GERAKAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN
D. Kebangkitan dan Kemerdekaan Negara-negara Islam dari Penjajahan
Pada penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20, terobosan kekuasaan pihak Eropa tehadap dunia Islam meluas sejak dari Maroko sampai ke Indonesia. Kehadiran militer dan ekonomi memuncak dalam dominasi politik luar negeri dari negara-negara Eropa itu. Prancis di Afrika Utara, Afrika Barat, Afrika Tengah, dan Levant (kini wilayah Lebanon dan wilayah Suriah). Inggris di Palestina, Transyordania, Irak, Teluk Arab, dan Anak Benua India. Belanda di Asia Tenggara. Di mana pihak Islam masih mampu mempertahankan kekuasaan sendiri, seperti imperium Utsmani dan Iran, mereka ini pun terpaksa menghadapi ekspansi politik dan ekonomi pihak Barat.
Sayang sekali, peradaban barat menyerbu ke timur dibawa dentumang maryam dan gemerincinya pedang. Karenanya dia memperoleh sambutan dan kaum muslimin memandangnya sebagai peradaban Nasrani bukan peradaban Internasioanl.
Tambah lagi dengan tekanan bangsa-bangsa barat dan perlakuan mereka yang kejam terhadap orang-orang timur, semuanya itu menambah kebencian kaum muslimin kepada orang-orang Nasrani yang datang sebagai penakluk. Kaum muslimin selalu menantikan kesempatan untuk melepaskan diri dari kekuasaan mereka. Kebencian kaum muslilin itu lebih dipertajam lagi oleh tindakan para pejabat pemerintahan kolonial zaman berikutnya yang tidak seperti para pejabat
pendahuluinya, misalnya lord Cromer tamba lagi dengan aspirasi kaum muslimin yang semakin kuat berkat kematangan ajaran-ajaran para perintis perbaikan yang terdahulu, seperti Muhammad Bin Abdul Wahab dan Jalaluddin Al-Afghani, yang ajarannya berpengaruh besar di kalangan kaum muslimin.
Disusul lagi dengan munculnya gerakan “Al-Fatat“ di Turki yang menyerukan adanya kekuasaan berdasarkan prinsip musyawarah dan melepaskan diri dari penindasan sewenang-wenangnya. Semua faktor tersebut diatas membuat kaum muslimin dibeberapa negeri bertekad ingin mencapai apa yang telah dicapai saudara-saudaranya di negeri lain. Pada akhirnya rakyat Mesir bangkit melawan inggris, rakyat maroko memberontak terhadap prancis, rakyat India bergerak melawan Inggris dan rakyat negeri lain pun bergerak memberontak terhadap Rusia dan Inggris, dememikian seterusnya. Ketika perang dunia I meletus kaum muslimin bernafas lega dan merasa gembira melihat negeri-negri Barat terlibat dalam peperangan diantara mereka sendiri. Kaum muslimin berpendapat, semua pihak yang berperang, baik yang menang maupun yang kalah, akan sama-sama menderita kerugian besar. Kemudian datanglah Wilson dengan janjinya yang memperkuat harapan masa depan kaum muslimin. Akan tetapi setelah mereka dikecewakan, mereka memberontak kembali dan pemberontakan mereka lebih sengit lagi setelah mendengar orang mengulangi-ngulangi janji Wilson dalam perang Dunia ke II yang ternyata tidak pernah terbukti.
Inggris biasanya mengikuti arah angin, mereka menyusuaikan politik kolonialnya dengan keadaan baru. Misalnya, ketika mereka melihat rakyat India siap memberontak, mereka keluar dari Negeri itu sambil membantu gerakan kaum
170
muslimin di Pakistan yang menhengdaki pemisahan dari kaum peganis di Hindustan. Ketika mereka menyaksikan perlawanan rakyat Mesir semakin meningkat, mereka mengubah kata pendudukan menjadi pertahanan bersama dan bersamaan dengan itu mereka mundur meninggalkan kota-kota besar seperti Kairo dan Iskandaria. Ketika merasa kedudukannya goyah di Persia, mereka mundur sedikit. Akibatnya kekalahan Prancis dalam perang Dunia ke II hingga terjadi percekcokan dengan Inggris, Prancis keluar meninggalkan Suria dan Lebanon. Semua itu menambah kuatnya tekad kaum muslimin diberbagai Negeri untuk terus berjiwa hingga berhasil mencapai apa yang telah dicaapai oleh rakyat di Negeri-negeri lain.
Diantara prinsip-prinsip politik yang dijalankan oleh Amerika dan Inggris iala menginginkan agar bangsa-bangsa pemeluk Islam berhimpun dalam satu blok untuk dijadikan kekuatan melawan kaum komunisme. Untuk itu Amerika dan Inggris mulai mendorong berdirinya liga Arab tetapi ada beberapa faktor yang membuat liga Arab tidak mampu mencerminkan Idealisme tertinggi. Pertama : karena Liga Arab dilahirkan atas kemauan Inggris dan berada dibawah kekuasaannya. Kedua : pertentangan diantara para pemimpin Bangsa Arab, khususnya pertentangan diantara Dinasti Hasyimiyah yang dikepalai oleh Raja Irak dan Raja Jordania disatu pihak.
Satu hal yang membuat mata orang lain dan membangunkan mereka daari tidurnya adalah ketika mereka melihat adanya perjanjian antara Inggris dan Prancis pada Tahun 1994 mengenai pembagian daerah. Berdasarkan perjanjian itu Inggris dapat bergerak leluasa di Mesir dan Prancis dapat bergerak leluasa
dikawasan Magribi (Tunisia, Aljazair, dan Maroko). Dengan adanya perjanjian tersebut prang Arab menyadari bahwa masalah sesungguhnya ialah saling pengertian diantara Negara-negara Barat untuk sama-sama menguasai negeri-negeri Timur.
Peristiwa semacam itu terulang kembali dalam bentuk yang lebih jahat pada saat perang Dunia I masih berkecamuk. Inggris bermufakat dengan para peminpin Arab untuk bersama-sama melawan Negara Ottoman atau Turki sebagai imbalan Inggris berjanji tidak akan merintangi atau menghalangi berdirinya suatu Negara Arab di Timur.tetapi bersamaan dengan itu Inggris melakukan pernjanjian dengan Prancis terkait pembagian daerah pengaruh di negeri-negeri Arab. Denga kelihaian tipu dayanya berhasil mengelanui orang-orang Arabdengan perumusan kalimat yang mulur mengkeret seperti karet untuk menyembunyikan maksud jahatnya. Perjanjian antara Inggris dan Prancis tersebut berlaku diseluruh Negeri Arab kecuali Iraq bagian selatan dimana kepetingan-kepentingan Inggris memerlukan penanganan khusus. Perjanjian tersebut juga berlaku di daerah-daerah Arab dimana Britania Raya tidak bebas melakukan kegiatan yang berlawanan dengan kepentingan prancis. Orang-orang Arab mengartikan perumusan tersebut menurut konsepsi yang dibuat oleh Tuan Henry Mc Mahon, Yang hanya berlaku disuatu kawasan yang sempit yaitu Lebanon. Karena itu mereka gembira dan bersuka ria, padahal yang dimaksud oleh rumusan itu ialah jauh lebih luas daripada Lebanon bahkan meliputi daerah Suriat dan merintangi terbentuknya Negara Arab. Jadi lelaslah, bahwa Inggris dengan tangan kanannya
172
memberi kepada orang-orang Arab sedang dengan tangan kirinya bersama Prancis bersokongkol menghancurkan kaum muslimin dan orang-orang Arab.
Demikianlah pada akhirnya komplotan dan penipuan besar-besaran terbongkar seusai PD I, suatu hal yang sangat menusuk dan melukai perasaan bangsa Arab. Bahkan seorang perwira tinggi Inggris, kolonel Laurence, yang turut serta dalam pemberontakan Arab melawan Turki hingga dijuluki dengan “Raja Arab tanpa mahkota”, secara terang-terangan melawan pemerintahnya sendiri dan menolak pemberian bintang tanda jasa yang ditawarkan perintah Inggriss kepadanya. Selanjutnya iapun menolak tugas yang diberikan oleh pemerintahnya. Seumpama Raja Faishal (Iraq) tidak berusaha meleraikan pemberontakan dengan alasan bahwa ia yakin orang Arab tidak akan mampu mengalahkan Inggris dan Prancis secara militer, dan ia yakin bahwa dengan jalan politik secara damai, orang Arab akan dapat mencapai sesuatu yang tidak dapat dicapai dengan jalan kekerasan senjata dan bahwa pertengkaran antara Inggris dan Prancis dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa Arab. Dalam keadaan segawat itu, para pemimpin Arab berhasil menyelenggarakan suatu konferensi di Suriah dan dalam konferensi itulah di proglamirkan kemerdekaan Suriah. Di Iraq pemberontakan terhadap Inggris meletus lagi hingga suasana damai dan tenang sukar dipulihkan kembali.
Perjanjian Sevres (antara Inggris dan Prancis) yang mengakibatkan pendudukan atas Konstantinopel untuk menghancurkan Turki sebagaimana pernah dialami oleh bangsa Arab sebelumnya. Merupakan sebab terjadinya pemberontakan bangsa Turki dibawah pimpinan Mustafa Kamal. Dalam
pemberontakan itu orang-orang Turki berhasil mengayang Yunani dan dapat memaksa Prancis serta Inggris mengakui kedaulatan Turki. Dengan demikian maka orang-orang Turki dan orang-orang Arab bersama-sama melancarkan pemberontakan dahsyat penuh dengan semangat kebencian dengan Inggris dan Prancis.
Bagi Inggris dan Prancis tinggal satu harapan, yaitu kedua negara tersebut harus merubah sikapnya asing-masing setelah menyadari kesukaran-kesukaran yang dihadapinya. Dua negara itu tampaknya telah sama-sama berpendapat, bahwa menjajah negeri Islam tidak lagi semudah sediakala karena itu kedua-duanya lalu merubah haluan politiknya. Mereka tepaksa merubah sikap permusuhannya dengan sikap yang konstruktif berdasarkan prinsip-prinsip persaudaraan dan persamaan. Dua negara tersebut yakin bahwa bagi mereka lebih baik bersahabat dengan kaum muslimin dan mengajaknya turut serta membangun peradaban dengan bersama-sama. Demikian pula sikap kaum muslimin mereka menyambut semangat persahabatan dengan semangat persahabatan yang sama dan bersedia bersama-sama mereka membangun peradaban.
Italia pun semestinya harus merubah sikap terhadap kaum muslimin. Jiwa seni Italia yang terkenal memuja-muja keindahan itu, ternyata tidak bersikap lebih baik daripada Inggris dan Prancis. Banyak orang-orang Italia yang berbuat jhat terhadap kaum muslimin misalnya jendral Grat Siani menjebloskan para pemimpin libya ke dalam penjara dan melakukan penyiksaan dan penghinaan yang sukar di lukiskan dengan kata-kata. Diantara mereka ada yang dijatuhkan dari pesawat terbang seetinggi 400 m di depan mata keluarganya. Dengan nada
174
mengejek, seorang serdadu Italia yng menyaksikan adegan kejam itu berkata: “biarlah nabi kalian Muhammad, orang Badui yang menyuruh kalian berjihad itu datang kembali untuk menyelamatkan kalian dari tangan kami”, jendral Italia itu jugalah yang menyita dan merampas harta kekayaan milik Burqah Barat baik berupa uang maupun binatang ternak. Setelah itu mereka, digiring oleh pasukan berkuda dan kendaraan-kendaraan lapis baja. Mereka dilarang menyimmpang dari jalan yang telah ditentukan bahkan berhenti untuk minum pun tidak diperbolehkan.
Keadaan kaum muslimin tidak lebih buruk daripada keadaan kamu penyembah berhala, bahkan tidak lebih buruk dari keadaan penduduk beberapa negeri Eropa, dalam hal kesediaan mereka untuk maju. Agama Islam sama sekali tidak melarang mereka untuk mengikuti kemajuan dunia dan tidak pula merintangi mereka untuk membangun kehidupan baru. Kalua kaum muslimin mempuyai perasaan dendm dan benci itu semata-mata sebagai jawaban atas kedendaman dan kebencian orang-orang Eropa terhadap mereka. Mana kala orang Eropa memperbaiki sikapny terhadap kaum muslimin, mereka pun pasti akan memperbaiki sikapnya terhadap orang-orang Eropa. Akan tetapi, jika Eropa semakin benci, menghina dan menjajah kaum muslimin, maka kaum muslimin tidak bisa bersikap lain kecuali, bertambah benci terhadap orang Eropa, siap melawan agresi mereka dengan kekuatan yang ada. Akan tetapi, dalam peperangan tidak ada kemaslahatan apapun dari kedua belah pihak.
Bangsa Eropa menjajah negeri-negeri Islam disebabkan karena penduduk Eropa merasa sempit dan terdorong oleh kebutuhan akan bahan mentah. Mereka
menyerbu kenegri-negri timur untuk memperoleh bahan mentah yang mereka butuhkan kemudian di olah dalam pabrik-pabrik mereka lalu di jual lagi kenegri-negri Timur. Karena itu, semua bangsa yang di jajah tentu bangsa-bangsa Timur yang oleh barat dipandang sebagai kawasan eksploitasi. Misalnya dari Mesir, Iraq dan India orang-orang Inggris mengambil bahan mentah dan menjadikan negeri-negeri itu sebagai pasar barang dagangnya. Prancis memaksakan kekuasaannya atas negeri-negeri dikawasan Maghribi (Afrika Utara dan Suriah), di negeri-negeri itu Prancis pun berbuat seperti Inggris barangkali tidak keliru kalau dikatakan bahwa kepentingan ekonomi merupakan salah satu sebab lahirnya kolonialisme.
Orang-orang Barat menanamkan khayalan dikalangan kaum muslimin bahwa mereka ini tidak mempunyai keahlian dilapagan industri, eahlian mereka hanya dilapangan pertanian. Mereka (orang-orang Barat) memaksakan berbagai macam pajak terhada p hasil produksi negeri-negeri jajahan hingga mematikan industri setempat. Akan tetapi, penduduk negeri-negeri jajahan sudah mulai dapat meniru Barat di bidang industri. Ketika PD II berkobar, banyak barang-barang yang tidak dapat di impor dan harga-harga meniingkat sedemikian tinggi, yang menyebabkan negeri-negeri Timur terdorong untuk bergerak di lapangan industri hingga sekarang skesempatan itu masih terbuka lebar.127
E. Rangkuman
Yang melatarbelakangi penjajahan Barat adalah faktor ekonomi dan politik. Bentuk-bentuk penjajahan barat terhadap dunia Islam berupa penyerangan, 127 Abu laila dan Muhammad Tohir. Islam dari Masa ke Masa. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.1993 h. 150-160
176
penaklukan, sehingga banyak wilayah-wilayah Islam yang jatuh ke negara-negara Barat. Juga berupa penindasan, penghisapan dan perbudakan.
Penjajahan Barat ternyata membawa implikasi yang sangat luas terhadap perkembangan peradaban Islam baik peradaban material yang berupa tehnologi baru, maupun peradaban mental. Penjajahan Barat juga memicu gerakan pembaharuan dalam Islam, yang mana bertujuan untuk memurnikan agama Islam dari pengaruh asing dan menimba gagasan-gagasan pembaharuan dan ilmu pengetahuan Barat.
BAB XI