• Tidak ada hasil yang ditemukan

TenTang Keadilan dan Kedermawanan

Dalam dokumen Teori Sentimen-Sentimen Moral - Adam Smith (Halaman 125-151)

BAB I

Perbandingan antara kedua rasa diatas

1. Tindakan berupa keinginan untuk menjadi dermawan, yang dimulai dari motif yang tepat, tampaknya sudah cukup untuk mendapatkan ganjaran; karena tindakan seperti itu adalah objek yang disetujui dari rasa terima kasih atau objek yang memicu rasa terima kasih simpatik pengamat.

2. Tindakan berupa keinginan untuk menyakiti, yang dimulai dari motif yang tidak benar, tampaknya sudah cukup pantas untuk menerima hukuman; karena tindak seperti itu adalah objek yang disetujui dari kebencian atau objek yang memicu kebencian simpatik pengamat.

3. Kedermawanan selalu bebas, tidak dapat diperintah dengan paksa. Keingnan yang menggebu-gebu untuk melakukannya tidak akan menghadapkan seseorang pada hukuman karena keinginan yang menggebu-gebu atas kedermawanan cenderung tidak menciptakan kejahatan yang nyata. Hal ini memicu kekecewaan atas kebaikan yang mungkin terlanjur cukup diharapkan, dan karenanya hal ini mungkin membangkitkan kebencian dan celaan. Bagaimanapun, hal ini tidak bisa memprovokasi kebencian yang akan bisa diterima oleh umat manusia. Orang yang tidak membalas kedermawanan orang lain ketika ia memiliki cukup kemampuan untuk membalasnya ketika orang tersebut

membutuhkan bantuannya, tidak diragukan lagi, adalah pihak yang bersalah atas rasa tidak tahu berterima kasih yang paling gelap. Hati setiap pengamat yang adil menolak semua perasaan senasib dengan keegoisan motifnya dan ia merupakan objek yang tepat dari penolakan tertinggi. Tapi tetap saja apa yang dia lakukan tidak menyakiti siapapun. Dia hanya tidak melakukan kebaikan yang ia seharusnya lakukan berdasar kepatutan.

Dia adalah sasaran ketidaksukaan, perasaan yang secara alami dipantik oleh ketidakwajaran sentimen dan perilaku; dan bukan sasaran kebencian, perasaan yang tidak pernah diminta kecuali dengan adanya tindakan yang cenderung secara nyata menyakiti beberapa orang tertentu.

Oleh karenanya, keinginan dia atas rasa terima kasih juga tidak dapat dihukum. Mewajibkan dia untuk melakukan dengan paksa apa yang menurut rasa terima kasihnya harus dilakukan, dan memaksanya untuk melakukan tindakan yang akan disetujui oleh semua pengamat yang adil akan, jika mungkin, akan masih lebih tidak layak daripada pengabaiannya untuk melakukan itu. Kedermawanannya tersebut malah akan mencemarkan namanya sendiri jika ia berusaha dengan keras untuk membatasinya atas rasa terima kasih dan hal itu akan terasa kurang ajar bagi orang ketiga, orang biasa-biasa saja yang tidak lebih unggul, yang tengah berada di situ. Namun dari semua tugas kebaikan, tugas-tugas yang menganjurkan kita rasa terima kasih adalah yang terdekat untuk apa yang disebut kewajiban yang sempurna dan lengkap.

Persahabatan, kemurahan hati, amal atau apapun perbuatan kita lakukannya dengan persetujuan universal masih lebih bebas, dan tidak akan dipaksa oleh kekuatan jika dibandingkan kewajiban untuk berterima kasih. Kita berbicara tentang utang budi, bukan dari amal atau kemurahan hati, atau bahkan bukan pula persahabatan, ketika persahabatan adalah tentang harga diri, dan belum ditingkatkan dan ditambahi dengan rasa terima kasih

untuk pelayanan yang baik.5

4. Kebencian tampaknya telah diberikan pada kita oleh alam sebagai pertahanan, dan hanya untuk pertahanan saja. Kebencian adalah tentang perlindungan atas keadilan dan keamanan pihak tidak bersalah. Kebencian mendorong kita untuk mengalahkan keburukan yang berusaha untuk dilakukan pada kita dan juga untuk membalas apa yang sudah dilakukan. Bahwa pelaku dapat dibuat untuk bertobat dari ketidakadilan. Dan bahwa orang lain, karena takut hukuman seperti, mungkin juga takut untuk dinyatakan bersalah atas pelanggaran seperti ini.

Oleh karena itu, kebencian harus disiapkan untuk tujuan ini, tidak ada pengamat yang akan menerimanya jika kebencian itu diberikan pada setiap orang. Tapi perbuatan baik dalam bentuk kedermawanaan yang masih berupa keinginan belaka, meskipun mungkin mengecewakan kita atas kebaikan yang mungkin terlanjur diharapkan, tidak melakukan dan juga tidak berupaya melakukan kerusakan apapun yang kita perlu membela diri kita karenanya.

5. Bagaimanapun, ada kebajikan lain. Kebajikan yang ketaatan atasnya tidak menyisakan kebebasan atas kehendak kita sendiri. Kebajikan yang mungkin dapat dipaksa oleh kekuatan. Kebajikan yang penyelewengannya menghadapkan seseorang pada keben-cian dan berakibat hukuman. Kebajikan ini adalah keadilan. Pelanggaran pada keadilan adalah sebuah cedera. Pelanggaran tersebut menyeakiti beberapa orang tertentu secara nyata berdasar motif yang secara alami pasti tidak disetujui.6 Oleh karena itu, hal ini merupakan objek yang tepat dari kebencian dan hukuman yang merupakan konsekuensi alami dari kebencian. Karena orang bisa menerima serta menyetujui kekerasan yang digunakan untuk

5 Cf. III.6.9 and VI.ii.1.19

6 Untuk analisa Smith mengenai keadilan pada terminologi kerusakan, lihat LJ (A) i.9–10 dan, lebih general i.1–25 dan LJ (B) 5–11.

membalas sakit hati yang terjadi karena ketidakadilan, sehingga mereka bisa lebih jauh menerima dan menyetujuinya bahwa hukuman tersebut digunakan untuk mencegah dan mengalahkan cedera, dan untuk membuat pelaku tidak menyakiti tetangganya. Orang yang memikirkan ketidakadilan memiliki sensibilitas atas hal ini dan merasakan bahwa kekuatan mungkin dapat, dengan kesopanan maksimal, dimanfaatkan. Baik oleh orang yang ia akan lukai atau oleh orang lain, baik untuk menghalangi pelaksanaan kejahatannya atau untuk menghukumnya ketika dia telah melakukan kejahatan tersebut. Dan sinilah ditarik perbedaan yang luar biasa jelas antara keadilan dan semua kebajikan sosial lainnya, yang mana seorang penulis jenius besar dan orisinal7

akhir-akhir ini telah sangat bersikeras atasnya, bahwa kita merasa diri kita berada di bawah kewajiban ketat untuk bertindak sesuai dengan keadilan, dibanding untuk bertindak sesuai persahabatan, amal, atau kemurahan hati. Bahwa pelaksaan kebajikan-kebajikan yang disebutkan terakhir tampaknya akan menjadi, dalam beberapa ukuran, pilihan kita sendiri.

Tapi entah bagaimana, kita merasa diri kita dengan cara yang aneh diikat, dipasung, dan diwajibkan atas pelaksanaan keadilan. Kita merasa dan juga mengatakan bahwa kekuatan dapat, dengan kepatutan maksimal dan dengan persetujuan dari seluruh umat manusia, dimanfaatkan untuk membatasi kita untuk melaksanakan satu aturan, tetapi tidak untuk mengikuti aturan yang lain.

6. Namun, kita harus selalu berhati-hati saat membedakan hal yang hanya sebatas bisa disalahkan atau objek yang tepat dari celaan dengan hal di mana kekuatan dapat digunakan baik untuk menghukum maupun untuk mencegah. Hal yang tampaknya hanya sebatas bisa disalahkan adalah tingkat kebaikan yang

7 Henry Home, Lord Kames (1696–1782), Essay pada Principles of Morality and Natural Religion (1751), I, ii (‘Of the Foundation and Principles of the Law of Nature’), bab. 3–4.

kurang dari standar yang diajarkan pengalaman kita untuk kita harapkan dari setiap orang; dan sebaliknya, hal yang tidak layak mendapat pujian. Tingkat biasa itu sendiri tampaknya tidak tercela dan juga tidak layak puji. Seorang ayah, anak, atau saudara yang berperilaku sesuai hubungan yang tidak lebih baik atau lebih buruk daripada yang biasa dilakukan sebagian besar orang, tampaknya tidak layak atas pujian atau hinaan.

Dia yang mengejutkan kita secara luar biasa dan tak terduga, meskipun kebaikannya biasa saja, atau sebaliknya, dia yang secara luar biasa dan tak terduga mengejutkan kita dengan keburukan, walaupun keburukannya biasa saja, tampaknya layak mendapat pujian dalam satu kasus, dan juga layak mendapat celaan pada kasus yang lain.

7. Kebaikan atau kedermawanan pada sesama dalam tingkat paling biasa, tidak bisa dipaksakan dengan kekerasan. Di antara sesamanya, setiap individu secara alami, dan mendahului pemerintahan sipil, dianggap memiliki hak baik untuk membela diri dari cedera, maupun untuk pada tingkat tertentu, memberi hukuman setimpal atas apa yang telah dilakukan kepadanya.8

Setiap pengamat yang murah hati tidak hanya menerima ketika ia melakukan hal ini, tetapi juga merasakan sentimen tersebut begitu jauh sehingga sering bersedia untuk mem-bantunya. Ketika seseorang menyerang, atau merampok, atau berupaya membunuh orang lain, semua orang di sekitar akan waspada, dan mereka semua berpikir bahwa adalah suatu hal yang benar jika mereka melakukan balas dendam atas orang yang telah dilukai dan juga untuk membela dirinya yang berada dalam bahaya yang sama.

Tapi ketika pada tingkat biasa, seorang ayah gagal memberikan kasih sayang orang tua pada anak sedangkan si anak tampaknya menginginkan penghormatan yang mungkin bisa

8 Untuk tahapan munculnya pemerintahan sipil, lihat LJ (A) iv.4ff, (B) 9ff., dan WN v.i.a–b

diharapkan dari ayahnya; ketika pada tingkat biasa, seseorang tidak merasakan kasih sayang persaudaraan; ketika seseorang menutup kalbunya dari rasa kasih sayang, dan menolak untuk meringankan penderitaan sesama makhluk saat ia bisa melakukannya dengan mudah; dalam semua kasus ini, meskipun semua orang menyalahkan perilaku-perilaku tersebut, tidak ada yang membayangkan bahwa mereka mungkin memiliki alasan mereka sendiri.

Si penderita hanya bisa mengeluh, dan pengamat yang berada di tengah kejadian tersebut tidak dapat memberi cara lain selain dengan saran dan anjuran. Berdasar semua kejadian tersebut, jika sesama manusia bisa menggunakan kekuatan terhadap satu sama lain, maka hal itu adalah penghinaan tingkat tertinggi.

8. Kadang-kadang, seseorang dengan derajat tinggi, dengan persetujuan universal, mewajibkan orang di di bawah yuris-diksinya untuk berperilaku sesuai dengan kesopanan tingkat tertentu antara satu dengan yang lain. Hukum semua bangsa beradab mewajibkan orang tua untuk menjaga anak-anak mereka sekaligus mewajibkan anak-anak untuk menjaga orang tua mereka,9 dan juga memaksakan pada orang banyak kewajiban kebaikan lainnya.

Hakim sipil dipercayai untuk memegang kekuatan tidak hanya untuk melestarikan perdamaian publik dengan cara mengatasi ketidakadilan, tetapi juga mempromosikan kemakmuran negara-negara persemakmuran dengan cara membentuk disiplin yang baik dan juga dengan meminimalisir semua jenis kejahatan dan ketidakpantasan. Oleh karena itu, orang berderajat tinggi itu mungkin akan menuliskan aturan yang tidak hanya melarang luka melukai di antara sesama warga negara, tetapi juga perintah untuk saling melakukan pelayanan yang baik pada tingkat tertentu. Ketika seorang petinggi negara memerintahkan sesuatu

yang mengacuhkan dan sesuatu mendahului perintahnya, maka perintah si petinggi tersebut tak perlu dianggap tanpa ia bisa menyalahkan. Ia menjadi tidak hanya tercela tetapi juga layak dihukum atas ketidakpatuhannya. Ketika orang berderajat ini memerintah, maka apa yang mendahului perintah tersebut tidak bisa dihilangkan tanpa ada pihak yang disalahkan. Sesuatu menjadi sangat bisa dihukum jika berkaitan dengan ketaatan. Bagaimanapun, dari semua tugas-tugas seorang pemberi hukum, adalah hal yang memerlukan kebaikan dan kesabaran terbesar untuk mengeksekusi hukuman dengan kepantasan dan keadilan. Mengabaikannya sama sekali akan menghadapkan negara persemakmuran pada banyak gangguan kotor dan kejadian buruk mengejutkan, dan mendorongnya terlalu jauh akan merusak semua kebebasan, keamanan, dan keadilan.

9. Meskipun keinginan semata untuk berbuat kebaikan tanpa perwujudan tampaknya tidak cukup pantas untuk mendapat hukuman dari sesama, pengerahan tenaga lebih untuk melakukan kebajikan tampaknya layak mendapat ganjaran tertinggi. Dengan menjadi produktif untuk meraih kebaikan terbesar, mereka akan menjadi objek alami dan persetujuan dari perasaan terima kasih. Sebaliknya, meskipun pelanggaran atas keadilan akan membawa seseorang pada hukuman, ketaatan pada aturan kebajikan tersebut tampaknya tidak perlu imbalan apapun.

Tidak diragukan lagi, ada sebuah kepatutan dalam praktik keadilan dan hal tersebut memberi penghargaan, dalam hal ini, dalam bentuk persetujuan atas dasar kepatutan. Tapi karena hal tersebut tidak memberi dampak positif yang nyata, maka keadilan hanya berhak mendapatkan sangat sedikit rasa terima kasih. Pada banyak kejadian, keadilan sebenarnya adalah bukan suatu kebajikan negatif dan ia hanya menghalangi kita untuk menyakiti sesama.

Seseorang yang hampir tidak pernah melanggar baik seseorang maupun negara, atau reputasi tetangganya, pasti hanya

akan memiliki sangat sedikit penghargaan positif. Namun, dia memenuhi semua aturan yang secara khusus disebut sebagai keadilan dan melakukan suatu hal yang orang sesamanya dengan berdasar kepatutan dapat memaksanya untuk melakukan hal tersebut. Dan mereka dapat juga berhak menghukumnya ketika ia tidak melakukan hal dimaksud. Kita mungkin bisa memenuhi semua aturan keadilan hanya cukup dengan duduk diam dan tidak melakukan apa-apa.

10. Apapun yang dilakukan seseorang, maka hal tersebut akan dilakukan kepadanya. Dan pembalasan tampaknya menjadi hukum agung yang didiktekan Alam pada kita. Kebaikan dan kemurahan hati kita pikir terjadi karena sifat murah hati dan dermawan. Kita berpikir bahwa mereka yang hatinya tidak pernah terbuka pada perasaan kemanusiaan pasti akan ditutupi pula, dengan cara yang sama, dari kasih sayang dari semua makhluk, dan mereka tetap diizinkan tinggal di tengah-tengah masyarakat yang akan membuat mereka seperti tinggal di padang pasir besar di mana tidak ada satupun yang akan mempedulikan mereka atau sekadar untuk menanyakan mereka.

Pelanggar hukum keadilan seharusnya dibuat merasakan kejahatan yang ia lakukan ke orang lain; dan karena kesadaran atas penderitaan saudara-saudaranya tidak mampu menahannya untuk tidak melakukan hal tersebut, maka ia seharusnya merasakan rasa takutnya sendiri dengan berlebihan. Seseorang yang hampir tidak bersalah, yang mengamati hukum keadilan yang berkaitan dengan orang lain, dan orang yang berpantang untuk menyakiti tetangganya, dapat mengharap bahwa pada gilirannya tetangganya tersebut harus menghormatinya, dan bahwa hukum serupa harus diamati dengan serius atasnya.

BAB II

Tentang rasa keadilan, penyesalan, dan kesadaran akan penghargaan

1. Tidak mungkin ada motif yang layak untuk menyakiti sesama dan tidak ada pula hasutan yang layak untuk melakukan kejahatan lain yang akan diterima oleh umat manusia, kecuali pada hukuman atas kejahatan yang orang lain lakukan pada kita. Untuk menyakiti seseorang hanya karena ia menghalangi jalan kita, untuk mengambil sesuatu darinya yang sungguh berguna baginya hanya karena mungkin kita merasa bahwa sesuatu tersebut akan sama atau lebih berguna untuk kita, atau untuk memanjakan segala kesukaan alami dimiliki setiap orang demi kesenangan mereka dengan menggunakan pembiayaan orang lain, adalah apa yang pengamat tidak adil bisa terima.

Tidak diragukan lagi, pada setiap manusia, alam mere-komendasikan pertama dan paling utama perawatan diri sendiri; dan karena ia lebih cocok untuk mengurus dirinya sendiri daripada orang lain, maka hal tersebut adalah cocok dan tepat harus begitu. Oleh karena itu, setiap orang jauh lebih sangat tertarik pada apa pun yang menyangkut dirinya dengan segera dibanding apa yang menyangkut diri orang lain.

Sedangkan untuk mendengar, mungkin, kematian orang lain yang tidak memiliki hubungan tertentu dengan kita, kita takkan begitu memperhatikannya, hal itu takkan merusak selera makan kita, atau akan mengganggu istirahat kita seperti halnya bencana sangat signifikan yang telah menimpa diri kita sendiri. Tapi meskipun kehancuran sesama kita jauh lebih sedikit mempengaruhi kita dibanding kemalangan sangat kecil yang menimpa diri kita sendiri, kita sebaiknya tidak menghancurkannya untuk mencegah terjadinya kemalangan kecil tersebut, atau bahkan untuk mencegah kehancuran kita sendiri.

Seperti dalam semua kasus lain, di sini kita harus melihat diri kita tidak dengan menggunakan sudut pandang diri sendiri, dan

berusaha melihat diri seperti halnya kita dilihat oleh orang lain secara alami. Menurut pepatah, meskipun setiap orang adalah dunia berikut isinya bagi dirinya sendiri, pada manusia lain ia bukanlah bagian yang penting dari dunia ini.

Meskipun kebahagiaannya sendiri mungkin lebih penting daripada orang lain di dunia, bagi orang lain kebahagiannya adalah konsekuensi dari kebahagiaan orang lain. Karenanya, meskipun mungkin benar adanya bahwa setiap individu, pada kalbunya sendiri, secara alami lebih menyukai dirinya diban-dingkan seluruh umat manusia, namun ia tidak akan berani menatap semua orang lalu mengakui bahwa ia bertindak sesuai dengan prinsip ini.

Dia merasa bahwa prinsip tersebut takkan pernah diterima oleh mereka semua, dan betapapun alaminya prinsip itu baginya, prinsip tersebut selalu terlihat berlebihan dan mubazir bagi orang lain. Ketika ia memandang dirinya dengan sudut pandang yang digunakan orang lain saat melihanya, ia melihat bahwa dirinya nampak tidak mendapatkan hormat sama sekali. Jika ia akan bertindak sedemikian rupa sehingga bahwa pengamat yang adil dapat memasuki prinsip-prinsip tindakannya, prinsip di mana dia memiliki keinginan terbesar untuk melakukannya, maka pada kejadian ini dan juga pada kejadian lainnya, ia harus menurunkan arogansi kecintaan pada diri sendiri yang ia punya, lalu membawanya ke tingkat yang orang lain bisa terima.

Mereka akan membiarkan hal itu sejauh pada kemungkinan dia akan menjadi lebih cemas tentang kebahagiaannya sendiri daripada kebahagiaan orang lain sehingga ia akan mengejarnya dengan ketekunan yang sungguh-sungguh. Sejauh titik di mana setiap kali mereka menempatkan diri mereka sendiri dalam situasinya, mereka akan mudah pergi menerimanya.

Dalam perebutan kekayaan, kehormatan, dan kesenangan, ia dapat berusaha sekeras yang dia bisa, dan mengerahkan setiap saraf dan setiap ototnya untuk mengalahkan semua pesaingnya. Tetapi jika ia bermain kasar atau melempar salah satu dari

mereka, pembiaran dari orang lain akan sepenuhnya berakhir. Hal tersebut adalah pelanggaran atas prinsip permainan adil, yang tidak dilakukannya.10

Dalam segala hal, orang ini bagi mereka berada dalam kondisi rasa cinta diri sendiri yang lebih disukainya dibandingkan perasaan cinta untuk orang lain, dan mereka tidak bisa menerima motif perilaku menyakiti ini. Oleh karena itu, mereka lebih mudah bersimpati dengan kebencian alami atas perilaku ini dan si pelaku tadi menjadi objek kebencian dan kemarahan mereka. Dia merasakan bahwa dia memang seperti itu dan dia juga merasakan sentimen-sentimen semua pihak yang siap meledak padanya. 2. Semakin besar kejahatan dan semakin sulit kerusakannya diperbaiki, maka kebencian si penderita secara alami akan lebih tinggi. Begitu juga kemarahan simpatik dari pengamat serta rasa bersalah di pelakunya. Kematian adalah kejahatan terbesar yang bisa dilakukan seseorang pada orang lain, dan memicu kebencian tingkat tertinggi pada mereka yang memiliki hubungan dengan orang yang tewas.

Maka pembunuhan adalah kejahatan paling mengerikan dari semua kejahatan yang mempengaruhi seseorang, baik di mata umat manusia maupun di mata orang yang melakukannya. Bahwa pembatasan untuk menggunakan hak milik kita adalah kejahatan yang lebih besar daripada kekecewaan dari hanya sebatas mengharap sesuatu yang kita inginkan. Oleh karena itu, penerobosan properti, pencurian, dan perampokan yang mengambil hal milik kita adalah kejahatan yang lebih besar daripada pelanggaran kontrak yang hanya mengecewakan kita atas apa yang kita harapkan dari kontrak tersebut.

Oleh karena itu, Hukum keadilan paling suci, yang pelanggaran atasnya akan menyerukan panggilan balas dendam dan hukuman paling nyaring, adalah hukum-hukum yang menjaga kehidupan

10 Pemikiran ini jelas sekali mengulang Cicero, De officiis, III.42, yang mengutip Chrysippus sebagai citranya.

dan orang di sekitar kita. Kemudian, hukum-hukum itu menjaga properti dan harta milik. Terakhir dari semuanya, hukum-hukum tersebut menjaga apa yang disebut hak pribadinya, atau apa yang wajib dia dapatkan dari janji-janji orang lain.11

3. Pelanggar hukum suci keadilan tidak pernah bisa memba-yangkan perasaan-perasaan orang lain, tanpa adanya rasa menderita atas rasa malu, horor, dan ketakutan. Ketika perasaannya dipuaskan dan ia mulai tenang untuk bisa merenungkan perilaku masa lalunya tersebut, dia tidak bisa masuk ke dalam motif-motif yang mempengaruhi perilakunya tadi. Baginya, motif-motif itu sekarang nampak sebagai kejijikan seperti yang nampak pada hampir semua orang.

Dengan bersimpati atasnya menggunakan kebencian dan kengerian sebagaimana orang lain lakukan padanya, dia menjadi, dalam beberapa ukuran, objek kebencian dan kengerian dirinya sendiri. Situasi orang lain yang menderita oleh ketidakadilannya sekarang memanggil rasa belas kasihnya. Dia sedih karena memikirkan hal itu; menyesalkan efek ketidakbahagiaan perilaku itu, dan merasa pada saat yang sama bahwa hal-hal itu telah membuatnya menjadi objek yang tepat atas kebencian dan kemarahan umat manusia, dan juga mendapatkan konsekuensi alami atas kebencian berupa dendam dan hukuman. Pikiran ini terus-menerus menghantui dirinya dan mengisi benaknya dengan teror dan rasa takjub.

11 Untuk system hak Smith, lihat LJ (A) i.10–11, (B) 6–7. Mengikuti awal teori hukum alam modern, Smith membedakan hukum ke dalam hukum perdata (hak individu), hukum domestik (hak anggota keluarga), dan hukum publik (hak anggota masyarakat sipil). Hukum perdata lagi-lagi dibedakan menjadi hukum alam individu (fisik dan integritas moral) dan hak adventif atau yang diperoleh melalui property kepemilikan, berikutnya ia juga membedakan antara hak nyata (hak-hak barang) dan hak personal (hak menuntut seseorang dalam hukum). Untuk perbedaan hak alamiah dan hak adventif, lihat LJ (A) i.12 and 24, ii.93, (B) 8–11 passim, 149, 182.

Dia tidak lagi berani menatap mata masyarakat umum, dan membayangkan dirinya ditolak dan diasingkan dari kasih sayang seluruh umat manusia. Dia tidak bisa berharap untuk penghiburan

Dalam dokumen Teori Sentimen-Sentimen Moral - Adam Smith (Halaman 125-151)