• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengembangkan Solidaritas Intelektual dalam Negara Demokratis …

BAB II: PEMIKIRAN DAVID HOLLENBACH TENTANG

4. Solidaritas Intelektual: Dinamika Internal Bonum Commune

4.2. Mengembangkan Solidaritas Intelektual dalam Negara Demokratis …

Beradab

Demokrasi sebagai model pemerintahan bukanlah bersifat tunggal.

Demokrasi memiliki beberapa varian, misalnya demokrasi langsung (direct democracy) demokrasi liberal (liberal democracy), serta demokrasi deliberatif (deliberative democracy). Menurut Gutmann dan Thompson demokrasi deliberatif terjadi “ketika para warga negara atau wakil-wakil mereka tidak sepakat secara moral, mereka harus terus bermusyawarah sampai terciptalah keputusan yang dapat diterima setiap orang (mutually acceptable decisions)”. Demokrasi deliberatif memiliki pengandaian adanya pluralitas keyakinan moral dari para warga negara berkaitan dengan masalah-masalah publik. Demokrasi deliberatif mendasarkan diri pada harapan bahwa koeksistensi secara paralel –yang diajukan oleh demokrasi liberal- bukanlah satu-satunya alternatif penyelesaian dihadapan ketidaksetujuan. Keterlibatan aktif untuk berpikir, mendengar dan berbicara dapat menggerakkan setiap pihak untuk mencapai mutually acceptable decision.

Deliberasi dapat terjadi dalam conversational explaratory mode atau argumentative mode. Dalam conversational explaratory mode, para peserta deliberasi mencari pengertian yang lebih mendalam atas masing-masing visi hidup

atau beberapa dimensi politik khusus dari visi tersebut. Sedangkan dalam argumentative model, peserta deliberasi menyampaikan penalaran mengapa posisi tertentu dipandang dapat merangkul semua pihak daripada alternatif yang lain.

Kedua model deliberasi ini memegang teguh keterlibatan yang saling menghargai masing-masing pihak. Pun kalau terjadi ketidaksepakatan, entah tentang keputusan publik tertentu atau tentang makna kehidupan, bukan berarti para peserta deliberasi ditakdirkan untuk menerima kenyataan bahwa yang terbaik bagi semua adalah hidup sendiri-sendiri saja. Kebutuhan untuk bekerjasama semakin ditegaskan oleh kenyataan-kenyataan negatif yang menimpa komunitas kita, seperi kerusakan lingkungan, kemiskinan. Demokrasi deliberatif hanya akan jalan dengan satu keyakinan bahwa perbedaan agama, cara pandang dan keyakinan moral tidaklah membatalkan relasi manusiawi. Perbedaan ini justru menjadi penegas bahwa masyarakat modern butuh untuk bekerjasama lewat jalan-jalan yang lebih terarah.

Maka, alur argumentasi dalam demokrasi deliberatif menjadi berbeda dengan alur argumentasi dalam demokrasi liberal. Kalau dalam demokrasi liberal formula argumentatifnya adalah “Aku ingin X”. Sedangkan dalam demokrasi deliberatif alur argumentasi menjadi “X akan berguna bagi komunitas kita”.

Dua alur argumentasi ini menunjukkan dua posisi filosofis yang berbeda.

Demokrasi liberal –seperti yang disampaikan oleh Rawls- didasarkan pada perlindungan atas kebebasan individu untuk mencapai keinginannya. Demokrasi deliberatif mendasarkan diri pada proses-proses dialogis dalam komunitas untuk menanggapi permasalahan publik. Maka, bagi demokrasi deliberatif, masalahnya

bukan mengalahkan crude egoism, tetapi bagaimana menumbuhkan komitmen dari para warga negara untuk terlibat menanggapi masalah-masalah publik lewat proses deliberasi. Dengan mengajukan alur argumentasi “X akan berguna bagi komunitas kita” menjadi sangat mungkin untuk menemukan kesamaan dari pandangan yang bermacam-macam, atau setidaknya makin terbuka titik singgung dari materi deliberasi tersebut.

Oleh karena itu, deliberasi hanya mungkin terjadi kalau ada keadaban atau civility. Sikap keadaban tampil pada komitment setiap pribadi dalam masyarakat untuk saling bekerjasama dalam semangat kesaling timbal balikan (reprocity) yang tulus dan sikap saling menghargai. Keadaban adalah keutamaan yang didasarkan pada keyakinan bahwa setiap warga masyarakat itu bebas dan sejajar.

Sebagai pribadi yang bebas dan sejajar, mereka dipanggil untuk terlibat dalam menentukan bagaimana pengaturan-pengaturan kooperatif dari masyarakat dapat terjadi.

Keadaban sangat menghargai kebebasan dan kesetaraan sehingga toleransi perlu dijaga dan diperjuangkan. Namun, semua itu harus dimulai dari kesadaran bahwa kebebasan dan kesetaraan hanya dapat digapai secara penuh lewat bekerjasama, interaksi dalam interdependensi satu sama lain. Keadaban adalah keutamaan yang tumbuh dari relasi antar manusia dan pada akhirnya akan memperkuat relasi itu sendiri. Sebagai sebuah bentuk dari persahabatan antar warganegara (civic friendship), keadaban mengacu pada dua hal sekaligus:

masing-masing warga negara harus menghidupi hidupnya secara baik dan

kontribusi pada kebaikan orang lain sangat dibutuhkan agar kebaikan masyarakat dapat terus terpelihara.

Tanpa adanya penghargaan atas deliberasi, keadaban (civility) dan reciprocity, solidaritas intelektual tidaklah mungkin terjadi.

4.2.2. Hak Asasi sebagai Institutionalisasi Solidaritas

Solidaritas intelektual sebagai dimensi internal dari bonum commune juga memiliki implikasi penting bagi institusi yang mengatur kehidupan publik. Secara khusus, solidaritas intelektual mendorong institusi publik untuk menjaga dan memperjuangkan hak asasi manusia. Hak asasi manusia harus dipahami sebagai jaminan atas tuntutan paling dasar dari solidaritas. Hak asasi manusia adalah klaim moral bahwa setiap orang ,oleh karena kemanusiaannya, diperlakukan sebagai partisipan atas shared life dalam komunitas manusia. Kalau hak asasi manusia dimaknai semacam ini, maka perjuangan hak asasi manusia menjadi bagian dari bonum commune dan bukan alternatif individualistik dari bonum commune.

Kebebasan untuk beragama, berpendapat dan berkumpul menjadi dasar bagi suatu dialog yang tulus sehingga solidaritas intelektual menjadi kenyataan.

Ketika kebebasan-kebebasan itu disangkal, dialog tidak akan pernah terjadi.

Pelanggaran terhadap hak asasi manusia sama saja dengan menempatkan seseorang di luar komunitas, seakan-akan ia adalah orang asing yang tidak berhak ambil bagian dalam ruang kebersamaan. Dalam arti inilah, Federasi Para Uskup di

Amerika mengartikan hak asasi manusia sebagai “kondisi minimum bagi kehidupan di komunitas” 45.

Menurut Hollenbach, sudah menjadi salah kaprah ketika menafsirkan hak asasi manusia melulu secara individualistik. Bahkan para pemikir yang membidani lahirnya konsep hak asasi manusia sebenarnya menjadikan relasi manusiawi sebagai rujukannya. Teori filsafat moral dan pemerintahan Thomas Hobbes, misalnya, didasarkan pada cita-cita dari pihak-pihak yang mengusahakan persemakmuran untuk “pemeliharaan diri dan hidup yang lebih membahagiakan”.

John Locke mendasarkan hak pada kondisi manusia pada keadaan alamiahnya (state of nature), yaitu keadaan dimana manusia mengalami kebebasan sempurna untuk mengatur tindakan dan harta miliknya tanpa harus tergantung pada pandangan atau kemampuan orang lain. Namun, kebebasan itu bukannya tak terbatas. Hukum alam (the law of nature) menjadi batas pada kebebasan.

Misalnya, hak milik pribadi dibatasi oleh imperatif bahwa orang lain pun harus bisa mendapatkan akses secara cukup terhadap barang/jasa tersebut. Immanuel Kant mendasarkan seluruh moralitasnya pada kehendak otonom. Tetapi pengertiannya tentang akal budi praktis mengarah secara langsung pada ide komunal tentang umat manusia sebagai anggota “the kingdom of ends”, suatu ide yang agak mirip dengan visi Kerajaan Allah dalam Kristianitas46.

       

45 National Conference of Catholic Bishops, Economic Justice for All: Pastoral Letter on Catholic Social Teaching and US Economy, artikel 77, seperti yang dikutip oleh David Hollenbach, The Common Good and Christian Ethics, hlm. 160. Sebagai catatan, peran David Hollenbach dalam penyusunan surat pastoral ini sangat lah besar, sebab ia termasuk salah satu penggagas yang ditujuk oleh Konferensi Nasional Para Uskup Amerika.

46 David Hollenbach, “A Communitarian Reconstruction of Human Rights”, 130-131.

Komitmen terhadap hak asasi manusia dalam kerangka solidaritas memiliki implikasi penting terhadap cara memahami hak itu sendiri. Ketika hak-hak yang ada dalam masyarakat dijamin sebagai basis untuk berdialog secara aktif, kehidupan bersama antar warga negara yang berbeda-beda agama dan budayanya menjadi mungkin terjadi. Maka, mempertahankan hak-hak dasar mereka adalah prasyarat bagi solidaritas, bahkan bisa disebut juga sebagai ekspresi dari solidaritas.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agama berperan dalam solidaritas intelektual ini? Seperti yang sudah dibahas pada bagian sebelumnya, konsep public reason à la Rawls yang mengeliminir agama dari diskusi publik terbukti tidak cukup rasional untuk dipertahankan. Mustahilah orang beragama tutup mulut tentang keyakinannya di medan publik. Lebih dari itu, konsep public reason model Rawls sebenarnya bertentangan bahkan melanggar hak untuk menyampaikan pendapat. Sebagai anggota komunitas, setiap warganegara dijamin haknya untuk terlibat dalam deliberasi publik. Oleh karena itu, ia dituntut menyampaikan argumentasi-argumentasi atas pilihannya, mengapa menurutnya X adalah baik bagi komunitas. Pada titik ini, menjadi suatu pelanggaran hak berpendapat ketika ia “dilarang” menyampaikan argumen-argumen religius mengapa “X menurutnya baik bagi komunitas”. Pendapat Rawls bahwa argumen religius tak akan terpahami oleh partner deliberasi lebih menunjukkan kecurigaan –bahkan ketakutan- khas liberalisme ketika melihat pluralitas47. Seperti yang disampaikan Michael Sandel, menolak argumentasi religius atas dasar public        

47 David Hollenbach, The Common Good and Christian Ethics, 164.

reason adalah suatu bentuk tirani baru, yaitu fundamentalisme sekular – kutub lain dari fundamentalisme agama.

Di sisi lain, dalam suatu proses deliberatif untuk mengambil keputusan publik, argumen-argumen yang berdasarkan keyakinan religius harus diuji dan dihargai secara sama dengan proposal-proposal lain, pun kalau proposal itu didasarkan oleh argumen murni sekuler bahkan atheis. Suatu argumen dianggap berkualitas bukan karena merujuk pada wahyu Tuhan tetapi bahwa ia dimengerti dan diterima dalam deliberasi publik. Menurut penulis, Hollenbach realistis terhadap ekstrim lain dari masyarakat sekular, yaitu masyarakat yang terlalu didominasi oleh kelompok religius tertentu (yang haus kekuasaan). Mereka senang mengutip ayat-ayat Kitab Suci sebagai legitimasi dari argumentasi mereka, sekaligus sebagai justifikasi atas kepentingan mereka. Menurut Hollenbach, biar proses deliberasi publiklah yang menentukan manakah usulan yang terbaik bagi komunitas. Kedua kutub ekstrim –ekstrem sekular maupun ekstrem agama – tidak akan menyumbang apapun bagi suatu proses deliberasi, tetapi justru mengacam kemampuan setiap warga negara untuk ber-solidaritas intelektual. Oleh karena itu, menjadi tugas institusi publik untuk menjaga agar pelaksanaan hak asasi manusia dijamin. Tanpa adanya jaminan atas hak, tidak mungkin tumbuh solidaritas.