Gambar 9. Penentuan elemen kunci peningkatan produktivitas lahan
5.7. Indeks dan Status Keberlanjutan
5.7.6. Keberlanjutan Dimensi Hukum dan Kelembagaan
Pada dimensi hukum dan kelembagaan, atribut yang diperkirakan berpengaruh terhadap keberlanjutan terdiri dari sembilan atribut yaitu (1) keberadaan dan peran lembaga penyuluhan pertanian, (2) keberadaan lembaga atau badan khusus kawasan perbatasan, (3) keberadaan dan peran perbankan
Leverage of Attributes 0,61 3,22 3,86 4,86 5,11 4,72 3,58 3,12 1,85 0 1 2 3 4 5 6 Ketersediaan basis data sumberdaya lahan
Sumber informasi teknologi dari dinas dan instansi terkait
Tindakan pemupukan Sumber informasi teknologi dari negara tetangga
(Malaysia)
Tingkat penguasaan teknologi pertanian Dukungan sarana dan prasarana jalan Pedoman teknologi usahatani yang dimiliki Standardisasi mutu produk pertanian Ketersediaan industri pengolahan hasil pertanian
A tt ri b u te
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100)
RAP-COCOA SEBATIK Ordination
32,96 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Sebatik Sustainability O th e r D is ti n g is h in g F e a tu re s
(5) keberadaan kelompok tani, (6) keikutsertaan petani dalam kelompok tani, (7) mekanisme kerjasama lintas sektoral dalam pengembangan pertanian di kawasan perbatasan, (8) sinkronisasi antara kebijakan pemerintah pusat dan daerah, (9) perjanjian kerjasama pengembangan pertanian dengan negara Malaysia.
Berdasarkan analisis keberlanjutan dari dimensi hukum dan kelembagaan (Gambar 28a) pada kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3) diperoleh indeks 36,39% (kurang berkelanjutan). Hasil analisis leverage menunjukkan bahwa atribut-atribut sensitif terhadap keberlanjutan dimensi ini yaitu (1) mekanisme kerjasama lintas sektor dalam pengembangan kawasan perbatasan, (2) sinkronisasi antara kebijakan pusat dan daerah, (3) keberadaan kelompok tani, dan (4) keberadaan lembaga keuangan mikro. Atribut-atribut sensitif pada dimensi ini perlu dilakukan perbaikan atau diintervensi untuk meningkatkan status keberlanjutan. Hasil analisis leverage selengkapnya tertera pada Gambar 28b.
(a) (b)
Gambar 28. Indeks keberlanjutan (a) dan atribut yang sensitif mempengaruhi keberlanjutan dimensi hukum dan kelembagaan (b)
Mekanisme kerjasama lintas sektor dalam pengembangan kawasan perbatasan menjadi atribut yang paling sensitif, disebabkah oleh koordinasi antara sektor atau instansi yang terkait belum berjalan secara optimal, dan bahkan lebih banyak melaksanakan programnya masing-masing secara parsial serta kurang melibatkan sektor lainnya. Sinkronisasi antara kebijakan pusat dan daerah
Leverage of Attributes 2.42 1.82 3.38 3.81 3.83 4.75 4.20 1.19 2.04 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 Keberadaan Lembaga Penyuluhan Pertanian/ Perkebunan
Keberadaan lembaga/badan khusus kawasan perbatasan Keberadaan lembaga perbankan Keberadaan lembaga keuangan mikro (LKM) Keberadaan kelompok tani Mekanisme kerjasama lintas sektoral dalam pengembangan
kawasan perbatasan Sinkronisasi antara kebijakan pusat dan daerah
Ketersediaan perangkat hukum adat/agama Perjanjian kerjasama pengembangan kws perbat dengan
negara Malaysia A tt ri b u te
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribute Removed (on Sustainability scale 0 to 100) Rap-SEBATIK Ordination 36,39 DOWN UP BAD GOOD -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 120 Sebatik Sustainability O th e r D is ti n g is h in g F e a tu re s
termasuk dalam atribut sensitif, karena kebijakan pembangunan pertanian yang dilakukan oleh pemerintah pusat selama ini lebih bersifat umum dan biasanya kurang melibatkan pemerintah daerah.
Kelembagaan kelompok tani di Pulau Sebatik sudah ada, namun belum optimal. Padahal keberadaan kelembagaan kelompok tani ini sangat penting dalam pembangunan pertanian (Mosher, 1969; Todaro, 1994). Hasil penelitian Anantanyu (2009) menunjukkan bahwa keberadaan kelompok tani juga belum mampu membantu petani keluar dari persoalan kesenjangan ekonomi. Di masa mendatang diharapkan peran kelompok tani lebih optimal dalam melayani kebutuhan anggotanya. Oleh karena itu pengembangan kelembagaan kelompok tani sangat diperlukan agar dapat berperan lebih aktif dalam mendukung pengembangan perkebunan kakao rakyat di Pulau Sebatik.
Koperasi Unit Desa, LKM dan lembaga keuangan lain di kawasan ini belum berkembang atau masih terbatas. Padahal keberadaan kelembagaan tersebut terutama LKM sangat dibutuhkan oleh petani untuk mendapatkan modal dan diharapkan dapat menyalurkan kredit untuk keperluan usahatani di kawasan ini. Hal tersebut berkaitan dengan keperluan modal usaha untuk membeli sarana produksi pertanian.
Pengembangan kelembagaan diperlukan karena: (1) banyak masalah pertanian yang hanya dapat dipecahkan oleh suatu lembaga petani, (2) sebagai sarana difusi inovasi teknologi dan pengetahuan kepada masyarakat, (3) untuk menyiapkan masyarakat agar mampu bersaing dalam struktur ekonomi yang terbuka (Reed, 1979; Bunch, 1991 dalam Anantanyu, 2009).
Di Kalimantan Timur pada tahun 2009 baru dibentuk badan khusus pengelola kawasan perbatasan. Badan ini dibentuk berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 13 Tahun 2009 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengelolaan Kawasan Perbatasan Pedalaman dan Daerah Terpencil (BPKPPDT). Tugas pokoknya adalah melaksanakan penyusunan dan kebijakan daerah di bidang pengembangan wilayah perbatasan dan sumberdaya, peningkatan infrastruktur, pembinaan ekonomi dan dunia usaha, pembinaan lembaga sosial dan budaya (BPKP2DT, 2009).
Pada dimensi pertahanan dan keamanan, atribut yang diperkirakan berpengaruh terhadap keberlanjutan terdiri dari 9 atribut yaitu (1) peran masyarakat dalam pengamanan kawasan perbatasan, (2) konflik dan perebutan wilayah perbatasan, (3) aktivitas penyelundupan barang dari dan ke Tawau, (4) pelanggaran batas wilayah oleh negara tetangga, (5) pos pengamanan perbatasan (PAMTAS), (6) sarana dan prasarana pertahanan dan keamanan, (7) sarana dan prasarana lintas batas, (8) kesepakatan garis batas negara, (9) aktivitas penjagaan kawasan perbatasan.
Berdasarkan analisis keberlanjutan (Gambar 29a) pada kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2) dan sesuai marginal (S3) dari dimensi pertahanan dan keamanan diperoleh indeks 36,39% (kurang berkelanjutan). Hasil analisis leverage diperoleh atribut-atribut yang sensitif terhadap keberlanjutan yaitu (1) sarana dan parasarana pertahanan dan keamanan, (2) sarana dan prasarana lintas batas, (3) pos pengamanan perbatasan (PAMTAS) dan (4) pelanggaran batas wilayah oleh negara tetangga. Atribut-atribut sensitif pada dimensi ini perlu dilakukan perbaikan atau diintervensi untuk meningkatkan status keberlanjutan. Hasil analisis leverage selengkapnya tertera pada Gambar 29b.
Pulau Sebatik merupakan salah satu pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga (Malaysia). Masalah pertahanan dan keamanan menjadi sangat penting, karena berkaitan dengan kedaulatan dan keutuhan wilayah nasional. Dengan kemampuan pertahanan yang kuat maka negara akan mampu menghadapi berbagai macam bentuk ancaman, baik yang datang dari dalam maupun dari luar negeri. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 34 tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, maka tugas Kodam VI/Tanjungpura diantaranya adalah melakukan pemberdayaan wilayah pertahanan. Dengan bentangan panjang garis di kawasan perbatasan sejauh 2004 km, cukup sulit bagi TNI khususnya Kodam VI/ Tanjungpura untuk melakukan gelar pertahanan secara fisik yang tergabung dalam Satuan Penugasan Pengamanan Perbatasan (Satgas PAMTAS) khususnya di Kalimantan Timur.
(a) (b)
Gambar 29. Indeks keberlanjutan (a) dan atribut yang sensitif mempengaruhi keberlanjutan dimensi pertahanan dan keamanan (b)
Sebagai wilayah yang berbataan darat dan laut, sarana dan prasarana pertahanan keamanan sangat dibutuhkan untuk menjaga keamanan dan kedaulatan Pulau Sebatik. Pos-pos pengawasan perbatasan (PAMTAS) di Pulau Sebatik saat ini telah disiapkan dan dibangun, namun jumlahnya hanya 4 titik (masih terbatas) dan belum sesuai dengan keperluan pertahanan keamanan serta belum didukung oleh alat pertahanan yang memadai. Selain itu batas atau patok perbatasan antar negara terutama di darat belum jelas dan pada masa yang akan datang akan bisa memicu perebutan tapal batas negara, seperti yang terjadi selama ini terutama di wilayah laut. Sarana dan prasarana pertahanan dan keamanan di kawasan perbatasan ini perlu dibenahi untuk memberikan ketenangan dan suasana kondusif bagi masyarakat dalam berusahatani dan untuk pengembangan Pulau Sebatik sebagai beranda depan negara.