4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Keberadaan dan Kondisi Fasilitas
5.3.1 Keberadaan dan kondisi fasilitas PPP Lampulo
Menurut Lubis et al. (2005), pengkategorian fasilitas yang didasarkan pada penelitian yang telah dilakukannya terdapat fasilitas vital, fasilitas penting, dan fasilitas pelengkap (Tabel 12) maka PPP Lampulo sebagai salah satu pelabuhan perikanan yang terbesar di NAD memiliki fasilitas-fasilitas yang cukup lengkap walaupun masih terdapat fasilitas yang perlu perbaikan dan yang belum ada.
1) Fasilitas vital
Menurut Lubis et al. (2005), kesembilan fasilitas pelabuhan perikanan yang bersifat vital yaitu dermaga pendaratan ikan dan muat, kolam pelabuhan, sistem rambu-rambu yang mengatur keluar masuknya kapal, tempat pelelengan ikan (TPI), pabrik es, tangki dan instalasi air, tempat penyediaan bahan bakar, bengkel reparasi kapal, dan kantor administrasi. Fasilitas-fasilitas vital tersebut merupakan fasilitas yang diperlukaan pada awal pembangunan pelabuhan perikanan. Fasilitas yang belum dimiliki PPP Lampulo yaitu sistem rambu-rambu yang mengatur keluar masuknya kapal. Fasilitas ini sebelum tsunami sudah ada tetapi pasca tsunami semenjak PPP Lampulo dibangun kembali fasilitas tersebut masih belum terealisasikan.
(1) Fasilitas dermaga pendaratan ikan
Dermaga pendaratan ikan merupakan fasilitas vital karena keberadaannya ditandai dengan banyaknya kapal-kapal yang merapatkan kapal dan melaksanakan bongkar hasil tangkapan. Di PPP Lampulo, kegiatan pembongkaran hasil tangkapan umumnya dilaksanakan oleh kapal-kapal ikan dengan alat tangkap
purse seine dan alat tangkap pancing disamping motor-motor tempel yang
digunakan oleh nelayan untuk mengangkut ikan hasil tangkapan ke pelabuhan (fishing base).
Bentuk dermaga di Pelabuhan Perikanan Pantai Lampulo dibangun sejajar dengan garis pantai (shore line) atau terletak pada alur Sungai Krueng Aceh. Panjang dermaga 83 m dan lebar 4 m yang berfungsi sebagai tempat bersandarnya kapal-kapal khususnya sebagai tempat membongkar ikan dan pengisian bahan perbekalan bagi kapal penangkapan ikan. Konstruksi dermaga Pelabuhan Perikanan Pantai Lampulo tidak dilengkapi dengan fender sehingga dapat terjadi
benturan dan gesekan ketika kapal merapat untuk melakukan pembongkaran ikan ataupun mengisi perbekalan untuk kembali melaut.
Sampai saat ini dermaga di Pelabuhan Perikanan Pantai Lampulo masih digunakan sebagaimana fungsinya namun sering terjadi antrian kapal yang akan mendaratkan hasil tangkapannya. Kapal yang mendaratkan hasil tangkapannya di PPP Lampulo sebanyak ± 30 unit kapal/hari sedangkan dermaga hanya dapat menampung sebanyak 10 unit kapal/hari.
Dengan keterbatasan kapasitas panjang dermaga, maka kapal-kapal yang mendarat di PPP Lampulo sering tertunda sekitar 1-3 jam apabila dermaga dalam kondisi penuh, sehingga kapal bersandar secara berlapis (Kandi, 2005). Kapasitas daya tampungnya yang terbatas mengakibatkan sebagian kapal-kapal ikan tidak mendaratkan ikan di dermaga PPP Lampulo, karena dikhawatirkan mutu ikan hasil tangkapan menurun yang akhirnya akan mengakibatkan penurunan harga jual ikan. Kapal-kapal yang tidak mendaratkan ikan di PPP Lampulo melakukan aktivitas pendaratan ikan di PPI Ulee-lheue yang letaknya sekitar ± 6 km dari PPP Lampulo.
Oleh karena itu, pihak PPP Lampulo berusaha untuk memperbaiki fasilitas dermaga yang ada sekarang. Hal ini dengan mempertimbangkan bahwa ketersediaan fasilitas yang memadai di PPP Lampulo dapat menjadi daya tarik bagi aktivitas kapal-kapal penangkapan ikan yang sebelumnya tidak melakukan pendaratan, agar dapat melakukan pendaratannya di PPP Lampulo.
Gambar 16 Kapal saat bersandar di dermaga PPP Lampulo
(2) Fasilitas kolam pelabuhan
Kolam pelabuhan adalah lokasi perairan tempat masuknya kapal yang akan bersandar di dermaga. Daerah perairan yang digunakan untuk kapal penangkapan ikan berlabuh merupakan fasilitas vital di suatu pelabuhan perikanan. Fasilitas kolam pelabuhan yang ada di PPP Lampulo berada di sepanjang Sungai Krueng Aceh.
Kolam pelabuhan di PPP Lampulo merupakan kolam pelabuhan yang memanfaatkan muara Sungai Krueng Aceh. Ketika dilihat di lapangan, kondisi kolam pelabuhan sudah dapat menampung kapal-kapal penangkap ikan yang melakukan aktivitas pendaratan dan pembongkaran ikan (Gambar 17).
(3) Fasilitas sistem rambu-rambu navigasi
Sistem rambu-rambu navigasi penting untuk menghindari tabrakan antar kapal nelayan atau petunjuk saat peralatan navigasinya rusak. Di PPP Lampulo, keberadaan sistem rambu-rambu navigasi belum ada. Hal ini disebabkan belum terealisasikan pasca tsunami.
(4) Tempat pelelangan ikan (TPI)
Tempat pelelangan ikan adalah tempat yang disediakan oleh pihak pelabuhan sebagai tempat dilakukannya pemasaran ikan hasil tangkapan yang dilakukan dengan sistem penjualan oleh “toke bangku”. TPI selain tempat terjadinya transaksi jual beli juga sebagai tempat kegiatan penyortiran ikan, penimbangan, dan pengepakan ikan yang terjual (Gambar 18)
Tempat pelelangan ikan di Pelabuhan Perikanan Pantai Lampulo mempunyai luas 480 m². Sebelum dan sesudah tsunami, di PPP Lampulo tidak pernah terjadi pelelangan. Hal ini dikarenakan bahwa hasil tangkapan yang didaratkan di PPP Lampulo telah mempunyai pemilik yaitu “toke bangku”. “Toke bangku” merupakan penyedia modal kerja melaut bagi para nelayan untuk mencari ikan di laut dan telah dipercayakan oleh nelayan untuk menjualkan hasil tangkapannya. “Toke bangku” juga yang menentukan harga pasar dan segmentasi pasar.
Dari hasil pengamatan di lapangan, aktivitas pendaratan yang dilakukan di TPI PPP Lampulo sebanyak 2 kali/hari, yaitu pada pagi hari pukul 06.00 dan menjelang malam atau sore hari pukul 18.00. Hal ini dikarenakan operasional penangkapan yang dilakukan one day fishing sehingga pendaratan ikan secara umum dilakukan pada pagi hari untuk kapal yang melakukan operasional malam hari dan didaratkan malam hari untuk kapal yang melakukan penangkapan pagi hari.
Semenjak dibangun pasca tsunami, kondisi bangunan TPI sekarang masih layak untuk digunakan tetapi dari segi tingkat kebersihan TPI yang masih kurang. Hal ini dapat dilihat dari kondisi lantai TPI yang kotor dan karena sering tergenang air mengakibatkan lantai TPI berlubang, saluran pembuangan yang penuh oleh sampah. Oleh karena itu, pihak UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) telah merencanakan untuk memperbaiki fasilitas TPI yaitu dengan melakukan pengecoran lantai pelataran TPI, perbaikan parit di sepanjang TPI, juga melakukan pengecetan dindingnya.
Kondisi TPI saat ini masih memenuhi kebutuhan para nelayan untuk melakukan transaksi, namun pada saat-saat tertentu seperti musim ikan terjadi antrian, sehingga terkesan TPI tidak dapat menampung aktivitas transaksi penjualan hasil tangkapan. Kurangnya luasnya TPI, mengakibatkan para nelayan mengambil alternatif penjualan hasil tangkapan dengan memanfaatkan pelataran dermaga sebagai tempat penjualan alternatif. Hal ini mengakibatkan terganggunya aktivitas di dermaga dalam pengangkutan hasil tangkapan dari kapal ke gedung TPI. Selain itu juga menyebabkan biaya operasional bertambah karena dilakukan penambahan es guna menjaga mutu ikan hasil tangkapan. Apabila terjadi antrian yang panjang biasanya para pedagang ikan membawa ikannya langsung ke pasar ikan yang jaraknya ± 1 km dari PPP Lampulo, atau dilakukan penyimpanan di gudang pengepakan.
Kurangnya kapasitas TPI adalah merupakan salah satu penyebab kurang tertariknya para nelayan untuk melakukan pendaratan ikan hasil tangkapan di PPP Lampulo, padahal pelabuhan ini merupakan pelabuhan terbesar yang saat ini dimilliki oleh Provinsi NAD.
(5) Fasilitas pabrik es a. Keberadaan pabrik es
Fasilitas mutlak lainnya yang ada di suatu pelabuhan perikanan yaitu pabrik es. Pabrik es berfungsi sebagai sarana penyediaan es untuk kebutuhan nelayan guna menjaga mutu hasil tangkapan. Pasca tsunami, pabrik es selesai dibangun kembali pada bulan Januari tahun 2005 oleh bantuan dari pihak Jepang.
Pasca tsunami pabrik es Pelabuhan Perikanan Pantai Lampulo selesai dibangun lagi pada tahun 2006, dengan masa operasional pabrik es yang telah berjalan selama ± 3 tahun hanya mampu memproduksi 9 ton/hari. Dengan kapasitas 9 ton/hari, pabrik es belum mencukupi kebutuhan es di PPP Lampulo sehingga es masih juga dipasok dari luar PPP Lampulo. Sementara jika dilihat dari produksi ikan yang dihasilkan di Perairan Banda Aceh dan Aceh Besar diperkirakan masih sangat mungkin untuk dikembangkan pabrik es di PPP Lampulo ini, karena masih terdapat peluang pemanfaatan stok sumberdaya perikanan laut, khususnya di perairan pesisir dan Perairan Samudera Hindia.
Hal lain yang timbul apabila produksi es didatangkan dari luar pelabuhan, maka akan memberatkan para nelayan dari sisi harga, diperkirakan harga es pasokan dari luar dengan berat 60 kg/batang adalah Rp22.000,00 sedangkan harga es yang diproduksi di PPP Lampulo sebesar Rp8.000,00 dengan berat 25 kg/batang.
(6) Fasilitas tangki dan instalasi air
Tangki dan instalasi air merupakan fasilitas yang harus dimiliki oleh pelabuhan perikanan. Ketidaktersediaan tangki dan instalasi air dapat menghambat peran dan aktivitas di pelabuhan perikanan. Fungsi air tawar di pelabuhan perikanan adalah sebagai bahan perbekalan dalam aktivitas operasional penangkapan ikan, pabrik es, air minum, dan untuk pembersihan hasil tangkapan juga fasilitas yang tersedia.
Gambar 20 Es pesanan nelayan yang didatangkan dari luar PPP Lampulo
Di pelabuhan perikanan, banyaknya air tawar yang dibutuhkan ditentukan oleh kebutuhan kapal penangkapan ikan, yang termasuk sebagai kebutuhan pokok nelayan dalam melakukan operasi penangkapan ikan, penanganan hasil tangkapan, dan aktivitas lainnya di pelabuhan perikanan seperti membersihkan dan kebutuhan aktivitas harian.
Fasilitas tangki dan instalasi air yang tersedia di PPP Lampulo dapat menam pung air sebanyak 2000 liter/hari. Tangki dan instalasi air yang dibangun pasca tsunami masih dalam kondisi layak pakai. Hal ini terlihat masih dapat digunakan oleh nelayan dan warga sekitar yang memiliki warung di PPP Lampulo. Namun demikian para nelayan sering juga menggunakan air dari Sungai Krueng Aceh untuk pencucian fasilitas seperti pelataran dermaga dan lantai TPI.
(7) Fasilitas tempat penyediaan bahan bakar
Tempat penyediaan bahan bakar di pelabuhan perikanan sangat membantu nelayan dalam proses pengoperasian penangkapan ikan. Kapasitas penggunaan bahan bakar minyak (solar) disesuaikan dengan kebutuhan kapal yang memanfaatkannya dan jarak fishing ground.
Di PPP Lampulo sudah terdapat SPBN (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan) dengan kapasitas 10 ton yang berdiri sejak 3 bulan sebelum tsunami. Pasca tsunami, SPBN ini dibangun kembali dan biasanya menjual ± 5.000 liter/hari solar hanya kepada nelayan saja. SPBN ini berada dalam kondisi yang masih layak pakai (Gambar 22).
Gambar 21 Tangki dan Instalasi air (a) Di dalam pagar TPI (b) Di samping bengkel reparasi kapal
Pelaksana penyaluran BBM solar adalah pihak investor swasta yang menyalurkan BBM solar langsung kepada para nelayan dengan sistem pembayaran tunai. Hal ini untuk menghindari adanya peningkatan nilai jual BBM solar jika penyalurannya melalui pedagang eceran.
(8) Fasilitas bengkel reparasi kapal
Bengkel reparasi kapal di PPP Lampulo yang selesai dibangun pada tahun 2005 oleh bantuan dari pihak Jepang sangat membantu pihak nelayan terutama dalam memperbaiki mesin kapal yang mengalami kerusakan.
Bengkel reparasi kapal di PPP Lampulo yang dibangun pasca tsunami memiliki luas 12 x 18 m². Kondisi bengkel yang sudah melampaui kapasitas sehingga pihak pelabuhan perlu memperluas bengkel tersebut agar aktivitas yang ada dapat berjalan lancar.
Gambar 22 Tempat penyediaan bahan bakar yang dikelola oleh pihak swasta
(9) Fasilitas kantor administrasi
PPP Lampulo memiliki 2 (dua) kantor administrasi yaitu kantor administrasi 1 terletak di samping gedung kantor UPTD LPPMHP (Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan). Kantor administrasi ini memiliki luas 216 m² dan terdiri dari ruangan kepala PPP Lampulo, ruang tata usaha, ruang teknis, ruang satker pengawasan Lampulo. Kantor administrasi 2 menyambung dengan tempat pelelangan ikan. Kantor ini bergabung dengan kantor kesyahbandaran dan memiliki luas 64 m².
Kantor administrasi dapat menampung aktivitas administrasi yang ada tetapi perlu perbaikan dan penambahan luasnya. Hal ini sudah direncanakan oleh pihak UPTD untuk merealisasikannya. Kantor yang ada sekarang terutama yang menyambung dengan tempat pelelangan ikan akan diperlukan karena terkadang tidak dapat menampung aktivitas yang ada.
2) Fasilitas penting
Merupakan fasilitas yang jelas diperlukan agar pelabuhan perikanan (PP) dan pangkalan pendaratan ikan (PPI) dapat berfungsi dengan baik, namun realisasinya dapat ditunda (Lubis et al., 2005). Fasilitas penting tersebut yaitu generator listrik, kantor kepala pelabuhan, tempat parkir, pos penghubung radio (SSB), dan ruang pengepakan. PPP Lampulo memiliki kelima fasilitas penting tersebut.
(1) Fasilitas generator listrik
PPP Lampulo memiliki 6 (enam) unit generator listrik dengan masing-masing kekuatan tiap unit yaitu 150 KVA. Keenam generator listrik ini dalam kondisi layak pakai yang sangat mendukung aktivitas pelabuhan perikanan.
(2) Fasilitas kantor kepala pelabuhan
Kantor kepala pelabuhan PPP Lampulo memiliki luas 40 m² yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas antara lain komputer yang dapat mendukung aktivitas kerja kepelabuhanan (Gambar 25). Kantor ini merupakan bagian dari kantor administrasi 1.
Kondisi kantor ini masih layak pakai sehingga aktivitas yang dilakukan oleh kepala pelabuhan dapat berjalan dengan lancar.
(3) Fasilitas tempat parkir
Fasilitas penting yang ada di pelabuhan perikanan yaitu tempat parkir. Tempat parkir diperlukan untuk memperlancar aktivitas keluar masuknya kendaraan. Tempat parkir juga digunakan untuk pengepakan hasil tangkapan, kunjungan masyarakat yang ingin membeli hasil tangkapan, dan pemasokan bahan-bahan keperluan operasional di pelabuhan perikanan. Kegiatan di tempat parkir perlu diatur dan ditata dengan baik, agar tidak menimbulkan kesemerawutan yang mengakibatkan terhambatnya laju kendaraan. Tempat parkir perlu ditata berdasarkan kegiatannya. Tempat parkir untuk kegiatan pemasukan hasil tangkapan harus terpisah dengan tempat parkir masyarakat yang datang hanya untuk berkunjung atau membeli ikan agar tidak terjadi kesemerawutan.
Tempat parkir di kawasan PPP Lampulo yang tersedia adalah 7500 m². Terdapat dua posisi tempat parkir di PPP Lampulo yaitu di dalam pagar TPI (Gambar 26a) dan di luar pagar TPI (Gambar 26b).
Walaupun telah dilakukan penataan tempat parkir, namun masih terlihat kesemerawutan. Hal ini umumnya dipicu dari tidak adanya petugas khusus yang menangani masalah parkir sehingga masyarakat kurang mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan. Sisi lain karena terjadinya peningkatan aktivitas dan banyaknya pengunjung di areal PPP Lampulo walaupun tidak secara terus menerus. Apabila terjadi peningkatan aktivitas dan pengunjung, tempat parkir yang tersedia tidak dapat menampung banyaknya kendaraan yang ada sehingga pihak pelabuhan harus memberi perhatian yang khusus untuk masalah ini.
(4) Fasilitas pos penghubung radio (SSB)
Guna menunjang kelancaran arus informasi dari dan ke pelabuhan perikanan digunakan sarana komunikasi SSB (single side band) yang dapat berhubungan baik dengan stasiun radio SSB di Satker Pengawasan PPP Lampulo juga dengan kapal-kapal yang membutuhkan. Di PPP Lampulo hanya satu unit pos penghubung radio (SSB). SSB ini dapat digunakan oleh pihak Satker pengawasan Lampulo. Kondisi pos penghubung radio (SSB) masih layak pakai (Gambar 27).
Gambar 26 (a) Tempat parkir di dalam pagar TPI (b) Tempat parkir di luar pagar TPI.
(5) Fasilitas ruang pengepakan
Ruang pengepakan merupakan fasilitas penting yang diperuntukkan bagi nelayan untuk melakukan pengepakan ikan yang akan dipasarkan baik pasar lokal maupun luar daerah atau untuk melakukan penyimpanan sebelum ikan dipasarkan.
Ruang pengepakan yang terdapat di PPP Lampulo sebanyak 14 unit yang masing-masing memiliki luas 180 m² (9 x 20). Ruang pengepakan yang dikelola oleh Perum PPS Cabang Lampulo ini disewakan kepada para pedagang ikan besar (toke). Besarnya sewa yang ditetapkan oleh pihak Perum PPS Cabang Lampulo yaitu Rp5.400.000,00/tahun.
3) Fasilitas pelengkap
Menurut Lubis et al. (2005), fasilitas pelengkap adalah fasilitas yang diperlukan agar pelabuhan perikanan dapat berfungsi dengan baik tetapi pengadaannya baru pada pengembangan pelabuhan tahap ketiga. Fasilitas ini
Gambar 27 Pos Penghubung Radio (SSB)
terdiri dari dermaga muat terpisah, slipway, ruang pertemuan, toilet, pos penjagaan, balai pertemuan nelayan, rumah dinas, mushola, mobil dinas, dan motor dinas. Dari kesepuluh fasilitas pelengkap ini, PPP Lampulo tidak memiliki dermaga muat terpisah, slipway, rumah dinas, dan mobil dinas.
(1) Fasilitas dermaga muat terpisah
Fasilitas ini belum terdapat di PPP Lampulo. Fasilitas ini masih dalam tahap realisasi oleh pihak pelabuhan.
(2) Fasilitas slipway
Fasilitas slipway yang dipergunakan untuk memperbaiki lunas kapal-kapal yang rusak. Selain itu, slipway juga digunakan untuk pemeliharaan kapal seperti seperti pengecatan dan pembersihan teritip dari dinding luar kapal (Gambar 29).
Saat ini terdapat hanya satu buah slipway yang dalam kondisi masih dapat digunakan. Slipway ini baru dapat beraktifitas kembali pasca tsunami dan baru berjalan 3 bulan sejak Januari 2009.
(3) Fasilitas ruang pertemuan
PPP Lampulo memiliki ruang pertemuan dengan luas 70 m² (Gambar 30). Ruang pertemuan ini digunakan ketika ada acara pertemuan yang diadakan oleh pihak PPP Lampulo baik itu dengan pihak nelayan maupun dengan instansi terkait.
Kondisi ruangan ini masih layak pakai dengan kapasitas yang dapat menampung ± 50 orang. Tetapi jika ada acara dan pertemuan yang melibatkan
massa yang besar maka pihak PPP Lampulo menggunakan balai pertemuan nelayan yang letaknya tidak jauh dari UPTD Lampulo.
(4) Fasilitas toilet
Di PPP Lampulo terdapat enam toilet dengan tiga toilet untuk laki-laki dan tiga toilet untuk perempuan. Toilet ini memiliki luas 63 m² dan terletak di dalam kawasan tempat pelelangan ikan (TPI). Ratio jumlah toilet dan jumlah pemakai yang meliputi nelayan serta para pengguna jasa fasilitas di pelabuhan perikanan dirasakan belum memadai sehingga perlu ditambah jumlahnya.
Kondisi toilet di PPP Lampulo saat ini sudah tidak layak pakai lagi (Gambar 31). Hal ini dikarenakan tidak ada petugas yang membersihkan toilet tersebut. Selain itu, pihak nelayan yang menggunakan toilet tersebut masih kurang kesadaran untuk menjaga kebersihannya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Oleh karena itu, pihak UPTD telah merencakan untuk memperbaiki fasilitas toilet.
Gambar 30 Ruang pertemuan
(5) Fasilitas pos penjagaan
Pos penjagaan di PPP Lampulo terdapat di dua tempat. Pos penjagaan 1 terletak di pintu masuk gerbang PPP Lampulo sedangkan pos penjagaan kedua terletak di jalan belakang PPP Lampulo. Pos penjagaan yang ada ini memiliki luas 45 m² (Gambar 32).
Tarif yang dikenakan untuk parkir di PPP Lampulo berbeda untuk setiap jenis kendaraan. Pemuda desa setempat yang bertugas menarik tarif masuk juga memiliki tanggung jawab lain yaitu menjaga keamanan di kawasan PPP Lampulo dengan bekerjasama dengan pihak satpol di PPP Lampulo.
Kedua pos penjagaan ini berada dalam kondisi yang masih layak tetapi hanya perlu perbaikan sedikit dan penambahan fasilitas pendukungnya yaitu kursi untuk tempat duduk para pemuda.
(6) Fasilitas balai pertemuan nelayan
Berbeda dengan fasilitas lain yang ada di PPP Lampulo yang dimiliki oleh pihak UPTD dan pihak Perum, maka balai pertemuan nelayan ini dimiliki oleh “Panglima Laôt”. Balai pertemuan nelayan ini digunakan oleh “Panglima Laôt” untuk mengumpulkan seluruh nelayan yang ada di Lampulo ketika untuk rapat dan mengadakan berbagai acara.
“Panglima Laôt” merupakan sebuah nama lembaga juga gelar atau jabatan dari seorang nelayan yang dituakan dan memimpin lembaga ini (Anonim, 2008). “Panglima Laôt” berfungsi dan bertugas sebagai pembantu pemerintah dalam membantu pembangunan perikanan, melestarikan adat istiadat, dan
kebiasaan dalam masyarakat nelayan. Struktur organisasi “Panglima Laôt” terdiri dari tiga tingkatan yaitu “Panglima Laôt Lhôk”, “Panglima Laôt Kabupaten/Kota”, dan “Panglima Laôt Provinsi”. Tingkatan “Panglima Laôt” tersebut masing-masing memiliki struktur yang bebeda. “Panglima Laôt Lhôk” menyelesaikan sengketa antar nelayan di wilayah kerjanya. “Panglima Laôt Kabupaten/Kota” melaksanakan penyelesaian sengketa antar nelayan dari dua atau lebih “Panglima Laôt Lhôk” yang tidak dapat diselesaikan oleh “Panglima Laôt Lhôk” yang bersangkutan serta mengatur jadwal “kenduri adat Lhôk” sehingga tidak terjadi “kenduri” yang dilaksanakan pada hari yang sama dalam
Kabupaten/Kota. Sementara “Panglima Laôt Provinsi” mengkoordinir
pelaksanaan “Hukôm Adat Laôt” NAD dan menjembatani serta mengurus kepentingan-kepentingan nelayan di tingkat provinsi (Djuned, 1992).
Dalam menjalankan fungsinya “Panglima Laôt” memiliki tugas antara lain : 1) Memelihara dan mengawasi ketentuan-ketentuan Hukôm Adat dan Adat Laôt; 2) Mengkoordinasikan dan mengawasi setiap usaha penangkapan ikan di laut; 3) Menyelesaikan perselisihan/sengketa yang terjadi diantara sesama anggota
nelayan atau kelompoknya;
4) Mengurus dan menyelenggarakan upacara Adat Laôt;
5) Menjaga/mengawasi agar pohon-pohon di tepi pantai jangan ditebang, karena ikan akan menjauh ke tengah laut (perlu disesuaikan dengan kondisi dan situasi daerah setempat);
6) Merupakan badan penghubung antara nelayan dengan pemerintah dan Panglima Laôt dengan Panglima Laôt lainnya; dan
7) Meningkatkan taraf hidup nelayan pesisir pantai.
Tanggung jawab para “Panglima Laôt” juga termasuk dalam hal menentukan letak parkir kapal di sungai, mengadili perselisihan-perselisihan, menentukan besarnya kerugian saat sebuah kapal nelayan merusak atau menyebabkan kerugian terhadap kapal nelayan lainnya, mengkomunikasikan perubahan-perubahan dalam kebijakan penangkapan ikan, serta mengatur upaya-upaya penyelamatan dan menjaga ketentuan-ketentuan umum. “Panglima Laôt” memiliki otoritas dan kewenangan untuk memberikan larangan melaut selama satu minggu bagi setiap pelanggaran peraturan/hukum yang dilakukan oleh seorang nelayan. Bila nelayan
tersebut tetap melanggar peraturan/hukum tersebut, maka “Panglima Laôt” dapat mengeluarkan nelayan tersebut dari keanggotaan Lembaga “Panglima Laôt”.
Balai pertemuan nelayan ini memiliki luas 576 m² dan terdiri dari dua lantai. Lantai pertama digunakan untuk pendataan nelayan dan lantai kedua merupakan