• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab II Tinjauan Pustaka

2.3 Konsep Pelayanan Kesehatan

publik yang sama. Perbaikan yang dilakukan dalam sistem pelayanan publik tentu dengan harapan hasil akhir adalah Good Governance dimana dalam prinsipnya good governance mengutamakan pelayanan yang serupa dengan konsep NPS. Hal ini ditunjukkan dalam prinsip-prinsip good governance yaitu:

1. Partisipasi (Participation)

2. Penegakan hukum (Rule Of Low) 3. Transparansi (Transparency) 4. Responsif (Responsiveness)

5. Konsensus (Consensus Orientation) 6. Kesetaraan dan keadilan (Equity) 7. Efektifitas dan efisien

8. Akuntabilitas

9. Visi Strategi (Strategic Vision)

Untuk mencapai Good Governance denagn konsep pelayanan publik yang digelutkan oleh New Public Service, terdapat banyak aspek yang harus dipenuhi kebutuhan pelayanannya, salah satunya ialah dengan menciptakan serta mewujudkan pelayanan kesehatan yang merata dan adil bagi seluruh lapisan masyarakat masyarakat.

2.3 Konsep Pelayanan Kesehatan

2.3.1 Defenisi Pelayanan Kesehatan

Pelayanan kesehatan (health care service) merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang Undang Dasar 1945 untuk melakukan upaya peningkatkan derajat kesehatan baik perseorangan, maupun kelompok atau masyarakat secara keseluruhan.

Defenisi Pelayanan kesehatan menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2009 (Depkes RI) yang tertuang dalam Undang Undang Kesehatan tentang kesehatan ialah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau

secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan, perorangan, keluarga, kelompok ataupun masyarakat. Berdasarkan Pasal 52 ayat (1) UU Kesehatan, pelayanan kesehatan secara umum terdiri dari dua bentuk pelayanan kesehatan yaitu:

a. Pelayanan kesehatan perseorangan (medical service)

Pelayanan kesehatan ini banyak diselenggarakan oleh perorangan secara mandiri (self care), dan keluarga (family care) atau kelompok anggota masyarakat yang bertujuan untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan dan keluarga. Upaya pelayanan perseorangan tersebut dilaksanakan pada institusi pelayanan kesehatan yang disebut rumah sakit, klinik bersalin, praktik mandiri.

b. Pelayanan kesehatan masyarakat (public health service)

Pelayanan kesehatan masyarakat diselenggarakan oleh kelompok dan masyarakat yang bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang mengacu pada tindakan promotif dan preventif. Upaya pelayanan masyarakat tersebut dilaksanakan pada pusat-pusat kesehatan masyarakat tertentu seperti puskesmas.

Uuntuk melaksanakan pelayanan kesehatan, terdapat pihak-pihak yang berhubungan dengan setiap kegiatan pelayanan kesehatan tersebut baik itu di rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun praktek pribadi, antara lain:

1. Dokter

Dokter adalah orang yang memiliki kewenangan dan izin sebagaimana mestinya untuk melakukan pelayanan kesehatan, khususnya memeriksa dan mengobati penyakit berdasarkan hukum dan pelayanan di bidang kesehatan.

Pasal 1 ayat (11) Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran menjelaskan defenisi dokter adalah suatu pekerjaan yang dilaksanakan berdasarkan suatu keilmuan, kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan yang berjenjang, dan kode etik yang bersifat melayani masyarakat.

2. Perawat

Menurut Emi (2004:4) Perawat adalah profesi yang sifat pekerjaannya selalu berada dalam situasi yang menyangkut hubungan antar manusia, terjadi proses interaksi serta saling memengaruhi dan dapat memberikan dampak terhadap tiap-tiap individu yang bersangkutan. Menurut Sutanto dkk (2017:3) seorang perawat memiliki kewajiban untuk ikut ambil bagian dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan, demi memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia, yakni pelayanan kesehatan oleh pihak-pihak yang memiliki kewajiban atas hal tersebut.

Dan dalam hal ini seorang perawat tergabung dalam profesi yang mengaplikasikan teori pelayanan publik dalam pelaksanaan tugasnya.

3. Bidan

Menurut Nugraheni (2018:9) bidan adalah seseorang yang telah menyelesaikan program pendidikan bidan yang diakui oleh Negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktik kebidanan di negeri itu. Dia harus mampu memberikan supervisi, asuhan dan memberikan nasehat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa hamil, persalinan dan masa pasca persalinan, memimpin persalinan atas tanggungjawabnya sendiri serta asuhan pada bayi baru lahir dan anak. Hal ini sesuai dengan pengertian bidan dalam Permenkes Nomor 1464/Menkes/Per/ix/2010 menyatakan bahwa bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang telah teregistrasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Seorang bidan dalam bekerja memberikan pelayanan keprofesiannya berpegang pada paradigma, berupa pandangan terhadap manusia/

perempuan, lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan/ kebidanan dan keturunan.

Dan dalam melaksanakan profesinya bidan memiliki peran sebagai pelaksana, pengelola, pendidik dan peneliti.

2.3.2 Standar Pelayanan Kesehatan

Seluruh manusia memiliki hak untuk mendapatkan kesehatan rohani dan jasmani. Kesehatan yang harus dimiliki merupakan modal seseorang untuk menjalankan kehidupan semasa hidup di dunia. Hal ini terbukti berdasarkan pola hidup sehari-hari, apabila tubuh sedang dalam keadaan tidak sehat, maka kegiatan seorang manusia akan mengalami hambatan. Maka dari itu kesehatan sangat dibutuhkan untuk terpenuhi bagi setiap manusia.

Kesehatan sebaiknya dimiliki sejak usia dini seseorang, hal ini dikarenakan kesehatan adalah dasar atas segala kehidupan, kesehatan berada pada tingkat pertama yang harus terpenuhi sebelum pendidikan dan pekerjaan. Tanpa tubuh yang sehat, seseorang tidak akan mampu tumbuh dan berkembang dengan sebagaimana harusnya. Untuk mencapai tingkat kesehatan, seseorang memiliki banyak jalur untuk mendapatkannya, misalnya melalui obat, donter, rumah sakit, klinik, serta puskesmas (pusat kesehatan masyarakat) yang berperan sebagai penyelenggara kesehatan dasar bagi masyarakat.

Setiap organisasi penyelenggara kesehatan masyarakat memiliki standar pelayanan yang wajib diberikan oleh masing-masing organisasi kepada masayarakat sebagai penerima pelayanan. Pada dasarnya yang menjadi standar pelayanan kesehatan ditentukan oleh Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar Pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Kementerian kesehatan RI menyatakan bahwa terdapat standar dalam pelaksanaan kesehatan, khususnya standar dalam pelaksanaan pelayanan pada bayi dan balita diantaranya yaitu:

1. Standar Jumlah dan Kualitas Barang dan/atau Jasa

2. Standar Jumlah dan Kualitas Personil/Sumber Daya Manusia Kesehatan

Tenaga kesehatan meliputi:

a. Dokter/ dokter spesialis anak, atau b. Bidan, atau

c. Perawat, atau d. Gizi

3. Mekanisme pelayanan kesehatan

Dalam pembahasannya, Peraturan Menteri Kesehatan nomor 4 tahun 2019 menjelaskan bahwa dalam menindaklanjuti pelayanan kesehatan dibutuhkan standar dalam pelaksanaan di berbagai sudut dan lapisan masyarakat penerima layanan kesehatan. Baik pelayanan kesehatan bagi orang yang sehat dan bagi orang yang sakit. Dimana hal tersebut kesehatan bukan hanya bersangkutan dengan penanggulangan akan tetapi juga pencegahan datangnya penyakit kepada manusia.

Pelayanan kesehatan yang disebutkan diberikan kepada orang yang sehat dan juga orang yang sakit. Seluruh lapisan masyarakat memiliki hak yang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Mulai dari pelayanan penyembuhan penyakit kronis, pelayanan bersalin, pelayanan kontrol kesehatan dan termasuk pelayanan kesehatan bagi seorang anak terutama yang menderita gizi buruk dan gizi kurang.