• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan

4.3 Efektivitas Program Peningkatan Gizi Bayi dan Balita

4.3.1 Keberhasilan Program

melaksanakan peninjauan secara langsung ke lapangan kasus gizi buruk dan gizi kurang di posyandu maupun di kelurahan desa binjai, dengan rangkain kegiatan tersebut maka setiap penderita gizi buruk maupun gizi kurang khususnya bayi dan balita akan mendapatkan penyuluhan serta diberikan bantuan makanan tambahan.

Dalam pembahasan ini peneliti menggunakan teori Efektivitas yang dikemukakan oleh Campbell J.P dimana efektivitas didefinisikan sebagaimana program secara menyeluruh baik dari segi tujuan, sarana dan prasarana, kepuasan objek program, serta bagaimana perbandingan antara masukan dan hasil dari sebuah pelaksanaan program. Dimana sebuah program dapat dikatakan efektif apabila memenuhi beberapa variabel yang terkait dengan efektivitas yaitu, keberhasilan program, keberhasilan sasaran, kepuasan terhadap program, tingkat input dan output, serta pencapaian tujuan secara menyeluruh. Kelima kriteria tersebut akan dipaparkan sebagai berikut:

4.3.1 Keberhasilan Program Peningkatan Gizi Bayi dan Balita pada Puskesmas Desa Binjai

Sebagai bentuk keberadaan program gizi bayi dan balita memiliki tujuan yang hendak dicapai melalui pelaksanaan program tersebut. Yang menjadi tujuan utama dilaksanakannya program peningkatan gizi bayi dan balita ialah untuk meningkatkan status gizi masyarakat khususnya bayi dan balita, serta mengurangi jumlah penderita gizi buruk pada bayi dan balita di lingkungan administratif Puskesmas Desa Binjai.

Berdasarkan hasil wawancara bersama Petugas Gizi Puskesmas Desa Binjai menyatakan bahwa:

“Program dilakukan tentu memiliki tujuan yang hendak dicapai sebagai acuan dalam bertindak, yang menjadi tujuan dari dilaksanakannya program tersebut tentu adalah untuk meningkatkan status gizi bayi dan balita serta mengurangi gizi buruk (gibur) dengan maksud untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Karena kesuksesan pelaksanaan program tersebut akan sangat-sangat mempengaruhi masa depan bangsa dan Negara. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi kesehatan Indonesia semakin hari semakin baik.” (wawancara dengan ibu Rosnelli, Petugas Gizi Puskesmas Desa Binjai, pada hari selasa 30 april 2019, pukul 10.00 WIB)

Program yang visi utamanya adalah meningkatkan kualitas manusia yang dimana usaha yang dilakukan dimulai sejak usia dini tersebut telah menjadi salah satu prioritas kinerja pemerintah, dimana faktanya adalah pemaksimalan sistem pendidikan tidak akan berjalan dengan baik apabila kondisi kesehatan sebagai kebutuhan dasar manusia belum terpenuhi. Dalam hal ini masyarakat Desa Binjai mengetahui dan sangat mendukung program yang sesuai dengan hasil wawancara bersama Masyarakat sebagai penerima program di Gizi Puskesmas Desa Binjai menyatakan bahwa:

“Program peningkatan gizi bayi dan balita tentu punya tujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan terutama gizi pada bayi dan balita, juga mengurangi tingkat gizi buruk pada anak. Program yang sangat merakyat dan melayani sesuai dengan kebutuhan terutama keluarga seperti kami, kondisi anak yang berat badan tidak sesuai dengan tinggi badan dan umur yang seharusnya, program ini benar-benar membantu masyarakat kecil.”(wawancara dengan ibu Nurhayati, masyarakat penerima pelayanan kesehatan gizi buruk dan gizi kurang puskesmas desa binjai, pada hari jumat 24 Mei 2019, pukul 14.30 WIB)

Program ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dimana setiap individu berhak mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan

rancangan program. Sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh masyarakat bahwa program memberikan bantuan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sorang anak yang kekurangan gizi, baik dari informasi yang sampai kepada masyarakat, pelayanan kesehatan yang diterima hingga mendapatkan bantuan berupa makanan tambahan dan susu.

Dalam hal ini Puskesmas Desa Binjai merupakan salah satu implementor dari program peningkatan gizi bayi dan balita di wilayah Kelurahan Binjai, memiliki hak dan kewajiban dalam pelaksanaan program tersebut. Sebagai implementor puskesmas melaksanakan pelayanan gizi dalam hal ini adalah bayi dan balita yang termasuk dalam kelompok rawan gizi.

Dalam pembahasan ini tentu menyangkut tentang mekanisme dari pelaksanaan program peningkatan gizi bayi dan balita di wilayah kerja Puskesmas Desa Binjai, dimana terdapat beberapa program yang dilaksanakan oleh puskesmas untuk menanggulangi permasalahan gizi yang terjadi mencakup beberapa kegiatan yaitu:

I. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)

Pos pelayanan terpadu atau yang biasa disebut posyandu adalah langkah paling awal seorang anak mendapatkan pelayanan kesehatan setelah lahir dan mendapat perawatan langsung dari seorang ibu. Posyandu membantu menemukan tolak ukur kesehatan seorang anak dengan melaksankan kegiatan-kegiatan rutin.

Posyandu sebagai bentuk pelayanan paling dasar bagi ibu dan bayi ada dan sangat mudah ditemukan di setiap lingkungan masyarakat.

Pos pelayanan terpadu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi (Depkes : 2011).

Sasaran utama pelayanan posyandu adalah kelompok-kelompok rentan yakni ibu hamil, ibu menyusui bayi dan balita. Oleh sebab itu pelayanan posyandu mencakup pelayanan-pelayanan: kesehatan ibu dan anak, imunisasi, gizi, penanggulangan diare dan keluarga berencana. Tujuan dikembangkan posyandu sejalan dengan tujuan pembangunan kesehatan (Depkes : 2009).

Posyandu memberikan kesempatan pada setiap bayi dan balita mendapatkan pelayanan kesehatan dasar secara rutin setiap bulannya, yang dimana rutinitas tersebut diantaranya adalah penimbangan bayi dan balita, pemantauan perkembangan dan pertumbuhan serta pertambahan berat badan bayi dan balita.

Melalui posyandu, data ataupun informasi seorang anak dengan keadaan gizi kurang atau gizi buruk dapat diterima oleh puskesmas agar dapat dengan cepat ditanggapi dan ditanggulangi dengan tepat. Posyandu memiliki fungsi sebagai langkah awal ataupun lokasi terdekat yang dapat di jangkau oleh masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terhadap bayi dan balita.

Berdasarkan hasil wawancara bersama Petugas Gizi Puskesmas Desa Binjai menyatakan bahwa:

“Puskesmas sangat terbantu dengan keberadaan posyandu, ada 22 posyandu di wilayah administratif Puskesmas Desa Binjai. Salah satu sumber informasi yang valid menyangkut kondisi gizi bayi dan balita berasal dari posyandu yang tersebar. Dikatakan begitu karena memang setiap bulannya posyandu memiliki jadwal untuk melaksanakan pemeriksaan, semua keluarga yang memiliki bayi dan balita akan datang untuk memeriksakan kondisi kesehatan bayi dan balita tersebut. Meski tidak semua masyarakat sadar untuk datang setiap bulan ke posyandu terdekat, maka dari itu dilaksanakan lah program lain selain posyandu” (wawancara dengan ibu Rosnelli,

Petugas Gizi Puskesmas Desa Binjai, pada hari selasa 30 april 2019, pukul 10.00 WIB)

Dari hasil wawancara tersebut diatas, berhubungan dengan diadakannya posyandu setiap bulan memberikan dampak yang sangat positif terhadap perkembangan informasi kesehatan terlebih kondisi gizi pada bayi dan balita.

Adapun proses yang dilalui seorang yang mengalami gizi buruk atau gizi kurang agar mendapat penanggulangan yang efektif adalah sebagai berikut:

1. Peserta posyandu setiap bulannya akan mendapat pelayanan kesehatan seperti penimbangan bayi, pemberian vaksin, dan pada saat itu pula posyandu dapat menemukan adanya indikasi bayi dan balita yang mengalami gizi buruk ataupun gizi kurang. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap bulannya di masing-masing posyandu. Kegiatan-kegiatan yang rutin dilakukan bukan hanya bertujuan untuk menanggulagi akan tetapi juga untuk mencegah penyakit menyerang masyarakat.

Gambar 4.10 Proses Penimbangan Bayi dan Balita Pada Posyandu

Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2019.

Kegiatan yang paling dasar dan wajib dilakukan di dalam posyandu adalah melakukan penimbangan sebagai bentuk kontrol terhadap perkembangan

pertumbuhan seorang anak, terlebih yang menderita gizi buruk, agar terus mendapatkan pantauan proses pemulihan. Hal ini dikarenakan berat badan merupakan salah satu yang menjadi indikator gizi buruk dan gizi kurang.

Gambar 4.11 Pemberian vaksin pada Bayi dan Balita Pada Posyandu

Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2019.

Untuk melakukan pencegahan terhadap berbagai jenis penyakit yang juga dalam masa sakitnya dalam menyebabkan seorang anak menderita gizi buruk dan gizi kurang, seorang anak secara menyeluruh memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan vaksin sebagai langkah awal untuk mencegah terjadinya gizi buruk dan gizi kurang pada seorang anak.

2. Data yang ditemukan di dalam pelaksanaan posyandu akan disampaikan kepada puskesmas (dirujuk) ke puskesmas agar bayi dan balita mendapatkan penanganan yang lebih intens.

3. Setelah dirujuk oleh posyandu, pasien datang ke puskesmas, puskesmas langsung meninjau data kembali, seperti menimbang bayi dan balita, mengukur tinggi badan, mendata makanan yang diberikan kepada bayi dan balita dan setelah data didapat, maka puskesmas akan menentukan status gizi yang diderita bayi dan balita, gizi buruk atau gizi kurang.

Gambar 4.12 Penimbangan Bayi di Puskesmas Sebelum Menentukan Status Gizi Bayi

Sumber : Dokumentasi Peneliti, 2019.

Seorang anak yang dalam proses pemeriksaannya di posyandu memiliki gejala terjangkit gizi buruk dan gizi kurang serta berhasil di rujuk ke puskesmas akan ditinjau kembali kondisi berat badan dan tinggi badan anak tersebut. Hal ini dilakukan untuk memastikan seorang anak termasuk dalam golongan anak dengan kategori gizi buruk atau gizi kurang.

4. Setelah puskesmas menentukan status gizi seorang bayi dan balita, puskesmas akan memberikan penyuluhan kepada orang tua bayi dan balita dengan status

bahan makanan tambahan, seperti susu, roti balita, beras dan beberapa bahan pangan lainnya untuk menunjang peningkatan status gizi bayi dan balita, sembari petugas gizi puskesmas melakukan peninjauan 2 kali dalam sebulan.

Posyandu menjalankan kegiatan dasar yang menjadi pengaduan terdekat orangtua bayi dan balita setiap bulannya untuk mengetahui kondisi kesehatan bayi dan balita, maka berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti, 22 posyandu yang terdafar dalam wilayah administratif Puskesmas Desa Binjai adalah sebagai berikut:

Table 4.3 Jadwal/Bulan Pelaksanaan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Puskesmas Desa Binjai

Sumber : Puskesmas Desa Binjai, 2019

Berdasarkan data dari hasil observasi yang dilakukan peneliti pada puskesmas desa binjai, setiap posyandu memiliki jadwal beroperasi masing-masing setiap bulannya. Dimulai pada tanggal 5 sampai dengan tanggal 24 setiap bulannya setiap posyandu menjalankan tugasnya sebagai pelaksana program kesehatan dasar ibu dan bayi. Kegiatan rutin yang dilakukan ini diharapkan dapat menunjang kinerja peningkatan gizi bayi dan balita di wilayah Puskesmas Desa Binjai.

Berdasarkan hasil wawancara bersama Kepala Puskesmas Desa Binjai menyatakan bahwa:

“Setiap bulannya petugas gizi selalu kami kirim untuk datang dan meninjau perkembangan di posyandu, tentu fungsinya adalah untuk dapat bergabung dan menanggulangi permasalah gizi tersebut.

Setiap bulan petugas gizi akan terjun langsung dan melihat puskesmas secara bergantian setiap bulannya. Ya diharapkan pula petugas pelaksana posyandu bisa bekerjasama untuk terus berkoordinasi menyelesaikan masalah gizi di Kelurahan Binjai” (wawancara dengan dr. Fera Manalu, Kepala Puskesmas Desa Binjai, pada hari Kamis 11 Juli 2019, pukul 10.00 WIB)

Pernyataan tersebut dapat menjadi gambaran bahwa untuk mencapai tujuan daripada program seluruh pihak harus bekerjasama termasuk pelaksana posyandu dengan puskesmas serta masyarakat. Hal ini tentu dapat menunjang keberhasilan yang maksimal untuk mengurangi penderita gizi buruk di Indonesia, dalam pembahasan ini khususnya Kelurahan Binjai.

II. PIS-PK (Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga)

PIS-PK merupakan program yang dilaksanakan untuk dapat membantu peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan cara melakukan pendekatan langsung terhadap keluarga atau masyarakat, dalam hal ini puskesmas

melaksanakan PIS-PK dengan mengunjungi masyarakat secara langsung, dan melakukan analisis kondisi kesehatan dalam hal ini khususnya bayi dan balita.

Berdasarkan hasil wawancara bersama Kepala Puskesmas Desa Binjai menyatakan bahwa:

“PIS-PK baru dilaksanakan dalam 2 (dua) tahun terakhir, sebelumnya disebut Kunjungan Balita, kegiatannya bisa dikatakan serupa, karena petugas gizi juga dikirim untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat dengan mengunjungi rumah warga.

Dalam kegiatan PIS-PK pun bisa ditemukan atau terjaring data penderita gizi buruk, bahkan lebih efektif, karena secara langsung petugas yang datang dan meninjau. Terkadang masyarakat malas datang ke posyandu atau puskesmas, dengan berbagai alasan salah satunya adalah alasan perekonomian. Jadi PIS-PK dilaksanakan untuk dapat lebih dekat lagi dengan masyarakat.” (wawancara dengan dr.

Fera Manalu, Kepala Puskesmas Desa Binjai, pada hari Kamis 11 Juli 2019, pukul 10.00 WIB)

Profil keluarga yang ditemukan memiliki bayi dan balita dengan kondisi gizi kurang ataupun gizi buruk akan dirujuk ke puskemas untuk mendapatkan penanggulangan secara langsung. Bayi dan balita gizi buruk atau gizi kurang akan mendapat pelayanan kesehatan menyangkut perbaikan gizi, baik dalam bentuk bantuan makanan tambahan maupun pemberian iformasi kepada orangtua menyangkut perawatan bayi dan balita dengan kondisi gizi buruk atau gizi kurang.

Gambar 4.13 Pelaksanaan PIS-PK secara langsung oleh Petugas Gizi Puskesmas Desa Binjai

Gs fgdfgdr fgdrf gderfge rfs hhuh

Sumber :Dokumentasi peneliti,, 2019

Kegiatan PIS-PK dilakukan dengan maksud dan tujuan untuk meninjau secara langsung kondisi kesehatan masyarakat secara langsung kepada masyarakat.

Program ini tentu juga bertujuan untuk meningkatkan status gizi masyarakat dan mengurangi tingkat gizi buruk. Keadaan yang telah ditemukan kekurangan gizi dan gizi buruk pada balita di dalam keluarga rawan pangan (keluarga dengan keadaan ekonomi yang kurang).

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan penelitian masyarakat penerima pelayanan gizi buruk dan gizi kurang menyatakan bahwa :

“program puskesmas dimana petugas langsung datang kerumah untuk memantau kondisi kesehatan adalah program yang dilakukan demi mengetahui kondisi kesehatan masyarakat terlebih bayi dan balita agar dapat melaksanakan tindakan lanjut penanggulangan keadaan gizi buruk dan gizi kurang di desa binjai.

Walaupun anak saya masuk sebagai pasien gizi buruk di puskesmas melalui rujukan dari posyandu, tetapi beberapa kali petugas gizi

yang mengalami gizi kurang.” (wawancara dengan ibu Priska Panjaitan, masyarakat penerima pelayanan kesehatan gizi buruk dan gizi kurang puskesmas desa binjai, pada hari jumat 24 Mei 2019, pukul 11.55 WIB)

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat diketahui bahwa petugas gizi puskesmas desa binjai melaksanakan PIS-PK untuk meninjau perkembangan dan kegiatan tersebut sangat membantu keluarga yang memiliki anak dengan kondisi gizi buruk ataupun gizi kurang, hal ini dikarenakan kondisi perekonomian keluarga yang dapat dikatakan tidak mampu, maka dari itu program PIS-PK sangat membantu masyarakat untuk tetap mendapatkan perawatan tanpa harus rutin ke puskesmas.

Untuk memaksimalkan pencapaian tujuan daripada program peningkatan gizi bayi dan balita, puskesmas melaksanakan kunjungan secara langsung untuk mendapatkan data penderita gizi buruk atau gizi kurang, atau bahkan untuk mengontrol dan meninjau perkembangan seseorang yang menderita gizi buruk atau gizi kurang. Kunjungan dilakukan dikarenakan faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat tidak datang ke posyandu ataupun ke puskesmas, salah satunya adalah kondisi perekonomian. Selain mempengaruhi kondisi kesehatan, kondisi ekonomi juga menjadi alasan ketidakhadiran masyarakat ke puskesmas untuk pemeriksaan kesehatan.

Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk tanggungjawab yang dilakukan oleh Puskesmas Desa Binjai sebagai implementor program peningkatan gizi bayi dan balita di wilayah Kelurahan Binjai, dimana tingkat tanggungjawab yang dimiliki puskesmas tersebut merupakan perwujudan dari salah satu prinsip good governance

yaitu responsif dan memberikan kesetaraan serta keadilan bagi masyarakat di wilayah Kelurahan Binjai. Upaya ini tentu mendukung kemajuan sistem pelayan publik di Indonesia dibidang pelayanan kesehatan.

4.3.2 Keberhasilan Sasaran Program Peningkatan Gizi Bayi dan Balita Pada