• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadilan Sosial bagi Seluruh Warga

BAB II: PEMIKIRAN DAVID HOLLENBACH TENTANG

6. Arah dari Bonum Commune

6.1. Keadilan Sosial bagi Seluruh Warga

Salah satu alasan mengapa bonum commune mendapat perhatian dewasa ini adalah masalah ekonomi dan kemiskinan yang menjadi serius, bukan hanya di kota-kota besar Amerika tetapi di berbagai belahan dunia. Jumlah orang dengan pendapatan dibawah $1 perhari meningkat tajam dari 1,183 milyard tahun 1987 menjadi 1,198 milyard di tahun 1998. Ini tentu terkait dengan Structural Adjustment Program (SAP) dari IMF dan Bank Dunia dalam rentang waktu tahun 1980 – 1990 yang mendesak negara-negara berkembang yang sedang mengalami krisis keuangan dan terlilit utang untuk menyesuaikan kebijakan ekonominya dengan kebijakan IMF dan Bank Dunia yang mendukung liberalisasi ekonomi.

Para pengamat ekonomi seperti Joseph Sitglitz dan William Easterly mengkritik habis-habisan kebijakan liberalisasi ekonomi ala IMF dan Bank Dunia yang tidak menyelesaikan masalah bahkan makin memerosokkan negara-negara di dunia ketiga ke dalam kemiskinan, penderitaan. Fenomena “ketidaksetaraan”

(inequality) telah menjadi masalah global63.

Hollenbach yakin bahwa ketidaksetaraan itu menuntut suatu cara pandang moral baru yang bisa lebih menekankan kerjasama dan solidaritas antar anggota keluarga manusia. Bonum commune diyakini dapat memberi sense of direction entah bagi para warga kota di tingkat lokal, atau antara negara maju dan berkembang di tingkat global. Menempatkan kemiskinan dalam kaitannya dengan relasi antar manusia juga akan makin mengarahkan kita pada apa yang menjadi

       

63 David Hollenbach, “Globalization, Solidarity and Justice”, East Asian Pastoral Review, 43, 2006, 23.

akar dari kemiskinan. Kemiskinan bukan hanya karena tidak adanya kesempatan, atau karena keterbatasan sumber-sumber alam. Kemiskinan adalah tanda paling terang benerang tentang tidak adanya solidaritas. Hanya dengan membangkitkan solidaritas inilah keadilan sosial dapat direngkuh.

Namun, harus disadari bahwa solidaritas antar warga masyarakat juga memiliki tingkat-tingkatannya. Seperti yang dikatakan oleh Aristoteles, taraf paling ideal adalah hubungan dekat/personal adalah relasi antar sahabat yang saling menghargai. Dalam persahabatan yang sejati, kebaikan dari masing-masing sahabat dibagikan dengan orang lain. Namun, menurut Aristoteles, persahabatan model ini hanya mungkin terjadi dalam sekelompok orang terbatas. Maka, mengharapkan solidaritas antar warga kota metropolis – apalagi komunitas seluas dunia- dalam level semacam ini adalah suatu impian yang tak realistik.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana membangun solidaritas yang operasional bagi masyarakat kosmopolitan ini? Hollenbach menemukan jawabannya pada teori keadilan Thomas Aquinas.

Menurut Thomas, solidaritas dalam level yang paling minimal sangat diperlukan oleh komunitas meskipun komunitas itu jauh dari kesempurnaan, entah karena keterbatasan moral atau karena kelemahan anggota-anggotanya64. Untuk menjamin agar solidaritas minimal antara warga negara yang tidak sempurna tersebut terjadi, perlulah mengusahakan keadilan. Keadilan menjadi titik pijak paling bawah agar solidaritas sosial bisa bertahan. Keadilan juga menjadi pintu pengaman terkakhir agar masing-masing anggota masyarakat yang memiliki        

64 Thomas Aquinas, Summa Theologiae I-II, q.90, art.2; q.96.art 2 dan 3, seperti dikutip oleh David Hollenbach, The Common Good and Christian Ethics, 192.

penafsiran khas atas bonum commune tidak terlibat dalam konflik. Pada saat yang sama, keadilan juga menjadi bingkai agar penafsiran-penafsiran khas itu tetap terarah pada satu visi bersama, yaitu bonum commune. Inilah sebabnya Aquinas menjadikan keadilan sebagai nilai utama (premier value), karena keadilan mengarahkan tindakan seseorang pada kebaikan sesama65.

Aquinas membedakan beberapa bentuk keadilan yaitu keadilan partikular, keadilan umum dan keadilan distributif. Keadilan partikular adalah kewajiban untuk bertindak adil pada individu atau kelompok tertentu kepada individu atau kelompok lain. Misalnya, kewajiban orang tua pada anak, kewajiban untuk menggenapi janji atau kontrak. Salah satu bentuk paling penting dari keadilan particular adalah keadilan komutatif. Dalam keadilan komutatif terjadi kesaling timbalbalikan (reciprocity) antar individu. Terjadi kesejajaran antara apa yang diberikan dengan apa yang diperoleh. Contohnya: seorang pekerja pantas mendapat upah yang cukup bagi dirinya dan di sisi lain orang yang mempekerjakan pantas mendapatkan hasil yang baik dari pekerjanya.

Atas dasar prinsip kesaling timbalbalikan ini pula, Rerum Novarum menyatakan bahwa tidak adil secara komutatif kalau “karena keterpaksaan atau ketakutan atau kejahatan yang lebih parah, seorang pekerja menerima kondisi pekerjaan yang lebih berat karena majikan atau kontraktor tidak memberikan padanya yang lebih baik”66. Fenomena ketidakadilan komutatif ini tampak jelas dalam masyarakat global sekarang ini. Para buruh karena kemiskinannya rela

       

65 Jean Porter, “The Common Good in Thomas Aquinas” dalam Patrick D. Miller & Dennis P.

McCann, In Search of the Common Good, New York: T & T Clark, 2005.

66 Rerum Novarum no. 34.

menerima upah yang sangat tidak manusiawi agar bisa tetap bekerja. Michael Walzer menyebut relasi tak sejajar ini sebagai “exchange born of desperation”67.

Keadilan umum adalah laku keutamaan yang mengatur kewajiban para warga negara demi bonum commune komunitas yang lebih besar68. Hollenbach menyebut keadilan umum sebagai keadilan kontributif karena menyangkut kontribusi setiap anggota masyarakat demi kebaikan bersama. Salah satu bentuk kontribusi tersebut adalah bekerja menciptakan barang atau jasa bagi kesejahteraan komunitas. Lewat keadilan kontributif, warga negara dituntut untuk aktif terlibat dalam komunitasnya. Keterlibatan itu bukan hanya untuk kebaikan dirinya sendiri tetapi juga kebaikan seluruh masyarakat. Maka, keadilan kontributif akan mengarahkan anggota komunitas untuk membantu sesamanya dalam memenuhi kebutuhan dasariahnya, memperluas kesempatan kerja, melawan diskriminasi dan peminggiran, mempertahankan kualitas lingkungan hidup.

Semua itu dilakukan seturut kapasitas tiap-tiap anggota komunitas.

Selain keadilan umum, Aquinas juga menyebut keadilan distributif69. Kalau keadilan kontributif berkaitan dengan sumbangan anggota komunitas pada kebaikan bersama, keadilan distributif berhubungan dengan cara/kemungkinan bagi anggota komunitas dalam ambil bagian/menikmati apa yang diusahakan oleh komunitas. Keadilan distributif menyangkut alokasi-alokasi yang diterima tiap warga yang akan membuat mereka sejahtera.

       

67 David Hollenbach, The Common Good and Christian Ethics, 195.

68 Thomas Aquinas, Summa Theologiae II-II, q.58, art 6, seperti dikutip oleh David Hollenbach, The Common Good and Christian Ethics, 195.

69 Thomas Aquinas, Summa Theologiae II-II, q.58, art.5-7 dan q.61. art 1 dan 3, seperti dikutip oleh David Hollenbach, The Common Good and Christian Ethics,195.

Pertanyaannya, bagaimana barang/fasilitas publik itu seharusnya didistribusikan? Ada dua kemungkinan: secara “strict” atau secara

“proporsional”. Yang dimaksud Hollenbach sebagai distribusi secara strict adalah misalnya dalam pemilihan umum berlaku ketentuan “satu orang, satu suara”.

Tanpa pandang bulu, semua mendapatkan haknya secara sama. Sedangkan prinsip proposionalitas membenarkan adanya perbedaan dalam pendistribusian barang/fasilitas publik. Selain itu, kriteria proporsionalitas pada tiap-tiap barang/fasilitas publik bisa juga berbeda-beda. Dalam ekonomi pasar misalnya, pembagian penghasilan berkaitan dengan produktifitas masing-masing anggota atau memberikan kepada perkerjaan-pekerjaan yang lebih mendorong terciptanya kesejahteraan sosial. Namun, dalam bidang kesehatan, justru yang sakitlah yang harus mendapat prioritas dibandingkan dengan yang sehat70.

Kadang diperdebatkan manakah yang lebih utama: pembagian secara

“strict” atau pembagian secara “proporsional”. Namun bagi Hollenbach entah pembagian secara “strict” atau secara “proporsional”, keadilan distributif memberi jaminan pada tiap warga negara untuk partisipasi dalam kehidupan komunitas. Maka, menjadi suatu bentuk ketidakadilan ketika seseorang atau sekelompok orang secara langsung atau tidak langsung diperlakukan seakan-akan

       

70 Hollenbach menunjukkan 3 prioritas moral strategis:

a. The needs of the poor take priority over the wants of the rich.

b. The freedom of the dominated takes priority over the liberty of the powerful

c. The participation of marginalized groups takes priority over the preservation of an order wich excludes them.

Bandingkan, David Hollenbach, Claim in Conflict, 204.

bukan anggota komunitas. Inilah yang disebut sebagai marginalisasi, ketika orang disingkirkan dari partisipasi terhadap dan dalam kebaikan bersama71.

Hollenbach membuat diagram berikut untuk menunjukkan keterkaitan antara keadilan partikular, keadilan umum atau keadilan kontributif, keadilan distributif dengan bonum commune.

DISTRIBUTIVE  CONTRIBUTIVE 

  JUSTICE  SOCIAL JUSTICE  JUSTICE 

  (PARTICIPATION) 

     

   

COMMON GOOD 

• Adequate housing 

• Accessible jobs 

• Quality education 

• Child care 

• Health care etc 

 

citizen   citizen  citizen  citizen  citizen 

COMMUTATIVE JUSTICE 72 

Dari diagram diatas, tampak bahwa keadilan komutatif beroperasi pada hubungan antar warga. Sedangkan keadilan kontributif menunjuk pada relasi antara warga dengan bonum commune. Contohnya: mendapat perumahan yang layak, akses yang cukup terhadap pekerjaan, pendidikan yang bermutu, perlindungan terhadap anak dan jaminan kesehatan. Keadilan distributif berarti bagaimana bonum commune dinikmati dan dibagikan kepada warga. Semua dinamika keadilan –        

71 David Hollenbach, “The Bishops and U.S. Economy”, Theological Studies 46, 1985, 109.

72 David Hollenbach, The Common Good and Christian Ethics, 196.

komutatif, kontributif, distributif itu hanya mungkin terjadi karena adanya partisipasi.

Sedangkan, proses marginalisasi digambarkan sebagai berikut:

 

 

citizen   citizen  citizen  citizen  citizen 

MARGINALIZATION 73 

• Indequate housing 

• Lack of jobs 

• Poor education 

• Lack of child care 

• Lack of Health care  

COMMON GOOD 

Ada berbagai macam bentuk marginalisasi seturut dengan berbagai dimensi dari keadilan. Marginalisasi politik terjadi ketika seseorang tidak bisa mengikuti pemilu, hak untuk berkumpul dan berpendapat dibatasi atau berbagai macam represi dari pemerintahan tirani74. Dalam bidang ekonomi, marginalisasi bisa berbentuk terputusnya rantai hubungan antara orang-orang miskin dengan        

73 David Hollenbach, The Common Good and Christian Ethics, 199.

74 David Hollenbach, Claim in Conflict, 199.

masyarakat luas pada umumnya, padahal akses terhadap pekerjaan yang stabil dan jangka panjang hanya mungkin didapat kalau rantai hubungan itu ada. Ditambah lagi dengan kualitas pendidikan yang rendah, membuat mereka kalah bersaing dengan masyarakat kelas menengah

Oleh sebab itu, agar cita-cita keadilan sosial menjadi kenyataan, haruslah diatur struktur-struktur dasar dari masyarakat, yaitu institusi-institusi politik, ekonomi dan sosial sedemikian rupa sehingga terjadi pembagian keuntungan dari kerjasama sosial tersebut. Maka, keadilan sosial membutuhkan sarana institusional yang mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menciptakan dan sekaligus menikmati keuntungan dari bonum commune secara adil.

Lalu apa peran Gereja dan komunitas-komunitas agama dalam mewujudkan keadilan sosial ini? Menurut Hollenbach, komunitas agama dapat memberikan kontribusi penting bagi pencapaian keadilan sosial sebagai agent of change dalam pemikiran dan tindakan, terutama menggerakkan orang-orang menengah–atas. Gereja misalnya dapat menggerakkan umat-umat kelas menengahnya untuk menjadi perantara agar masyarakat kelas bawah dapat memperoleh akses yang cukup terhadap pekerjaan, pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasariah, sampai mendapatkan pelayanan pendidikan yang layak. Di Amerika, dalam pengamatan Hollenbach, voluntary service semacam ini berkembang dengan kuat. Salah satu contohnya adalah sekolah-sekolah paroki yang memberikan pelayanan pendidikan yang baik kepada seluruh siswanya,

entah siswa itu miskin atau kaya. Sekat-sekat sosial dikikis lewat program-program pendidikan milik paroki ini.

Namun, catatan Hollenbach, faith based responses ini hanyalah pancingan awal. Gereja haruslah mengusahakan agar institusi-institusi pemerintahan makin terlibat untuk menciptakan keadilan sosial. Institusi-institusi tersebut tidak hanya memiliki akses terhadap barang dan fasilitas publik, tetapi mampu menciptakan sistem dan aturan yang memungkinkan setiap warga negara –terutama yang miskin- mendapatkan kesempatan yang sama untuk sejahtera. Gereja tidak boleh hanya berpuas diri terhadap gerakan-gerakan kemanusiaan semata, tetapi menjadi agent of change dalam perubahan struktural demi pencapaian keadilan sosial.

Untuk itu, dibutuhkan tindakan-tindakan politis dari warga negara. Gereja mampu menjadi pionir untuk gerekan-gerakan politis semacam ini.