Bab IV Hasil Penelitian Dan Pembahasan
4.2 Program Peningkatan Gizi Bayi Dan Balita
Puskesmas Desa Binjai yang berperan dalam mengusahakan perbaikan kesehatan masyarakat sudah selayaknya lebih dulu menunjukkan gaya hidup sehat yang dimulai dari kebrsihan lingkungan dan tersedianya ruang terbuka hijau sebagai penopang kehidupan manusia. Keberadaan ruang tersebut menambah rasa nyaman ketika berkunjung ke Puskesmas Desa Binjai, terasa sejuk dan nyaman.
Selain sarana yang dimiliki Puskesmas diatas, dalam melaksanakan tugas berdasarkan pembagian unit kerja, Puskesmas Desa Binjai juga menyediakan ruangan bagi tiap-tiap pembagian unit kerja yang dimana ruang-ruang yang disediakan dapat mendukung tingkat fokus dan memaksimalkan kinerja unit dalam melaksanakan fungsi dan tanggungjawab. Sarana dan prasarana yang disediakan Puskesmas Desa Binjai merupakan salah satu upaya pemenuhan standar dalam pelayanan kepada masyarakat yang dimuat dalam Uundang-undang No. 25 Tahun 2009 dimana sarana dan prasarana menjadi salah satu komponen standar dalam pelaksanaan pelayanan. Salah satu komponen tersebut merupakan dasar dari seluruh komponen yang harus dimiliki oleh sebuah organisasi pelayanan publik termasuk Puskesmas Desa Binjai sebagai pelaksana pelayanan kesehatan dasar masyarakat.
4.2 Program Peningkatan Gizi Bayi Dan Balita
Sebagai faktor terpenting yang harus dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat mulai dari bayi hingga usia paling dewasa sekalipun, kesehatan baik secara jasmani dan rohani harus dimiliki seseorang sebagai modal untuk melakukan tindakan apapun dalam menjalani kehidupan. Kesehatan seseorang
merupakan sebuah tiket yang dapat digunakan kapanpun untuk dapat terus melakukan sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain atau bahkan masyarakat luas. Namun pada kenyataannya dari berbagai informasi dan fakta masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memiliki modal tersebut, terlebih dari usia bayi 0-3 tahun. Di berbagai daerah di Indonesia permasalahan kesehatan masih menghantui pemikiran pemerintah agar dapat menanggulangi masalah paling dasar tersebut. Dengan menyadari bahwa pemenuhan kebutuhan kesehatan terutama gizi pada bayi dan balita sudah selayaknya dibenahi dan perlu adanya sokongan dari pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan gizi, maka program peningkatan gizi bayi dan balita lahir sebagai upaya untuk menanggulangi dan meningkatnkan status kesehatan gizi bayi dan balita.
Program peningkatan gizi bayi dan balita merupakan jalan yang diambil oleh pemerintah untuk dapat langsung menyentuh masyarakat dengan memberikan bantuan langsung dalam bentuk makanan tambahan, dan melakukan penyuluhan menyangkut informasi mengenai gizi dan pendidikan gizi. Dalam menjalankan program ini pula pemerintah mengeluarkan regulasi yaitu peraturan menteri kesehatan no 23 tahun 2014 tentang upaya perbaikan gizi. Peraturan upaya perbaikan gizi tersebut diajukan untuk menjamin:
a. Setiap orang memiliki akses terhadap informasi gizi dan pendidikan gizi,
b. Setiap orang terutama kelompok rawan gizi memiliki akses terhadap pangan yang bergizi,
c. Setiap orang memiliki akses terhadap pelayanan gizi dan kesehatan.
Untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah disebutkan dimana setiap orang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan informasi, dan pelayanan, untuk dapat mencapai tujuan tersebut dilakukan melalui beberapa tindakan yaitu:
1. Perbaikan pola konsumsi makanan yang sesuai dengan gizi seimbang, 2. Perbaikan perilaku sadar gizi, aktivitas fisik, dan kesehatan,
3. Peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi yang sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi,
4. Peningkatan sistem kewaspadaan pangan dan gizi.
Demi terwujudnya tujuan-tujuan program peningkatan gizi bayi dan balita tersebut tentu dibutuhkan sinergitas antar implementor. Suatu kebijakan hanyalah kumpulan dari kata-kata visioner di atas kertas tanpa ada pelaksanaan. Bahkan setelah di implementasikan sekalipun tidak dapat menjamin seluruh tujuan yang telah ditentukan 100 % dapat tercapai.
Dalam pelaksanaan program peningkatan gizi bayi dan balita, sebagai bentuk upaya yang bertujuan untuk mencapai status gizi yang baik dan mempercepat proses penyembuhan dilakukan mulai dari mencegah hingga pada proses pemulihan. Pelaksana/implementor Program Peningkatan Gizi Bayi dan Balita yang terlibat yaitu sebagai berikut:
Bagan 4.2 Struktur Implementor Program Peningkatan Gizi Bayi dan Balita
Sumber: Data Olahan Peneliti, 2019 berdasarkan Peraturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Upaya Perbaikan Gizi
Adapun peran dan fungsi implementor Program Peningkatan Gizi Bayi dan Balita berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan Nomor 23 Tahun 2014 tentang Upaya Perbaikan Gizi yaitu sebagai berikut:
1. Pemerintah/Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bertugas dan bertanggung jawab:
a. menyusun dan menetapkan kebijakan bidang gizi;
b. melakukan koordinasi, fasilitasi dan evaluasi surveilans kewaspadaan gizi skala nasional;
c. melakukan penanggulangan gizi buruk skala nasional;
d. mengatur, membina, dan mengawasi pelaksanaan urusan wajib upaya perbaikan gizi;
e. mengupayakan pemenuhan kecukupan dan perbaikan gizi pada masyarakat terutama pada keluarga miskin, rawan gizi, dan dalam situasi darurat; dan
f. meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dan pengaruhnya terhadap peningkatan status gizi.
2. Pemerintah Daerah Provinsi bertugas dan bertanggung jawab:
a. Melakukan koordinasi, fasilitasi dan evaluasi bidang gizi skala provinsi;
b. Melakukan koordinasi, fasilitasi dan evaluasi surveilans gizi skala provinsi;
c. Melakukan pemantauan penanggulangan gizi buruk skala provinsi;
d. Melakukan upaya perbaikan gizi skala provinsi;
e. Melaksanakan urusan wajib provinsi dalam bidang upaya perbaikan gizi;
f. Mengupayakan pemenuhan kecukupan dan perbaikan gizi pada masyarakat terutama pada keluarga miskin, rawan gizi, dan dalam situasi darurat;
g. Melaksanakan koordinasi, advokasi, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan urusan wajib lingkup provinsi dalam bidang upaya perbaikan gizi; dan
h. Membina penyelenggaraan rujukan di lingkup provinsi.
3. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota bertugas dan bertanggung jawab:
a. penyelengaraan dan fasilitasi gizi skala kabupaten/kota;
b. penyelenggaraan penanggulangan gizi buruk skala kabupaten/kota;
c. perbaikan gizi keluarga dan masyarakat;
d. memenuhi kecukupan dan perbaikan gizi pada masyarakat terutama pada keluarga miskin, rawan gizi, dan dalam situasi darurat;
e. meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dan pengaruhnya terhadap peningkatan status gizi;
f. menyelenggarakan pelayanan upaya perbaikan gizi di fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah kabupaten/kota setempat; dan g. melaksanakan, fasilitasi, perizinan, koordinasi, monitoring dan
evaluasi pelaksanaan urusan wajib upaya perbaikan gizi di wilayah kabupaten/kota setempat.
4. Organisasi Pelayanan Kesehatan
Setiap puskesmas, klinik rawat inap, balai kesehatan, dan rumah sakit harus mempunyai tenaga gizi yang memiliki kompetensi dan kewenangan dalam memberikan pelayanan gizi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
5. Pelayanan gizi diberikan oleh tenaga gizi yang memiliki kompetensi dan kewenangan dalam memberikan pelayanan gizi setelah memiliki izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Berdasarkan penjabaran tugas dan fungsi impelementor program peningkatan gizi bayi dan balita diatas dapat diketahui bahwa seluruh lapisan masyarakat memiliki peran dalam upaya peningkatan gizi bayi dan balita, hal ini
dapat dilihat dari proses pembuatan kebijakan hingga pada pelaksanaan yang dimana upaya harus dilakukan oleh masyakat dan untuk kesejahteraan rakyat.
Seluruh petugas hanya berperan menyalurkan pelayanan yang sesuai dengan standar kesehatan, masyarakat harus ikut berperan dalam mendukung upaya peningkatan gizi bayi dan balita terutama di Kelurahan Binjai.
4.3 Efektivitas Program Peningkatan Gizi Bayi dan Balita di Puskesmas Desa