Keberadaan Hak Komunal Dalam Sistem Hukum

Dalam dokumen Analisis Yuridis Hak Komunal Dalam Perlindungan Hak Cipta di Indonesia (Halaman 61-67)

BAB II KEBERADAAN HAK KOMUNAL DALAM SISTEM HUKUM

B. Keberadaan Hak Komunal Dalam Sistem Hukum

Menurut Subekti, sistem adalah suatu susunan atau tatanan yang teratur, suatu keseluruhan yang terdiri atas bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain, tersusun menurut suatu rencana atau pola, hasil dari suatu penulisan untuk mencapai sesuatu tujuan.10

Menurut Sudikno Mertokusumo, sistem adalah tatanan atau kesatuan yang utuh yang terdiri dari bagian bagian atau unsur-unsur yang berkaitan erat satu sama lain yaitu kaedah dan pernyataan tentang apa yang seharusnya sehingga sistem hukum merupakan sistem normatif. Dengan kata lain sistem hukum adalah kumpulan unsur-unsur yang ada dalam interaksi satu sama lain yang merupakan satu kesatuan yang terorganisasi dan kerjasama ke arah tujuan kesatuan.11 Sistem

hukum merupakan kesatuan peraturan, penetapan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor kebudayaan, sosial, ekonomi, sejarah, dan sebagainya.

Menurut L. M. Friedman12, sistem hukum adalah suatu sistem yang

meliputi substansi, hukum, dan budaya hukum. Substansi adalah aturan, norma dan pola prilaku manusia yang berada dalam sistem. Struktur adalah institusionalisasai ke dalam empitas-empitas hukum seperti struktur pengadilan tingkat pertama, pengadilan tingkat banding, tingkat kasasi, dan jumlah hukum. Budaya hukum adalah bagian dari kultur pada umumnya, kebiasaan-kebiasaan, opini masyarakat, dan pelaksanaan cara-cara bertindak dan berpikir.

10

Bernhard limbong, Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan, Redulasi, Kompensasi Penegakan Hukum,(Jakarta: CV Ravi Maju Mandiri, 2011), hlm. 57.

11

Sudikno Mertokusumo,Penemuan Hukum,(Yogyakarta: Liberty, 2009), hlm. 18. 12

Pengertian Hukum Sistem Hukum Tujuan Hukum, http://innocent- paparazzi.blogspot.com/2011/04.html (di akses tanggal 6 Januari 2014).

Dalam kehidupan masyarakat adat di Indonesia selalu terdapat berbagai macam aturan-aturan kebiasaan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi tata cara masyarakat berperilaku atau bertindak.13 Menurut

Koentjaraningrat, bahwa sistem nilai budaya merupakan tingkat paling abstrak adat, suatu sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang mereka anggap bernilai dalam kehidupan. Karena itu, sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi perilaku manusua.14

Berdasarkan uraian-uraian yang dikemukakan diatas, maka hukum merupakan suatu sistem, artinya hukum itu merupakan suatu keseluruhan yang terdiri atas beberapa bagian (sub-sistem) dan antara bagian-bagian itu saling berhubungan dan tidak boleh bertentangan satu sama lainnya. Jadi, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa sistem perundang-undangan yang berlaku di Indonesia berpedoman pada UUD 1945 sebagai groundnorm yang di dalamnya mengandung falsafah negara yaitu Pancasila yang mencerminkan adanya etika, sosiologi, danculture.

Dengan demikian sistem hukum di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh sosiologi, etika dan budaya bangsa Indonesia itu sendiri dalam arti hukum di Indonesia tidak tertutup hanya sebatas hukum itu saja. Hukum di Indonesia berasal dari sistem hukum Eropa, hukum agama, dan hukum adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana berasal pada

13

Maria Farida Indrati Soprapto, Ilmu Perundang-undangan Dasar-dasar dan Pembentukannya, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1998), hlm.. 7.

14

Koentjaraningrat, Kebudayaan: Mentalitas dan Pembngunan, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. 25.

hukum Eropa, khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia-Belanda (Nederlandsch- Indie). Diberlakukannya sistem hukum adat yang diserap dalam perundang- undangan atau yurisprudensi, yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah nusantara.15

Sejarah keberadaan hukum di Indonesia, hukum adat atau hukum yang tidak tertulis diakui keberadaanya sebagai sarana interaksi dalam mengaatur pola hubungan masyarakat.16 Sistem hukum adat pada umumnya bersumber dari

peraturan-peraturan hukum tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang serta dipertahankan berdasarkan kesadaran hukum masyarakatnya.

Adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia yang merupakan hukum asli bangsa Indonesia bersumber dari peraturan-peraturan hukum tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakat yang sifatnya adaptif dan flesibel.17

Keterkaitan hak komunal dalam hukum adat dikarenakan sifat hukum adat adalah sebagai berikut :

1. Tradisional dengan berpangkal pada kehendak nenek moyangnya atau telah disampaikan secara turun-temurun.

2. Berubah-ubah karena pengaruh kejadian dan keadaan sosial yang silih berganti.

15

Hukum adat di Indonesia, http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_di_Indonesia, (diakses tanggal 6 Januari 2014)

16

Tim Pendastaren Tarigan dan Arif, (ed.) Spirit Hukum (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada), hlm.. 1

17

3. Karena sumbernya tidak tertulis, hukum adat tidak kaku dan mudah menyesuaikan diri.

Dalam hukum pertanahan yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria di Indonesia (selanjutnya disebut dengan UUPA) keterkaitannya dengan hak komunal dikarenakan bahwa sebelum lahirnya UUPA di Indonesia setelah Indonesia merdeka terdapat dualisme sistem hukum tanah yang berlaku, yaitu :

1. Hukum Tanah Barat, diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) yang berasal dari Code Civil Prancis, yang bersifat kapital individualistik.

2. Sistem Hukum Tanah Adat, yang berdasarkan pada prinsip-prinsip hukum penduduk asli bangsa Indonesia dimana sistem ini mempunyai ciri khusus yang bersifat kemasyarakatan.18

Hukum adat adalah merupakan sebagai dasar lahirnya UUPA di Indonesia karena hukum tanah adat yang murni yang bersifat komunalistik yang mewujudkan semangat gotong-royong dan kekeluargaan yang diliputi suasana religius. Tanah merupakan tanah bersama kelompok teritirial atau genealogik. Hak-hak perseorangan secara langsung atau tidak langsung bersumber pada hak bersama. Oleh karena itu biarpun sifatnya pribadi dalam arti penggunaannya untuk kepentingan pribadi dan keluarga, tetapi berbeda dengan hak-hak dalam

18

Zaidar, Dasar Filosofi Hukum Agraria Indonesia, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2006), hlm. 13.

Hukum Tanah Barat, sejak berakhirnya sekaligus dalam dirinya sudah terkandung unsur kebersamaan.19

Sifat komunalistik menunjukkan kepada hak bersama para anggota masyarakat hukum adat atas tanah, yang dalam keputusan hukum adat disebut dengan Hak Ulayat. Tanah Ulayat merupakan tanah kepunyaan bersama yang diyakini sebagai karunia Tuhan.20

Berdasarkan alinea IV Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, salah satu tujuan negara ialah untuk memajukan kesejahteraan umum, untuk mewujudkan kesejahteraan umum UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan kepada Negara untuk mengusai seluruh sumber daya alam, yang secara jelas di sebutkan dalam Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Bumi, air dan kekayaan alam yang

terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya

untuk kemakmuran rakyat”. Maka, negara dalam penguasaan dan/atau kewenangan yang di miliki oleh negara dalam mengelola sumber daya alam harus memenuhi keinginan seluruh rakyat Indonesia.

Sebagaimana yang dimaksud Pasal 1 angka 23 pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, bahwa Masyarakat hukum adat adalah kelompok masyarakat yang secara turun temurun bermukim di wilayah geografis tertentu karena adanya ikatan pada asal usul leluhur, adanya hubungan yang kuat dengan lingkungan hidup, serta adanya sistem nilai yang menentukan pranata ekonomi, politik, sosial dan hukum.

19

Ibid,hlm.. 23 20

Perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam dan memelihara daya dukungnya agar bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dari generasi ke generasi.

Berdasarkan Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (selanjutnya disebut dengan UU Hak Cipta), bahwa UU Hak Cipta adalah merupakan Undang-Undang yang lahir karena adanya Pengesahan Agreement Establishing the World Trade Organization (Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia), yakni Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1994. Berdasarkan hal tersebut, mengharuskan negara Indonesia untuk meratifikasi 7 (tujuh) peraturan-peraturan yang berkaitan dengan HKI diantara salah satunya ialah UU Hak Cipta.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing the World Trade Organization adalah merupakan suatu peraturan yang lahir karena adanya dari persetujuanTRIP’syang dikelola oleh World Trade Organization (WTO), yang mana dalam persetujuan TRIP’stersebut pengaturan- pengaturan terhadap HKI di Indonesia tidak berdasarkan dengan budaya-budaya hukum masyarakat yang komunal di Indonesia akan tetapi lebih lebih menekankan watak individualis dan komersial/kapitalis yang merupakan prinsip hukum yang berasal negara barat atau negara-negara maju.

Pengaturan HKI di Indonesia tidak berasal dari budaya hukum dan sistem hukum nasional Indonesia yang menekankan pada hak komunal, akan tetapi lebih cenderung mengarah pada pengaturan hukum HKI berasal dari negara barat yang

bersifat individual dan monopoli yakni mengejar keuntungan ekonomi terhadap dari suatu hasil HKI.

Terkait mengenai hak komunal dalam berdasarkan uraian-uraian yang diatas dalam UU Hak Cipta, masyarakat adat Indonesia tidak menganggap hasil suatu pengetahuan tradisional yang bersifat komunal sebagai miliknya sebagai individu akan tetapi milik bersama yaitu dimiliki oleh keluarga atau masyarakat adatnya.

Ketentuan hukum yang berasal dari negara maju, semuanya tidak dapat diterapkan di negara sedang berkembang. Indonesia misalnya, karena adanya perbedaan sistem kultur, budaya, politik, hukum, dan pengaturan yang sama belum tentu dapat menjamin dan memberikan hasil yang sama dengan hasil yang diperoleh dari negara maju tersebut, dan aturan dari negara maju belum tentu dapat diterapkan begitu saja di semua lini negara, masyarakat dan bangsa di suatu tempat.

Dalam dokumen Analisis Yuridis Hak Komunal Dalam Perlindungan Hak Cipta di Indonesia (Halaman 61-67)