• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PENGATURAN TENTANG HAK KEBEBASAN

B. Kebebasan Berpendapat Berdasarkan Konstitusi Negara Indonesia

merupakan salah satu hak warga sipil yang termasuk dalam jaminan terhadap HAM oleh Konstitusi Negara Indonesia. Secara horizontal, pengaturan hak kebebasan menyatakan pendapat dalam UUD di Indonesia telah ditegaskan. Dari seluruh Konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia, meskipun dalam dinamika

Pasal yang terkadang sumir, secara tegas memberi jaminan atas perlindungan hak menyatakan pendapat secara baik. Pengakuan ini menunjukkan sebuah komitmen atas kepentingan dan perlindungan rakyat.

Dalam tataran vertikal yang mengacu kepada Peraturan Perundang-Undangan dibawah UUD, pengaturan Hak Kebebasan menyatakan pendapat mengalami pasang surut yang tidak bisa dipisahkan dengan konfigurasi politik pemerintahan pada era tertentu. Sebagaimana dimaklumi bahwa peraturan hak-hak hukum, yang ditegaskan dalam Peraturan Perundang-Undangan dibawah UUD, mengalami era keterbukaan sejak pemerintahan Habibie dan seterusnya.20

Ketika pemerintahan Habibie (1998-1999), tepatnya pada 15 Agustus 1998, telah diatur kerangka kerja Komnas HAM melalui Kepres No. 129 Tahun 1998 tentang Rencana Aksi Nasional Hak-hak Asasi Manusia Indonesia. Tujuan Rencana Aksi Nasional adalah untuk menjamin peningkatan, pemajuan, dan perlindungan hak-hak Asasi manusia Indonesia dengan mempertimbangkan nilai-nilai adat istiadat, budaya, dan agama berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Rencana Aksi Nasional dilaksanakan secara bertahap dalam sebuah program lima tahunan. Hal ini menunjukkan kesinambungan program yang sebenarnya dapat saja ditinjau dan disempurnakan. Dalam pelaksanaannya maka dibentuklah satu Panitia Nasional yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepada presiden.

Sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM), pada tanggal 26 Oktober 1998 berlaku UU No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyatakan Pendapat di Muka Umum. 100 UU ini memiliki nilai penting

20 Lihat Majda El-Muhtaj, Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia, Dari UUD 1945 sampai dengan Amandemen UUD 1945 Tahun 2002, Jakarta: Kencana Pranada Media Group, 2005, hlm.118

dalam menjamin hak kebebasan berpendapat sebagai salah satu hak asasi diikuti dengan tindakan-tindakan perusakan, pembakaran dan penjarahan. Hal itu tertuang dalam konsiderans Menimbang yang selengkapnya berbunyi:22

a. Bahwa kemerdekaan berserikat dan berkumpul dalam bentuk menyampaikan pendapat di muka umum adalah hak asasi manusia yang dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945.

b. Bahwa menyampaikan pendapat di muka umum walaupun merupakan hak asasi manusia, tetapi pelaksanaannya harus dilakukan secara bertanggungjawab dengan menjunjung tinggi nilai-nilai warga negara untuk menyampaikan pikiran dengan lisan, tulisan dan sebgainya secara jelas dan bertanggungjawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

22 Bagir Manan, Perkembangan Pemikiran Dan Pengaturan Hak Asasi Manusia Di Indonesia, (Jakarta: Penerbit P. T. Alumni, 2006) hlm. 187.

c. Bahwa pada saat ini sering terjadi gelombang unjuk rasa yang tidak terkendali di berbagai tempat yang seringkali diikuti dengan tindakan perusakan, pembakaran dan penjarahan, yang menimbulkan kerugian baik materil maupun inmateril setra mengakibatkan perasaan tidak aman pada masyarakat atau membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara.

d. Bahwa untuk tetap menjaga kemanan dan ketertiban nasional yang kondusif untuk melaksanakan pembangunan serta memberikan perlindungan dan perasaan aman bagi masyarakat, perlu segera diadakan pengaturan mengenai penyampaian pendapat di muka umum.

Namun, dalam perjalanan selanjutnya, DPR menyatakan penolakan terhadap Perpu tersebut yang disebabkan beberapa hal:23

Pertama, kondisi psikologis masyarakat yang sangat berprasangka terhadap usaha-usaha pemerintahan untuk mengendalikan bahkan akan

“membungkam”kebebasan masyarakat untuk menyampaikan pendapat, kebebasan berapat, berkumpul, dan lain sebagainya.

Kedua, terdapat materi muatan yang sangat bertentangan dengan prinsip kebebasan pers kerana termasuk yang harus diberitahukan kepada Polri sebelum pemaparan dimuat dalam media massa sebagaimana termuat dalam Pasal 8 ayat (1) huruf e. Ketentuan ini merupakan suatu bentuk

“licensing”yang pada prinsipnya bertentangan dengan prinsip freedom of press.

23 Bagir Manan, Hak Menyampaikan Pendapat di Muka Umum menurut UU N. o 9 Tahun 1998 (Suatu Kajian dalam Rangka Perwujudan Hak Asasi Manusia , Makalah disampaikan pada Penataran Hukum Administrasi Negara Di Universitas Airlangga Surabaya, Februari 1999, hlm. 8.

Ketiga, pemerintah tidak dapat memberi keyakinan mengenai keadaan

“hal ikhwal kegentingan yang memaksa”sebagai dasar kewenangan dan pembenaran pembuatan Perpu.

Keempat, materi muatan yang diatur yang pada pokoknya tentang HAM hanya diatur dengan Undang-Undang, dan bukan dalam bentuk Perpu.

Penolakan atas Perpu No. 2 Tahun 1998 diikuti dengan kesepakatan untuk menyusun RUU baru tentang penyampaian pendapat di muka umum yang kemudian menjadi UU No. 9 Tahun 1998. Pada dasarnya, ketentuan-ketentuan yang dimuat dalam UU No. 9 Tahun 1998 tidak mengalami banyak perubahan dengan Perpu No. 2 Tahun 1998. Perbedaan yang sangat penting tampak dari beberapa hal, antara lain:24

Pertama, dihilangkan pemaparan melalui media massa baik cetak maupun elektronik sebagai salah satu bentuk penyampaian pendapat di muka umum yang harus diberitahukan kepada Polri.

Kedua, adanya penambahan beberapa istilah dan pengertian baru dan perubahan dalam pengertian dalam Bab Ketentuan Umum. Penambahan yakni dengan dicantumkannya istilah dan pengertian mimbar bebas. Sedangkan perubahan tampak pada istilah dan definisi unjuk rasa. Semua istilah dan definisi unjuk rasa dibedakan dengan demontrasi, sedangkan dalam Undang-Undang No.2 Tahun 1998 istilah dan pengertiaan unjuk rasa atau demontrasi adalah sama.

24 Bagir Manan, Perkembangan Pemikiran Dan Pengaturan Hak Asasi Manusia Di Indonesia, (Jakarta: Penerbit P. T. Alumni, 2006) hlm. 189.

Secara garis besar, ketentuan-ketentuan yang dimuat dalam UU No. 9 Tahun 1998 dapat dokategorikan ke dalam beberapa bagian, yakni:25

a. Ketentuan-ketentuan yang memuat pembatasan.26

b. Ketentuan-ketentuan yang memuat bentuk-bentuk penyampaian pendapat di muka umum.27

c. Ketentuan-ketentuan yang berkenaan dengan muatan pemberitahuan.

d. Ketentuan lain.

Dalam kaitan dengan pembatasan, UU No. 9 Tahun 1998 menegaskan bahwa penyelenggara wajib memberitahukan kepada Polri sebelum kegiatan menyampaikan pendapat di muka umum dilakukan. Pemberitahuan ini bukan merupakan suatu izin, dan dilakukan semata-mata untuk menghindari terjadinya gangguan pada saat kegiatan itu dilakukan.28

Masih dalam kaitan dengan pembatasan, polri dapat membubarkan kegiatan menyampaikan pendapat apabila:29

1. Tidak menghormati hak-hak dan kebebasan orang lain.

2. Tidak menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum.

3. Tidak menaati hukum yang berlaku.

25 Manan, Perkembangan Pemikiran Dan Pengaturan Hak Asasi Manusia Di Indonesia, (Jakarta: Penerbit P. T. Alumni, 2006) hlm. 190.

26 Pasal 9,ayat 2 berbunyi,“Penyampaian pendapat di muka umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan di tempat-tempat terbuka untuk umum,kecuali:

(a) di lingkungan istana kepresidenan,tempat ibadahlm. instalasi militer, rumah sakit, pelabuhan udara atau laut, stasiun kereta api. terminal angkutan darat,dan obyek-obyek vital nasional; (b) pada hari besar nasional”. Pasal 10,ayat 1 berbunyi,“Penyampaian pendapat di muka umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 wajib diberitahukan secara tertulis kepada Polri”. Pasal 10,ayat 3 berbunyi,“Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) selambat-lambatnya 3 x 24 (tiga kali dua puluh empat ) jam sebelum kegiatan dimulai telah diterima oleh Polri setempat”.

27 Pasal 9 ayat 1,berbunyi,“Bentuk penyampaian pendapat di muka umum dapat dilaksanakan dengan: a. unjuk rasa atau demonstrasi; b. pawai; c. rapat umum; dan atau d.

mimbar bebas”

28 Bagir Manan, Perkembangan Pemikiran Dan Pengaturan Hak Asasi Manusia Di Indonesia,(Jakarta: Penerbit P. T. Alumni, 2006) hlm.190.

29 Ibid, hlm. 191.

4. Tidak menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa.

5. Dilakukan di tempat yang terlarang.

6. Membawa benda-benda yang dapat membahayakan keselamatan umum.

7. Tidak memberitahukan.

8. Dalam pemberitahuan tidak mencantukan maksud, tujuan, tempat, rute, dan lain sebagainya.

Mengenai pembatasan diatas, dikonstruksi dalam dentuk sanksi yang diatur dalam Bab V Pasal 15.30 Namun, harus diakui bahwa masih rumusan-rumusan pembatasan itu bersifat elastis dan dapat ditafrsirkan secara longgar, bergantung kepada pihak penguasa. Misalnya, alasan tidak menghormati aturan moral yang diakui umum, tidak menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa. Untuk mencegah ketidakpastian dan tindakan sewenang-wenang maka diperlukan ketentuan yang lebih rinci ataupun perlunya jurisprudensi yang mungkin terjadi di kemudian hari.

Dalam kaitan dengan bentuk-bentuk penyampaian pendapat di muka umum, UU No. 9 Tahun 1998 menyatakan bahwa bentuk-bentuk yang diatur adalah:31

1. Unjuk rasa atau demontrasi 2. Pawai

3. Rapat umum 4. Mimbar bebas.

30 Pasal 15, berbunyi,“Pelaksanaan penyampaian pendapat di muka umum dapat dibubarkan apabila tidak memenuhiketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 9 ayat (2) dan ayat (3) , Pasal 10, dan Pasal 11”.

31 Pasal 9

“Menurut Bagir Manan, unjuk rasa atau demontrasi yang akan dilakukan harus memberitahu kepada kepolisian. Namun harus dikritisi bahwa ketentuan yang terkandung dalam UU ini ada yang terkesan berlebihan dan sulit ditegakkan, terutama untuk ketentuan yang menyatakan bahwa kegiatan perorangan atau individu yang akan melakukan unjuk rasa juga harus menyampaikan pemberitahuan kepada polisi”.32

Dalam kaitan dengan muatan pemberitahuan, Pasal 11 No. 9 Tahun 1998 memuat berbagai ketentuan yang harus diberitahukan (delapan muatan), seperti rute, tempat, waktu, lama, serta jumlah. Bagir manan menyatakan bahwa ketentuan yang memuat syarat jumlah dapat menjerat penyelenggara.

Seharusnya yang diatur bukan jumlah peserta, melainkan tanggung jawab hukum apabila peserta unjuk rasa melakukan perusakan atas barang atau harta benda.33

“Menurut Harjono, kebebasan menyatakan pendapat turut meliputi kebebasan yang lain sebagai turunan atau penjabarannya, yaitu kebebasan pers, penyiaran, dan film. Kebebasan pers dan penyiaran yang dimaksudkan untuk menjaga pluralisme pendapat dalam kehidupan politik yang menjadi prasyarat dasar bagi demokrasi”.34

32 Bagir manan, Hak Menyampaikan Pendapat di Muka Umum menurut UU N. o 9 Tahun 1998 (Suatu Kajian dalam Rangka Perwujudan Hak Asasi Manusia) , makalah disampaikan pada Penataran Hukum Administrasi Negara Di Universitas Airlangga Surabaya, Februari 1999, hlm. 14.

33 Ibid, hlm 20

34Harjono,Transformasi Demokrasi, (Jakarta: Sekreteriat Jenderal dan Kepaniteraan,2009) Cet 1, hlm. 198

Pengaturan mengenai Pers, pertama kali diatur di dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pers.

Selanjutnya, undang-undang tersebut diubah oleh Undang-Undang No. 4 Tahun 1967 tentang Penambahan Undang-Undang No. 11 Tahun 1966. Perubahan kedua terhadap Undang-Undang tersebut dilakukan pada tahun 1982 dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1982 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1967. Terakhir kali, masalah Pers diatur oleh Undang-Undang No. 4 Tahun 1999 tentang Pers, yang mencabut dan mengganti Undang-Undang sebelumnya di bidang Pers.35

Alasan dikeluarkannya Undang-Undang tersebut adalah:

1. Kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa bernegara dan demokratis.

2. Kemedekaan menyatakan pendapat dan pikiran merupakan hak asasi yang sangat hakiki.

3. Pers nasional harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemerdekaan pers yang professional.

4. Pers nasional berperan ikut menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan.

35 Bagir Manan, Perkembangan Pemikiran Dan Pengaturan Hak Asasi Manusia Di Indonesia, (Jakarta: Penerbit P. T. Alumni, 2006) hlm.

5. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.

Dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999, maka ada beberapa hal penting yang perlu dicatat, yaitu:

a. Kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat b. Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara

c. Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyosoran, pembredelan atau pelanggaran penyiaran.

Ketentuan tersebut merupakan hal baru yang diatur oleh Undang-Undang Pers, di mana sebelumnya tidak pernah diatur. Hal tersebut semakin menempatkan hak warga negara, dalam kaitannya dengan kemerdekaan menyatakan pendapat samada lisan dan tulisan pada posisi sentral karena tidak lagi mendapat tekanan dari pihak mana pun dalam implementasinya.36

Secara horizontal konstitusi RIS 1959 dan UUD 1945 tidak mengandungi pertentangan mengenai pengaturan terhadap hak kebebasan menyatakan pendapat.

Walaupun begiu, di sana terdapat perbedaan penetapan pasal dan butirannya. Hak kebebasan menyatakan pendapat di atur di dalam UUD 1945, pasal 28E ayat (3) menyatakan: “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat.” Bermakna UUD 1945 memuatkan sekaligus hak yang bersifat personal dan hak yang bersifat keluarga. Berbeda dengan pengaturan di dalam Konstitusi RIS 1949, hak kebebasan menyatakan pendapat di atur secara khusus dalam hak yang bersifat personal. Ini dapat dilihat pasal 19 menyatakan :

36 Ibid, hlm 185

“Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat.”

Manakala hak warga Negara sekaligus hak yang bersifat keluarga diatur di dalam pasal 20 menyatakan : “Hak penduduk atas kebebasan berkumpul dan berapat secara damai diakui dan sekadar perlu dijamin dalam peraturan-peraturan undang-undang”. Menariknya, status manusia sebagai warga Negara tidaklah menghilangkan statusnya sebagai seorang pribadi/individu dan keluarga.

Sementara Konstitusi RIS memberikan perbedaan yang tepat dari suatu status tersebut.37

Dasar pemikiran pembentukan Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia adalah:

a. Tuhan Yang Maha Esa adalah pencipta alam semesta dengan segala isinya;

b. pada dasarnya, manusia dianugerahi jiwa, bentuk, struktur, kemampuan, kemauan serta berbagai kemudahan oleh Penciptanya, untuk menjamin kelanjutan hidupnya;

c. untuk melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan martabat manusia, diperlukan pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia, karena tanpa hal tersebut manusia akan kehilangan sifat dan martabatnya, sehingga dapat mendorong manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus);

37 Lihat Majda El-Muhtaj, Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia, Dari UUD 1945 sampai dengan Amandemen UUD 1945 Tahun 2002, (Jakarta: Kencana Prenda Media Group, 2005) cet 2, hlm.104.

d. karena manusia merupakan makhluk sosial, maka hak asasi manusia yang satu dibatasi oleh hak asasi manusia yang lain, sehingga kebebasan atau hak asasi manusia bukanlah tanpa batas;

e. hak asasi manusia tidak boleh dilenyapkan oleh siapapun dan dalam keadaan apapun;

f. setiap hak asasi manusia mengandung kewajiban untuk menghormati hak asasi manusia orang lain, sehingga di dalam hak asasi manusia terdapat kewajiban dasar;

g. hak asasi manusia harus benar-benar dihormati, dilindungi, dan ditegakkan, dan untuk itu pemerintah, aparatur negara, dan pejabat publik lainnya mempunyai kewajiban dan tanggung jawab menjamin terselenggaranya penghormatan, perlindungan, dan penegakan hak asasi manusia.

BAB III

PENGATURAN TENTANG TINDAK PIDANA PENCEMARAN NAMA BAIK DI INDONESIA

A. Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik di dalam KUHP

Pencemaran nama baik merupakan salah satu bentuk khusus dari perbuatan melawan hukum. Istilah yang dipakai mengenai bentuk perbuatan melawan hukum ini ada yang mengatakan pencemaran nama baik, namun ada pula yang mengatakan sebagai penghinaan. Sebenarnya yang menjadi ukuran suatu perbuatan dapat dikategorikan sebagai pencemaran nama baik orang lain masih belum jelas karena banyak faktor yang harus dikaji.

Dalam hal pencemaran nama baik atau penghinaan ini yang hendak dilindungi adalah kewajiban setiap orang untuk menghormati orang lain dari sudut kehormatannya dan nama baiknya dimata orang lain meskipun orang tersebut telah melakukan kejahatan yang berat. Adanya hubungan antara kehormatan dan nama baik dalam hal pencemaran nama baik tersebut, maka dapat dilihat dahulu pengertiannya masing-masing. Kehormatan adalah perasaan terhormat seseorang dimata masyarakat, dimana setiap orang memiliki hak untuk diperlakukan sebagai anggota masyarakat yang terhormat.

Menyerang kehormatan berarti melakukan perbuatan menurut penilaian secara umum menyerang kehormatan seseorang. Rasa hormat dan perbuatan yang termasuk kategori menyerang kehormatan seseorang ditentukan menurut lingkungan masyarakat pada tempat perbuatan tersebut dilakukan.

Rasakehormatan ini harus diobjektifkan sedemikian rupa dan harus ditinjau

dengan suatu perbuatan tertentu, seseorang pada umumnya akan merasa tersinggung atau tidak.

Dapat dikatakan pula bahwa seorang anak yang masih sangat muda belum dapat merasakan tersinggung ini, dan bahwa seorang yang sangat gila tidak dapat merasa tersinggung itu. Maka, tidak ada tindak pidana penghinaan terhadap kedua jenis orang tadi.

Pencemaran nama baik / penghinaan / fitnah yang disebarkan secara tertulis dikenal sebagai libel, sedangkan yang diucapkan disebut slander. KHUP menyebutkan bahwa penghinaan/pencemaran nama baik bisa dilakukan dengan cara lisan atau tulisan (tercetak).

Tindak pidana terhadap kohormatan ini, menurut ilmu hukum pidana terdiri atas 4 (empat) bentuk : 38

1. Menista;

2. Menista secara tertulis 3. Fitnah; dan

4. Penghinaan ringan.

Akan tetapi, dalam KUHP dimuat juga tindak pidana yang lain terhadap kehormatan, yang erat kaitannya dengan kehormatan dan nama baik, yakni :

1. Perbuatan fitnah;

2. Persangkaan palsu;

3. Penistaan terhadap yang meninggal.

38 Leden, Marpaung. Tindak Pidana Terhadap Kehormatan. (Jakarta : Sinar Grafika).

2010. Hlm. 8

Hakikat penghinaan adalah menyerang kehormatan dan nama baik seseorang, golongan, lembaga, agama, jabatan, termasuk orang yang sudah meninggal. Penghinaan lazimnya merupakan kasus delik aduan.

Pada umumnya delik aduan terbagi atas delik aduan absolut (mutlak) dan delik aduan relatif (nisbi). Dimana delik aduan absolut adalah delik yang dalam keadaan apapun tetap merupakan delik aduan sedangkan delik aduan relatif adalah delik aduan yang dalam keadaan tertentu saja diperlukan adanya pengaduan.39 Yang nama baiknya dicemarkan bisa melakukan tuntutan ke pengadilan sipil, dan jika menang bisa mendapat ganti rugi. Hukuman pidana penjara juga bisa diterapkan kepada pihak yang melakukan pencemaran nama baik. KUHP mengatur beberapa Pasal soal penghinaan.

Menurut KUHP pencemaran nama baik harus memenuhi dua unsur, yaitu ada tuduhan dan tuduhan dimaksudkan menjadi konsumsi publik. Dalam penjelasannya, R. Soesilo.40 Mengatakan tuduhan ini harus dialamatkan kepada perserorangan, jadi tidak berlaku apabila yang merasa terhina ini adalah lembaga atau instansi, namun apabila tuduhan itu dimaksudkan untuk kepentingan umum, artinya agar tidak merugikan hak-hak orang banyak atau atas dasar membela diri (berdasarkan pertimbangan hakim), maka sang penuduh tidak dapat dihukum.

Ketentuan hukum penghinaan bersifat delik aduan, yakni perkara penghinaan terjadi jika ada pihak yang mengadu. Artinya, masyarakat yang merasa dirugikan oleh pemberitaan pers yang dianggap mencemarkan nama baiknya atau merasa terhina dapat mengadu ke aparat hukum agar perkara bisa diusut.

39Amir,Ilyas. Asas-asas Hukum Pidana. Yogyakarta, Rangkang Education Yogyakarta

& Pukap Indonesia, 2012, Hml. 186-187

40R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Serta Komentarnya Pasal Demi Pasal. Bogor : Politeja, 1995, Hlm.225.

Aturan pokok yang mengatur mengenai tindak pidana pencemaran nama baik diatur dalam Pasal 310 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, dimana aturan dari pasal tersebut mengancam adanya suatu sanksi pidana terhadap barang siapa yang dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan mengujarkan suatu hal yang bersifat buruk, negatif atau memalukan dengan maksud yang jelas agar hal itu dapat diketahui oleh khalayak umum, sebagaimana hal-hal yang bersifat menyerang kehormatan terhadap seseorang itu diatur dalam ayat sebelumnya, yaitu dalam Pasal 310 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Apabila tindak pidana pencemaran nama baik tersebut dilakukan dengan tulisan atau gambar yang disiarkan dan atau dipertunjukkan di muka umum, maka tindak pidana tersebut diatur dalam Pasal 310 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Pasal 310 ayat (1) dan Pasal 310 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang telah diuraikan secara singkat dan jelas diatas, diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) demikian :

1. Barangsiapa dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui oleh umum, maka diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

2. Jika hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambaran yang disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, maka diancam karena pencemaran tertulis dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat

bulan atau dengan pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Penerjemahan yang telah diterjemahkan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional tersebut menjelaskan bahwa istilah pencemaran dan pencemaran tertulis untuk menerjemahkan istilah Bahasa Belanda smaad mengacu pada Pasal 310 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sedangkan istilah smaadschrift mengacu pada Pasal 310 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.41

Terjemahan lain juga telah dilakukan oleh P.A.F Lamintang dan juga oleh C.D. Samosir, yang menerjemahkan smaad sebagai suatu penistaan yang dilakukan secara lisan sedangkan smaadscrift sebagai suatu penistaan dengan tulisan, dimana Pasal 310 ayat (1) dan Pasal 310 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana diterjemahkan sebagai berikut :

1. Barangsiapa dengan sengaja menyerang kehormatan nama baik orang lain dengan menuduh orang itu telah melakukan suatu perbuatan tertentu dengan maksud yang nyata agar tuduhan tersebut diketahui oleh orang banyak, karena telah menista orang lain secara lisan, maka dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 (sembilan) bulan atau dengan hukuman denda setinggi-tingginya empat ribu lima ratus rupiah.

2. Apabila perbuatan itu dilakukan dengan cara menyebarluaskan, mempertunjukkan secara terbuka atau dengan menempelkan tulisan atau gambar, maka pelakunya salah telah menista dengan tulisan, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 1 (satu) tahun dan empat bulan

41 Tim Penerjemah BPHN, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Sinar Harapan, (Jakarta: Sinar Harapan, 1983), hal. 125.

atau dengan hukuman denda setinggi-tingginya empat ribu lima ratus rupiah.42

Menurut R.Soesilo43penghinaan dalam KUHP ada 6 macam:

1. Menista (smaad)

2. Menista dengan surat (smaadachrift) 3. Memfitnah (laster)

4. Penghinaan ringan (een voudige belediging) 5. Mengadu secara memfitnah (lasterajke aanklacht) 6. Tuduhan secara memfitnah (lasterajke verdarhtmaking) Pasal 311 ayat (1) KUHP :

”Jika yang melakukan kejahatan pencemaran atau pencemaran tertulis, dalam hal dibolehkan untuk membuktikan bahwa apa yang dituduhkan itu benar, tidak membuktikannya dan tuduhan dilakukan bertentangan dengan apa yang diketahui, maka dia diancam karena melakukan

”Jika yang melakukan kejahatan pencemaran atau pencemaran tertulis, dalam hal dibolehkan untuk membuktikan bahwa apa yang dituduhkan itu benar, tidak membuktikannya dan tuduhan dilakukan bertentangan dengan apa yang diketahui, maka dia diancam karena melakukan

Dokumen terkait