrasi pada beberapa tempat bila dibandingkan dengan tingkat tumbuhan yang lain.

5.2 Potensi Tumbuhan Berguna di Taman Hutan Raya R. Soerjo

Berdasarkan hasil analisis vegetasi teridentifikasi 37 (74 %) spesies dari 28 famili yang telah diketahui kegunaannya yaitu sebagai tumbuhan obat; tumbuhan penghasil pangan; tumbuhan penghasil bahan bangunan; tumbuhan penghasil pakan ternak; tumbuhan hias; tumbuhan penghasil pewarna dan tanin; tumbuhan sebagai tali, anyaman dan kerajinan; tumbuhan penghasil pestisida nabati; dan tumbuhan penghasil kayu bakar seperti yang tersaji pada Tabel 4.

Tabel 4 Hasil rekapitulasi kelompok kegunaan

No. Kelompok Kegunaan Tumbuhan Jumlah

(Spesies) Habitus Famili

1. Tumbuhan penghasil obat 16 3 15

2. Tumbuhan sebagai pangan 14 3 12

3. Tumbuhan sebagai bahan bangunan 15 1 13

4. Tumbuhan tali, anyaman dan kerajinan 3 2 3

5. Tumbuhan kayu bakar 2 2 2

6. Tumbuhan penghasil warna dan tannin 4 2 4

7. Tumbuhan hias 4 3 4

8. Tumbuhan sebagai pestisida nabati 3 2 3

9. Tumbuhan penghasil pakan ternak 6 2 6

Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa spesies yang ditemukan paling banyak berguna sebagai tumbuhan obat yaitu sebanyak 16 spesies dari 15 famili dan dengan 3 habitus. Sedangkan, spesies yang paling sedikit diketahui kegunaannya yaitu sebagai kayu bakar dengan 2 spesies dari 2 famili dan dari 2 habitus. Hasil dari rekapitulasi ditemukan tumbuhan yang potensial yaitu suatu spesies tumbuhan yang memiliki berbagai macam kegunaan (manfaat) yaitu anggrung (Trema orientalis) dari famili Ulmaceae yang memiliki kegunaan untuk bahan obat, bahan bangunan, pewarna dan tanin, bahan pangan, kayu bakar, untuk anyaman, tali dan kerajinan. anggrung (T. orientalis) juga potensial untuk dikembangkan karena tumbuhan ini merupakan salah satu spesies yang dapat tumbuh dengan cepat.

5.2.1. Tumbuhan obat

Hasil dari analisis vegetasi diperoleh 16 spesies dari 15 famili yang berpotensi mempunyai khasiat sebagai tumbuhan obat. Spesies-spesies tersebut terdiri dari 3 habitus yaitu pohon, semak, dan terna. Pada spesies yang berhabitus pohon tumbuhan yang memiliki khasiat sebagai obat berjumlah 4 spesies yaitu

kukrup (Engelhardia spicata), genitri (Elaeocarpus sphaericus), pasang abang (Lithocarpus elegans), dan anggrung (Trema orientalis). Spesies yang berhabitus semak berjumlah 3 spesies yaitu remejun (Euphatorium riparium), suruhan (Piper miniatum), dan sebra (Rubus fraxinifolius). Habitus Terna berjumlah 9 spesies yaitu terdiri dari spesies kacang-kacangan (Clitoria ternatea), corok bathok (Bidens pilosa), pakis (Diplazium esculentum), temu ireng (Curcuma aeruginosa), pelapis (Selaginella plana), kecutan (Oxalis corniculata), tebu sawur (Polygonum chinense), patikan emas (Euphorbia hirta) dan lempuyangan (Globba marantina). Contoh mengenai khasiat tumbuhan-tumbuhan tersebut sebagai bahan obat hasil identifikasi berdasarkan Heyne (1987) dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5 Daftar beberapa spesies tumbuhan berguna sebagai obat

No. Nama Spesies Bagian yang

digunakan Jenis penyakit 1 Anggrung (Trema orientalis) Akar Penyakit saluran kencing

Sakit perut 2 Kacang-kacangan (Clitoria ternatea) Akar

Daun Bunga

Membersihkan darah Bisul

Obat batuk berat 3 Corok bathok (Bidens pilosa) Akar

Batang muda Daun

Sakit gigi Sakit mata Bisul

4 Pelapis (Selaginella plana) Seluruh bagian Pembekuan darah Pembersih darah Menguatkan lambung 5 Sebra (Rubus Fraxinifolius) Daun Disentri

6 Tebu sawur (Polygonum chinense) Batang (cairan) Daun muda

Obat mata

7 Lempuyangan (Globba marantina) Tunas (bulbil) Menambah nafsu makan 8 Temu ireng (Curcuma aeruginosa) Rimpang

Akar

Perawatan setelah Melahirkan, Penyakit kulit

9 Pakis (Diplazium esculentum) Akar Menghilangkan bau keringat 10 Kecutan (Oxalis corniculata) Seluruh bagian Penyakit kulit, Sariawan, Bau

mulut, Obat mata, Sakit perut

Berdasarkan data pada Tabel 5 di atas diketahui spesies yang memiliki khasiat menyembuhkan banyak penyakit yaitu spesies kecutan (Oxalis corniculata) yang dapat menyembuhkan penyakit kulit, sariawan, bau mulut, sakit mata, dan sakit perut. Cara penggunaan spesies ini untuk menyembuhkan penyakit kulit adalah dengan menumbuk seluruh bagian tumbuhan kecutan (Oxalis corniculata) selanjutnya dicampur dengan tepung beras kemudian digunakan sebagai bedak pada biang keringat. Penyembuhan terhadap penyakit sariawan, bau

mulut dan sakit mata dapat dilakukan dengan cara spesies kecutan (Oxalis corniculata) digerus dengan air dan diperas airnya, kemudian digunakan untuk obat kumur. Menurut Kathiriya et al. (2010) ekstrak etanol dari tumbuhan Oxalis corniculata efektif digunakan untuk menghambat pertumbuhan sel tumor. Selain itu menurut Kathiriya et al. (2010) tanaman Oxalis corniculata mengandung vitamin C dan dapat digunakan dalam pengobatan penyakit kudis.

Remejun (Euphatorium riparium) merupakan salah satu tumbuhan obat yang berkhasiat sebagai peluruh air seni. Menurut Heyne (1987) tumbuhan ini merupakan spesies eksotik yang berasal dari Meksiko. Pada lokasi penelitian spesies Euphatorium riparium merupakan spesies yang ditemukan dalam jumlah

Dokumen terkait