BAB 2. PEMBANGUNAN MASYARAKAT PESISIR: Pendekatan Model CCDP
2.8 Keberlanjutan dan Exit Strategy
Pada 31 Desember 2017, CCDP akan memasuki Project Activity Completion Date (PACD) atau berakhir. Hal ini berarti, semua aktivitas utama CCDP yang menggunakan dana bersumber PHLN IFAD, harus diselesaikan. Enam bulan sampai 30 Juni 2018, diberikan waktu untuk menyelesaikan semua pertanggung jawaban dan replenishment, serta penyelesaikan administrasi keuangan dan keproyekan. Pada saat ini resmi dinyatakan proyek ditutup.
Pelaksana CCDP sejak awal atau menjelang Mid-Term Review yang dilaksanakan tahun 2015, telah menyiapkan dan melaksanakan proses exit strategy yang difokuskan kepada mengupayakan keberlanjutan usaha kelompok masyarakat setelah CCDP purna tugas, serta mengupayakan berbagai keberhasilan dan pembelajaran yang positif dari proyek ini dapat diteruskan, direplikasi dan dikembangkan pada lokasi yang sama maupun berbeda.
Tujuh langkah atau aksi rancangan peta jalan (road map) exit strategy telah disiapkan dan diimplementasikan PMO. Setiap PIU juga sudah menyiapkan Road map exit strategy di masing-masing PIU. Komunikasi dan implementasi exit strategy secara intensif oleh
Halaman
26
pelaksana CCDP baik di tingkat pusat (PMO) maupun PIU sudah menunjukkan hasil seperti di gambarkan berikut.
Pertama, pengintegrasian kegiatan PMP ke dalam kegiatan yang didanai dan dilaksanakan Pemda khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Secara bertahap, anggaran APBD 2017 dan 2018 ikut membiayai kegiatan-kegiatan PMP di desa/kelurahan yang menjadi target area PMP, ataupun direplikasi ke desa/kelurahan lain. Sebagai contoh, Dinas KP Makassar telah mereplikasikan model CCDP ke lokasi lainnya.
Kedua, pengintegrasian kegiatan PMP ke dalam kegiatan KKP yang didanai dari Ditjen Perikanan Tangkap, Perikanan Budidaya, Peningkatan Daya Saing (PDS), Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) KKP, serta Ditjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL). Kelompok usaha nelayan, bisa dibantu dari program Ditjen Tangkap, melalui pemberi BP dalam bentuk perahu, alat penangkap ikan dan kegiatan bantuan lainnya. Pengembangan dan pembinaan lebih lanjut untuk kelompok usaha budidaya, bisa dibantu seperti pemberian alat pembuat pakan, bibit ikan dan budidaya rumput. Pembinaan tracking mangrove, ekowisata bahari dan konservasi, bisa dilanjutkan melalui kegiatan Ditjen PRL. Demikian juga diusahakan BPSDM membuka kesempatan merekrut TPD ex CCDP dan mengalokasikan tenaga penyuluh di lokasi CCDP.
Ketiga, penyusunan Pengelolaan Pesisir Terpadu (Integrated Coastal Management/ICM) dan ekowisata bahari berbasis masyarakat. Perencanaan desa yang dilakukan, mulai
resource inventory, sampai perencanaan ICM, terus diupayakan untuk diintegrasikan ke
dalam sistem perencanaan desa, diperkuat dengan landasan hukum seperti Peraturan Desa, atau Peraturan Kabupaten/Kota oleh Bupati atau Walikota, Dalam perencanaan tersebut di-delineasi lokasi kegiatan ekowisata bahari, konservasi, kawasan budidaya dan kawasan perikanan berkelanjutan. Yang menarik, Pemerintah daerah Kupang dan
Halaman
27
Kubu Raya, sebagai contoh, melalui dinas pariwisata setempat mengalokasikan dana untuk pengembangan lebih lanjut lokasi-lokasi wisata yang diinisiasi CCDP
Keempat, penguatan kapasitas kelembagaan kelompok yang dibentuk, baik secara teknis maupun manajerial untuk meningkatkan produksi usaha, tabungan dan inovasi pokmas pesisir. Minimal 60% Pokmas Usaha, dan 70% masuk kategori layak secara ekonomi, yang harus dipertahankan sampai akhir proyek dan terus berlanjut pasca proyek. Untuk itu, kapasitas teknis dan manajerial mereka perlu diperkuat, pembukuannya dibenahi, sehingga kemampuan kelompok untuk meningkatkan produktivitasnya meningkat dan hasil usahanya menunjukkan cash flow yang positif, serta dibukukan dengan baik. Hal ini membuka peluang Pokmas Pesisir untuk dapat mengakses KUR, CSR, PKBL, atau sumber pendanaan lainnya, menopang permodalan kelompok dalam mengembangkan volume usahanya. Selain itu, kelompok infrastruktur juga dilatih menjadi tukang kayu atau tukang batu atau bengkel/pembuat fiber perahu nelayan. Beberapa kelompok yang terampil, sudah bisa mendapatkan pekerjaan dari desa-desa tetangga maupun program pemberdayaan masyarakat lainnya.
Kelima, pengembangan kerjasama dengan mitra pihak ketiga; swasta, koperasi, UMKM, Bumdes. Baik Pokmas usaha pesisir, maupun infrastruktur ekonomi yang dibangun memerlukan mitra yang mampu mengelolanya. Mitra ini diharapkan memiliki kapasitas manajerial, permodalan dan jaringan pemasaran sehingga dapat memperkuat pengembangan produksi, pemasaran usaha dan juga pengelola infrastruktur. Sehingga produksi pada kelompok dalam jumlah kecil digabung dengan kelompok lain, hingga mencapai skala ekonomis dan dikemas di rumah kemasan CCDP. Mitra juga dikembangkan dengan pasar swalayan atau jaringan waralaba, agar produksinya mendapat jaminan pemasaran yang langgeng, sembari kelompok tetap memproduksi untuk dijual di sekitar lokasi mereka untuk mendapatkan dana harian.
Halaman
28
Keenam, penguatan 12 koperasi mitra PMP, yang dibentuk atau difasilitasi oleh PIU CCDP. Ke depannya, koperasi ini diharapkan untuk mampu mandiri, menambah dan memperluas pelayanan kepada anggota. Penguatan koperasi antara lain melalui pemilihan pengurus koperasi yang memiliki “sense of bussiness” dan kemampuan manajemen, serta meningkatkan jumlah anggota aktif dan loyal. Konsultan dan TPD didorong aktif berperan. Saat ini dua dari 12 koperasi dipimpin olek konsultan CCDP. Perlu disadari bahwa ke depannya peran koperasi sangat penting dalam mengakses ataupun memfasilitasi/mendampingi pengelolaan kucuran dana CSR seperti PKBL Pertamina, CSR PPK Sampoerna, dana LPPMU KKP. Bahkan juga dalam kerangka pengelolaan bantuan dari Kementerian seperti bantuan kapal, mesin pakan dll.
Ketujuh, pengintegrasian kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir dalam kegiatan pembangunan desa, kegiatan Kementerian Desa (Dana Desa), dan Kementerian/ Lembaga terkait. Pada tahun 2018, anggaran dana desa (ADD) akan meningkat dan bisa digunakan untuk membiayai kelanjutkan kegiatan PMP di desa-desa yang menjadi lokasi proyek saat ini atau direplikasi ke desa lain. Untuk itu, kegiatan PMP perlu diperjuangkan untuk masuk ke dalam rencana pembangunan desa sehingga mendapatkan pendanaan dari program pemerintah untuk desa. Pada kenyataannya dana desa sudah mulai mengucur di lokasi CCDP, misalnya dalam pembangunan mangrove track dan pembinaan kelompok di Desa Langge, Gorontalo Utara, penambahan fasilitas pondok informasi di Kubu Raya. Ke depannya juga terus diusahakan untuk membantu pengembangan usaha Pokmas.
Langkah-langkah tersebut di atas serta capaian dan tindak lanjutnya akan didorong terus agar usah pokmas dan hasil dari investasi CCDP lainnya akan terjaga keberlanjutannya.
Pembelajaran dari keberhasilan exit strategy CCDP antara lain: (i) menyiapkan rencana exit strategy dari awal (jangan menunggu sampai menjelang proyek berakhir); (ii)
Halaman
29
mengkomunikasikan kegiatan proyek dan rencana strategynya, serta menjalin komunikasi yang intensif dengan para stakeholders untuk mengundang/mendorong partisipasi mereka.