• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 A NALISIS T EMA P ENELITIAN

4.3.3 Pemerintah

55

mereka juga jadi penentu pasar kita, kebanyakan yang kesini ya itu tadi, karena dari mulut ke mulut.” (S1.W2. 127-130)

3. Jejaring produksi/operasi yang dimiliki oleh Unik Batik terdiri dari jejaring lokal dan regional. Adapun jejaring produksi yang dimiliki yaitu Koperasi yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) sebagai penyedia bahan baku sementara. Tak hanya itu, Unik Batik juga berkerjasama dengan pabrik tekstil di Kota Solo sebagai pemasok bahan baku utama kain-kain yang digunakan pada proses produksi. Peneliti melihat bahwa hubungan kerjasama yang timbul antara UMKM dan jaringan usaha memberikan kontribusi positif bagi usaha dalam proses penciptaan produk kreatif dan mendorong kinerja usaha yang dijalankan dalam memenuhi permintaan pasar yang besar.

“Dari solo mbak, kalau ngambil bahan kainnya. Kalau aku langsung mengambil dari gudangnya langsung. Disini juga ada koperasi juga sih mbak, dikelola Bumdes kan, jadi semua disediakan disitu. Jadi semisal kita butuh bahan baku eceran atau mendadak habis ya gak mungkin lari ke solo, makan waktu lagi, jauh kan dari sini ke solo, ya jadinya ngambil di koperasi sini mbak. (S1.W1.168-173)

56

pengawasan bagi produk-produk yang bermutu (Yustika, 2012). Penetapan kebijakan sebagai instrumen untuk memecahkan hambatan dengan memaksimalkan kesejahteraan sosial sesuai amanat konstitusi. Pendeknya, pendekatan ini menganggap negara/pemerintah sebagai aktor yang memiliki nilai-nilai kebajikan untuk memakmurkan masyarakatnya. Penelitian Putra (2015) memaparkan 3 fungsi dari pemerintah terhadap UMKM yaitu:

1. Fasilitator, yaitu memfasilitasi UMKM dengan memberikan pelatihan dan mampu memenuhi kebutuhan pendanaan dengan memperhatikan unsur kehati-hatian agar UMKM tidak sepenuhnya bergantung.

2. Regulator, dengan membuat kebijakan-kebijakan yang memudahkan UMKM mengembangkan usaha dengan menjaga kondisi lingkungan usaha tetap kondusif.

Pemerintah membagi 2 pembuatan kebijakan yaitu wewenang pemerintah pusat dan wewenang pemerintah daerah.

3. Katalisator, dengan mempercepat proses berkembangnya UMKM menjadi fast moving enterprise dimana UMKM telah memiliki jiwa kewirausahaan dan melakukan transformasi menjadi usaha besar. Seperti sebuah katalis, peran dari pemerintah daerah ikut terlibat dalam prosesnya. Untuk menjalankan perannya sebagai katalisator, pemerintah melakukan berbagai langkah seperti pemberdayaan komunitas kreatif untuk produktif bukan konsumtif, penghargaan kepada UMKM, dan prasarana intelektual bagi UMKM.

Peran pemerintah Kabupaten Klaten terlihat pada pelaksanaan kegiatan usaha yang dijalankan oleh Unik Batik ditunjukkan pada pengadaan informasi mengenai seminar dan workshop terkait pengembangan UMKM bagi pengusaha batik. Selain itu, pemerintah Klaten membentuk POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata) untuk membantu mendorong potensi

57

yang dimiliki UMKM di Desa Jarum, Bayat. Disatu sisi, penerapan kebijakan yang diberikan tidak selamanya berjalan mulus. Berdasarkan temuan hasil penelitian di lapangan, terdapat beberapa kekurangan dari program kebijakan pemerintah yang dirasakan oleh UMKM ditunjukkan pada:

1. Minimnya keberpihakan Pemda Klaten terhadap UMKM lokal. Pemilik usaha unik batik melihat bahwa pemerintah cenderung memberikan pasar bagi UMKM di luar dari kawasan daerah Klaten dalam pembuatan seragam dinas pemerintah dengan menggunakan motif Sindu Melati khas Kab. Klaten. Pengusaha batik Desa Jarum menyayangkan tindakan tersebut. Tidak seperti Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Yogyakarta yang dianggap lebih aktif menjalankan perannya dalam menampung karya-karya asli UMKM daerahnya.

“Terus kenapa saya bisa bilang perhatian pemerintah kurang? Kemari waktu ada motif yang dilaunching sama bupati Klaten, itu kan ada motif sindu melati. Sindu melati itu motif khas nya Klaten dan itu sebenarnya untuk pemberdayaan UMKM kecil juga. Jadi ee…seluruh ASN yang ada di Klaten itu diwajibkan pakai seragam batik sindu melati, dan nanti produksinya atau belinya itu di UMKM lokal. Jadi otomatis kan UMKM lokal ini terbantu karena adanya program pemerintah, justru yang masuk ke kabupaten itu batik printing dari luar klaten dengan motif yang sama.

(S1.W1.197-204)”

2. Penyediaan akan fasilitas berupa pameran-pameran seni budaya minim. Pengusaha batik Desa Jarum memiliki harapan agar diadakannya pameran seni budaya sebagai wadah bagi masyarakat untuk merepresentasikan potensi budaya asli Bayat Klaten kepada masyarakat luas. Hal ini juga memberikan peluang bagi para UMKM untuk memasok produk kreatifnya untuk diperjual-belikan kepada cakupan pasar yang luas.

58

“Ya, seperti itu mbak. Tidak seperti Jogjakarta kan sangat diperhatikan, makanya ini mbak, daerah lereng-lereng DIY sini banyak bermunculan UMKM baru, dan itupun di fasilitasi seperti pameran diluar kota, itu kan biasanya di fasilitasi oleh pemerintah, jadi mereka dicarikan pasar. Tak kasih tempat, tak kasih ruang, silahkan ditawarkan ke orang-orang.

Makanya banyak UMKM baru yang memang sekarang ini ee… muncul karena memang benar-benar dibina sama pemerintah. (S1.W1.187-193)”

3. Lemahnya peran POKDARWIS Bayat dirasakan oleh UMKM Unik Batik Bayat selama mengoperasikan kegiatan usahanya. Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten telah diresmikan menjadi desa wisata pada tahun 2011. Diresmikannya Desa Jarum sebagai desa wisata membuat Pemerintah daerah Klaten membentuk POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata) untuk mengelola kegiatan maupun program dari pemerintah. Menurut informasi yang didapat di lapangan, peneliti melihat bahwa peran dari POKDARWIS terhadap pengembangan potensi desa masih kurang, dibuktikan oleh minimnya program-program yang mendukung pariwisata daerah. Masyarakat Desa Jarum tidak memiliki wadah untuk memperkenalkan produk-produk kerajinan tangannya, sehingga banyak para pengusaha kerajinan terutama pada usaha batik yang ada di Desa Jarum memilih untuk mengembangkan usahanya secara mandiri. Hal ini sesuai dengan pernyataan hasil wawancara dengan sang pemilik UMKM Unik Batik:

“Kalau untuk POKDARWIS, misi awalnya bukan untuk memasarkan produk, tetapi untuk memasarkan kawasan wisatanya. Sebenarnya kalau ee… mereka benar-benar serius dan berjalan bagus, ya suatu saat kita tetap dapat imbal baliknya dari situ, karena semakin banyak mereka bisa menarik wisatawannya kan otomatis kita juga banyak tamu juga. Tetapi untuk saat ini belum, jadi memang apa yaa, bisa dikatakan mereka belum bisa terlalu banyak menarik wisatawan menarik kesini, belum bisa dirasakan peran-perannya dari POKDARWIS sendiri.” (S1.W2. 147-154)

59

Dokumen terkait