BAB IV Temuan Data dan Interpretasi Data Penelitian
4.8 Keberadaan dan Keberlangsungan Buruh Nyerep Perempuan d
Keberadaan buruh nyerep di perkebunan disebabkan oleh karyawan yang membutuhkan buruh nyerep. Pada awal mulanya keberadaan buruh nyerep hanya karena
karyawan tidak mampu lagi untuk bekerja dan meminta tolong kepada orang lain untuk bekerja menggantikannya dan dari awal meminta tolong yang hanya dengan jangka waktu sementara hingga sampai jangka waktu yang lama. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Amir hamzah selaku Asisten Afdeling V yaitu sebagai berikut:
“…saya kurang tau sejak kapan adanya buruh nyerep ini, yang saya tau memang dari dulu sudah ada di perkebunan manapun sudah ada buruh nyerep. karyawan yang
mempekerjakan buruh nyerep pun bukan hanya karyawan perempuan aja tapi karyawan laki-laki juga ada tetapi paling banyak adalah karyawan perempuan, sebelumnya kan saya pernah juga menjadi Asisten di Unit Usaha Ajamu dan disana juga ada keberadaan buruh nyerep…”
Bapak Amir mengatakan bahwa tidak terlalu mengetahui tentang keberadaan buruh nyerep tetapi beliau mengatakan bahwa setiap perkebunan di PTPN IV terdapat
keberadaan buruh nyerep. Di Afdeling V sendiri terdapat 9 karyawan yang memakai jasa buruh nyerep.seperti yang di ungkapkan oleh Bapak Amir sebagai berikut:
“…karyawan disini yang memakai jasa buruh nyerep ada 9 orang. Sebelumnya karyawan meminta izin kepada mandor tetapi pada saat rapat, mandor tidak pernah melaporkan hal ini kepada saya, saya cuma dengar-dengar aja dan tau keberadaan buruh nyerep ini. Karena tidak terlalu menggangu produksi dan target setiap harinya sehingga saya
membiarkannya saja dan saya tidak terlalu mementingkannya karena masih banyak lagi pekerjaan lainnya, yang terpenting sih tenaganya atas nama karyawan masih tertulis bahwa dia
(karyawan) tetap bekerja…”
Bapak Amir mengatakan bahwa tidak menjadi permasalahan selama perkebunan tidak merasa dirugikan dan tenaga buruh nyerep itu tertulis atas nama karyawan. Keberadaan buruh nyerep juga tidak menggangu produksi dan target perkebunan
sehingga Bapak Amir tidak terlalu mempersoalkannya. Keberadaan buruh nyerep ini ada karena rasa ibah dan kasian mandor melihat karyawan yang tidak mampu lagi untuk bekerja dan memiliki alasan lainnya sehingga mandor mengizinkan karyawan memakai
jasa buruh nyerep. Hal ini seperti hasil wawancara dengan Bapak Zakaria selaku mandor berikut ini:
“…awalnya karyawan itu datang kepada saya dan meminta izin untuk tidak bekerja lagi dan mau memakai jasa buruh nyerep, awalnya saya menolak karna kan itu uda tanggung jawabnya (karyawan) tetapi dengan berbagai alasannya sehingga saya merasa ibah dan kasian meliatnya lalu saya mengizinkannya tetapi itu hanya menjadi rahasia saja…”
Bapak Zakaria mengatakan bahwa karyawan datang dengan berbagai alasan seperti tidak mampu lagi untuk bekerja, jarak rumah terlalu jauh sehingga beliau merasa kasian dan mengizinkan karyawan menggunakan jasa buruh nyerep. Setelah itu buruh nyerep akan mencari orang yang mau bekerja menggantikan dirinya dan melapor lagi ke mandor. Hal ini membuat karyawan merasa memiliki kekuasaan karena telah bisa menyuruh buruh nyerep untuk bekerja menggantikan dirinya.Keberadaan buruh nyerep saat ini sudah menjadi rahasia umum yang semua orang di perkebunan sudah
mengetahuinya tetapi pihak manajer tidak pernah mengetahui hal tersebut. Jika ditanya tentang keberadaan buruh nyerep, Asisten dan mandor tidak akan mengakui keberadaan buruh nyerep karena mereka sadar bahwa karyawan yang memakai jasa buruh nyerep ini sudah melanggar peraturan perkebunan. Tetapi karena adanya rasa kasian maka mandor pun mengizinkan karyawan memakai jasa buruh nyerep dari pada pekerjaan karyawan terkendala karena karyawan sudah tidak mampu lagi untuk bekerja.
Mempekerjakan buruh nyerep tanpa adanya perjanjian tertulis dan kontrak kerja secara resmi yaitu sudah melanggar UU tentang Ketenagakerjaan tahun 2003.Buruh nyerep tidak mendapatkan hak-hak lainnya sebagai pekerja yaitu seperti jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja dan tunjangan, buruh nyerep hanya mendapatkan upahnya saja yang dihitung perhari, hal tersebut membuat buruh nyerep tidak bisa
berbuat apa-apa jika ada sesuatu yang terjadi pada dirinya.Buruh nyerep merupakan pekerja illegal karena yang memperkerjakan buruh nyerep adalah karyawan bukan pihak perkebunan. Karyawan merupakan pekerja yang memiliki tanggung jawab atas
pekerjaannya dan tidak memiliki kekuasaan untuk mempekerjakan orang lain untuk menggantikan dirinya. Buruh nyerep hanya terikat dengan karyawan yang
BAB V PENUTUP 5.1Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah di dapatkan dapat disimpulkan bahwa:
1. Kondisi kehidupan sosial ekonomi buruh nyerep perempuan kurang terpenuhi dengan baik. Hal ini dikarenakan upah yang diterimanya hanya sedikit, sedangkan kebutuhan pokok semakin mahal. Adapun kebutuhan buruh nyerep yang cukup terpenuhi dikarenakan suaminya bekerja sedangkan buruh nyerep yang single perent harus bekerja banting tulang untu memenuhi kebutuhan keluarganya.
2. Kondisi kehidupan sosial ekonomi karyawan perkebunan cukup terpenuhi dengan baik. Karyawan yang memakai jasa buruh nyerep mempunyai pekerjaan sampingan sehingga mereka mendapatkan penghasilan selain dari hasil gajinya sebagai karyawan perkebunan.
3. Karyawan memasukan buruh nyerep perempuan ke perkebunan untuk menggantikan dirinya dan mendapatkan persetujuan dari mandor.Buruh nyerep tidak memiliki kontrak kerja dan tidak memiliki hubungan dengan pihak perkebunan. Oleh karena itu, buruh nyerep adalah pekerja illegal karena dilakukan secara tidak resmi dengan cara sembunyi-sembunyi dan melanggar Undang- Undang tentang Ketenagakerjaan. Disebut tenaga kerja illegal karena keberadaan buruh nyerep tidak diakui dan tidak resmi.
4. Hubungan yang terjalin antara karyawan dengan buruh nyerep adalah hubungan tetangga dan hubungan saling menguntungkan, dimana karyawan mempekerjakan buruh nyerep agar dapat mengerjakan pekerjaannya sedangkan buruh nyerep mendapatkan pekerjaan dan gaji.
5. Sistem upah buruh nyerep yaitu dengan sistem upah menurut waktu dimana yang menentukan bahwa besar kecilnya upah yang akan dibayarkan kepada masing- masing tenaga kerja, tergantung pada banyak sedikitnya waktu kerja mereka seperti bekerja per hari dan per bulan. Upah yang diterima buruh nyerep sebesar Rp 30.000 per harinya. Upah tersebut diterima pada saat gajian besar yaitu pada tanggal 4.
6. Pada awal mulanya keberadaan buruh nyerep hanya karena karyawan tidak sanggup lagi untuk bekerja dan meminta tolong kepada orang lain untuk bekerja menggantikannya. Dari awalnya meminta tolong yang hanya dengan jangka waktu sementara hingga sampai jangka waktu yang lama. Keberlangsungan buruh nyerep ini karena Asisten dan mandor masih mengijinkan karyawan menggunakan dan mempekerjakan buruh nyerep dan hal ini menjadi rahasia. Asisten Afdeling V Unit Usaha Padang Matinggi juga tidak terlalu mempersoalkan keberadaan buruh nyerep selama produktivitas dan target perkebunan tidak terganggu.
5.2Saran
1. Perlu adanya standar kerja atau pembinaaan kepada semua pekerja agar resiko kecelakaan kerja tidak terlalu besar.
2. Karyawan harus sportifitas dalam pekerjaannya. Jika tidak mampu untuk bekerja lagi sebaiknya melakukan pensiun mudah agar perkebunan dapat membuka lowongan pekerjaan bagi pekerja yang masih memiliki standarisasi.
3. Buruh nyerep harus memperjelas statusnya, jika tidak ada peluang untuk menjadi karyawan sebaiknya mencari pekerjaan lainnya karena resikonya sangat besar jika tidak mendapatkan jaminan kesehatan atau kecelakaan kerja.
DOKUMENTASI LAPANGAN
Gambar 1: Buruh nyerep perempuan sedang bekerja menyemprot rumput.
Gambar 2: Buruh nyerep sedang sarapan pagi di perkebunan sebelum bekerja.
Gambar 3: Penulis sedang melakukan wawancara dengan Ibu Susi (Karyawan).
Gambar 4: Kantor Afdeling V Unit Usaha Padang Matinggi PT Perkebunan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Posisi Pekerja Perempuan Dalam Sistem Kapitalis Perkebunan
Secara tradisional, ada tiga peranan utama perempuan yang dapat diidentifikasikan, antara lain: peran dalam rumah tangga dan pendapatan yang berkaitan dengan kegiatan rumah tangga, reproduksi dan produksi sosial yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan dankesejahteraan anak, serta kerja sosial yang menunjang status keluarga. Kini selain ketiga aspek tradisional di atas, perempuan juga seringkali (karena terpaksa untuk dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga) bekerja di luar rumah, mencari kerja di pasaran yang ada (dalam Herawati dan Vitayala, 1990).
Tenaga kerja perempuan merupakan para perempuan yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat (Yudo, 2000). Dalam hal ini bukan saja buruh perempuan, karyawati atau buruh-buruh perempuan yang merupakan tenaga kerja tetapi juga mereka yang bekerja mandiri. Semuanya merupakan tenaga kerja yang sangat penting bagi perekonomian negara. Penyediaan kesempatan kerja bagi perempuan begitu sangat penting keberadaanya. Hal tersebut menjadi beralasan karena perempuan khususnya mereka yang berasal dari keluarga miskin merupakan tenaga kerja yang potensial bagi kesejahteraan keluarganya bahkan acapkali memberikan sumbangan yang besar bagi kelangsungan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat (Kartasasmita, 1996).
Dalam penelitiansebelumnya, perempuan khususnya ibu rumah tangga bekerja sebagai buruh harian lepas (BHL) dan buruh pabrik ramling (pengolahan karet). Pilihan sebagai buruh disebabkan karena dua alasan, antara lain: Pertama, penghasilan suami (umumnya bekerja sebagai karyawan perkebunan) tidak mencukupi. Kondisi ini kemudian
menyebabkan istri harus bekerja guna memenuhi ekonomi keluarga. Kedua, pekerjaan tersebut relatif mudah dan dapat dilakukan siapa saja. Pekerjaan sebagai buruh tidak membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan tinggi, atau dapat dikatakan hanya membutuhkan tenaga(Jurnal Harmoni Sosial, September 2007).
Posisi perempuan dalam perkebunan kelapa sawit skala besar adalah menjadi BHL (Buruh Harian Lepas). Dimana setiap pekerja tidak mempunyai jaminan hidup dan fasilitas yang layak dalam melakukan tugasnya. Perusahaan perkebunan tidak pernah menjadikan perempuan sebagai karyawan tetap dengan alasan perempuan itu lemah dan tidak bisa melakukan pekerjaan sekuat laki-laki. Perempuan juga memiliki reproduksi seperti haid, hamil dan melahirkan, maka dari itu, perkebunan tidak mempekerjakan perempuan sebab perusahaan akan merugi dengan memberikan cuti haid, hamil dan melahirkan.
Jenis pekerjaan yang dikerjakan oleh buruh perempuan adalah penyemprotan, miping, tebas, memberondol, pemupukan, klerat dan pembibitan. Dalam melakukan pekerjaannya tersebut para buruh tidak pernah dibekali pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang dampak negatif penggunaan pestisida bagi kesehatan manusia. Sehingga para buruh selalu mengesampingkan keselamatan kerja dan kesehatan demi mendapatkan upah yang tidak seimbang dengan resiko kerja yang harus mereka terima.
2.2 Status Buruh Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Ketenagakerjaan
Menurut Undang-Undang nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 1 butir 3 mendefinisikan pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Pada dasarnya seorang pengusaha memiliki tanggung jawab untuk memenuhi hak pekerja/buruh, seperti keselamatan dan kesehatan kerja, hal ini tercantum di dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 2003 tentang keselamatan dan kesehatan kerja pasal 86 ayat (1), (2), dan (3):
(1) Setiap pekerja/buruh mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas:
a. Keselamatan dan kesehatan kerja; b. Moral dan kesusilaan; dan
c. Perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama.
(2) Untuk melindungi keselamatan kerja/buruh guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja.
Selain keselamatan dan kesehatan kerja, pekerja/ buruh juga berhak mendapatkan upah yang layak untuk kebutuhan hidup, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesianomor 13 tahun 2003 tentang pengupahan pasal 88 ayat (1) dan (2):
(1) Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
(2) Untuk mewujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja/buruh.
Status buruh menurut ketenagakerjaan yaitu buruh berhak mendapat perlindungan, hak dan kewajiban serta mendapatkan perlakuan yang baik.Lain halnya dengan buruh nyerep di perkebunan kelapa sawit, buruh nyereptidak memiliki hubungan kerja, buruh
nyerepbekerja atas dasar perintah dari karyawan tersebut untuk menggantikan pekerjaannya sehingga buruh nyerep tidak memiliki hak apapun kecuali upah yang telah ditentukan karyawan tersebut.
2.3 Tenaga Kerja Illegal di Perkebunan
Tenaga kerja illegal adalah tenaga kerja yang bekerja tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku, yang di lakukan secara rahasia dan tidak resmi. Pada umumnya, tenaga kerja illegal sering dikaitkan dengan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang bekerja diluar negeri tanpa menggunakan cara yang sesuai dengan peraturan dan tidak memiliki dokumen sah.Tenaga kerja illegal tidak hanyak terdapat diluar negeri tetapi juga terdapat di dalam negeri.
Salah satunya dalam penelitian yang akan dilakukan ini terdapat buruh illegal di perkebunan kelapa sawit banyak yang mempekerjakan buruh, akan tetapi terdapat buruh illegal. Tenaga kerja illegal ini disebut buruh nyerepyaitu buruh yang bekerja menggantikan pekerjaan karyawan sesuai dengan kesepakatan bersama antara sesama karyawan dan buruh.Hal ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan pimpinan.Buruh nyereptermasuk dalam kategori pekerja illegal karena tidak memiliki perjanjian yang sah terhadap perusahan perkebunan, sehingga buruh nyerep tidak dapat menuntut pihak
perkebunan jika terjadinya kecelakaan kerja serta jaminan sosial dan tunjangan.Buruh hanya mendapatkan upah yang rendah sesuai dengan kesepakatan karyawan dengan buruh.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Penempatan Tenaga Kerja Pasal (31), (32), dan (33):
Pasal (31): setiap tenaga kerja mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk memilih, mendapatkan, atau pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang layak di dalam atau di luar negeri.
Pasal (32): (1) Penempatan tenaga kerja dilaksanakan berdasarkan asa terbuka, bebas obyektif, serta adil, dan setara tanpa diskriminasi.
(2) Penempatan tenaga kerja diarahkan diarahkan untuk menempatkan tenega kerja pada jabatan yang tepat sesuai dengan keahlihan, keterampilan, bakat, minat dan kemampuan dengan memperhatikan harkat, martabat, hak asasi, dan perlindungan hukum.
(3) Penempatan tenaga kerja dilaksanakan dengan memperhatikan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan program nasional dan daerah.
Pasal (33): Penempatan kerja terdiri dari:
a. Penempatan tenaga kerja di dalam negeri; dan b. Penempatan tenaga kerja di luar negeri.
Berdasarkan undang-undang diatas bahwa buruh nyerep termasuk dalam kategori pekerjai illegal. Pekerja ilegal dapat sangat merugikan buruh itu sendiri karena tidak dapat
menuntut apa yang menjadi haknya atau apa yang terjadi pada dirinya pada saat bekerja. Pekerja illegal tidak dapat menuntut kenaikan upah sesuai dengan UMR. Buruh ilegal hanya menuruti yang diperintahkan oleh majikannya (karyawan).
2.4 Kondisi Kehidupan Sosial Ekonomi
Apabila dilihat dari arti kata kondisi sebenarnya adalah suatu keadaan dan arti kata sosial adalah sesuatu yang berkenaan dengan masyarakat, sedangkan arti kata ekonomi adalah ilmu mengenai azas-azas produksi, distribusi dan pemakaian barang-barang serta kekayaan seperti hal keuangan, perindustrian dan perdagangan (Astarhadi, 1995: 52).
Kondisi sosial ekonomi adalah kondisi kehidupan bersama manusia atau kesatuan manusia yang hidup dalam suatu pergaulan. Oleh karena itu kehidupan sosial ditandai dengan:
1. Adanya kehidupan bersama yang pada ukuran minimalnya berjumlah dua orang atau lebih.
2. Manusia tersebut bergaul (berhubungan) dan hidup bersama dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena mereka berhubungan dan bergaul cukup lama dan hidup bersama. 3. Adanya kesadaran bahwa mereka merupakan satu kesatuan.
4. Suatu kehidupan sistem bersama (Soleman, 1986: 9)
Dalam kehidupan sosial seperti yang dikemukakan diatas mengartikan bahwa adanya interaksi yang terjadi di dalam masyarakat. Adanya hubungan-hubungan sosial atau
hubungan yang saling mempengaruhi dengan kata lain terjadi interaksi sosial. Interaksi ini pertama sekali terjadi pada keluarga, dimana ada terjadi hubungan antara ayah, ibu dan anak. Dari adanya interaksi antara anggota keluarga maka akanmuncul hubungan dengan
masyarakat luar.
Pola hubungan interaksi ini tentu saja dipengaruhi lingkungan dimana masyarakat tersebut bertempat tinggal. Dalam masyarakat pedesaan kita ketahui interaksi yang terjadi
lebih erat dibanding dengan di perkotaan.Pada masyarakat yang hidup diperkotaan, hubungan interaksi biasanya lebih dieratkan oleh status, jabatan atau pekerjaan yang dimilki.Hal ini menyebabkan terjadinya stratifikasi sosial di dalam masyarakat. Pekerjaan yang bergengsi dan bergaji tinggi akan menaikan pretise seseorang. Sedangkan pekerjaan dengan gaji yang rendah tidak menjanjikan pretise, kehormatan, kerja yang menarik, kesempatan untuk maju, ataupun imbalan lainnya (Suparlan, 1984: 175).
Dalam kehidupan manusia mempunyai banyak kebutuhan dan sudah menjadi
keharusan baginya untuk memenuhi kebutuhan tersebut baik moral maupun material. Dalam memenuhi kebutuhannya, manusia tidak terlepas dari manusia lain sebagai akibat dari keberadaannya sebagai makhluk sosial yang membutuhkan orang lain. Dalam pemenuhan kebutuhan tersebut manusia juga saling berinteraksi satu sama lain, disamping sebagai makhluk pribadi.
Kehidupan sosial ekonomi adalah perilaku sosial dari masyarakat yang menyangkut interaksi dan perilaku ekonomi dari masyarakat yang berhubungan dengan pendapatan dan pemanfaatannya.Bila berbicara mengenai kehidupan sosial ekonomi berarti juga membahas tentang kebutuhan dan bagaimanan seseorang berusaha memenuhi kebutuhan tersebut, dan pemanfaatan hasil ekonomi yang diperoleh.Jadi kehidupan sosial ekonomi yang dimaksud adalah cara-cara atau strategi yang diterapkan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, serta pemanfaatan penghasilan atau hasil ekonomi yang diperoleh dan juga berbicara mengenai keadaan hidup sehari-hari.
Berhubungan dengan kehidupan sosial ekonomi yang didalamnya terdapat unsur kebutuhan dan pemenuhannya, Abraham Maslow mengelompokan 5 tingkat kebutuhan manusia, yaitu:
1. Kebutuhan dasar fisiologis/ kebutuhan fisik (Phisiological Needs) yang diperlukan untuk mempertahankan hidup seperti kebutuhan akan makanan, istirahat, udara segar, air, vitamin, dan sebagainya. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan primer.
2. Kebutuhan akan rasa aman (Safety Needs) ditujukan oleh anak dengan pemenuhan kebutuhan secara pasti, kontinu dan teratur. Anak mudah terganggu dengan situasi yang dirasakan sebagai situasi yang membahayakan, situasi yang kacau, tak menentu, ia mudah menarik diri dalam situasi asing baginya. Anak membutuhkan perlindungan yang memberikan rasa aman.
3. Kebutuhan untuk mencintai dan mencintai (Love Needs) merupakan dorongan atau keharusan baginya untukn mendapatkan tempat dalam suatu kelompok dimana ia memperoleh kehangatan perasaan dan hubungan dengan masyarakat lain secara umum.
4. Kebutuhan akan harga diri (Estem Needs) menuntut pengalam individu sebagai pribadi yang bernilai, sebagai manusia yang berarti dan memiliki martabat. Pemenuhan kebutuhan ini akan menimbulkan rasa percaya diri sendiri, menyadari kekuatan-kekuatannya, mersa dibutuhkan dan mempunyai arti bagi lingkungannya. 5. Kebutuhan akan aktualisasi diri (Self Actualization) memberikan dorongan kepada
setiap individu untuk mengembangkan atau mewujudkan seluruh potensi dalam dirinya. Dorongan ini merupakan dasar perjuangan setiap individu untuk merealisasikan dirinya, untuk menentuka dirinya/identitasnya, dan menjadi dirinya sendiri. Kebutuhan ini tumbuh secara wajar dalam diri setiap manusia.
Kebutuhan diatas yang harus dipenuhi oleh manusia demi kelangsungan hidupnya, mendorong manusia untuk bekerja sebagai upaya pemenuhan kebutuhan
hidupnya.Demikianlah konsenkuensi yang tidak dapat ditawar lagi. Manusia memang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, karena dengan demikian manusia akan mendapatkan hasil yang dapat digunakan demi kelangsungan hidupnya.
2.5 Hubungan Kerja
Menurut Hartono Widodo dan Judianto, hubungan kerja adalah kegiatan-kegiatan pengerahan tenaga/jasa seseorang secara teratur demi kepentingan orang lain yang memerintahnya (pengusaha/majikan) sesuai dengan perjanjian kerja yang telah disepakati.
Hubungan antara karyawan dan buruh nyerep adalah hubungan tetangga yang bertempat tinggal di Afdeling yang sama. Selain hubungan tetangga, mereka juga memiliki hubungan kerja antara karyawan dan buruh yang terjadi atas dasar hubungan yang saling membutuhkan dan menguntungkan, dimana karyawan membutuhkan buruh untuk menggantikan pekerjaan di perkebunan.Hubungan kerja yang dimaksud adalah hubungan antara karyawan dengan buruh
nyerep, terjadi setelah diadakan perjanjian oleh karyawan dengan buruh nyerep, dimana buruh nyerep menyatakan kesanggupan untuk bekerja menggantikan pekerjaan karyawan dengan menerima upah dan dimana karyawan menyatakan kesanggupannya untuk mempekerjakan buruh nyerep dengan membayar upah yang telah ditentukan.Perjanjian yang sedemikian itu disebut perjanjian kerja walaupun perjanjian itu tidak secara tertulis atau hanya dalam bentuk ucapan. Hubungan kerja pada dasarnya meliputi hal-hal mengenai:
1. Pembuatan perjanjian kerja (merupakan titik tolak adanya suatu hubungan kerja). 2. Kewajiban pekerja (yaitu melakukan pekerjaan, sekaligus merupakan hak dari
pengusaha atas pekerjaan tersebut).
3. Kewajiban pengusaha (yaitu membayar upah kepada pekerja, sekaligus merupakan hak dari si pekerja atas upah).
4. Berakhirnya hubungan kerja.
5. Cara penyelesaian perselisihan antar pihak-pihak yang bersangkutan.
Perjanjian kerja menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 1 angka 14 adalah suatu perjanjian antara pekerja dan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat- syarat kerja hak dan kewajiban kedua belah pihak. Perjanjian kerja pada dasarnya harus memuat pula ketentuan-ketentuan yang berkenaan dengan hubungan kerja itu, yaitu hak dan kewajiban buruh serta hak dan kewajiban majikan.
Sebagai bagian dari perjanjian pada umumnya, maka perjanjian kerja harus memenuhi syarat sahnya perjanjian sebagaimana diatur dalam pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Per). Ketentuan ini juga tertuang dalam pasal 52 ayat 1 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menyebutkan bahwa perjanjian kerja dibuat atas dasar:
3. Adanya pekerjaan yang dijanjikan
4. Pekerjaan yang dijanjikan tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kesepakatan kedua belah pihak yang lazim disebut kesepakatan bagi yang
mengikatkan dirinya maksudnya bahwa pihak-pihak yang mengadakan perjanjian kerja harus