• Tidak ada hasil yang ditemukan

Riwayat sekolah ini dimulai dari dibukanya Land en Tuinbouw Cursus pada 6 Juli 1903 di Kebun Raya Bogor oleh Dr. Melchior Treub, direktur kebun raya itu. Muridnya saat itu cuma 13 orang. Guru-gurunya hampir semua berkebangsaan Belanda, misalnya Dr. Th. Valenton dan Dr. W.G. Boorsma. Setelah berjalan 10 tahun, siswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan berjumlah 88 orang, di antaranya 16 orang berkebangsaan Belanda.

Pada 1913 jenjang lembaga pendidikan ini ditingkatkan menjadi Middelbare Landbouw School (MLS) dengan lama pendidikan tiga tahun. Dari sekolah ini dihasilkan penyuluh pertanian lapangan atau LVD (landouw voorlichting dienst), tenaga lapangan di onderneming (perkebunan besar), atau asisten peneliti di Lembaga Penelitian Pertanian. MLS juga mencetak pengusaha pertanian yang terdidik.

Beberapa tahun sebelum pecah perang Asia Timur Raya (invasi Jepang ke Asia Tenggara), pendidikan di MLS dibedakan atas jurusan pertanian rakyat dan jurusan perkebunan besar. Ini tak lepas dari kepentingan Belanda yang pada masa itu mengalami kesukaran mendapatkan teknisi perkebunan lulusan Belanda (Wageningen) akibat Perang Dunia II yang melanda Eropa.

Dalam dasawarsa pertama, MLS berhasil meluluskan pelajarnya yang kemudian menjadi orang-orang ternama, seperti Wisaksono Wijodihardjo dan Ign. J. Kasimo. Pada dasawarsa berikutnya, MLS juga meluluskan Dr. Hadrian Siregar dan Prof. Ir. Anwas Adiwilaga. Kemudian, menjelang Perang Dunia II, Prof. Dr. Ir. Tojib Hadiwidjaja, Prof. Ir. Soedarsono Hadisapoetro. Prof. Dr. Ir. Soetardi Mangoendojo, dan Laksamana Soebijakto berhasil menyelesaikan pendidikannya di sekolah ini. Total tercatat ada 620 orang alumni MLS, lebih 70 orang di antaranya berbangsaan Belanda.

Ketika penjajahan Belanda berakhir dan berganti dengan pendudukan Jepang, nama sekolah ini berubah menjadi Nogyo Senmon Gakko atau Sekolah Pertanian Menengah Tinggi (SPMT). Pada masa itu, kepala sekolahnya R. Sodo Adisewojo, lulusan MLS tahun 1919. R. Sodo Adisewojo adalah orang Indonesia pertama yang memimpin sekolah ini.

25 Pada masa pendudukan Jepang lulusan SPMT sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produksi pangan guna melanjutkan dan memperluas perang. Selama tahun-tahun itu pula siswa SPMT diharuskan mengikuti latihan kemiliteran. Ini menguntungkan, karena ternyata latihan kemiliteran itu berguna bagi siswa yang kelak ikut mengangkat senjata melawan Belanda di masa revolusi fisik. Nama besar yang berhasil menimba ilmu di SPMT di antaranya Prof. Ir. Gembong Tjitrosoepomo, Prof. Dr. Ir. Tb. Bachtiar Rifai, Letjen. Haerudin Tasning, dan Mang Udel.

Ketika tentara Sekutu menyerbu Pulau Jawa pada akhir 1945, siswa kelas III dan guru SPMT Bogor terpaksa hijrah ke Tegalgondo (Solo, Jawa Tengah). Lalu mereka menetap di Yogyakarta dan mendirikan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Negeri di Ibukota RI waktu itu. Siswa kelas I dan II SPMT Bogor sebagian hijrah sampai ke Jawa Timur, bergabung dengan SPMT yang sudah berdiri di Malang sejak 1944. Bulan September 1946 SPMT di Bogor dibuka kembali oleh pemerintah Federal. Selama menyandang nama SPMT ini, sebanyak 134 orang berhasil menyelesaikan pendidikannya.

Latar Belakang, Visi, dan Misi STPP

Latar belakang berdirinya STPP adalah untuk menjawab permasalahan kualitas Sumberdaya Manusia yang mampu mengakselerasi pembangunan pertanian. Pencanangan agribisnis dalam kemasan Penyuluhan Sebagai Lokomotif Pembangunan Nasional membutuhkan Sumberdaya Manusia yang kompeten dan mampu memecahkan berbagai masalah yang kompleks. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor menawarkan kegiatan program DIV Penyuluhan Pertanian. Program ini dilaksanakan untuk mengakomodasi kebutuhan penyuluh dalam mengaktualisasi diri sebagai penyuluh ahli.

Visi dari STPP Bogor yaitu STPP sebagai Lembaga Pendidikan Kedinasan Penyuluhan Pertanian profesional dalam pengmbangan ilmu dan teknologi terapan penyuluhan pertanian yang berkualitas, mampu mengadakan revitalisasi penyuluhan pertanian sehingga dapat mewujudkan sistem agribisnis dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berorientasi kerakyatan, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan.

26 Misi dari STPP Bogor adalah sebagai berikut:

1. Penyelenggara pendidikan tinggi yang berbasis ilmu pengetahuan untuk menghasilkan tenaga penyuluh yang mandiri dan berkualitas, berkemampuan menemukan, mengembangkan, serta menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2. Menjadi barometer bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi penyuluhan pertanian.

3. Menjadi almamater penyuluhan pertanian.

4. Mengembangkan kelembagaan menejemen agribisnis moderen yang berorientasi pada mutu, profesionalisme dan keterbukaan serta mampu bersaing.

5. Penggerak pembangunan penyuluhan pertanian yang berasaskan pada pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan.

Tujuan pendidikan dari STPP adalah untuk meningkatkan kualifikasi penyuluh pertanian pada jenjang penyuluh ahli yang mampu mengemas pemikirannya dalam pendekatan manajerial. Bidang keahlian diarahkan untuk penguasaan materi pemasaran dan kemampuan menghadirkan kegiatan bisnis di tingkat kelompok pada suatu wilayah atau desa. Materi tersebut terdiri dari teknik budidaya, pengelolaan hasil pertanian, manajemen agribisnis, penyuluhan, dan komunikasi dengan pendekatan partisipatif.

Perkembangan Kelembagaan

Mulai tahun 1987/1988, 10 SPP Negeri ditingkatkan fungsinya menjadi Diklat Ahli Penyuluhan Pertanian (Diklat APP) di 10 lokasi. Dengan adanya PP 30/90 Kelembagaan Diklat APP disesuaikan menjadi Akademi Penyuluhan Pertanian pada tahun 1993 dengan menyelenggarakan 3 program studi, yaitu pertanian, peternakan, dan perikanan. Dalam rangka peningkatan APP menjadi STPP pada tahun 2001, 2 APP ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) yaitu STPP Bogor dan STPP Malang. Kemudian pada tahun 2002; APP Medan, APP Magelang, APP Gowa dan SPP Manokwari telah mendapat persetujuan dari Mendiknas untuk ditingkatkan kelembagaanya menjadi Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP). Surat persetujuan ini diterbitkan pada tanggal 17 Januari 2002 dengan nomor 20/MPN/2002.

27 Sistem Pembelajaran

Kegiatan perkuliahan STPP Jurusan Penyuluhan Peternakan didukung oleh staf pengajar yang terdiri atas dosen tetap yang berjumlah 15 orang dengan kualifikasi berpendidikan S2 sebanyak 5 orang, S1 sebanyak 10 orang. Teknisi Sumber Belajar sebanyak 8 orang, dengan kualifikasi berpendidikan S1 sebanyak 2 orang, DIV sebanyak 5 orang, dan DIII sebanyak 1 orang. Selain itu didukung pula oleh dosen luar biasa yang berasal dari IPB, Balitnak, Badan SDM Pertanian, GKI Cicurug, Taurus Farm, dan Ternak Domba Sehat Farm.

Kurikulum yang digunakan di STPP/APP adalah Kurikulum yang disusun tahun 2000 dengan jumlah beban studi yang harus diselesaikan 150-160 SKS untuk STPP atau 110-120 SKS untuk APP. Proses pembelajaran yang diterapkan di STPP/APP menggunakan metode andragogi (pendidikan orang dewasa). Selain klasikal, proses pembelajaran juga dilaksanakan di lapangan melalui kegiatan praktikum, studi banding dan magang. Dalam rangka menumbuhkan jiwa kepemimpinan, kemampuan berorganisasi, membina kesatuan, dan berbagi pengalaman, dilaksanakan kegiatan : Latihan Kedisiplinan, Latihan Pramuka Tingkat Mahir Dasar I, dan Temu Kepemimpinan Mahasiswa Nasional.

Lokasi STPP Jurusan Penyuluhan Peternakan

Lokasi STPP Jurusan Penyuluhan Peternakan berada pada Desa Pasir Buncir kecamatan Caringin. Desa Pasir Buncir sendiri merupakan pemekaran dari Desa Cinagara. Desa Pasir Buncir berada pada ketinggian 600m di atas permukaan laut. Desa Pasir Buncir berbatasan dengan :

• Utara : Desa Cinagara • Timur : Gunung Pangrango • Selatan : Desa Wates

• Barat : Desa Serogoh

Jumlah penduduk desa ini adalah pria : 3723 jiwa, dan wanita : 2347 jiwa. Daerah ini sangat mendukung STPP, jumlah ternak pada tahun 2004 untuk komoditi sapi perah berjumlah 55 ekor, kerbau 35 ekor, kambing 300 ekor, domba 400 ekor, dan ayam 7.020 ekor. Luas lahan milik masyarakat 4,6 Ha, sedangkan milik perusahaan 22 Ha, milik perorangan 2,3 Ha, dan untuk sewa 1,4 Ha. Pemerintah

28 daerah juga memfasilitasi kegiatan peternakan dengan adanya dinas peningkatan mutu genetik dan perawatan kesehatan hewan. Dinas tersebut menyediakan pelayanan inseminasi buatan, kastrasi, dan perawatan kesehatan hewan yang moderen maupun tradisional.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dokumen terkait