4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Keadaan Umum Lokasi Skripsi
Waduk Lahor adalah waduk sungai yang terbentuk karena pembendungan sungai lahor dan sungai biru. Pembendungan waduk bertujuan untuk pengendali banjir, pengairan, pembangkit tenaga listrik, perikanan (keramba jaring apung), dan pariwisata (Lumbanbatu, 1979). Sedangkan menurut Apridayanti (2008), Waduk Lahor merupakan bagian dari proyek pembangunan wilayah sungai brantas yang dilaksanakan secara terpadu oleh badan proyek brantas atau badan pelaksana induk pengembangan wilayah sungai brantas.proyek ini dilaksanakan tahun 1972 dan berfungsi sejak bulan november 1977.
Menurut Perum Jasa Tirta 1 (2004), Waduk Lahor menjadi salah satu inlet (daerah aliran masuk) dari waduk sutami yang merupakan waduk terbesar di Jawa Timur. Adapun daerah batasan-batasan Waduk Lahor dengan daerah sekitarnya adalah sebelah utara merupakan desa jebuer dan desa ngadirejo, sebelah timur merupakan sungai biru, sebelah selatan merupakan Desa Karang Kates dan sebelah barat merupakan Desa Boro dan Kabupaten Blitar.
Kondisi lingkungan yang ada pada sekitar waduk terdapat banyak aktivitas manusia, antara lain kegiatan pertanian, peternakan, pertanian dan perikanan. Kegiatan perikanan yang ada pada Waduk Lahor terdiri dari keramba jaring apung (KJA), jaring sekat, beranjang, penangkapan ikan dengan jaring tebar dan pancing. Dari berbagai kegiatan yang ada di waduk, menggambarkan bahwa Waduk Lahor memiliki peran penting terhadap perekonomian masyarakat fyang ada di sekitar waduk. Lokasi stasiun pengambilan sample dapat dilihat pada Gambar 3.
4.5.1 Stasiun 1
Stasiun 1 merupakan daerah teluk sebelah selatan Waduk Lahor, daerah ini jauh dari kegiatan perikanan darat akan tetapi dekat dengan pemukiman masyarakat. Pengambilan sampel air dan fitoplankton terletak pada titik koordinat 808.962’S dan 112027.191’E.
Gambar 1. Lokasi pengambilan sampel stasiun 1
4.5.2 Stasiun 2
Stasiun dua merupakan daerah yang di aliri oleh sungai lahor, daerah ini merupakan daerah yang dekat dengan pemukiman penduduk, dan lahan pertanian. Kegiatan perikanan darat yang terdapat di stasiun dua adalah penangkapan ikan dengan menggunakan jaring dan pancing. Pengambilan sampel air dan fitoplankton terletak pada titik koordinat 808.760’S dan 112027.472’E
Gambar 2. Lokasi pengambilan sampel stasiun 2
4.5.3 Stasiun 3
Stasiun 3 merupakan daerah teluk Waduk Lahor, dimana terdapat kegiatan perhotelan di sekitar Waduk Lahor. Pengambilan sampel air, pengukuran parameter fisika seperti suhu, kecerahan dan parameter kimia (pH) terletak pada titik koordinat 808.555’S dan dan 112027.280’E. aktivitas manusia lainnya yang terdapat di sekitar stasiun adalah perikanan dengan keramba jaring apung (KJA) dan jaring sekat.
Gambar 3. Lokasi pengambilan sampel stasiun 3
4.5.4 Stasiun 4
Stasiun 4 merupakan bagian tengah Waduk Lahor yang merupakan tempat Berkumpulnya semua masukan air, selain itu juga dekat dengan pengeluaran air Waduk Lahor,daerah ini dekat dengan jalan raya. Pengambilan sampel air dan fitoplankton terletak pada titik koordinat 808.726’S dan 112027.263’E. Aktivitas manusia yang terdapat di sekitar stasiun 4 adalah kegiatan pariwisata. Kegiatan perikanan seperti keramba jaring apung (KJA), jaring sekat tidak di temukan di stasiun 4
Gambar 4. Lokasi pengambilan sampel stasiun 4
4.2 Produktivitas Primer
Produktivitas primer diperairan secara mendasar pada aktivitas fotosintesis dari organisme autotrof atau organisme fotosintesis yang dapat mengubah karbondioksida menjadi bahan organik. Oleh karena itu pendugaan produktivitas primer pada perairan alami didasarkan pada pengukuran aktivitas fotosintesis yang utamanya dilakukan oleh alga. Pada rantai makanan penurunan produktivitas primer perairan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan maupun organisme perairan lain (Sachlan, 1973).
Hasil rata-rata produktivitas primer bersih atau (NPP) parairan Waduk Lahor berkisar antara 154,82-253,3mgC/m2/Hari. Dimana produktivitas primer bersih terendah terdapat pada stasiun 1 yaitu sebesar 154,82 mgC/m2/Hari, sedangkan produktivitas primer bersih tertinggi terdapat pada stasiun 3 yaitu sebesar 253,3 mgC/m2/Hari. Tingginya produktivitas primer pada stasiun 3 dapat dihubungkan dengan hasil klorofil-a kerana klorofil-a merupakan pigmen paling utama. Pigmen ini menjadi media berlangsungnya proses fotosintesis. Menurut (Stewart, 1974 dan Krik, 1994), Klorofil-a adalah pigmen dasar yang terlibat dalam penyerapan cahaya dan fotokimia pada algae, tumbuhan tingkat tinggi dan bakteri fotosintesis. Sedangkan menurut Tambaru (2008), klorofil itu terdiri atas 4 jenis utama yaitu klorofil-a, b, c dan d. Namun, klorofil-a merupakan
pigmen fotosintesis utama organisme autotrof. Klorofil yang lain merupakan pigmen tambahan yang berfungsi sebagai penyerap cahaya.
Produktivitas primer bersih (NPP) adalah besarnya senyawa karbon organik selama proses fotosintesis dikurangi besarnya aktivitas total respirasi pada waktu tertentu (Folkowski dan Raven, 1997). Besar/kecilnya produktivitas primer perairan dapat mengindikasikan besar/kecilnya ketersediaan nutrien terlarut perairan (Krismono dan Kartamihardja, 1995).
Menurut Mason (1981), perairan yang memiliki produktivitas antara 7-75 mgC/m2//Hari tergolong kedalam peraira yang oligotrofik, produktivitas perairan dengan nilai antara 75-250 mgC/m2//Hari,tergolong mesotrofik dan produktivitas primer antara 250-700 mgC/m2//Hari tergolong eutrofik, dan produktivitas primer dengan nilai lebih dari 1000 mgC/m2//Hari tergolong hypotrofik. Dari pernyataan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa perairan Waduk Lahor Kabupaten Malang Jawa Timur terggolong kedalam perairan mesotrofik menuju eutrofik.
Tabel 1. Hasil perhitungan produktivitas primer (mg C/m2/Hari) stasiun Ulangan
rata-rata Keterangan
1 2
1 144,64 165 154,82 Mesotrofik 2 154,28 172,07 163,17 Mesotrofik 3 246,42 260,357 253,39 Eutrofik 4 175,71 166,39 171,05 Mesotrofik
4.3 Fitoplankton 4.1
4.2 4.3
4.5.1 Komposisi Fitoplankton dan kelimpahan fitoplankton
Komposisi fitoplakton pada Waduk Lahor Kabupaten Malang Jawa Timur terdiri dari 3 divisi yaitu Chlorophyta, Cyanophyta dan Crysophyta dan Terdiri
dari 15 genus yaitu : Agmenelum, Anabaena, Microcystis, Phormidium, Oscillatoria, Mikrospora, Scenedesmus, Volvox, Chlorella, Cleochaita, Nitchia, cyclotella, Navicula, Gyrosigma, dan Staurastrum. Genus terbanyak di Waduk Lahor Kabupaten Malang Jawa timur yaitu Chlorophyta. Menurut Boyd dan Wynne (1985), Chlorophyta merupakan golongan terbesar dari alga dan merupakan kelompok yang paling beragam, karena ada yang bersel tunggal, berkoloni dan bersel banyak. Alga ini banyak terdapat di danau, kolam, dan kebanyakan hidup di perairan tawar.
Kelimpahan fitoplankton di Waduk Lahor berkisar antara 13445-18300sel/ml. Kelimpahan terendah terdapat pada stasiun 1. kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun 3. Tingginya kelimpahan fitoplankton di stasiun 3 diduga karena stasiun 3 terdapat kegiatan perikanan darat sehingga stasiun 3 menyumbang unsur hara yang dapat digunakan untuk pertumbuhan fitoplankton.
Kisaran kelimpahan fitoplankton dapat menunjukkan kesuburan perairan.
Menurut Subarijanti (1990) terdapat 3 jenis perairan berdasarkan kelimpahan fitoplankton yaitu:
Perairan oligotrof merupakan perairan yang memiliki kesuburan rendah
yang ditandai dengan kelimpahan plankton antara 0-2000 sel/ml.
Perairan mesotrof merupakan perairan yang memiliki kesuburan sedang
yang ditandai dengan kelimpahan plankton antar 2000-14000 sel/ml.
Perairan eutrof merupakan perairan dengan tingkat kesuburan tinggi yang
di tandai dengan kelimpahan plankton diatas 14000 sel/ml.
Sehingga jika dilihat dari kelimpahan fitoplankton maka Waduk Lahor Kabupaten Malang tergolong dalam perairan eutrof.
Gambar 5. Kelimpahan Relatif Fitoplankton 4.3.1.1 Stasiun 1
Komposisi kelimpahan fitoplankton pada stasiun 1 terdiri dari 3 devisi dan 11 genus (dapat di lihat pada lampiran 7 dan gambar 7). Ketiga devisi tersebut yaitu Chlorophyta, Cyanophyta, dan Chrysophyta. Devisi Chlorophyta terdapat genus Microspora, Gyrosigma, Chlorella, Cleochaita dan Scenedesmus. Divisi Cyanophyta terdapat genus yaitu Agmenelum, Microcystis, anabaena, dan Merismopedia, pada devisi Chrysophyta terdapat 2 genus yaitu Nitzschia dan Cylatella.
Kelimpahan total fitoplankton pada stasiun 1 sebesar 1mesotrof baik pada minggu pertama maupun minggu ke 2. Stasiun satu devisi Chloropyta mempunyai nilai total kelimpahan relatif sebesar 40% pada minggu pertama dan 41% pada minggu kedua, devisi Cyanophyta mempunyai total kelimpahan relatif 37% pada minggu pertama dan 35% di minggu kedua, sedangkan Chrysophyta mempunyai kelimpahan relatif sebesar 23 pada minggu pertama dan 24%
minggu kedua.
Sehingga kelimpahan relatif tertinggi terdapat pada divisi Chlorophyta dengan nilai kelimpahan 5460sel/ml, sedangkan kelimpahan relatif terendah terdapat pada devisi Cyanophyta. Divisi Chlorophyta termasuk dalam kelimpahan
1 2 1 2 1 2 1 2
stasiun 1 stasiun 2 stasiun 3 stasiun 4
kelimpahan relatif (%)
Astasiun