BAB I
Bahwa meski simpati kita atas kesedihan umumnya terasa lebih hidup dibanding rasa simpati kita atas sukacita, perasaan
tersebut biasanya sangat kurang mendalam dibandingkan apa yang secara alami dirasakan orang yang bersangkutan 1. Simpati kita atas kesedihan, meskipun tidak lebih nyata, telah lebih menyita perhatian dibanding simpati kita pada perasaan suka cita. Kata simpati, pada arti paling tepat dan asli, menunjukkan kita memiliki perasaan senasib pada penderitaan, bukan pada kesenangan, yang dialami orang lain. Seorang filsuf cerdik cendekia secara akurat berpikir bahwa kiranya perlu untuk membuktikan dengan argumen bahwa kita memiliki perasaan simpati yang nyata pada perasaan suka cita, dan bahwa memberi ucapan selamat adalah sifat dasar manusia.24 Saya percaya, tak seorang pun pernah memerlukan bukti atas kasih sayang yang seperti itu.
24 Joseph Butler (1692–1725), Fifteen Sermons Preached at the Rolls Chapel [1726], v, paragraf. 2.
ketika sedang berada di suatu daerah, mengenai buruknya jalan raya ketika sedang dalam perjalanan, mengenai keinginan teman-teman seperjalannya, dan mengenai jeleknya semua sarana hiburan umum di suatu kota saat sedang mengunjunginya.
Orang seperti itu, saya katakan, meskipun ia pasti memiliki beberapa alasan, akan jarang mendapat banyak simpati. Suka cita adalah emosi yang menyenangkan, dan kita dengan senang hati akan merasakannya pada kesempatan sekecil apapun. Karenanya, kita siap bersimpati dengan perasaan itu pada orang lain setiap kali kita tidak memiliki prasangka yang berdasar rasa iri.
Sebaliknya, kesedihan itu menyakitkan. Bahkan ketika ia adalah kesedihan atas kemalangan kita sendiri, pikiran kita secara alami akan menolak dan mundur darinya. Kita akan berusaha keras untuk tidak membayangkannya sama sekali atau akan segera melupakannya segera setelah kita membayangkannya. Keengganan kita atas kesedihan tidak akan menghalangi kita untuk menganggapnya sangat sepele. Perasaan enggan tersebut akan terus-menerus mencegah kita untuk bersimpati pada kesedihan orang lain, perasaan tersebut terpicu oleh penyebab-penyebab sepele karena perasaan simpati kita selalu lebih mudah ditahan dibanding perasaan simpati yang sebenarnya. Selain itu, ada sebuah kejahatan dalam diri manusia yang tidak hanya mencegah semua perasaan simpati dengan sedikit perasaan tidak nyaman, tapi juga membuat pengalihan atasnya. Oleh karena itu, perasaan menyenangkan bisa kita dapatkan dari ejekan dan senda gurau serta di kekesalan kecil teman-teman kita saat ia didorong, didesak, dan digoda oleh semua orang.
Mereka dengan garis keturunan baik menyembunyikan rasa sakit yang disebabkan oleh setiap insiden kecil yang menimpa mereka; dan atas kemauan sendiri mengubah rasa sakit dari insiden tersebut dalam ejekan dan senda gurau karena mereka tahu apa akan yang dilakukan sahabat-sahabatnya pada insiden-insiden tersebut. Kebiasaan seseorang yang terbiasa dengan cara ini adalah mempertimbangkan bagaimana hal-hal yang
2 Pertama-tama, simpati kita pada kesedihan dalam beberapa hal lebih luas dibanding simpati kita atas suka cita. Bahkan pada kesedihan yang berlebihan, kita mungkin masih memiliki perasan senasib dengannya. Dalam hal ini, apa yang kita rasakan bukanlah perasan simpati yang lengkap, bukanlah perasaan simpati yang harmonis, dan bukanlah hubungan perasaan yang menimbulkan persetujuan kita secara sempurna.
Kita tidak menangis, berseru, atau meratap bersama si penderita. Sebaliknya, kita merasakan kelemahan dan luapan perasaannya, namun kita cenderung memberi perhatian yang sangat masuk akal pada masalahnya. Tapi jika kita tidak sepe-nuhnya masuk ke dalam perasaan suka cita orang lain dan mene-rimanya, kita tidak akan menganggapnya ada atau kita tidak akan memiliki perasaan senasib atasnya. Orang yang kesal saat kita tidak bisa turut senang atas kebahagiaannya karena hal tersebut tidak masuk akal dan melewati batas adalah objek penghinaan dan kemarahan kita.
3. Rasa sakit, baik pada pikiran atau pada tubuh, adalah perasaan yang lebih tajam daripada kesenangan. Kita bersimpati pada rasa sakit meskipun dalam tingkatan yang jauh lebih rendah dari apa yang secara alami dirasakan oleh penderita. Walaupun begitu, simpati kita pada rasa sakit umumnya lebih hidup dan memiliki persepsi yang berbeda dibanding simpati kita pada perasaan suka cita. Namun simpati kita pada perasaan suka cita lebih hampir mendekati, sebagaimana akan segera saya tunjukkan, perasaan yang dialami oleh orang yang bersangkutan.25
4. Di atas semua ini, kita sering berjuang untuk menekan rasa simpati atas kesedihan orang lain. Setiap kali si penderita sedang tidak memperhatikan, kita berusaha untuk menekan sebanyak mungkin perasaan itu demi kepentingan kita sendiri. Dan kita
tidak selalu berhasil. Usaha untuk menekan rasa tersebut berikut keengganan dengan yang kita hasilkan atasnya, membuat kita secara khusus lebih memperhatikannya. Tapi kita tidak pernah punya kesempatan melakukan hal serupa dengan rasa simpati kita atas suka cita.
Jika dalam kasus ini ada keirihatian, kita merasakan bahwa itu pantas; dan jika tidak ada keirihatian, maka kita melakukannya tanpa keengganan apapun. Sebaliknya, karena kita selalu malu atas keirihatian kita sendiri, kita sering berpura-pura dan kadang-kadang benar-benar ingin bersimpati dengan suka cita orang lain ketika dengan perasaan yang tidak menyenangkan tersebut membuat kita tidak jadi melakukannya. Di lisan, kita berkata bahwa kita sangat senang saat tetangga kita mendapatkan keberuntungan, ketika mungkin di dalam hati kita benar-benar sedih. Kita sering merasa simpati dengan kesedihan seseorang justru saat kita ingin menyingkirkan perasaan tersebut. Dan kita sering kehilangan perasaan simpati atas suka cita justru ketika kita sangat ingin memilikinya.
Oleh karena itu, pengamatan kita mengenai hal ini adalah bahwa kecenderungan kita untuk bersimpati pada kesedihan memang sangat kuat, sedangkan kecenderungan kita untuk bersimpati dengan suka cita sangat lemah.
5. Mengenai prasangka ini, saya berani menegaskan bahwa ketika tidak ada keirihatian dalam kasus di atas, kecenderungan kita untuk bersimpati dengan suka cita jauh lebih kuat daripada kecenderungan kita untuk bersimpati pada penderitaan; dan perasaan senasib kita pada perasaan yang menyenangkan lebih hidup dari apa yang secara alami dirasakan oleh orang-orang yang bersangkutan, disbanding dengan yang kita bayangkan pada penderitaan seseorang.
6. Kita memiliki beberapa cara untuk menghadapi kesedihan berlebihan yang tidak bisa kita terima. Kita tahu bahwa ada
suatu upaya luar biasa besar diperlukan agar si penderita dapat menurunkan emosinya pada tingkatan yang harmonis dan setara dengan orang-orang di sekitar. Oleh karena itu, meskipun ia gagal, kita dapat dengan mudah memaafkan dia. Tapi kita tidak melakukan hal serupa pada perasaan suka cita yang berlebihan karena kita tidak sadar ada upaya yang sama diperlukan untuk membawa perasaan suka citanya ke titik yang kita bisa terima sepenuhnya.
Orang yang dalam bencana besar dapat mengatur kese-dihannya tampaknya layak mendapatkan kekaguman tertinggi. Sebaliknya, orang yang berada dalam kemakmuran dapat dengan cara yang sama menguasai kegembiraannya, tampaknya hampir tidak layak mendapat pujian. Kita menyadari bahwa ada banyak perbedaan dalam satu kasus dengan kasus yang lain mengenai apa yang secara alami dirasakan oleh orang yang bersangkutan dan apa yang dapat diterima orang sekitarnya.
7. Apa yang bisa ditambahkan pada kebahagiaan orang yang sehat, tidak punya utang, dan memiliki hati nurani yang murni? Untuk seseorang dalam situasi ini, dapat dikatakan bahwa aksesnya pada keberuntungan melimpah. Dan jika perasaan dia naik bagai di awang-awang karenanya, maka hal itu merupakan efek dari kesembronoan yang paling sembrono. Bagaimanapun, situasi ini mungkin sangat bisa dianggap alami dan lazim pada masyarakat. Walaupun ada penderitaan dan kebobrokan di dunia sebagaimana yang diprihatinkan banyak orang, hal di atas terjadi pada sebagian besar manusia. Oleh karena itu, sebagian besar manusia tak sulit menaikkan perasaan atas semua kegembiraan karena bisa mendapat akses pada keberuntungan dapat memicu perasaan orang-orang dekat mereka.
8. Tetapi meskipun hanya sedikit hal saja yang perlu ditambahkan pada kondisi seseorang di atas, banyak yang dapat diambil darinya. Antara kondisi di atas dan tingkat tertinggi kemakmuran manusia
jaraknya tipis sekali, sedangkan jarak antara kondisi tersebut dengan jurang terdalam penderitaan manusia jaraknya luar biasa jauh. Sejalan dengan hal tersebut, maka kesulitan tentu menekan pikiran penderita lebih dari keadaan normalnya jika dibandingkan kemampuan kemakmuran menaikkan perasaannya. Oleh karena itu, orang-orang di sekitarnya pasti merasa jauh lebih sulit untuk bersimpati sepenuhnya dan menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya dibanding saat si penderita mengalami suka cita.
Mereka harus melakukan perjalanan lebih jauh dari kondisi alami dan wajar mereka untuk sampai dalam kondisi perasan sedih si penderita yang begitu mendalam. Dalam hal ini, meskipun simpati kita pada kesedihan sering kali merupakan perasaan yang lebih kuat dibanding perasaan simpati kita pada suka cita, perasaan simpati kita tersebut selalu lebih rendah dibandingkan apa yang secara alami dirasakan oleh orang bersangkutan.
9. Bersimpati pada suka cita adalah hal yang menyenangkan. Dan ketika kita tidak merasakan keirihatian, hati kita merasakan kepuasan karena menikmati perasaan gembira. Tapi adalah suatu hal yang menyakitkan untuk menerima kesedihan. Dan kita selalu memasukinya dengan keengganan.26 Saat menghadiri teater
26 Dalam edisi 2 hingga 5 catatan tersebut selanjutnya tertulis: ‘Two sounds,
I suppose, may, each of them taken singly, be austere, and yet, if they are perfect concords, the perception of their harmony and coincidence may be agreeable. [Dua suara, saya kira, mungkin, masing-masing diambil
sendiri-sendiri, menjadi keras, namun, jika mereka cocok dengan sempurna, persepsi dari harmoni dan kebetulan tersebut mungkin menyenangkan]’ Hume telah mengutarakan keberatannya ketika ia mendengar bahwa Smith sedang mempersiapkan edisi kedua The Theory of Moral Sentiments: ‘I wish you had more particularly and fully prov’d, that all kinds of Sympathy
are necessarily Agreeable. This is the Hinge of your System, and yet you only mention the Matter cursorily in p. 20 (I.i.2.6). Now it would appear that there is a disagreeable Sympathy, as well as an agreeable: And indeed, as the Sympathetic Passion is a reflex Image of the principal, it must partake of its Qualities, and be painful where that is so. Indeed, when we converse with a man with whom we can entirely sympathize, that is, where there
is a warmand intimate Friendship, the cordial openness of such a Commerce overpowers the Pain of a disagreeable Sympathy, and renders the whole Movement agreeable. But in ordinary Cases, this cannot have place. An ill-humord Fellow; a man tir’d and disgusted with every thing, always ennui´e; sickly, complaining, embarrass’d; such a one throws an evident Damp on Company, which I suppose wou’d be accounted for by Sympathy; and yet is disagreeable. It is always thought a difficult Problem to account for the Pleasure, receivd from the Tears and Grief and Sympathy of Tragedy; which woud not be the Case, if all Sympathy was agreeable. An Hospital woud be a more entertaining Place than a Ball. I am afraid that in p. 99 and III (I.ii.5.4. dan I.iii.I.9) this Proposition has escapd you, or rather is interwove with your Reasonings in that place. You say expressly, it is painful to go along with Grief and we always enter
into it with Reluctance. It will probably be requisite for you tomodify or explain this Sentiment, and reconcile it to your System.[Kuharap kau
membuktikan secara khusus dan menyeluruh, bahwa segala jenis rasa simpati merupakan hal yang menyenangkan. Ini adalah Sendi dari Sitem yang anda anut, namun anda hanya menyebutkan hal Ini dalam hal. 20 (I.i.2.6). Sekarang akan ada kesan bahwa ada rasa simpati yang tak menyenangkan, sama seperti yang menyenangkan: Dan tentu saja, seperti halnya Perasaan Simpatik adalah Gambaran refleks dari prinsip, ia harus menunjukkan Kualitasnya, dan terasa sakit dimana adanya. Tentu saja, ketika kita berbicara dengan seseorang yang kita bisa bersimpati dengannya secara menyeluruh, disitulah ada Persahabatan yang intim dan hangat, keterbukaan mendalam dari Pertukaran rasa itu mengalahkan rasa Sakit dari rasa Simpati yang tak menyenangkan, dan membuat semua Tindakan menjadi menyenangkan. Namun dalam beberapa Kasus, hal ini takkan terjadi. Seorang yang memiliki rasa humor-rendah; seseorang yang merasa lelah dan jijik pada segala hal, selalu merasa bosan; merasa sakit, mengeluh, malu; seseorang tersebut terbukti dapat Menyusahkan Pertemanan, yang kurasa akan memperhitungkan rasa Simpati; dan hal itu tak menyenangkan. Ia selalu memikirkan tentang Permasalahan sulit untuk memperhitungkan Kebahagiaan, yang didapat dari Air Mata dan Duka Cita dan Simpati akan Tragedi; yang tak akan Terjadi, jika semua rasa simpati adalah hal yang menyenangkan. Sebuah Rumah Sakit akan menjadi Tempat yang menghibur dibanding sebuah Pesta. Aku merasa takut jika di hal.99 dan III (I.ii.5.4. dan I.iii.I.9) Persoalan ini terlupakan olehmu, atau terbelit dengan Pemikiranmu dalam hal itu. Kau mengatakan dengan segera, bahwa sangat menyakitkan untuk merasakan Kesedihan dan kita selalu menghadapi perasaan itu dengan rasa Enggan. Mungkin kau perlu memodifikasi atau menjelaskan Sentimen ini, dan
dengan kisah tragedi, kita berjuang melawan kesedihan simpatik yang dimunculkan oleh tontonan tersebut selama kita bisa. Dan kita akhirnya bersedih jika hal tersebut memang tak lagi terelakkan. Saat berjuang, kita bahkan kemudian berusaha untuk menutupi kesedihan kita dari teman-teman kita. Jika mencucurkan air mata, kita dengan berhati-hati menyembunyikan mereka. Dan jika kita merasa takut, jangan sampai penonton lain yang tidak merasakan hal yang sama menganggapnya sebagai kebancian dan kelemahan.
Orang nahas yang kemalangannya memicu rasa iba sekaligus rasa enggan kita untuk bersedih, dan karena itu ia menujukkan kesedihannya ke kita dengan rasa takut dan ragu-ragu. Ia bahkan berusaha menutupi setengah dari rasa sedihnya. Ia juga merasa malu, karena kekerasan hati manusia, untuk melampiaskan penderitaannya dengan menyeluruh. Bertolak belakang dengan orang yang berada dalam sukacita dan kesuksesan. Ketika sifat keirihatian membuat kita tidak berminat pada dirinya, ia mengharapkan perasaan simpati kita secara menyeluruh. Oleh karena itu, dia tidak merasa takut untuk menujukkan dirinya dengan teriakan kegembiraan. Ia percaya sepenuhnya bahwa kita sungguh-sungguh ikhlas menerima keadaannya.
10. Mengapa kita harus lebih malu menangis di hadapan teman-teman jika dibandingkan tertawa di depan mereka? Kita mungkin memiliki kesempatan untuk melakukan kedua hal tersebut, tetapi kita selalu merasa bahwa mereka lebih mungkin menerima saat kita berada dalam perasaan senang daripada saat kita berada dalam perasaan yang sedih. Memang selalu menyedihkan untuk mengeluh, bahkan ketika kita terkena bencana paling mengerikan. Tapi puncak kesuksesan selalu indah. Prinsip kehati-hatian sering
memasukannya dalam Sistem yang kau anut]. ’ Surat No. 36, 28 Juli 1759, Corr. p.51. Jawaban Smith dikirim pertama kali melalui surat kepada Gilbert Elliot (Letter No. 40, 10 October 1759, Corr., hal. 51) lalu memperkenalkan edisi kedua pada tahun 1761.
menyarankan kita untuk memperlakukan kemakmuran kita dengan hati-hati karena kehati-hatian juga akan mengajarkan kita untuk menghindari kecemburuan sangat mudah terpantik oleh kesuksesan ini.
11. Seberapa hangat penerimaan dari masyarakat, yang tidak pernah menderita keirihatian orang lain karena kesuksesan mereka, atas suatu kemenangan? Dan umumnya seberapa tenang dan moderat kesedihan mereka saat melihat proses eksekusi? Kesedihan kita saat berada di prosesi pemakaman umumnya tidak lebih dibanding kesedihan keluarga dan teman orang yang bersangkutan; tapi kegembiraan kita pada pembaptisan atau pernikahan selalu dari hati dan tanpa kepura-puraan apapun. Berdasarkan semua kesempatan yang menggembirakan tersebut, kepuasan kita, meskipun tidak begitu tahan lama, sering kali serupa seperti mereka yang bersangkutan.
Setiap kali kita dengan hormat mengucapkan selamat kepada teman-teman kita, yang bagaimanapun sesuai dengan keburukan sifat manusia yaitu jarang kita lakukan, suka cita mereka benar-benar menjadi suka cita kita. Untuk saat ini, kita bahagia karena mereka, hati kita membesar dan meluap dengan kesenangan. Suka cita dan kepuasan dari binar mata menggerakkan setiap bagian wajah serta setiap gerak tubuh kita.
Berbarengan dengan perasaan simpati kita dan perasaan asli orang yang bersangkutan. Emosi terakhir ini, di mana sentimen persetujuan itu berada, selalu menyenangkan dan membahagiakan. Yang lain mungkin bisa terasa menyenangkan ataupun tidak menyenangkan jika dibandingkan dengan perasaan aslinya yang memiliki keinginan untuk selalu, dalam beberapa ukuran, mempertahankannya.
12. Namun sebaliknya, ketika kita turut berduka cita dengan teman-teman kita atas penderitaan mereka, seberapa sedikit yang kita rasakan jika dibandingkan dari apa yang mereka rasakan?
Kita duduk bersama mereka, kita melihat mereka, dan sementara mereka berusaha menyampaikan kemalangan mereka pada kita, kita mendengarkan mereka dengan serius dan penuh perhatian. Tapi sementara cerita mereka setiap saat terganggu oleh luapan alami perasaan mereka yang sering tampak mengganggu, seberapa banyak perasaan sedih pada hati kita memerlukan waktu untuk mencapai kesedihan mereka?
Pada saat yang sama, kita mungkin merasakan bahwa kesedihan mereka itu alami dan mungkin tidak lebih besar dari apa yang kita sendiri rasakan pada saat kita menghadapi kejadian serupa. Kita mungkin dalam hati mencela diri kita sendiri atas keinginan kita pada sensibilitas, dan mungkin, membuat diri kita menciptakan perasaan simpati palsu, yang ketika kita tunjukkan, selalu sedikit dan hanya sebentar; dan umumnya, segera setelah kita meninggalkan ruangan tersebut, simpati itu akan lenyap, dan hilang untuk selamanya. Tampaknya, saat memberi kita perasaan sedih, alam semesta berpikir bahwa perasaan tersebut sudah cukup, dan karena itu tidak ia memerintahkan kita untuk mengambil bagian dalam kesedihan orang lain lebih dari ukuran yang kita perlukan untuk membantu teman kita meringankan kesedihan mereka.
13. Dikarenakan sensibilitas yang tumpul atas penderitaan orang lain, maka jiwa besar di tengah suatu bencana selalu nampak begitu anggun. Perilaku sopan dan menyenangkan seseorang yang dapat mempertahankan keceriaannya di tengah-tengah sejumlah bencana mengerikan. Ia tampak lebih baik dari manusia biasa yang dengan cara serupa dapat menghadapi bencana paling mengerikan. Kita merasakan ada upaya besar untuk meng-hentikan luapan perasaan yang secara alami mengganggu dan mengalihkan perhatian mereka yang berada dalam situasinya. Kita kagum saat tahu bahwa dia dapat mengendalikan dirinya sendiri sepenuhnya. Pada saat yang sama, ketegasannya secara tepat berbarengan dengan insensibilitas kita. Dia tidak meminta
kita memberi sensibilitas yang lebih dibanding tingkat sensibilitas kita sekarang, dan kita malu saat menyadari, bahwa kita tidak memilikinya. Ada hubungan sempurna antara perasaannya dan perasaan kita, serta kepatutan sempurna dalam perilakunya. Adalah suatu kepatutan juga yang, berdasar pengalaman kita mengenai kelemahan umum sifat manusia, kita tidak bisa mengharap bahwa sebaiknya ia mampu mempertahankan. Kita bertanya-tanya dengan terkejut dan heran atas kekuatan pikirannya yang mampu berupaya untuk tetap mulia dan baik. Sentimen yang terdiri dari simpati dan persetujuan sepenuhnya ditambah dengan rasa keheranan dan keterkejutan merupakan sesuatu yang disebut kekaguman, seperti yang sudah beberapa kali kita bahas.27
Cato yang dikelilingi oleh musuh-musuhnya sehingga tidak mampu melawan mereka, mengacuhkan tawaran untuk menyerah, berdasar standar kebanggaan pada masa itu, untuk mengurangi kemungkinan menghancurkan dirinya sendiri. Namun ia tidak pernah merasakan kemalangan tersebut. Ia tidak pernah memohon dengan suara yang menyedihkan, permohonan menyedihkan yang kita juga begitu enggan untuk melakukannya. Tetapi sebaliknya, ia mempersenjatai dirinya dengan ketabahan yang jantan, dan saat sebelum ia melakukan keputusannya yang fatal tersebut, dengan ketenangan penuh, ia memberikan semua perintah yang diperlukan demi keselamatan teman-temannya.
Bagi Seneca yang merupakan seseorang dengan insensibilitas luar biasa, hal ini tampak sebagai sebuah kejadian yang bahkan para dewapun mungkin akan melihatnya dengan kesenangan dan kekaguman.28
14 Dalam kehidupan sehari-hari, setiap kali kita menjumpai contoh-contoh keikhlasan nan heroik, kita selalu sangat
27 I.i.4.3 dan I.ii.I.I2.
terpengaruh. Kita lebih cenderung untuk menangisi dan meneteskan air mata untuk kejadian seperti ini daripada untuk mereka yang menyerah pada kelemahan dan kesedihan. Dan dalam kasus ini, kesedihan simpatik orang lain yang menyaksikannya muncul melampaui perasaan asli orang bersangkutan. Teman-teman Socrates semua menangis ketika ia meminum racunnya, sementara ia sendiri menunjukkan ketenangan, kebahagiaan, dan