BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 A NALISIS T EMA P ENELITIAN
4.3.1 Keberhasilan Usaha
Keberhasilan Usaha merupakan capaian kinerja yang menjadi tujuan utama pelaku ekonomi dalam melakukan sebuah bisnis. Mashuri (2019) mengartikan keberhasilan usaha merupakan cerminan dari kemampuan usaha (pengetahuan, sikap dan keterampilan), pengalaman yang relevan, motivasi kerja, dan tingkat pendidikan pengusaha. Apriliani dan Widyanti (2018) mengatakan keberhasilan usaha dapat dinilai apabila karakter wirausaha, modal usaha, dan tenaga kerja mengalami peningkatan. Terdapat indikator-indikator yang digunakan untuk menilai sebuah usaha agar dapat berkelanjutan dan mencapai keberhasilan.
Riyanti (2003) dalam Aji (2018) mengemukakan bahwa dimensi pengukuran keberhasilan usaha meliputi: 1) peningkatan modal, 2) jumlah produksi, 3) jumlah pelanggan, 4) perluasan usaha, 5) perluasan daerah pemasaran, 6) perbaikan sarana fisik, dan 7) pendapatan usaha.
Sedangkan pengukuran capaian kinerja menurut Day (1990) dalam Purwanti (2012) meliputi:
1) Satisfaction (kepuasan), artinya semakin banyak pihak-pihak yang merasa terpuaskan oleh produk yang dihasilkan, 2) Loyalty (loyalitas), hal ini mencakup kesetiaan pelanggan terhadap sebuah produk. 3) Market share (pangsa pasar), dalam hal ini pengelola usaha mampu untuk
43
meningkatkan dan memperluas pangsa pasar bahkan menjadi pemimpin pasar. 4) Profitability (peningkatan pendapatan), suatu usaha dikatakan berhasil apabila sebuah usaha menunjukkan kinerja yang baik secara bertahap mengalami peningkatan profit yang signifikan. Indikator yang paling umum dalam mengukur keberhasilan sebuah usaha adalah bertambahnya jumlah pelanggan, perluasan market share (pangsa pasar), dan peningkatan pendapatan usaha.
Peningkatan 3 indikator di atas saling berkesinambungan satu sama lain. Hal ini disebabkan karena pertambahan jumlah pelanggan akan membuat suatu usaha konsisten dalam memproduksi barang dagangannya. Selain itu, jumlah pelanggan yang bertambah berdampak pada perluasan pangsa pasar karena produk yang dihasilkan sudah dikenal oleh banyak konsumen. Pangsa pasar yang besar berpengaruh signifikan terhadap profit (pendapatan) yang dihasilkan dari penjualan produk usaha.
UMKM dalam mencapai keberhasilan merupakan tujuan utama yang ingin dicapai oleh semua pengusaha yang sedang mengembangkan kegiatan usahanya. Berdasarkan informasi yang ditemukan di lapangan, peneliti melihat adanya capaian kinerja yang telah diraih oleh UMKM Unik Batik Bayat sejak awal berdiri yaitu dari tahun 1995 hingga saat ini. Temuan pokok di lapangan terkait capaian kinerja yang ada pada UMKM Unik Batik Bayat terlihat pada penjelasan berikut:
1. Kepuasan Konsumen (Satisfaction)
Kepuasan konsumen terhadap produk yang dihasilkan merupakan salah satu bentuk capaian yang diperoleh UMKM. Kepuasan pelanggan terhadap pembelian tergantung pada kinerja aktual produk yang ditawarkan, sehingga sesuai dengan harapan konsumen.
Peneliti melihat bahwa unsur satisfaction pada konsumen yang dimiliki oleh Unik Batik berpengaruh terhadap keputusan pembelian produk terhadap suatu usaha. Kepuasan konsumen didorong dengan penyediaan kualitas produk yang baik, kualitas pelayanan,
44
kesesuaian harga dengan produk yang dihasilkan, dan kemudahan mengakses produk yang ditawarkan oleh Unik Batik Bayat. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan para konsumen terhadap produk batik UMKM ini:
“Oh, kenapa milih unik batik ya karena saya sudah langsung berkunjung ke tempatnya sih mbak, selain itu juga karena pilihan produknya bervariasi, habis itu… ee… pelayanannya memuaskan juga mbak. Dan yang paling penting di harga nya yang sesuai mbak.” (S2.W2.16-19)
“kalau saya lihat yang membedakan antara produk Unik batik dengan yang lain itu, ee… kerapian prosesnya sih mbak. Gimana ya jelasinnya, saya melihat tenaga kerja dalam penggunaan canting, tangan-tangannya sangat halus, meskipun kita beli dengan harga yang gak mahal gitu.
(S1.W3. 24-27)”
2. Loyalitas Konsumen (Loyalty)
Loyalitas konsumen merupakan bentuk capaian kinerja yang diharapkan UMKM dalam menjalankan kegiatan usahanya. Terciptanya loyalitas konsumen didasarkan pada kemampuan layanan yang diterima dalam memenuhi harapan dan kebutuhannya.
Penelitian Pranajaya., et al (2021) membagi 5 dimensi pengukuran loyalitas pelanggan yaitu: 1) pembelian berulang oleh konsumen terhadap produk 2) mereferensikan produk yang dibeli kepada orang lain 3) kebal terhadap daya tarik atau tawaran produk usaha pesaing 4) bersedia membeli dan menggunakan berbagai jasa layanan terus menerus 5) memberikan ide terbaik untuk kemajuan usaha. Timbulnya loyalitas oleh konsumen tidak terlepas dari kualitas produk yang ditawarkan oleh produsen Unik Batik. Terdapat kesesuaian teori yang dijelaskan oleh Pranajaya dkk dengan temuan di lapangan. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan Joni Prasetya selaku pemilik:
“Benar mbak, jadi gini, yang jelas kualitas. Karena kalau kita mau bertahan kan harus meningkatkan kualitas. Ee… konsumen itu kalau emang beli dan bagus, dan cocok dengan kualitasnya, biasanya sampai kapanpun dia akan selalu balik lagi. Bahkan mereka juga jadi penentu
45
pasar kita, kebanyakan yang kesini ya itu tadi, karena dari mulut ke mulut. (S1.W2.126-130)”
Unik Batik semakin terdorong untuk mempertahankan serta meningkatkan kualitas produk kain batik asli Bayat. Pelanggan yang tertarik untuk membeli produk pada UMKM ini secara tidak langsung melakukan promosi dari mulut ke mulut, dengan memberikan testimoni bersifat persuasif dan secara tidak langsung menjadi penentu pasar. Loyalitas konsumen terhadap usaha terlihat pada intensitas waktu pembelian terhadap produk yang dihasilkan. Hal ini dipertegas oleh konsumen yang telah membeli produk kain Unik Batik lebih dari 5 kali yaitu Galang dan Ifandi yang dibuktikan pada pernyataan berikut:
“Mmm… nggak bisa dihitung sudah berapa pieces yang udah tak beli.
Cuma ya itu lebih dari lima kali ada. Lead time per empat bulan lah mbak.
(S2.W2.22-23)”
“saya beli baju jadi kalau gak salah ada tiga atau empat, terus kalau yang kain mm… kain itunya sih ga pasti ya mbak, soalnya sudah ee… kalo ya itu lima kali paling udah lebih lah kalau lima kali.” (S2.W1.09-11)
3. Peningkatan Jumlah Produksi Unik Batik Bayat
Peneliti melihat adanya peningkatan yang dialami oleh UMKM selama menjalankan kegiatan usaha yang terlihat dari penambahan volume produksi. Joni Prasetya selaku pemilik Unik Batik Bayat mengatakan bahwa peningkatan produksi berawal dari pengadaan jasa pembuatan kain batik dengan sistem pengerjaan pesanan orang lain yang dibawa ke rumah produksi. Penambahan jumlah pesanan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.
“Mulai naiknya itu sekitar tahun 2007, sekitar tiga puluh jutaan, sebelum saya masuk kesini. Sebelum tahun 2007 itu kan kita, ee… masih istilahnya kita ngerjain barangnya orang, jadi orang yang datang kesini, bawa kain, terus kita yang memproduksi, dan ketika selesai kita kembaliin lagi dalam bentuk batik jadi” (S1.W2. 26-30)
46
Seiring berjalannya waktu, penambahan jumlah pemesanan mulai dirasakan Unik Batik Bayat hingga tahun 2007. Melihat jumlah pemesanan yang bertambah, Joni Prasetya mengambil keputusan untuk meningkatkan produksi dengan memberanikan diri untuk memproduksi sendiri kain batik meskipun pada saat itu pasar yang dimiliki masih terbatas.
“Setelah tahun 2007 hingga saat ini, kita sudah bikin produksi sendiri.
Awalnya cuma beberapa potong untuk kita jual sendiri. Tapi kita tetap..
jasa kita tetap jalan. Tapi dengan kita berkembangnya dengan mengembangkan ee… kita jadi punya produk sendiri, dan pasar kita juga masih terbatas. Nah itu, sampai ee… tahun ke tahun itu selalu meningkat, namun tidak terlalu signifikan tapi tetap ada peningkatan.” (S1.W2.31-36)
Keberanian dalam mengambil keputusan oleh seorang pengusaha memberikan dampak yang baik dalam sisi produksi. Hingga saat ini, peningkatan volume produksi terlihat dari jumlah kain yang dihasilkan UMKM Unik Batik setiap bulannya berjumlah kurang lebih 200 pieces dan peningkatan volume produksi terlihat di hari besar seperti hari raya dan tahun baru.
“Oh, baik, kalau setiap bulannya paling enggak sekitar kurang lebih dua ratus pieces. ya kurang lebih segitulah mbak.” (S1.W2. 70-71)
“Iya mbak, beda lagi, satu bulan sebelum lebaran kita juga sudah naik produksinya daripada pas lebarannya.” (S1.W2. 74-75)
4. Perluasan Daerah Pemasaran
Penelitian Riyanti (2003) dalam Aji (2018) menyebutkan bahwa salah satu karakteristik capaian kinerja sebuah usaha yaitu adanya perluasan daerah pemasaran. Peningkatan perluasan daerah pemasaran memberikan kontribusi yang baik terhadap kinerja UMKM Batik yang dijalankan. Peneliti melihat bahwa terdapat peningkatan perluasan daerah pemasaran yang dirasakan oleh Unik Batik selama mengoperasikan kegiatan usahanya.
47
Keterbatasan pasar yang dirasakan Unik Batik Bayat terlihat pada awal mula berdirinya yaitu tahun 1995. UMKM yang dijalankan masih berfokus pada pengerjaan pemesanan produk milik orang lain yang ada di desa Jarum, Bayat, Kab. Klaten. Seiring pertambahan jumlah pesanan yang kian meningkat dari tahun ke tahun, Unik Batik berhasil memperluas pangsa pasar yang dimiliki hingga keluar daerah Klaten seperti Yogyakarta, Solo, dan luar-luar pulau. Adanya perluasan daerah pemasaran tersebut meliputi butik-butik yang bekerjasama dengan UMKM, masyarakat kalangan dinas dan perkantoran yang tersebar di Pulau Jawa. Hal tersebut dengan pernyataan yang disampaikan Joni Prasetya selaku pemilik UMKM berikut:
“Sebenarnya mayoritas disini itu, ee… paling banyak kita nyuplai nya butik-butik. Kalau kita mengandalkan jual ecerannya, itu agak lama. Jadi istilahnya kita setorlah, jadi misalkan ada satu pengepul, kita setor kesana.” (S1.W1. 140-142)
“Iya, ke Solo, ke Jogja dan Klaten sendiri. Luar-luar kota itu juga ada, Cuma ee… paling banyak juga kita di Jogja dan Solo sih mbak. Kalau luar kota paling seragam-seragam untuk kantor.” (S1.W1. 152-154)
5. Peningkatan Pendapatan
Bentuk capaian kinerja yang sering ditemukan dalam setiap usaha dapat dilihat dari peningkatan pendapatan yang diperoleh usaha selama mengoperasikan kegiatan usahanya. Jumlah pendapatan yang diperoleh UMKM dijadikan sebagai acuan sebuah usaha mencapai keberhasilan. Berdasarkan informasi yang ditemukan dari hasil wawancara dengan sang pemilik, peneliti melihat adanya peningkatan pendapatan yang diperoleh oleh usaha batik Unik Batik Bayat. Capaian awal Unik Batik terlihat pada tahun 2007 dengan perolehan omset sebesar Rp30.000.000/bulan. Penjualan batik yang kian meningkat seiring dengan pertambahan jumlah pelanggan baru memberikan dampak signifikan bagi peningkatan pendapatan usaha batik yang dijalankan. Joni
48
Prasetya mengatakan bahwa pendapatan yang diperoleh UMKM batik dapat dilihat pada hari-hari perayaan besar seperti hari raya dan tahun baru dengan perolehan omset besar kurang lebih Rp100.000.000/bulan. Hal tersebut dibuktikan dengan pernyataan yang disampaikan Joni Prasetya dalam wawancara kedua dengan peneliti:
“mulai naiknya itu sekitar tahun 2007, sekitar tiga puluh jutaan, sebelum saya masuk kesini. Sebelum tahun 2007 itu kan kita, ee… masih istilahnya kita ngerjain barangnya orang, jadi orang yang datang kesini, bawa kain, terus kita yang memproduksi, dan ketika selesai kita kembaliin lagi dalam bentuk batik jadi.” (S1.W2.26-30)
“sebenarnya kita bisa bilang meningkat atau tidaknya itu dari pas waktu lebaran sama bulan desember, disitu kita bisa melihat kalau tahun kemarin kita bisa dapat segini…” (S1.W2. 37-39)
“dalam satu tahun itu berapa ya mbak, sebenarnya itu kan perlu dihitung atau didata gitu ya mbak, tetapi saya jg belum sampai ke situ. tapi kalau perbulannya ya itu, tiga puluh jutaan ada, sebelum pandemi ya. Ee… tapi kalau momen lebaran pas rame-rame nya itu sebelum pandemi, kadang satu bulan itu kurang lebih seratus juta dalam satu bulannya.” (S1.W2.
55-59)
49