• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sultan Turki Usmani

Dalam dokumen SEJARAH PERADABAN ISLAM Lengkap. docx (Halaman 79-95)

KERAJAAN TURKI UTSMANI

C. Sultan Turki Usmani

Raja-raja Turki Usmani bergelar Sultan dan Khalifah sekaligus. Sultan menguasai kekuasaan duniawi dan khalifah berkuasa di bidang agama atau spiritual. Mereka mendapatkan kekuasaan secara turun-temurun, tetapi tidak harus putra pertama yang menjadi pengganti sultan terdahulu. Ada kalanya putra kedua atau putra ketiga dan menggantikan sultan. Dalam perkembangan selanjutnya pergantian kekuasaan itu juga diserahkan kepada saudara sultan bukan kepada anaknya. Dengan sistem pergantian kekuasaan yang demikian itu sering timbul perebutan kekuasaan yang tidak jarang menjadi ajang pertempuran antara satu pangeran dengan pangeran yang lalinnya, yang mengakibatkan lemahnya kekuasaa Usmaniyyah. sejak zaman Usman hingga Sulaiman yang agung dapat dikatakan bahwa para sultannya terdiri dari orang-orang yang kuat, dapat mengembangkan kerajaannya hingga ke Eropa dan ke Amerika.

Di masa Sulaiman yang bergelar juga al-Qanuni itulah Turki Usmani mencapai puncak kejayaannya. Setelah masa itu para sultannya dalam keadaan lemah, ditambah lagi dengan banyaknya serangan balik dari negeri-negeri Eropa yang sudah merasa kuat. Akhirnya para penguasa Usman tidak dapat lagi mempertahankan kerajaanya yang luas itu dan hilanglah kekuasaannya tahun 1924 ketika Mustafa Kemal Attaturk menghapuskan khalifah untuk selama-lamanya di bumi Turki dan bergantilah negeri itu menjadi Republik hingga kini.50

49Badri Yatim, Op. Cit., h. 130.

Dalam sekian lama kekuasaannya sekitar 165 tahun berkuasa tidak kurang dari tiga puluh delapan sultan, yang sejarah kekuasaan mereka bisa di bagi menjadi lima periode.

1. Periode pertama

Periode ini dimulai dari berdirinya kerajaan, ekspansi pertama sampai kehancuran sementara oleh serangan Timur. Sultan-sultannya adalah sebagai berikut:51 Usman I (1299-1326), Orkhan /putera Usman I (1326-1359), Murad /putera Orkhan (1359-1389), Bayazid I Yildirim /Putera Murad (1389-1402).

Sebagaimana telah disebutkan di atas, Usman mendapatkan kekuasaannya setelah meningglanya Sultan Saljuq Rum, Ala ad-Din II. Kerajaannya diperkuat dengan menambah wilayah-wilayah yang dirampasnya dari Bizanthium. Untuk negeri-negeri yang belum ditaklukan di wilayah Asia Kecil, Usman mengirim surat kepada mereka untuk memilih dari tiga piliha, yakni tunduk dan memeluk agama islam, membayar jizyah, atau diperangi. Banyak dari mereka yang tunduk dan memeluk agama islam, sebagian yang lain mau membayar jizyah, tetapi ada pula yang menentang dan bersekutu dengan tentara Tartar untuk melawannya. Usman pun tidak gentar menghadapinya, disiapkan pasukan pilihan untuk melawan sekutu Tartar yang akhirnya dapat dikalahkannya.52

Setelah Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al-Usman (raja besar keluarga Usman) tahun 699 H setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Dia menyerang daerah perbatasan Bizantium dan menaklukan kota Broessa tahun 1317 M, kemudian pada tahun 1326 M dijadikan sebagai ibu kota kerajaan.

51Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam, cet. 1, (Jakarta: Logos, 1997), h. 53. 52Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam, cet. 1, (Jakarta: Logos, 1997),h. 54.

74

Pada masa pemerintahan Orkhan 1326 M kerajaan Turki Usmani dapat meenaklukan Azmir (Smirna) tahun 1327 M, Thawasyanli (1330 M), Uskandar (1338 M), Ankara (1354 M), dan Galli poli (1356 M). Daerah ini adalah bagian benua Eropa yang pertama kali diduduki kerajaan Usmani.53

Ketika Murad I berkuasa (1359-1389 M) selain memantapkan keamanan dalam negeri, ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa. Ia dapat menaklukkan Adrionopel, Macedonia, Sopia, Salonia, dan seluruh wilayah bagian Utara Yunani. Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah bessar pasukan Eropa disiapkan untuk memukul mundur Turki Usmani. Pasukan ini dipimpin oleh Sijisman , raaja Honggaria. Namun Sultan Bayazid 1 dapat mengahancurkan pasukan sekutu Kristen Eropa tersebut.54

Sultan Bayazid naik tahta tahun 1389 dan mendapat gelar Yaldirin dan Yaldrum, yang berarti kilat karena terkenal dengan serangan-serangannya yang cepat terhadap lawannya. Ia menaklukkan wilayah-wilayah yang belum ditundukkan oleh para pendahulunya. Di masanya terjadi perang besar antara pasukan Usmani dengan ntentara sekutu Eropa.bayazid tidak gentar mengahdapi pasukan sekutu di bawah anjuran Paus dan bahkan menghancurkan pasukan salib.55

53Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Cet. 12, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 131.

54Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Ed. 1, cet.2, (Jakarta: Amzah, 2010), h. 196.

Ekspansi kerajaan Usmani sempta terhenti beberapa lama. Ketika ekspansi diarahkan ke Konstantinopel, tentara Mongol yang dipimpin Timur Lenk melakukan serangan ke Asia Kecil. Pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M. Tentara Turki Usmani mengalami kekalahan. Bayazid bersama puteranya Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M. Kekalahan Bayazid di Ankara itu membawa akibat buruk bagi Turrki Usmani. Penguasa-penguasa Seljuq di Asia Kecil melepaskan diri dari genggaman Turki Usmani. Wilayah-wilayah Serbia dan Bulgaria juga memproklamasikan kemerdekaan. Dalam pada itu putera Bayazid saling berebut kekuasaan. Suasana buruk ini baru berakhir setelah Sultan Muhammad I (1403-1421 M) dapat mengatasinya. Sultan Muhammad berusaha keras menyatukan negaranya dan mengembalikan kekuatan dan kekuasaan seperti sediakala.56

2. Periode Kedua

Periode ini ditandai dengan restorasi kerajaan dan cepatnya pertumbuhan sampai ekspansinya yang terbesar. Sultan-sultannya adalah: 57 Muhammad I /Putera Bayazid I (1403-1421), Murad II /Putera Muhammad I (1421-1451), Muhammad II Fatih /Putera Murad I (1451-1481), Bayazid II /Putera Muhammad II (1481-1512), Salim I /Putera Bayazid II (1512-1520), Sulaiman I Qanuni /Putera Salim I (1520-1566).

Setelah Timur Lenk meninggal dunia tahun 1405 M, kesultanan Mongol dipecah dan dibagi-bagi kepada putera-peteranya yang satu sama lain saling berselisih. Kondisi ini dimanfaatkan oleh penguasa Turki Usmani untuk melepaskan diri. Namun pada saat ittu juga terjadi perselisihan antara

putera-56Badri Yatim, Loc. Cit., h. 131. 57Syafiq A. Mughni, op. Cit., h. 58.

76

putera Bayazid (Muhammad, Isa, dan Sulaiman). Setelah sepuluh tahun perebutan kekuasaan terjadi, akhirnya Muhammad berhasil mengalahkan saudara-saudarnya. Usaha Muhammad yang pertama kali ialah mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negeri.58 Muhammad baru diakui seluruh wilayah Usman setelah berjuang kurang lebih sepuluh tahun. Ia mempunyai strategi yang berbeda untuk menghadapi semua lawannya.ia membuat perjanjian damai dengan raja-raja Eropa dan menaklukkan wilayah-wilayah yang menentang satu demi satu. Akirnya wilayah Usman dapat disatukan satu demi satu. Integrasi wilayah ini tampaknya mengejutkan Eropa karena mereka sama sekali tidak menduga bahwa Usman akan bangkit kembali karena sudah berantakan akibat serangan Timur Lenk. Sultan meninggal tahun 1421 M dan digantikan oleh putranya Murad II.

Sultan Muran II naik tahta ketika beliau berumur muda sehingga tidak dihiraukan oleh raja-raja Eropa. Banyak tantangan yang dia hadapi. Yang paling penting adalah bersatunya pasukan Eropa di bawah komando negeri Honggaria dengan Huynade sebagai pemimpinnya. Serangan-serangan terhadap dunia Islam membuahkan kemenangan, yang memaksa Murad II untuk berdamai dengan mereka. Perdamaian dengan sumpah di bawah kitab suci masing-masing agama itu Injil dan al-Qur’an dikhanati oleh pihak Kristen. Mereka bernafsu menyerang kembali Usman tanpa menghiraukan perjanjian yang telah dibuat belum lama berselang. Sultan Murad yang semula mengundurkan diri dari panggung politik bangkit keembali guna menghadapi penghinatan itu. Akhirnya dengan semangat yang tinggi dan serangan yang dahsyat pasukan Huynade dapat dilumpuhkan dan

ia lari ke Eropa. Sultan Murad II meninggal setelah itu, pada tahun 1451 M, dan digantikan oeh putranya, Muhammad II.59

Sultan Muhammad II naik tahta pada tahun 1451 M dengan mewarisi kerajaan yang luas. Ia terkenal dengan nama Al-Fatih, sang penakluk atau pembuka, karena pada masanya Konstantinopel sebagai ibu kota Bizantium berabad-abad lamanya dapat ditundukkan. Hal itu terjadi pada tahu 1453 M. Pasukan Usmani memblokade kota berbenteng kat itu dari segala penjuru yang akhirnya kota itu dapat ditaklukkan. Gereja Aya Sophia yang terkenal itu diubah menjadi mesjid dan kebebasan beragama dijamin. Ibu kota Usmani dipindahkan ke kota itu dari Edirne.60 Telah berulang kali pasukan muslim sejak masa Umayyah berusaha menaklukkan Konstantinopel, tetapi selalu gagal karena kokohnya benteng di kota tua itu. Dengan terbukannya kota Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat keerajaan Bizanthium, lebih memudahkan arus ekspansi Turki Usmani ke benua Eropa. Dan wilayah Eropa bagian timur semakin terancam oleh Turki Usmani. Karena ekspansi Turki Usmani juga dilakukan ke wilayah ini bahkan sampai ke pintu gerbang kota Wina, Austria.61

Sultan Muhammad mengembangkan wilayahnya lebih lanjut setelah penaklukan yang dinanti-nanti oleh umat Islam. Sultan meninggal tahun 1481 dan diganti oleh putranya Bayazid II.

Berbeda bengan ayahnya Bayazid II lebih memnetingkan kehidupan tasawuf daripada perang di medan laga. Kelemahannyaa di bidang pemerintahan yang cenderung berdamai dengan musuh mengakibatkan Sultan itu tidak begitu

59Syafiq A. Mughni, Loc. Cit., h. 58-59. 60Syafiq A. Mughni, Loc. Cit., h. 59.

61Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Ed. 1, cet.2, (Jakarta: Amzah, 2010), h. 196.

78

ditaati oleh rakyatnya, termasuk putera-puteranya. Bahkan terjadi perselisihan yang panjang antara mereka. Akhirnya Sultan Bayazid II mengundurkan diri dari pemerintahan tahun 1512 dan digantikan oleh puteranya Salim I.

Berbeda dengan ayahnya Sultan Salim I memiliki kemampuan memerintah dan memimpin peperangan. Maka pada saat pemerintahannya wilayah Usman bertambah luas hingga menembus Afrika Utara. Syria dapat ditaklukan dan Mesir yangg diperintah oleh kam Mamalik ditundukkan pada tahun 1517 M. Gelar khalifah yang disandang oleh al-Mutawakkil ‘ala Allah, salah seorang keturunan Bani Abbas yang selamat daris serangan bangsa Mongol 1235 M dan pada saat itu yang berada di bawah proteksi Mamluk, diambil alih oleh Sultan. Dengan demikian sejak masa Sultan Salim para sultaan Usmani menyandang juga gelar khalifah. Walaupun sangat sebentar sekali berkuasa Sultan Salim sangat berjasa membentangkan wilayahnya hingga mencapai Afrika Utara, suatu hal yang belum pernah dilakukan oleh para pendahulunya. Ia meninggal tahun 1520 dan digantikan oleh anaknya Sulaiman I. 62

Pada masa Sultan Sulaiman I ini terjadilah zaman keemasan bagi kerajaan Turki Usmani. Wilayahnya mencapai kawasan yang luas, meliputi daratan Eropa hingga Austria, Mesir dan Afrika Utara hingga Aljazair dan Asia hingga ke Persia. Serta meliputi lautan Hindia, laut Arabia, laut Merah, Lut Tengah dan Laut Hitam. Ia menyebut dirinya sebagai Sultan dari segala Sultan, raja diraja, pemberi anugrah mahkota bagi raja-raja dan bayang-bayang Allah di muka bumi. Ia membuat dan memberlakukan Undang-undang di wilayahnya sehingga ia disebut al-Qanuni, pembuat Undang-undang. Orang Barat menyebutnya sebagai Sulaiman

yang agung, The Magnificinet. Ia wafat taahun 1566 dan digantikan oleh putranya Salim II. Di masa anaknya inilah mulai tampak kemunduran kerajaan Usmani sedikit demi sedikit.

3. Periode Ketiga

Periode ini ditandai dengan kemampuan Usmani untuk mempertahankan wilayahnya, sampai lepasnya Hungaria. Namun kemunduran segera terjadi. Dalam masa kemunduran Turki Usmani setelah Sulaiman terdapat beberapa Sultan yang berkuasa berturut-turut sebagai berikut: 63 Salim II/Putera Sulaiman I (1566-1573), Murad III /Putera Salim II (1573-1596), Muhammad III /Putera Murad III (1596-1603), Ahmad I /Putera Muhammad III (1603-1617), Mustafa I /Putera Ahmad I (1617-1618), Usman II /Putera Ahmad I (1618-1622), Mustafa I /Yang kedua kalinya (1622-1623), Murad IV /Putera Ahmad I (1623-1640), Ibrahim I /Putera Ahmad I (1640-1648), Muhammad IV /Putera Ibrahim I (1648-1687), Sulaiman III /Putera Ibrahim I (1687-1691), Ahmad II /Putera Ibrahim I (1691-1695), Mustafa II /Putera Muhammad IV (1695-1703).

Pada akhir kerajaan Sulaiman I kerajaan Usmani berada di tengah-tengah dua kekuatan Monarki Austria di Eropa dan keerajaan Shafawi di Asia. Selama periode ini Usmani mencapai kemenangan dibeberapa negara di Eropa. Di Asia sistem Feodal memungkinkan munculnya penguasa-penguasa lokal yang diberi gelar pasya. Mereka ditemukan diperbatasa Persia dan Kurdistan, dan juga di Syria. Melemahnya kerajaan Usmani pada awal periode ini sebagian besar disebabkan oleh alasan domestik. Selama abad ke-16 sudah tampak bahwa Usmani hanya bisa bertahan dengan perang yang terus menerus, sekarang keadaan itu harus disesuaikan dengan kondisi aman. Pengganti Sulaiman tidak sesuai

80

dengan tuntutan kondisi itu. Sultan Muhammad II, Usman II, dan Muhammad IV sering menyertai pasukan dalam ekspedisi, tetapi Murad IV adalah Sultan terakhir yang mempertahankan tradisi ghazi. Jadi para sultan selanjutnya kurang terlibat langsung dalam administrasi negara sekalipun mereka tetap dikelilingi oleh tradisi kebesaran.

Namun ini tidak menyelamatkan pembunuhan Usman II pada tahun 1628 dan pemakzulan Ibrahim pada tahun 1648 dan Muhammad IV pada tahun 1688. Bahkan para penguasa dan jendral memainkan peran lebih penting dalam pemerintahan, seperti Mehmed Saqoli Pasya di bawah Salim II, Sinan Pasya di bawah Muhammad II, Murad Pasya dan Khalil Pasya di bawah Ahmad I dan Usman II. Di samping itu beberapa kelompok lain bersaing dalam mengatur negara, seperti korps Janissari, Sipahi, lingkaran istana dan ulama’ dengan instuisinya syaikh al-islam. Murad IV adalah satu-satunya sultan yang sanggup menekan pengaruh kelompok-kelompok itu. Ia bahkan berhasil meningkatkan kekuatan militer baru, Segban, berasama-sama Janissari. Sekalipun terdapat gejolak keagamaan dari sebagian masyarakat melawan orang-oarangg kristen, para negarawan itu menunjukkan sikap yang sangat toleran.

Ada pemberontakan agama yang dilakukan oleh masyarakat kelas bawah di Asia Kecil, dan ini menunjukkan bahwa tradisi keagamaan lama abad ke-13 dan ke-14 tidak seluruhnya lenyap. Pada tahun 1599 muncul gerakan Qara Yaziji dan Urfa, pada tahun 1606 pemberontakan Qalender Oghlu di Sharukhan, yang sempat beberapa tahun menguasai wilayah yang luas di Anatolia Barat, sampai dihancurkan oleh Murad Pasya; pada tahun 1623-1628 terjadi pemberontakan

Abaza yang melawan Janissari. Di Anatolia timur ada gerakan pemisahan diri di bawah seorang Kurdi bernama Janbulat di Syiria Utara.64

4. Periode Keempat

Periode ini ditandai dengan secara berangsur-angsur surutnya kekuatan kerajaan dan pecahnya wilayah di tangan para penguasa wilayah. Sultan-sultannya adalah sebagai berikut: 65 Ahmad III /Putera Muhammad IV (1703-1730), Mahmud I /Putera Mustafa II (1730-1754), Usman III /Putera Mustafa II (1754-1757), Mustafa III /Putera Ahmad III (1757-1774), Abdul Hamid /Putera Ahmad III (1774-1788), Salim III /Putera Mustafa III (1789-1807), Mustafa IV /Putera Abd. Al-Hamid I (1807-1808), Mahmud II /Putera Abd. Al-Hamid II (1808-1839). Selama abad ke-18 tanda-tanda kemunduran kerajaan Turki semakin tampak. Sebab-seba kemunduran itu terdapat dalam kondisi politik. Dampak masa transisi dari penaklukan ke masa damai dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan asing, seperti Austria dan Rusia. Sistem administari tetap sama selama periode ini. Dalam hampir semua bidang otoritas pemerintah pusat kehilangan pengaruhnya. Pada awal abad ke-18 hal ini belum begitu tampak. Konstantinopel masih merupakan ibukota yang cemerlang di mana istana Ahmad III memberikan contoh sebuah kehidupan yang mewah . pada periode ini pula terjadi perkembangan literatur yang pesat diluar lingkaran ulama’. Kelas baru sastrawan muncul yang menjadi cikal bakal lahirnya kelas menengah intelektual yang bermula pada awal abad ke-19. Demikian juga lahir pelukis-pelukis baru sejak tahun 1727. Kelas baru dari fungsionaris ini adalah budak-budak sultan. Hanya di bawah Muhammad II posisi mereka diatur dengan cara yang lebih liberal.dalam situasi

64Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam, cet. 1, (Jakarta: Logos, 1997), h. 62 65Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam, cet. 1, (Jakarta: Logos, 1997), h. 63.

82

pemerintahan itu Janissari dan Sipahi yang disisplin mereka sekarang mengedor beberapa kali memberontak. Pemberontaka Janissari yang dipimpin oleh Patrona Khalil pada tahun 1730 yang menyebabkan hilangnya tahta Ahmad III, tampaknya lebih ditujkan untuk melawan aristokrasi baru itu.

Setelah Ahmad III kehidupan di istana menjadi lebih tenang. Kelas penguasa dan para sultan mulai menyadari kelemahan kerajaan dan berusaha mengatasinya dengan cara memperkenalkan pembaharuan militer. Salim III melaksanakan pembaharuan militer, tetapi sangat sedikit yang mendukungnya. Intitisi pasukan baru yang menyebabkan pemberonrakan Janissari yang didukung oleh para ulam’. Mahmud II akhirnya mempertimangkan reformasi yang lebih terencana. Ia akhirnya mengambil kesimpulan bahwa tidak ada jalan lain dalam melaksanakan pembaharuan selain melakukan pembunuhan massal terhadap Janissari, tindakan itu benar-baenar terjadi di Konstantinopel pada 16 Juni 1826.66

Pada saat yang sama tarekat Bektassyyiyah ditindas. Lemahnya kerajaan pusat telah menjadi karakterr kerajaan Usmani pada abad ke-18. Aljazair, Tunisia, dan Tripoli diperintah oleh para Bey secara turun-temurun. Mesir diambil alih oleh Ali Bey. Di Anattholia pada tahun 1739 ada pemberontakan yang berbahaya dari Syari Beg Oghlu. Di Mesopotamia dan Iraq kondisinya juga demikian. Di syiria kaum Druze memiliki amirnya sendiri dan daerah pantai dikuasai oleh Jazzar Pasya dari Akka.

5. Periode Kelima

Periode ini ditandai dengan kebangkitan kultural dan administratif dari negara di bawah pengaruh ide-ide barat. Sultan-sultanya adalah: 67 Abdul Majid I /Putera

66Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam, cet. 1, (Jakarta: Logos, 1997), h. 64-65.

Mahmuud II (1839-1861), Abdul Aziz /Putera Mahmud II (1861-1876), Murad V /Putera Abd. Majid I(1876-1876), Abdul Hamid II /Putera Abd. Majid I (1876-1909), Muhammad V /Putera Abd. Majid I (1909-1918), Muhammad IV /Putera Abd. Majid I (1918-1922), Abdul Majid II (1922-1924), hanya bergelar khalifah, tanpa sultan yang akhirnya diturunkan pula dari jabata khalifah. Turki Usmani di hapus oleh Kemal Attarurk dan Turki menjadi negara nasiona Republik Turki.

Pada periode ini muncul gerakan pembaharuan yang kurang lebih merupak aplikasi dari Tanzimat. Namun demikian tantangan Barat terus berlanjut sehingga secara bertahap wilayah Usmani semakin berkurang. Pada tahun 1865 Turki kehilangan Serbia, dan dua kerajaan kecil di Danube. Pada tahun 1878 Serbia, Montonegro dan Rumania lepas dari Usmani, sedang Bulgaria menjadi semiindependen. Di kawasa Caucasia Turki kehilangan Qars dan Batum. Inggris mencaplok Cyprus dan Mesir. Burgaria merdeka dan Bosnia dan Herzegovina diambil oleh Austria. Kemudian Tripoli jatuh ketangan Italia.

Selama abad ke-19 hubungan Turki dengan Persia berjalan baik. Namun, karena keterlibatan Turki dalam perang Dunia menyebabkan kehilangan beberapa wilayah di Asia. Konstantinopel sendiri diduduki oleh pasukan sekutu. Kemunduran politik ini pada akhirnya mengentarkan turunnya sultan Muhammad VI pada tahun 1922 dan kemudian hilangnya kerajaan Usmani.68

D

.

Peradaban Islam di Turki

Sejak masa Usman bin Ertaghrol yang dianggap pembina pertama kerajaan Turki Usmani ini dengan nama imperium Ottoman timbullah kemajuan dalam berbagai bidang agama Islam. Turki membawa pengaruh cukup baik dalam bidang ekspansi agama Islam ke Eropa.

1. Bidang Pemerintahan dan Militer

84

Para pemimpin kerajaan Usmani pada masa-masa pertama adalah orang-orang yang kuat sehingga kerajaan dapat melakukan ekspansi dengan cepat dan luas. Meskipun demikian, kemajuan kerajaan Usmani hingga mencapai masa keemasannya itu bukan semata-mata karena keunggulan politik para pemimpinnya. Masih banyak faktor lain yang mendukung keberhasilan tersebut.69

Untuk pertama kali, kekuatan militer kerajaan ini mulai diorganisasi dengan baik dan teratur ketika terjadi kontak senjat dengan Eropa. Ketika itu pasukan tempur yang besar sudah terorganisasi. Pengorganisasian yang baik, taktik dan strategi tempur Usmani berlangsung tanpa halangan berarti. Namun tidak lama setelah kemenangan tercapai, kekuatan mliter yang besar ini dilanda kekisruhan. Kesadaran perajuritnya menurun. Mereka merasa dirinya sebagai pemimpin-pemimpin yang berhak menerima gaji. Akan tetapi keadaan tersebut segera dapat diatasi oleh Orkhan dengan jalan megadakan perombakan besar-besaran dalam tubuh militer.

Perbaharuan dalam tubuh orginisasi militer oleh Orkhan tidak hanya dalam bentuk mutassi personil-personil pemimpin, tetapi juga diadakan perombakan dalam keanggotaan. Bangsa-bangsa non Turki dimasukkan sebagai anggota dan dibimbing dalam suasana Islam untuk dijadikan prajurit. Program ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Jenissari dan Inkisyariah. Pasukan inilah yang dapat mengubah negara Usmani menjadi mesin perang yang paling kuat dan memberikan dorongan yang amat besar dalam penaklukan negara-negara non-muslim.70

69Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Ed. 1, cet.2, (Jakarta: Amzah, 2010), h. 200.

70Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Cet. 12, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 134.

Di samping Jenisseri, ada lagi prajurit dari tentara kaum feodal yang dikirim kepada pemerintah pusat. Pasukan ini disebut tentara atau militer Thaujjah. Pada abad ke-16 angkatan laut Turki Usmani mencapai puncak kejayaannya. Kekuatan militer Turki Usmani yang tangguh itu dengan cepat dapat menguasai wilayah yang sangat luas, baik di Asia, Afrika, maupun Eropa.

Dalam mengelola pemerintahan yang luas, sultan-sultan Turki Usmani senantiasa bertindak tegas. Dalam struktur pemerintahan, sultan sebagai penguasa tertinggi, dibantu oleh Shadr Al-A’zham (perdana mentri) yang membawahi Pasya (gubernur). Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, di masa Sultan Sulaiman I disusun sebuah kitan undang-undang (qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa Al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum bagi kerajaan Turki Usmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. Karena jasa Sultan Sulaiman I yang amat berharga ini, di ujung namannya ditambah gelar Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Kemajuan dalam bidang kemiliteran dan pemerintahan ini membawa Dinasti Turki Usmani menjadi sebuah negara yang cukup disegani pada masa kejayaannya.71

2. Bidang Ilmu Pengetahuan

Peradaban Turki Usmani merupaka perpaduan bermacam-macam peradaban, diantaranya adalah peradaban Persia, mereka banyak mengambil pelajaran-pelajaran tentang etika dan tata krama dalam istana raja-raja. Organisasi pemerintahan dan kemilitera banyak mereka serap dari Bizantium. Sedangkan ajaran tentang perinsip-perinsip ekonomi, sosial kemasyarakatan dan keilmuan mereka terima dari orang-orang Turki Usmani yang terkenal sbagai bangsa yang

86

senang dan mudah berasimilasi dengan bangsa asing utnuk menerima kebudayaan luar.72

Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Usmani lebih banyak

Dalam dokumen SEJARAH PERADABAN ISLAM Lengkap. docx (Halaman 79-95)