• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lokasi sekolah pertama telah berdiri sejak 1989 dan merupakan salah satu Taman Kanak-kanak terbaik di daerah Pamulang dan sekitarnya, berada di kelurahan Pondok Cabe Udik, yang rata-rata setiap tahunnya menerima anak didik sebanyak 38 untuk penempatan di kelompok A, yang dibagi menjadi 3 kelas setiap kelasnya hanya terdiri dari 10-15 anak. Pada tahun ajaran 2011-2012 meluluskan sebanyak 45 anak kelompok B. setiap kelas memiliki 2 orang guru yaitu satu guru utama dan satu guru pendamping.

Selain berdasarkan kurikulum nasional dari departemen pendidikan nasional, juga mengembangkan pola pembelajaran Aktif, Kreatif dengan kegiatan bermain yang menyenangkan bagi anak-anak dengan menggunakan pendekatan sentra yang diharapkan anak-anak dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan dan karakteristik anak-anak. Memiliki seluruh tenaga pengajar lulusan Sarjana Pendidikan Anak yang memiliki 6 ruang sentra (makro, mikro, balok, sains, musik, imtak) sentra outdoor, bermain motorik kasar, bercocok tanam, kebun binatang mini, pasir) serta memiliki 9 orang guru, 1 orang administrasi, 1 orang koki, 1 orang tukang kebun, 1 orang ilustrator untuk media Big book, 2 orang pesuruh. Sekolah ini memiliki luas bangunan 2000 m2. Untuk kelas A sekolah ini memiliki 3 kelas dan 3 kelas untuk kelas TK B yang masing-masing kelas disediakan untuk 15 orang anak dengan 1 guru utama dan 1 guru pendamping.

Lokasi sekolah kedua berada di kelurahan Pamulang Barat, memiliki jumlah kelas di kelompok B sebanyak 5 kelas yang masing-masing kelas diisi sebanyak 20 anak dengan dipegang oleh 2 guru yaitu satu guru pendamping dan satu guru utama, pada tahun ajaran 2011-2012 sekolah ini meluluskan 102 anak untuk melanjutkan jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Taman Kanak-kanak ini dibangun di lahan seluas 1000 m2. Berada di pinggir jalan sehingga mudah sekali dijangkau oleh masyarakat. Memiliki fasilitas pendidikan yang lengkap dengan tenaga pendidik yang berlatar pendidikan sarjana pendidikan anak dan sebagian masih berlatar pendidikan D-2 PGTK yang sedang melanjutkan studinya ke jenjang Sarjana. Sekolah ini melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan sentra. Sentra-sentra yang dimiliki oleh sekolah ini yaitu sentra makro, mikro, balok, imtak, bermain peran, persiapan, kreativitas. Dengan demikian diharapkan anak-anak dapat mengembangkan potensi mereka secara maksimal sesuai dengan tahap perkembangannya.

Lokasi sekolah ke tiga adalah TK Islam ang berada di kelurahan Pamulang Timur Taman Kanak-kanak ini memiliki 2 kelas untuk kelompok B yang diisi oleh anak sebanyak 18 dan 20 orang anak begitu juga untuk kelas A. Pada tahun ajaran 2011-2012 Tk Islam ini meluluskan sebanyak 38 anak didik pada kelompok B. Tenaga Pengajar yang dimiliki oleh TK Islam ini berlatar pendidikan Sarjana Pendidikan Anak Usia dini dan sebagian guru masih berlatar pendidikan D-2 PGTK yang sedang melanjutkan studi pendidikan untuk meraih gelas sarjana pendidikan anak. TK Islam ini dibangun di lahan seluas 700m2. Memiliki fasilitas kolam renang mini, mushola, laboratorium komputer, dan perpustakaan, taman bermain yang nyaman dan aman. Kegiatan proses pembelajaran dilakukan dengan moving class

pada kelas-kelas sentra yang tersedia di antara sentra makro, mikro, balok, sians, musik, imtak.

Lokasi sekolah ke empat adalah TK Islam ini berada di kelurahan Kedaung pada tahun ajaran 2011-2012 memiliki empat kelas pada kelompok B, setiap kelasnya diisi sebanyak 10-12 anak. Sama seperti TK yang lain Tk Islam ini setiap kelasnya di bawah tanggung jawab satu orang guru utama dan satu orang guru bantu. TK Islam ini menawarkan suatu model pendidikan anak usia prasekolah yang mampu secara optimal mengembangkan kemampuan berkreasida berdaya pikir, berdaya cipta, berbahasa dan berkomunikasi, berketerampilan serta menunjukkan sikap mandiri, dapat bekerja sama, mempunyai bibit kepemimpinan dan akhlakul karimah. Sistem kegiatan belajar di TK Islam ini yaitu moving class sebagai implikasi dari penggunaan sentra pengembangan dengan bermain sambil belajar yang berintegrasi dengan pendidikan Agama Islam melalui aplikasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dengan Sarana bermain Sentra Pengembangan melalui pendekatan Beyond Centers and Circle Times (BCCT). Anak didorong untuk aktif kreatif dalam kegiatan di Sentra-sentra.

Sumber daya manusia di TK Islam ini berlatar belakang pendidikan Sarjana pendidikan anak yang berpengalaman, mencintai anak-anak dan memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk pendidikan pra-sekolah. TK Islam Alsyukro dibangun di atas areal yang luas (3 hektar), suasana sejuk yang asri, bebas polusi dan nyaman bagi anak, selain itu fasilitas sentra yang dimiliki TK Islam Al-Syukro meliputi Sentra Ibadah, Sentra Bermain Peran, Sentra Balok, Sentra Seni dan Kreativitas, Sentra Bahan Alam, Sentra Persiapan Sentra Bahasa.

Karakteristik Sekolah

Taman kanak-kanak (TK) merupakan lembaga pendidikan formal yang diatur pelaksanaannya dalam undang-undang sistem pendidikan Nasional No. 2 Tahun 1989, peraturan pemerintah Nomor 27 tahun 1990 serta undang-undang nomor 20 Tahun 2003. Dalam peraturan perundangan tersebut dikemukakan secara jelas bahwa pendirian lembaga yang berwenang. Hal tersebut ditegaskan dalam 62 ayat 1,

disebutkan bahwa “setiap satuan pendidikan formal dan nonformal yang didirikan wajib memperoleh izin pemerintah atau pemerintah daerah. Berdasarkan pasal 62 ayat 2, persyaratan penyelenggaraan lembaga pendidikan secara umum mencakup, isi pendidikan (kurikulum), peserta didik, jumlah dan kualifikasi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan (guru, kepala sekolah), sarana prasarana (ruang kelas, ruang guru, taman bermain, perpustakaan, lab, dapur, lapangan parkir, ruang tunggu, ruang konsultasi, ruang ibadah), pembiayaan pendidikan dan sistem evaluasi dan sertifikasi.

Fasilitas yang dimiliki pada contoh baik di TK non agama dan TK agama sangat lengkap, hanya saja pada TK agama yang pertama tidak memiliki laboratorium komputer. Tetapi untuk fasilitas yang lainnya rata-rata seluruh TK baik umum dan TK Agama memiliki semua fasilitas yang ada baik dari kurikulum, ruang kelas, ruang guru, taman bermain, perpustakaan, lab komputer, dapur, lapangan Parkir, ruang tunggu, ruang konsultasi dan ruang beribadah.

Tabel 5. Keragaan fasilitas sekolah contoh Fasilitas (unit) TK Umum TK Agama Total 1 2 1 2 1. Kurikulum 1 1 1 1 4 2. Ruang Kelas 6 6 9 5 26 3. Ruang guru 1 1 1 1 4 4. Taman bermain 2 1 2 2 7 5. Perpustakaan 1 1 1 1 4 6. Lab. Komputer 1 1 0 1 3 7. Dapur 1 1 1 1 4 8. Lapangan Parkir 1 1 1 1 4 9. Ruang tunggu 1 1 1 1 4 10. Ruang Konsultasi 1 1 1 1 4 11. Ruang beribadah 1 1 1 1 4 Total 17 16 19 16 68

Pada semua sekolah contoh memiliki guru dan kepala sekolah yang berlatar pendidikan Sarjana pendidikan anak, hanya saja pada TK umum 2 ada 3 orang guru yang baru memiliki ijazah D2 PGTK, tetapi pada saat ini mereka sedang mengikuti program sarjana, Untuk meningkatkan kualitas SDM sekolah contoh aktif mengikut sertakan guru-guru mereka dalam berbagai seminar-seminar dan pelatihan yang diselenggarakan oleh dinas pendidikan kota Tangerang Selatan ataupun universitas terdekat di wilayah Tangerang Selatan maupun di Jakarta. Pada TK contoh rata-rata memiliki guru lebih dari jumlah kelas yang ada ini dikarenakan setiap kelas dipegang oleh 1 orang guru inti dan 1 orang guru bantu. Pembantu pada sekolah contoh biasanya bertugas untuk membersihkan sekolah agar nyaman untuk melakukan aktivitas di sekolah. Rata-rata pada TK contoh mereka juga melatih pembantu sekolah untuk membantu kegiatan pembelajaran pada keadaan insidentil yaitu ketika guru bantu kelas berhalangan hadir dalam proses pembelajaran, dan kepala sekolah ataupun guru lain tidak dapat membantu karena suatu hal, maka pembantu sekolah dapat membantu guru kelas untuk membantu di kelas (dalam hal ini pembantu sekolah hanya membantu guru menyiapkan media yang akan di gunakan).

Tabel 6. Keragaan SDM sekolah contoh menurut jabatan

Jabatan TK Umum TK Agama Total

1 2 1 2 Kepala sekolah 1 1 1 1 4 Guru 11 9 10 8 38 Pembantu sekolah 2 1 1 1 5 Satpam 3 2 0 0 5 Total 17 13 12 10 52

Dalam tabel terlihat bahwa TK umum memiliki jumlah permainan ataupun media lebih banyak dibandingkan TK Agama, pada sentra rumah tangga di TK umum contoh memiliki total jenis permainan dan media yaitu sebanyak (14), pada sentra Seni sebanyak (16), sentra perpustakaan sebanyak (29), sentra Sains dan Alam (14), sentra Sosio drama (19), tetapi pada TK Agama memiliki jumlah permainan atau media pembelajaran dibanding dengan TK umum hal ini dapat dilihat pada sentra Balok (19), di samping itu TK umum dan TK Agama sama-sama memiliki jumlah permainan dan media yang sama pada sentra bermain peran (19), sentra Pasir dan air (10), sentra musik dan suara (8), dan sentra Menulis (12).

Kegiatan inti berbasis sentra memang membuat anak terlena keasyikan, bahkan kadang sampai lupa dengan waktu karena terlalu banyak pilihan bahan dan jenis permainan yang dapat mereka eksplorasi. Namun para pendidik, dapat menyelenggarakan kegiatan dengan pendekatan sentra tidaklah mudah. Guru harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dari pendidik agar pendekatan ini dapat dilaksanakan dengan benar dan dapat lebih meningkatkan aspek-aspek perkembangan anak dengan lebih baik.

Pada sekolah contoh setiap sentra dipegang oleh satu orang guru sentra. Kegiatan sentra dilakukan secara bergiliran setiap harinya sesuai dengan tema yang ada. Pada kelas sentra anak-anak dibebaskan memilih kegiatan atau aktivitas sesuai keinginan mereka guru sentra hanya bertindak sebagai fasilitator dan motivator anak. Tabel 7. Kondisi pembelajaran berdasarkan sentra

Sentra Pembelajaran TK Umum TK Agama Total

1 2 1 2

1. Sentra Rumah Tangga (7 item) 7 7 7 6 27 2. Sentra Bermain Peran (10 item) 9 10 9 10 38

3. Sentra Balok (10 item) 9 9 9 10 37

4. Sentra Seni (8 item) 8 8 6 8 30

5. Sentra Pasir dan Air (5 item) 5 5 5 5 20 6. Sentra Perpustakaan (15 item) 15 14 12 14 55 7. Sentra Musik dan Suara (4 item) 4 4 4 4 16

8. Sentra Menulis (6 item) 6 6 6 6 24

9. Sentra Sains dan Alam (7 item) 7 7 7 6 27 10. Sentra Sosio Drama (17 item) 12 7 11 7 37

Total (89 item) 82 77 76 76 311

Kelas sentra dilakukan pada kegiatan inti di dalam proses pembelajaran, untuk kegiatan pembukaan dan penutup dilakukan di dalam kelas masing-masing. setelah kegiatan pembukaan selesai anak-anak berpindah menuju kelas sentra yang sudah ditentukan sesuai dengan tema pembelajaran yang sedang berlangsung, setelah

kegiatan sentra selesai anak-anak istirahat dan masuk ke dalam kelas masing-masing, di dalam kelas guru melakukan kegiatan tanya jawab dengan anak-anak tentang kegiatan yang dilakukan pada satu hari kegiatan, dan akhirnya memberikan penguatan kepada anak-anak serta melakukan evaluasi.

Karakteristik Keluarga

Usia Orang Tua

Usia orang tua dalam penelitian ini dikelompokkan ke dalam tiga kategori, mengacu pada Hurlock (1980) yang membagi tiga kategori usia dewasa, yaitu kelompok usia dewasa awal (18-40 tahun), kelompok usia dewasa madya (41-60 tahun) dan kelompok usia dewasa akhir (>60 tahun).

Berdasarkan data yang disajikan pada tabel, sebagian besar usia ayah (70,8%) dan usia ibu (68,3%) berada pada kategori usia dewasa awal. Rata-rata usia ayah berkisar 38,13 tahun dan rata-rata usia ibu berkisar 34,45 tahun. Tidak terdapat ayah dan ibu yang termasuk usia dewasa akhir.

Tabel 8. Sebaran contoh menurut umur orang tua dan jenis sekolah Umur Orang tua

(Tahun)

TK Umum TK Agama Total

1 2 1 2 n % n % n % n % n % Umur Ayah 20-30 0 0,0 4 13,3 0 0,0 2 6,7 6 5,0 31-40 19 63,3 17 56,7 28 93,3 21 70,0 85 70,8 41-54 11 36,7 9 30,0 2 6,7 7 23,3 29 24,2 Rataan ± SD 38,65 ± 5,948 37,62 ± 4,377 38,13 ± 5,226 P-value 0,140 Umur Ibu 20-30 5 16,7 9 30,0 2 6,7 8 26,7 24 20,0 30-40 19 63,3 19 63,3 27 90,0 17 56,7 82 68,3 41-54 6 20,0 2 6,7 1 3,3 5 16,7 14 11,7 Rataan ± SD 34,32 ± 4,983 34,58 ± 3,894 34,45 ± 4,455 P-value 0,372

Pendidikan Orang Tua

Tingkat pendidikan orang tua pada penelitian ini cukup bervariasi, yaitu berkisar dari SMP sampai dengan jenjang perguruan tinggi. Berdasarkan data yang terdapat pada tabel 9, diketahui proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah adalah sarjana (55%), kemudian ayah yang berpendidikan master sebanyak (12,5%), ayah adalah yang berpendidikan Diploma (12,5%), dan ayah yang berpendidikan SMP ada sebanyak (0,8%), dan tidak terdapat ayah yang tidak sekolah.

Hal yang sama terlihat pada tingkat pendidikan ibu yang memiliki proporsi terbesar adalah sarjana (41,7 %). Dan tidak terdapat ibu yang tidak bersekolah. Dilihat dari hasil berikut, dapat di katakan bahwa tingkat pendidikan orang tua contoh sudah menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi. Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang anak. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmaulina dan Hastuti (2006) yang menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan orang tua, maka pemberian stimulasi psikososial akan semakin baik.

Tabel 9. Sebaran contoh menurut pendidikan orang tua dan jenis sekolah Pendidikan Orang tua TK Umum TK Agama Total 1 2 1 2 n % n % n % n % n % Pendidikan Ayah SMP/MTs 0 0,0 1 3,3 0 0,0 0 0,0 1 0,8 SMA/MA/SMK 2 6,7 9 30,0 3 10,0 9 30,0 23 19,2 Akademi/Diploma 5 16,7 4 13,3 3 10,0 3 10,0 15 12,5 Sarjana 19 63,3 14 46,7 19 63,3 14 46,7 66 55,0 Master 4 13,3 2 6,7 5 16,7 4 13,3 15 12,5 Pendidikan Ibu SMP/MTs 0 0,0 2 6,7 0 0,0 1 3,3 3 2,5 SMA/MA/SMK 5 16,7 13 43,3 4 13,3 6 20,0 28 23,3 Akademi/Diploma 11 36,7 7 23,3 4 13,3 11 36,7 33 27,5 Sarjana 12 40,0 8 26,7 19 63,3 11 36,7 50 41,7 Master 2 6,7 0 0,0 3 10,0 1 3,3 6 5,0

Beceren (2010) dalam penelitiannya mengatakan bahwa pendidikan ibu berhubungan positif signifikan dalam meningkatkan kemampuan intrapersonal dan interpersonal anal, sedangkan pendidikan ayah hanya meningkatkan kemampuan bahasa anak.

Pekerjaan Orang Tua

Pekerjaan orang tua terutama ayah dijadikan sebagai tulang punggung keluarga yang erat kaitannya dengan pendidikan orang tua (Mindasa 2007). Jenis pekerjaan merupakan suatu indikator untuk mengukur pendapatan dan kesejahteraan keluarga dan memiliki keterkaitan dengan praktik pengasuhan yang dilakukan orang tua.

Data yang disajikan dalam tabel menunjukkan presentase terbesar (65,8%) pekerjaan ayah adalah karyawan. Selain itu terdapat (17,5%) pekerjaan ayah adalah wirausaha, dan terdapat (7,5%) pekerjaan ayah adalah guru /dosen. Selain itu terdapat (8,3%) pekerjaan ayah adalah lain-lain seperti multi level marketing (MLM) dan tidak ada ayah yang bekerja sebagai buruh harian namun ada sebanyak (0.8 %) ayah yang memiliki pekerjaan sebagai petani tanaman organik. Presentase terbesar pekerjaan ibu ( 38,3%) adalah juga sebagai karyawan. Sebanyak (14,2%) pekerjaan ibu sebagai wirausaha, dan sebanyak (10,8%) merupakan ibu bekerja sebagai guru/dosen. Selain itu terdapat (0,8%) perjaan ibu lain-lain yaitu bekerja multi level marketing (MLM), tetapi ada sebanyak (35,0%) ibu yang tidak memiliki pekerjaan.

Tabel 10. Sebaran contoh menurut pekerjaan orang tua dan jenis sekolah Pekerjaan

Orang tua

TK Umum TK Agama Total

1 2 1 2 n % n % n % n % n % Pekerjaan Ayah Wirausaha 3 10,0 4 13,3 9 30,0 5 16,7 21 17,5 Karyawan 18 60,0 22 73,3 18 60,0 21 70,0 79 65,8 Guru/Dosen 5 16,7 1 3,3 1 3,3 2 6,7 9 7,5 Buruh Harian 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 Petani 0 0,0 1 3,3 0 0,0 0 0,0 1 0,8 Lain-lain 4 13,3 2 6,7 2 6,7 2 6,7 10 8,3 Total 30 100,0 30 100,0 30 100,0 30 100,0 120 100,0 Pekerjaan Ibu Tidak Bekerja 8 26,7 15 50,0 9 30,0 10 33,3 42 35,0 Wirausaha 1 3,3 6 20,0 5 16,7 5 16,7 17 14,2 Karyawan 17 56,7 8 26,7 11 36,7 10 33,3 46 38,3 Guru/Dosen 4 13,3 0 0,0 5 16,7 4 13,3 13 10,8 Buruh Harian 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 Petani 0 0,0 1 3,3 0 0,0 0 0,0 1 0,8 Lain-lain 0 0,0 0 0,0 0 0,0 1 3,3 1 0,8 Total 30 100,0 30 100,0 30 100,0 30 100,0 120 100,0 Pendapatan Ayah

Untuk penghasilan orang tua yaitu ayah dan ibu dibagi menjasi 6 kategori yaitu Rp. 1,0-3,0 juta perbulan, Rp. 3,1-5,0 juta perbulan, Rp. 5,1-10,0 juta perbulan, Rp. 10,1-15,0 juta perbulan, Rp. 10,1-15,0 juta perbulan, Rp. 15,1-20,0 juta perbulan, dan di atas Rp. 20,0 juta perbulan. Pendapatan ayah pada keluarga contoh cukup beragam, terdapat (39,8%) ayah yang memiliki penghasilan sebesar Rp. 3,1-5 juta, dan sebanyak (33,3%) ayah memiliki pendapatan sekitar Rp. 5,1-10 juta, selain itu juga terdapat (11,4%) ayah yang memiliki penghasilan sebesar Rp.10,1-15 juta rupiah dan (11,4%) ayah yang memiliki penghasilan sebesar Rp.1-3 juta rupiah, sedangkan ayah yang memiliki penghasilan di atas Rp. 20 juta perbulan ada sebanyak (4,1 %). Tetapi tidak terdapat ayah yang memiliki penghasilan pada rentang Rp. 15,1-20 juta rupiah per bulan. Dan rata-rata penghasilan ayah perbulan adalah Rp. 7.736.250,0 perbulan.

Tabel 11. Sebaran contoh menurut pendapatan ayah dan jenis sekolah

TK Umum TK Agama Total

1 2 1 2 n % n % n % n % n % Pendapatan Ayah 1,0 - 3,0 5 16,7 5 16,1 1 3,1 3 10,0 14 11,4 3,1 - 5,0 8 26,7 15 48,4 10 31,3 16 53,3 49 39,8 5,1 - 10,0 10 33,3 10 32,3 13 40,6 8 26,7 41 33,3 10,1 – 15,0 6 20,0 1 3,2 5 15,6 2 6,7 14 11,4 15,1 – 20,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 > 20,0 1 3,3 0 0,0 3 9,4 1 3,3 5 4,1 Rataan 6.846.666,7 8.625.833,3 7.736.250,0 P-Value 0,078*

Pendapatan Ibu

Penghasilan ibu pada keluarga contoh terlihat pada tabel bahwa ada sebanyak (35,8%) ibu yang tidak memiliki penghasilan, sedangkan ibu yang memiliki penghasilan antara Rp. 1,0-3,0 juta perbulan ada sebanyak (24,4%), dan ibu yang berpenghasilan Rp. 5,1-10,0 juta perbulan sebanyak (20,3%) dan untuk ibu yang berpenghasilan Rp. 3,1-5,0 juta perbulan ada sebanyak (15,4%), tetapi ada sebanyak (4,1%) ibu yang berpenghasilan sebesar diatas 20 juta perbulan. Pada contoh tidak terdapat ibu yang berpenghasilan pada rentang kurang dari Rp. 1 juta, Rp. 10,1-15,0 juta dan Rp. 15,1-20,0 juta perbulan. Dan rata-rata penghasilan ibu perbulan adalah Rp. 3.981. 250,0 perbulan.

Tabel 12. Sebaran contoh menurut pendapatan ibu dan jenis sekolah

TK Umum TK Agama Total 1 2 Total 1 2 Total n % n % n % n % n % n % n % Pendapatan Ibu Tidak berpenghasilan 8 26,7 16 51,6 24 39,3 10 31,3 10 33,3 20 32,3 44 35,8 < 1,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 1,0 - 3,0 10 33,3 6 19,4 16 26,2 5 15,6 9 30,0 14 22,6 30 24,4 3,1 - 5,0 5 16,7 4 12,9 9 14,8 4 12,5 6 20,0 10 16,1 19 15,4 5,1 - 10,0 7 23,3 5 16,1 12 19,7 9 28,1 4 13,3 13 21,0 25 20,3 10,1 – 15,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 15,1 – 20,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 > 20,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 4 12,5 1 3,3 5 8,1 5 4,1 Rataan 3.070.000,0 4.892.500,0 3.981.250,0 P-Value 0,121 Pendapatan Keluarga

Status ekonomi sebuah keluarga mempengaruhi bagaimana orang tua mengasuh anak. Keluarga dengan tingkat ekonomi rendah umumnya kurang memberikan perhatian terhadap perilaku anak. Faktor-faktor ekonomi dalam memenuhi kebutuhan dasar keluarga menjadi unsur yang cukup penting dalam mendapatkan kestabilan keluarga, kestabilan keluarga dibutuhkan agar fungsi-fungsi keluarga dapat berjalan dengan baik (Hastuti, 2009).

Tabel 13. Sebaran contoh menurut pendapatan keluarga dan jenis sekolah Pendapatan

Keluarga (Rp/Juta)

TK Umum TK Agama Total

1 2 1 2 n % n % n % n % n % < 2,5 0 0,0 1 3,3 0 0,0 0 0,0 1 0,8 2,5 - 5,0 6 20,0 10 33,3 5 16,7 11 36,7 32 26,7 5,1 - 10,0 9 30,0 14 46,7 9 30,0 9 30,0 41 34,2 10,1 – 20,0 12 40,0 4 13,3 9 30,0 8 26,7 33 27,5 20,1 – 30,0 3 10,0 1 3,3 2 6,7 1 3,3 7 5,8 > 30,0 0 0,0 0 0,0 5 16,7 1 3,3 6 5,0 Rataan 9.916.666,7 13.518.333,3 11.717.500 P-value 0,085*

Total pendapat perbulan pada keluarga contoh cukup beragam mulai dari di bawah Rp. 2,5 juta perbulan hingga > dari Rp. 30 juta perbulan. Proporsi terbesar penghasilan orang tua berada pada kisaran Rp. 5,1 juta hingga Rp. 10 juta Pada TK non agama terdapat (38,3%) keluarga yang berpenghasilan sebesar Rp. 5,1 juta Rp. hingga Rp. 10 juta per bulan, kemudian terdapat ( 27,5%) orang tua yang berpenghasilan Rp.10,1 hingga Rp. 20 juta, dan (26, 7%) orang tua yang berpenghasilan Rp. 2,5 juta hingga Rp. 5 juta, dan ada sekitar (5,8 %) orang tua yang berpenghasilan Rp. 20,1 juta hingga 30 juta perbulan dan sebanyak (5,0%) orang tua yang memiliki penghasilan diatas 30 juta sedangkan orang tua yang berpenghasilan dibawah 2,5 juta hanya sebanyak (0.8%).

Jadi total rata-rata penghasilan keluarga baik di TK umum maupun di TK Agama adalah Rp.11.717.500 perbulan. Menurut Gunarsa dan Gunarsa (2000) dalam Rahmaulina (2007), keadaan ekonomi keluarga yang cukup mengakibatkan orang tua lebih punya waktu untuk membimbing anak karena orang tua tidak lagi memikirkan tentang keadaan ekonomi yang kurang dalam arti bahwa tugas utama orang tua dalam memberikan nafkah telah dilaksanakan dengan baik. Orang tua dapat memberikan stimulasi yang cukup dengan menyediakan alat permainan dan ikut bermain bersama anak.

Karakteristik Anak

Karakteristik anak merupakan ciri-ciri yang melekat pada contoh. Contoh pada penelitian ini adalah anak usia prasekolah di TK Umum dan TK Agama di wilayah Tangerang Selatan, Banten. Adapun karakteristik anak yang diukur pada penelitian ini, meliputi usia dan jenis kelamin.

Jenis Kelamin dan Usia Anak

Pada Tabel 14 menunjukkan, Proporsi terbesar jumlah anak pada penelitian ini yaitu anak perempuan yaitu sebesar (57,5%) atau sebanyak 69 anak secara keseluruhan dari jumlah contoh dan diikuti oleh anak laki-laki sebesar (42,5%) atau sebanyak 51 anak laki-laki dari keseluruhan contoh. Hurlock (1990) menyatakan ada tiga alasan jenis kelamin individu penting bagi perkembangan selama hidupnya. Pertama, setiap bulan anak mengalami peningkatan pemahaman perilaku orang tua, teman sebaya, dan masyarakat yang mempengaruhi perkembangan sikap dan perilaku yang dipandang sesuai dengan jenis kelamin. Kedua, pengalaman belajar ditentukan oleh jenis kelamin individu. Ketiga, adalah sikap orang tua dan anggota keluarga lainnya sehubungan dengan jenis kelamin mereka. Keinginan untuk memiliki anak dengan jenis kelamin tertentu akan mempengaruhi sikap penerimaan orang tua dan

keluarga terhadap anak, yang selanjutnya berpengaruh juga pada perilaku dan hubungan mereka dengan anak.

Anak usia prasekolah menurut Piaget masih memiliki perspektif egosentris dan cara berpikirnya tidak dapat dibalik. Egosentris adalah pemusatan pada diri sendiri dan merupakan suatu proses dasar yang banyak dijumpai pada tingkah laku anak dan pengamatan anak banyak ditentukan oleh pandangan sendiri. Anak belum dapat menempatkan diri dalam keadaan orang lain. (Monks, Knoers, & Haditono 2002) dalam Rahmaulina (2007).

Tabel 14. Sebaran contoh menurut usia jenis kelamin dan jenis sekolah

TK Umum TK Agama Total

1 2 1 2 n % n % n % n % n % Jenis Kelamin Laki-laki 12 40,0 14 46,7 17 56,7 8 26,7 51 42,5 Perempuan 18 60,0 16 53,3 13 43,3 22 73,3 69 57,5 Total 30 100,0 30 100,0 30 100,0 30 100,0 120 100,0 Usia Anak 60 – 68 Bln 12 40,0 14 46,7 17 56,7 8 26,7 51 42,5 69 – 76 Bln 18 60,0 16 53,3 13 43,3 22 73,3 69 57,5 Rataan ± SD 69,70 ± 3,98 69,13 ± 3,73 69,42 ± 3,85 P-value 0,128 Urutan Kelahiran

Pada penelitian ini hampir separuh contoh adalah anak sulung yaitu sebanyak (49,2%). Hal ini sebabkan sebagian besar keluarga pada TK umum dan TK Agama adalah keluarga muda. Kemudian diikuti oleh anak tengah sebesar (39,2%), sedangkan untuk anak bungsu terdapat (9,2%), dan untuk contoh anak tunggal ada sebanyak (2,5%). ( Tabel 15).

Tabel 15. Sebaran urutan kelahiran contoh menurut jenis sekolah Urutan Kelahiran

TK Umum TK Agama Total

1 2 1 2 n % n % n % n % n % Anak Sulung 11 36,7 15 50,0 16 53,3 17 56,7 59 49,2 Anak Tengah 13 43,3 12 40,0 12 40,0 10 33,3 47 39,2 Anak Bungsu 4 13,3 2 6,7 2 6,7 3 10,0 11 9,2 Anak Tunggal 2 6,7 1 3,3 0 0,0 0 0,0 3 2,5 Stimulasi Psikososial

Stimulasi psikososial merupakan bagian dari praktik pengasuhan berkualitas yang dilakukan oleh orang tua. Stimulasi yang diberikan orang tua dan keluarga

dalam memberikan kehangatan, suasana penerimaan, pemberian teladan atau contoh, pemberian pengalaman, dorongan belajar dan berbahasa, serta dorongan bagi kemampuan akademik anak disebut stimulasi psikososial (Caldwell & Bradley, 1983

dalam Hastuti, 2009). Rataan skor capaian stimulasi psikososial berdasarkan jenis sekolah disajikan pada Tabel 16.

Rataan skor capaian stimulasi psikososial total keluarga contoh adalah 47,15. Skor tersebut menunjukkan bahwa 85,7 persen keluarga telah memberikan stimulasi psikososial yang dibutuhkan oleh anak, bahkan TK umum 1 mencapai 88 persen telah memberikan stimulasi psikososial. Secara keseluruhan terlihat bahwa keluarga pada seluruh contoh telah memberikan stimulasi psikososial yang baik terhadap anak-anak mereka, namun terlihat hanya faktor keteladanan yang berbeda nyata.

Tabel 16. Skor capaian rataan stimulasi psikososial pada keluarga menurut jenis sekolah

Stimulasi Psikososial TK Umum TK Agama Total

1 2 1 2

1. Stimulasi Belajar (11 item) 9,50 9,23 9,13 9,33 9,30 2. Stimulasi Bahasa(7 item) 6,73 6,77 6,77 6,73 6,75 3. Lingkungan Fisik (7 item) 6,57 6,40 6,87 6,30 6,53 4. Kehangatan /Penerimaan (7 item) 6,00 5,87 6,17 6,00 6,01 5. Stimulasi Akademik (5 item) 4,87 5,00 4,87 4,97 4,93 6. Keteladanan (5 item) 4,10 2,90 4,20 3,60 3,70** 7. Variasi Stimulus (9 item) 7,03 7,30 7,20 6,83 7,09 8. Hukuman (4 item) 2, 87 2,60 3,20 2,70 2,84 Total (55 item) 47,67 46,07 48,40 46,47 47,15 Keterangan: **) signifikan pada taraf uji α= 5%

Sandler dan Demsey (1995) mengatakan dalam penelitian yang dilakukannya bahwa cara yang paling baik dilakukan oleh orang tua untuk mengenalkan peraturan dan tata tertib kepada anak adalah dengan memberikan mereka keteladanan (modelling)

Pada Tabel 17 menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga contoh mendapatkan stimulasi psikososial dalam kategori tinggi, yaitu 67,5 persen, dan sisanya mendapatkan stimulasi psikososial antara 60-80 persen berkategori sedang sebanyak 30,1 persen. Hal ini berarti tidak ada stimulasi psikososial dengan kategori rendah di (bawah 60 persen).

Tabel 17. Sebaran contoh menurut kategori stimulasi psikososial dan jenis sekolah Stimulasi

Psikososial

TK Umum TK Agama Total

1 2 1 2 n % n % n % n % n % Rendah 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 0 0,0 Sedang 10 33,3 10 33,3 5 16,7 12 40,0 37 30,1 Tinggi 20 66,7 20 66,7 25 83,3 18 60,0 83 67,5 Rataan ± SD 46,87 ± 3,3 47,43 ± 3,33 47,15 ± 3,35 P-value 0,176

Stimulasi yang tepat dapat diberikan orang tua kepada anak sejak dalam kandungan hingga usia delapan tahun dengan tujuan agar dapat mempercepat dan

meningkatkan kualitas aaspek perkembangan anak, meningkatkan mekanisme integrasi antar aspek perkembangan, membantu anak mengeksplorasi kemampuan yang dimiliki, melindungi anak dari perasaan tidak nyaman, merasa dihukum, dipersalahkan, direndahkan karena gagal melakukan sesuatu dan membantu anak mengembangkan perilaku adaptif dan terarah (intelligent behavior).

Proses Pembelajaran

Pada proses pembelajaran di TK umum dan TK agama secara keseluruhan tidak

Dokumen terkait