Stimulasi psikososial anak dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak dimulai dari lingkingan keluarga. Seorang anak memerlukan stimulasi psikososial karena anak mempunyai naluri belajar melalui perubahan atau penyesuaian perilaku (mechanistic of learning). Kecerdasan bersifat terbuka (open system) untuk memilih stimulus dan menentukan respons yang akan diterimanya (Theresia 1983). Peningkatan tahap perkembangan akan mengubah pola interaksi dengan lingkungan. Berdasarkan teori Psikososial yang dikemukakan oleh Erik Erikson dalam (Turner & Helms 1991) psikososial merupakan proses sosialisasi yang terjadi dikarenakan budaya. Pada dasarnya teori perkembangan psikososial adalah kemampuan seseorang untuk melewati setiap rangkaian tahapan atau tahapan yang potensial dalam sepanjang kehidupannya. Proses kehidupan dalam sebuah keluarga adalah proses belajar pertama bagi anak sebelum mereka hidup dalam lingkungan yang lebih luas yaitu sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu, seharusnya setiap orang tua harus mampu memanfaatkan masa-masa ini untuk mengembangkan potensi anak untuk membentuk pribadi yang sempurna.
Stimulasi psikososial merupakan salah satu cara yang bertujuan untuk mengoptimalkan perkembangan anak. Secara keseluruhan, hasil menujukkan bahwa stimulasi psikososial anak usia 5-6 Tahun sudah cukup baik, karena rata-rata persentase stimulasi psikososial berada pada kategori tinggi yaitu (67,5%). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemberian stimulasi yang paling baik pada anak usia 5- 6 tahun adalah keteladanan (modelling).
Selain itu terlihat adanya korelasi antara karakteristik keluarga yaitu pendidikan ayah, pendidikan ibu, penghasilan ibu dan penghasilan keluarga. Hal ini sesuai dengan penelitian Hidayat (2004) dalam Giyarti (2008) bahwa pendidikan orang tua terutama ibu sebagai pengasuh utama mempengaruhi perkembangan anak dimana semakin tinggi pendidikan ibu, maka komunikasi yang dilakukan kepada anak akan
semakin efektif dan proses interaksi yang terjalin dengan anak juga akan semakin baik. Demikian pula semakin tinggi penghasilan orang tua, maka akan semakin besar kesempatan bagi orang tua untuk memberikan fasilitas yang berguna bagi stimulasi perkembangan anak dan juga lebih banyak kesempatan (waktu) yang dapat dicurahkan untuk dapat memberikan stimulasi untuk anaknya. Hal ini sesuai pula dengan penyataan Gunarsa & Gunarsa (1985) bahwa keadaan ekomomi keluarga yang cukup menyebabkan orang tua lebih mempunyai banyak waktu untuk membimbing anak karena orang tua tidak lagi memikirkan keadaan ekonomi yang kurang.
Namun demikian tidak terlihatnya korelasi antara karakteristik anak dan karakteristik keluarga dengan proses pembelajaran dan kecerdasan majemuk dapat dijelaskan dengan pernyataan Piaget bahwa kecerdasan ibarat sebuah sistem yang memerlukan adanya interaksi dan bukan hanya sekedar karakteristik yang melekat pada diri anak ataupun orang tua.
Selain pendidikan ibu dalam penelitian ini terlihat bahwa penghasilan keluarga berhubungan positif dengan stimulasi psikososial. Semakin besarnya penghasilan keluarga maka semakin baik stimulasi psikososial yang diberikan, namun hanya penghasilan ibu saja yang berhubungan nyata dan positif dengan stimulasi psikososial yang berarti penghasilan keluarga didominasi oleh penghasilan ibu, karena dengan meningkatnya penghasilan ibu maka semakin besar stimulasi psikososial dalam penyediaan fasilitas kepada anak dengan membelikan mainan yang beragam dan berkualitas serta penyediaan buku-buku serta fasilitas lainnya.
Usia anak dan urutan kelahiran tidak berhubungan secara signifikan dengan proses pembelajaran, sedangkan fasilitas sekolah ternyata memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan proses pembelajaran Hal ini dapat dipahami bahwa semakin banyak fasilitas sekolah yang tersedia maka guru menjadi kurang kreatif mengembangkan kemampuannya untuk melakukan proses pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan anak atau mengembangkan kecakapan hidup anak. Keragaman sentra yang dimiliki sekolah memiliki korelasi signifikan dengan proses pembelajaran karena anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan ide dan kreativitasnya dalam beragam kegiatan yang menyenangkan.
Sebelum proses kegiatan belajar mengajar berlangsung sebelumnya guru terlebih dahulu mempersiapkan segala keperluannya di antaranya adalah menentukan indikator kegiatan, menyiapkan materi sesuai dengan tingkat perkembangan anak, media sesuai dengan indikator yang sudah ditentukan, metode serta alat evaluasi dalam proses pembelajaran. Hasil wawancara kepada guru di sekolah contoh dalam penelitian ini ternyata seluruh guru contoh selalu menyiapkan seluruh komponen kegiatan dalam proses pembelajaran yang tertuang dalam SKH (Satuan Kegiatan Harian), dan hampir seluruh anak menyukai kegiatan yang diberikan dan aktif dalam menyelesaikan seluruh tugas yang diberikan. Dalam melakukan evaluasi proses pembelajaran guru melakukan dengan cara tanya jawab tentang kegiatan yang telah dilakukan, guru juga melakukan observasi setiap perkembangan anak selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, dan melakukan evaluasi portofolio dan anekdotal record.
Pada proses pembelajaran di kelas terkadang guru mengalami kesulitan atau kendala dalam pelaksanaannya dan setiap guru memiliki kelemahan masing-masing dalam melaksanakan proses pembelajaran, pada hasil wawancara terhadap guru contoh kelemahan guru yang tertinggi adalah dalam menyiapkan media pembelajaran, karena mereka harus menciptakan kegiatan yang menarik dan menyenangkan sehingga anak-anak mau berperan aktif dalam proses pembelajaran, selain itu guru juga merasa lemah mengalokasikan waktu dalam melakukan kegiatan pembelajaran terkadang untuk mencapai hasil yang maksimal waktu yang ada terasa kurang. Hal lain yang dirasakan guru selain penyiapan media dan pengalokasian waktu yaitu melakukan pencarian sumber belajar sesuai dengan media yang ditentukan.
Hal-hal yang menyebabkan guru merasa lemah dalam melaksanakan proses pembelajaran tersebut jika kurangnya waktu dalam penyiapan atau mencari media dan sumber belajar yang akan di gunakan, selain itu juga sulitnya mencari bahan- bahan dalam pembuatan media dan sumber belajar hal lain yang menyebabkan kelemahan dalam proses pembelajaran adalah kurang lengkapnya media dan sumber belajar yang akan di gunakan. Selain itu, kendala lain yang juga dirasakan guru adalah ketika guru pendamping tidak masuk guru pendamping di kelas. Beberapa hal tersebut merupakan sumber kelemahan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk menyiasati hal tersebut maka guru pada sekolah contoh berusaha terus belajar dan banyak mencari informasi pengetahuan, menyiapkan media yang akan di gunakan jauh-jauh hari sebelumnya sehingga media yang akan di gunakan sudah lengkap dan dapat di gunakan sesuai dengan indikator kegiatan yang telah ditentukan. Selalu berpikir kreatif dalam membuat media dan sumber belajar dengan bahan-bahan yang ada di sekitar lingkungan sekolah, melibatkan anak dalam menyiapkan bahan-bahan dalam pembuatan media. (misalnya membawa kotak bekas susu, sedotan, biji-bijian, dll).
Dari kelemahan yang dialami pada akhirnya guru mendapatkan kekuatan pada pelaksanaan proses pembelajaran dengan menjadi lebih semangat dalam mengembangkan media dan sumber belajar yang bervariasi, mempelajari SKM dan SKH dalam penyiapan media dan sumber belajar sebelum proses kegiatan belajar agar sesuai dengan indikator yang ditentukan dan serta sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Dengan demikian guru lebih semangat dalam mengajar karena perkembangan anak meningkat menjadi lebih baik, mereka lebih kreatif, imajinatif dan mandiri. Dari pengalaman tersebut guru mengalami hal-hal positif dalam mengajar karena bila materi, media dan metode pembelajaran menarik anak akan senang.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama penelitian berlangsung terlihat bahwa lamanya jam belajar anak disekolah dapat meningkatkan rasa jenuh terhadap diri anak. Hal ini terlihat ketika peneliti berada di sekolah contoh yang memiliki waktu belajar selama enam jam dibandingkan dengan anak-anak yang berada disekolah contoh dengan lama jam belajar empat jam, dimana setelah kegiatan inti dan penutup anak-anak melanjutkan kegiatan makan siang bersama dan istirahat selanjutnya anak-anak melakukan kegiatan rutin, sholat berjama’ah dan iqro’. Pada
saat kegiatan akan dilakukan guru dengan susah payah membujuk dan mengkondisikan anak-anak yang sedang asik bermain setelah jam istirahat hal tersebut terlihat setiap hari selama peneliti melakukan observasi. Maka berdasarkan hal tersebut, peneliti menarik kesimpulan bahwa anak-anak merasakan kejenuhan untuk melakukan kegiatan berikutnya karena selain anak sudah merasa lelah, pada usia 3-6 tahun anak memiliki daya perhatian yang pendek. Anak lebih memiliki energy lebih untuk melakukan aktivitas bermain bebas dibandingkan untuk anak melakukan aktivitas yang terkondisikan atau rutin. Umumnya anak sulit berkonsentrasi pada suatu kegiatan dalam jangka waktu yang lama. Rentang konsentrasi pada anak usia lima tahun umumnya adalah sepuluh menit untuk dapat duduk dan memperhatikan sesuatu secara nyaman. Anak akan sulit untuk berkonsentrasi pada suatu kegiatan dalam jangka waktu yang lama. Ia selalu cepat mengalihkan perhatian pada kegiatan lain, kecuali kegiatan yang menarik perhatiannya dan menyenangkan serta bervariasi dan yang terpenting adalah tidak membosankan. Dengan demikian, proses kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang bervariasi dan menyenangkan, sehingga tidak membuat anak terpaku di tempat dan menyimak dalam jangka waktu lama.