• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penulis : M. Hasyim Zaini, Ir. Sapta Putra Ginting, Msc., PhD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penulis : M. Hasyim Zaini, Ir. Sapta Putra Ginting, Msc., PhD"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Halaman

i

Penulis : M. Hasyim Zaini, Ir. Sapta Putra Ginting, Msc., PhD

Kontributor : Anto Sunaryanto, Ansori Zawawi, Novenny Wahyudi, Irwandi Idriz, Jimmy Tampubolon, Saut Pane, Any Setyawati, Adi Priana Pasaribu, Kamaruddin Aziz, Teguh DJoko Saksono, Andi Sulfikar Saad, Delvano. Editor : M. Hasyim Zaini

Layout dan desain : Arfan Rasyid Cetakan Ke -1 : 2017

Penerbit : Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang dan Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jl. Medan Merdeka Timur No. 16, Gd. Mina Bahari III Lt. 8, Jakarta Pusat

Bekerja sama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD): PMO-CCDP (Project Management Office – Coastal Community Development Project)

Hak cipta dilindungi Undang-undang

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit

Ketentuan pidana pasal 72 UU No. 19 Tahun 2002

1. Barang siapa dengan sengaja atau tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu dipidana penjara paling sedikit 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupIah)

Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT) Buku Manual Replikasi CCDP IFAD Cover + vii + 102 halaman, 8.5” x 11” ISBN:

(3)

Halaman

ii

KATA PENGANTAR

Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut KKP melaksanakan misi ketiga KKP untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan mensejahterakan masyarakat pesisir melalui Coastal Community Development Project (CCDP-IFAD) atau disebut Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir (PMP). Tujuan CCDP adalah meningkatkan pendapatan keluarga masyarakat pesisir yang marginal pelaku kegiatan kelautan dan perikanan di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil.

Melalui CCDP ini diharapkan: (i) rumah tangga sasaran dapat menerapkan kegiatan ekonomi berbasis kelautan yang menguntungkan tanpa menimbulkan efek merugikan pada sumber daya laut, (ii) perluasan peluang ekonomi di kabupaten proyek untuk berkelanjutan, berbasis pasar, usaha kelautan-perikanan skala mikro dan kecil, dan (iii) proyek dikelola secara efisien dan transparan untuk kepentingan rumah tangga sasaran proyek dan masyarakat.

Memasuki tahun terakhir 2017, kegiatan CCDP telah diimplementasikan di 181 desa, 56 kecamatan dan 13 Kabupaten/Kota, dan telah terbentuk 2171 kelompok, 84 persen di antaranya masih bertahan di tahun kelima. Berdasarkan hasil AOS dan RIMS 2017, telah terjadi peningkatan produksi, asset produktif, lapangan kerja, ketahanan pangan, pengembangan pasar dan pendapatan, serta berkurangnya gizi buruk, musim lapar dan ketergantungan pada tengkulak. Kegiatan yang saling terkait tersebut diharapkan menjadi pilar untuk mendorong pengembangan usaha skala mikro, kecil dan menengah di desa pesisir secara berkelanjutan.

Buku “MANUAL REPLIKASI CCDP” ini, merupakan kumpulan dokumentasi dan hasil pembelajaran pelaksanaan lapang yang menunjukkan kisah sukses,

(4)

Halaman

iii

kekurangan dan tantangan dalam membangun masyarakat pesisir yang marginal dan kompleks. Pembelajaran inilah yang ingin kami share ke daerah lain. Semoga buku ini bisa bermanfaat menjadi bahan pembelajaran untuk replikasi konsep dan keberhasilan CCDP bagi daerah atau stakeholder pembangunan masyarakat pesisir lain.

Ir. Balok Budiyanto, MM Direktur PMO CCDP-IFAD

(5)

Halaman

iv

SEKAPUR SIRIH

CCDP-IFAD dimaksudkan untuk mengurangi kemiskinan dan bertujuan umtuk meningkatkan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan di masyarakat pesisir dan pulau kecil yang miskin dan aktif menjadi beneficiaries atau penerima manfaat dari CCDP, yang tersebar di 181 desa di 12 kabupaten/kota di kawasan Indonesia Timur. Sejak mulai dikembangkan tahun 2013, program CCDP telah menunjukkan perkembangan dan hasil positif memasuki tahun 2017.

CCDP dilaksanakan melalui tiga komponen kegiatan yaitu: Komponen-1. "Pemberdayaan Masyarakat, Pengembangan dan Pengelolaan Sumberdaya" sebagai inti proyek, mewakili sekitar dua pertiga investasinya dan kegiatannya berpusat pada masyarakat sasaran; Komponen-2. "Pembangunan Ekonomi Berbasis Kelautan/Perikanan Tingkat Kabupaten/Kota" yang membangun kapasitas kabupaten/kota untuk mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat; dan Komponen-3. "Manajemen/Pengelolaan Proyek". Di tingkat nasional, proyek dilaksanakan oleh Project Management Office (PMO) Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, sedangkan di daerah dilaksanakan oleh Dinas Perikanan sebagai Project Implementation Unit (PIU).

Pada tahun kelima 2017, diperkirakan dari sekitar 660 rumah tangga dalam sebuah desa rata-rata, hampir 60% di antaranya terlibat langsung ataupun tidak langsung dalam kegiatan penangkapan, pembudidayaan ikan, pengolahan dan kegiatan ekowisata bahari lainnya. Ini berarti bahwa total sekitar 70.000 rumah tangga, atau 320.000 orang terlibat menjadi beneficiaries dari Proyek CCDP.

(6)

Halaman

v

Indikator keberhasilan yang terkait dengan tujuan CCDP ini adalah: (1) pendapatan masyarakat pesisir sasaran proyek meningkat; (2) peningkatan rata-rata produksi kelompok usaha; (3) peningkatan hari orang kerja dan lapangan kerja baru; (4) peningkatan kesetaraan gender; (5) penambahan tabungan kelompok dan simpan pinjam (6) peningkatan akses pasar sebesar 70%; (7) peningkatan ketahanan pangan; (8) pengurangan gizi buruk atau malnutrition; (9) pengurangan ketergantungan pada tengkulak; dan (10) perbaikan indeks kepemilikan aset rumah tangga. Keberhasilan dan hambatan dalam pekasanaan CCDP ingin kami share dan direplikasikan ke daerah lain, sehingga bisa menjadi referensi pengelolaan proyek sejenis.

Catatan ringkas dalam sekapur sirih ini akan disajikan lebih lengkap dalam buku “MANUAL REPLIKASI CCDP” ini. Kami mengucapkan terimakasih kepada kepada semua tim pelaksanan proyek baik di PMO maupun PIU, seluruh konsultan, TPD dan kelompok masyarakat atas terselenggaranya kegiatan, serta terdokumentasi dengan baik hingga terwujudnya buku ini.

Sapta Putera Ginting

(7)

Halaman

vi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii SEKAPUR SIRIH ... iv DAFTAR ISI ... vi BAB 1. PENDAHULUAN ... 2 1.1 Latar Belakang ... 2

1.2 Replikasi & Penyebarluasan (Scaling up) Program PMP (CCDP) ... 3

1.3 Pendekatan dan Nilai ... 5

BAB 2. PEMBANGUNAN MASYARAKAT PESISIR: Pendekatan Model CCDP ... 8

2.1 Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir ... 8

2.2 Komponen Program/Investasi ... 11

2.3 Pengembangan Desa Melalui Partisipasi Kelompok ... 14

2.4 Capaian dan Hasil ... 16

2.5 Terobosan Inovatif Dalam Membangun Masyarakat Pesisir ... 20

2.6 Pengembangan Potensi Ekowisata Desa dan Pengelolaan wilayah yang Terintegrasi ... 22

2.7 Pengarusutamaan Gender ... 23

2.8 Keberlanjutan dan Exit Strategy ... 25

2.9 Knowledge Management (KM), Inovasi dan Pembelajaran ... 29

BAB 3. MEKANISME PROYEK PEMBANGUNAN MASYARAKAT PESISIR ... 33

3.1 Tahapan Pelaksanaan ... 34

(8)

Halaman

vii

3.3 Sosialisasi dan Pembentukan Kelompok Masyarakat ... 37

3.4 Inventarisasi Sumberdaya (Resource Inventory) ... 50

3.5 Pendampingan Kelompok ... 51

3.6 Rencana Pegelolaan Pesisir Terpadu (ICM) ... 53

3.7 Pengembangan Ekowisata ... 61

BAB 4. DUKUNGAN USAHA DAN PEMASARAN ... 69

4.1 Peluang pasar dan perencanaan strategi intervensi pemasaran ... 69

4.2 Penyusunan Strategi Intervensi Pemasaran ... 76

4.3 Proses Produksi awal komoditas/produk unggulan ... 76

4.4 Peningkatan kualitas produk ... 78

4.5 Kemitraan Usaha dalam Pemasaran ... 79

4.6 Perencanaan infrastruktur usaha tingkat kabupaten ... 80

4.7 Penyusunan Rencana Usaha (Bussiness Plan) dan Rencana Operasional (Operational Plan) ... 83

4.8 Pembentukan Koperasi CCDP-IFAD... 85

BAB 5 PENGELOLAAN DAN PENYALURAN DANA ... 89

5.1 Dasar Hukum Bantuan Pemerintah dan Persyaratan ... 89

5.2 Mekanisme Pengalokasian Dana ... 90

5.3 Tata Kelola Pencairan Danan Bantuan Pemerintah ... 94

5.4 Penyaluran Dana Bantuan Pemerintah ... 95

5.5 Pertanggungjawaban Bantuan Pemerintah ... 100

(9)

Halaman

1

(10)

Halaman

2

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 10.000 Desa/Kelurahan di daerah pesisir. Di sebagian besar desa/kelurahan tersebut merupakan kantung-kantung kemiskinan dan ketertinggalan, yang sudah sewajarnya mendapat perhatian khusus dari Pemerintah. Berbagai program dan proyek telah diarahkan untuk memberdayakan kehidupan masyarakat pesisir, khususnya yang berada di kawasan timur Indonesia. Sayangnya, dalam pelaksanaannya program pemberdayaan masyarakat pada umumnya masih bersifat parsial, sektoral dan

charity dalam pelaksanaannya dan belum menyentuh akar permasalahannya.

Akibatnya, banyak kegiatan-kegiatan pemberdayaan yang tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan, bahkan tidak bertahan lama.

Belajar dari permasalahan tersebut, maka pada tahun 2012 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) mengembangkan model pemberdayaan atau pembangunan masyarakat yang lebih komprehensif melalui Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir (PMP) atau

Coastal Community Development Project (CCDP) yang dilaksanakan di 12

kabupaten/kota sebagian besar di wilayah indonesia bagian timur.

Dalam pelaksanaannya, CCDP secara konsisten menerapkan strategi pendekatan perencanaan dari bawah dan fasilitasi untuk mendukung perubahan sikap prilaku masyarakat. Strategi dan metode yang digunakan tersebut terkesan unik, karena sangat berbeda dengan yang selama ini digunakan oleh program-program sejenis lainnya. Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM), yang digunakan untuk kegiatan

(11)

Halaman

3

kemasyarakatan, modal usaha dan perbaikan lingkungan, diposisikan sebagai pelengkap kegiatan pembelajaran dan menjadi stimulan untuk terjadinya perubahan sikap dan perilaku masyarakat.

Kegiatan usaha masyarakat tersebut didukung dengan pengembangan usaha dan pemasaran intensif, termasuk dukungan peningkatan kualitas produk, kerjasama dan kemitraan dengan pihak ketiga untuk pengembangan usaha dan pemasarannya.

Hasil evaluasi melalui survei AOS dan RIMS menunjukkan investasi dengan pola CCDP telah membuahkan hasil (outcomes) dan dampak (impacts) yang signifikan berupa peningkatan pendapatan, perubahan perilaku termasuk aktivitas menabung, peningkatan peran perempuan dalan rumah tangga, penurunan kasus penurunan gizi di kalangan balita, bahkan juga untuk membiayai pendidikan keluarga. Demikian juga perencanaan kegiatan-kegiatan masyarakat desa disusun sedemikian rupa sehingga bisa diintegrasikan atau mendukung perencanaan desa, serta pemanfaatan dana desa, mengacu kepada UU Desa.

1.2 Replikasi & Penyebarluasan (Scaling up) Program PMP (CCDP)

Selama lima tahun periode operasionalnya, CCDP telah memperlihatkan kinerja yang sangat baik, sehingga selalu mendapat rating penilaian satisfactory dalam beberapa kali

joint review yang dilaksanakan oleh IFAD bersama Pemerintah Indonesia. CCDP telah

dinyatakan sebagai salah satu proyek IFAD terbaik di seluruh dunia, sehingga sering menjadi obyek kunjungan dan pembelajaran dari berbagai lembaga baik nasional maupun internasional. Aktivitas CCDP telah menunjukkan hasil yang sangat signifikan dalam peningkatan pendapatan dan tingkat kesejahteraan masyarakat, yang dibuktikan melalui survei AOS dan RIMS. Capaian dan hasil pelaksanaan tersebut telah membangkitkan minat berbagai pihak untuk mereplikasi atau mengadopsi model CCDP.

(12)

Halaman

4

Yang dimaksud dengan replikasi program CCDP adalah upaya untuk mengadopsi model/pola CCDP baik secara keseluruhan atau sebagian (parsial) dalam kerangka penanggulangan kemiskinan dan pembangunan masyarakat di wilayah sasaran.

Manual replikasi ini disusun untuk membantu dan memfasilitasi Pemerintah Kota/Kabupaten, serta pihak lainnya yang mempunyai komitmen terhadap penanggulangan kemiskinan dan berkeinginan untuk menerapkan/adopsi model CCDP dalam program pembangunan masyarakat di wilayahnya. Aktivitas untuk mendukung dan menyiapkan replikasi ini juga merupakan bagian dari logframe CCDP.

Replikasi dan penyebarluasan (scaling up) dapat dilakukan secara parsial atau menyeluruh, disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi setempat meliputi:

• Hubungan langsung ke desa-desa yang berdekatan dan perluasan wilayah pengelolaan sumber daya untuk unit pengelolaan terkait ekosistem seperti teluk, laguna, estuari, atau ekosistem pesisir lainnya.

• Replikasi dalam kabupaten yang sama sebagai bagian integral dari rencana pembangunan perikanan kabupaten.

• Penyuluhan dan replikasi unsur-unsur proyek ke kabupaten tetangga, terutama rantai pasok pasar dan pembangunan kelompok produsen di seluruh peluang pasar.

• Replikasi model bisnis yang sukses dengan modal swasta.

• Evaluasi yang cepat, terus-menerus dan berulang terhadap kegiatan proyek untuk membangun kesuksesan dan mengatasi kegagalan.

• Persiapan setelah tinjauan pertengahan mengenai strategi dan rencana pembiayaan yang menyeluruh terhadap pembuatan kegiatan proyek yang lebih baik lagi (scaling up).

(13)

Halaman

5

Penerapan model CCDP ini tidak terbatas hanya di wilayah pesisir tapi juga bisa diimplementasikan di wilayah lain dan sektor selain kelautan & perikanan.

1.3 Pendekatan dan Nilai

Ada empat pendekatan utama yang penting dalam pelaksanaan CCDP :

(i) Pendekatan partisipatif dalam pemberdayaan masyarakat, menjadi dasar kegiatan, investasi dan merupakan ‘jiwa’ dari CCDP-IFAD.

(ii) Fokus pada kemiskinan dan menargetkan masyarakat pesisir yang miskin, merupakan kebijakan fundamental pemerintah dan IFAD, yang menjadi faktor penentu dalam pemilihan masyarakat proyek – semua desa proyek terpilih memiliki setidaknya 20% rumah tangga di bawah garis kemiskinan (sesuai kriteria/standar BPS dan/atau ukuran lain yang resmi seperti PNPM). Fokus masyarakat yang dimaksud adalah pada masyarakat miskin yang aktif dan juga memperhitungkan aspek gender.

(iii) Strategi dan Kegiatan pemasaran yang memberikan hasil kepada rumah tangga masyarakat pesisir dan meningkatkan pendapatan mereka dengan usaha perikanan berkelanjutan.

(iv) Replikasi dan pelaksanaan kegiatan proyek yang lebih luas (scaling-up). Kabupaten/kota proyek yang tersebar dipertimbangkan sebagai inti daerah pengujian berbagai solusi yang beragam, yang sebagian besar dihuni masyarakat miskin.

Di samping pendekatan tersebut diatas, ada beberapa prinsip dan nilai tambahan yang membingkai CCDP, meliputi:

(i) Transparansi: Transparansi berarti bahwa semua kegiatan harus transparan dan terbuka untuk umum. Masyarakat dan peserta program di desa-desa harus tahu,

(14)

Halaman

6

mengerti dan memahami kegiatan program dan memiliki kebebasan untuk melakukan kontrol independen.

(ii) Akuntabilitas: Pengelolaan setiap kegiatan harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat setempat atau kepada semua pihak yang kompeten sesuai dengan peraturan dan kebijakan yang ada atau yang disepakati.

(iii) Desentralisasi: masyarakat pesisir dan pemerintah Kabupaten/Kota akan memiliki tanggung jawab dan kewenangan untuk menentukan dan mengelola kegiatan yang didanai program.

(iv) Kejujuran dan keadilan: setiap proses pengambilan keputusan, pengelolaan dana dan pelaksanaan kegiatan akan dilakukan secara jujur tanpa manipulasi. Keputusan akan menekankan prinsip keadilan berdasarkan kebutuhan dan kepentingan yang sesungguhnya dari masyarakat miskin.

(v) Sukarela: masyarakat akan memberikan kontribusi dalam bentuk tenaga dan bahan-bahan untuk kegiatan proyek dan pengelolaan terhadap kegiatan ini yang memberikan bagi masyarakat pesisir tersebut.

(15)

Halaman

7

(16)

Halaman

8

BAB 2. PEMBANGUNAN MASYARAKAT PESISIR: Pendekatan

Model CCDP

Sebagian besar masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil menggantungkan hidupnya pada sektor Kelautan dan Perikanan. Pada mulanya, mata pencaharian mereka sangat tergantung pada kemelimpahan sumberdaya ikan, yaitu sebagai nelayan. Dengan semakin intensifnya usaha penangkapan ikan yang berakibat semakin terbatasnya sumberdaya ikan di alam, maka semakin berkembang pula usaha-usaha lain yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan sektor Kelautan dan Perikanan, termasuk budidaya ikan, pengolahan dan pemasaran ikan, dan lain sebagainya. Inilah bidang-bidang usah yang juga menjadi perhatian PMP.

2.1 Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir

Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir (PMP) atau Coastal Community Development Project (CCDP) merupakan kerjasama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan International Fund for Agricultural Development (IFAD) berdasarkan Financing Agreement antara Pemerintah Republik Indonesia dengan IFAD yang ditandatangani pada tanggal 23 Oktober 2012.

Proyek tersebut sebagai respon langsung terhadap kebijakan dan prakarsa Pemerintah Indonesia, dan khususnya KKP untuk pengentasan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan yang berkelanjutan (pro-poor, pro-job,

pro-growth and pro-sustainability) yang sejalan dengan kebijakan dan program IFAD.

Proyek melibatkan kerjasama pemerintah, baik pada tingkat nasional maupun kabupaten/kota dalam hal pendanaan proyek. Pendanaannya menggabungkan

(17)

Halaman

9

pinjaman IFAD dengan persyaratan tertentu yang bersumber dari dana bantuan Pemerintah Spanyol yang dikelola oleh IFAD, pinjaman dan juga hibah dari IFAD, APBN, APBD, serta kontribusi in-kind masyarakat pesisir terkait , yang kesemuanya berjumlah total US$ 43,219 juta.

Empat alasan utama pengajuan proyek ini oleh KKP dan kesediaan IFAD untuk mendanainya, yaitu: (i) masyarakat yang tinggal di pesisir dan pulau kecil pada umumnya termasuk kelompok masyarakat miskin sampai sangat miskin; (ii) banyak masyarakat yang memiliki motivasi dan berkomitmen untuk memperbaiki tingkat ekonomi mereka dan bertanggung jawab dalam pembangunan; (iii) adanya peluang-peluang ekonomi yang baik dengan potensi pasar yang kuat terutama untuk produk kelautan dan perikanan yang bernilai tinggi; dan (iv) secara konsisten mendukung kebijakan dan prioritas pemerintah. Proyek ini juga akan merespon pentingnya mengatasi masalah degradasi sumberdaya alam dan perubahan iklim serta memberi pengalaman kepada pemerintah dalam mereplikasi dan merencanakan kegiatan yang lebih baik lagi (scaling up).

Semua lokasi Proyek terletak di kawasan timur Indonesia. Hal ini sesuai dengan

Country Strategic Opportunities Programme (COSOP) dari IFAD untuk memfokuskan

proyek pada daerah yang memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi. Proyek ini terkonsentrasi pada sejumlah kabupaten/kota tertentu yang memiliki wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang memiliki kondisi sosial/budaya beragam, yang merupakan masyarakat miskin namun memiliki potensi sumber daya dan akses pasar yang baik.

Tiga belas kabupaten/kota, dalam 10 provinsi, telah terpilih untuk menjadi lokasi proyek ini berdasarkan keberhasilan daerah dalam berpartisipasi melakukan kegiatan-kegiatan kelautan dan perikanan sebelumnya. Hal ini termasuk komitmen dan dukungan keuangan pemerintah kabupaten/kota tersebut untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil berdasarkan potensinya dalam

(18)

Halaman

10

meningkatkan nilai tambah dari hasil produk kelautan dan perikanan lainnya, dan meningkatkan kegiatan dari proyek tersebut untuk dideseminasi ke kabupaten/kota lainnya.

Kabupaten/kota yang terpilih menjadi lokasi Proyek PMP mewakili berbagai karakteristik kabupaten/kota dari Indonesia bagian timur, d imasa yang akan datang kabupaten/kota tersebut diharapkan menjadi contoh atau tempat pembelajaran dalam memprakarsai sejenis proyek pembangunan masyarakat pesisir lainnya. Pemanfaatan beragam sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil memungkinkan proyek ini untuk memperkenalkan proses yang berbeda-beda terhadap pengelolaan sumber daya, yang dikombinasikan dengan pembangunan ekonomi yang berkesinambungan untuk budidaya ikan, penangkapan ikan, pengolahan, pemasaran dan kegiatan kelautan dan perikanan lainnya.

Dari setiap kabupaten/kota, akan dikembangkan 15 desa/kelurahan pesisir. Dari 15 desa/kelurahan tersebut telah dipilih 9 desa/kelurahan berdasarkan kriteria, antara lain: (i) tingkat kemiskinan tiap lokasi minimal 20%; (ii) motivasi dan kesuksesan berpartisipasi dalam program-program sebelumnya; (iii) potensi untuk produksi dan pertambahan nilai (value added) kelautan dan perikanan; dan (iv) dimasukkannya pulau-pulau kecil di setiap lokasi kabupaten/kota yang memiliki pulau. Sisanya 6 desa akan dipilih pada tahun ketiga jika 9 desa sebelumnya telah berhasil. Dengan demikian sasaran Proyek PMP ini mencakup 180 desa/kelurahan, yang akan dibina selama 5 tahun kegiatan. Diperkirakan sebanyak 660 rumah tangga akan ikut terlibat dalam proyek di setiap desa, dan sekitar 60% akan terlibat langsung ataupun tidak langsung seperti kegiatan penangkapan dan pembudidayaan ikan dan kegiatan berbasis kelautan dan perikanan lainnya. Sehingga total sebanyak 70.000 rumah tangga atau 320.000 orang sebagai sasaran dari proyek ini.

(19)

Halaman

11

2.2 Komponen Program/Investasi

Proyek PMP terdiri dari 3 komponen dan 5 sub-komponen yang dilaksanakan melalui beberapa tahapan kegiatan.

Komponen 1: Pemberdayaan Masyarakat, Pembangunan dan Pengelolaan Sumber Daya Pesisir

Komponen ini merupakan inti dari proyek ini dan menyediakan dana untuk kegiatan inti yang mewakili sekitar dari dua pertiga investasi proyek. Semua kegiatan dipusatkan pada masyarakat pesisir sasaran dan didorong oleh proses partisipatif dan penentuan desa/kelurahan prioritas untuk pembangunan kelautan dan perikanan termasuk pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan.

a. Sub-Komponen 1.1 – Fasilitasi, Perencanaan dan Pemantauan Masyarakat memberikan kerangka kerja bagi keterlibatan kelompok sasaran, menyediakan alat sosial dan keterampilan pengelolaan proyek yang diperlukan untuk melaksanakan proyek di tingkat desa. Kualitas, dedikasi dan keterampilan para Tenaga Pendamping Desa (TPD), penyuluh, tenaga konsultan, serta kualitas kepemimpinan dari para pemimpin kelompok desa akan menentukan faktor-faktor dalam mencapai hasil.

b. Sub-Komponen 1.2 – Penilaian, Perencanaan, dan Pengelolaan Sumber Daya Pesisir menetapkan visi dari hasil konsensus yang luas dari desa untuk pemanfaatan dan konservasi sumber daya pesisir secara berkelanjutan di desa/kelurahan dan struktur hubungannya dengan desa sekitar dan para pengguna sumber daya dari luar masyarakat desa tersebut. Hal ini dirancang untuk membangun keterpaduan antar wilayah dan ekosistem pesisir untuk pembangunan ekonomi berbasis kelautan.

(20)

Halaman

12

c. Sub-Komponen 1.3 – Pembangunan Desa yang berorientasi terhadap Pasar

menyediakan investasi dalam pembangunan ekonomi. Komponen ini adalah pendorong inti dari peningkatan penghidupan dan pengurangan kemiskinan di masyarakat sasaran. Empat jenis investasi yang disediakan, semuanya dalam bentuk dana hibah/BLM, dan sekarang dikenal sebagai Bantuan Pemerintah (BP) kepada kelompok masyarakat yaitu : (i) untuk prasarana desa, khususnya terkait dengan ekonomi kelautan, (ii) untuk sarana jasa ekonomi terkait dengan ekonomi kelautan, (iii) untuk usaha yang terlibat dalam produksi dan pemasaran dan kegiatan ekonomi sepanjang rantai pasok berdasarkan kegiatan ekonomi kelautan, (iv) untuk konservasi dan pengembangan ekowisata tingkat desa.

Komponen 2: Pengembangan Ekonomi Berbasis Kelautan dan Perikanan

Komponen ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas kabupaten/kota sasaran untuk mendukung kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir yang jadi sasaran melalui (i) dukungan dibidang prasarana utama, inovasi, keterampilan dan kepemimpinan dan (ii) dukungan untuk pembangunan rantai pasok (value chain) berdasarkan kegiatan ekonomi kelautan dan perikanan.

a. Sub-Komponen 2.1 – Dukungan Pengembangan Usaha Perikanan Skala Kecil di Kabupaten/Kota. Dana pembangunan kabupaten/kota untuk perikanan skala kecil, atau fasilitas akan dikelola oleh PIU dan digunakan untuk menyediakan prasarana utama guna mendukung kegiatan yang inovatif, misalnya pabrik es mini untuk mendukung kumpulan nelayan skala kecil. Dukungan juga akan diberikan untuk pengelolaan pengetahuan, pelatihan, kepemimpinan, dan pembuatan kegiatan proyek yang lebih baik.

(21)

Halaman

13

b. Sub-Komponen 2.2 – Dukungan Pemasaran tata niaga dan Rantai Pasok (supply

chain and value added ). Komponen ini akan mengidentifikasi, menyusun dan

mendukung pembangunan dari berbagai rantai pasok (value chain), menghubungkan produsen di desa pesisir ke pasar, mengemas produk sesuai dengan klusterisasi, meningkatkan kualitas, standarisasi dan peningkatan nilai tambah produk.

Komponen 3 – Pengelolaan Proyek

Pada komponen dilakukan koordinasi pelaksanaan menyeluruh di tingkat pusat melalui kantor Pengelola Proyek (PMO) yang berbasis di Ditjen KP3K KKP, layanan konsultan terkait, berikut pelatihan, pemantauan dan evaluasi dan penyusunan kegiatan anggaran biaya dan pelaksanaan di tingkat kabupaten/kota melalui 13 Unit Pelaksana Proyek (PIU) kabupaten/kota. Komponen ini juga akan mendukung pekerjaan Panitia Pengarah Nasional, dan 12 Komite Pemberdayaan Masyarakat Pesisir ( District Oversight Board ) dan memfasilitasi agar terjadi transparansi dan keterlibatan masyarakat pesisir terkait. Komponen ini juga membangun sarana untuk pembuatan kegiatan proyek yang lebih baik untuk skala nasional.

Proyek ini akan dilaksanakan secara terdesentralisir sesuai dengan kebijakan nasional tentang desentralisasi dan dengan keputusan utama proyek yang dibuat di tingkat masyarakat sejalan dengan penekanan pemerintah terhadap pemberdayaan masyarakat. PMO di KKP akan melaporkan secara berkala kepada Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dengan saran, keputusan dan pengawasan dari Komite pengarah. Dalam setiap kabupaten/kota, PIU akan bertanggung jawab atas kegiatan proyek dan beroperasi di bawah kepala daerah kabupaten/kota dan berkoordinasi dengan DOB.

(22)

Halaman

14

(Rincian dan tahapan pelaksanaan kegiatan diuraikan dalam Bab 3 dan bab-bab berikutnya).

2.3 Pengembangan Desa Melalui Partisipasi Kelompok

Idealnya setiap desa/kelurahan memiliki lima jenis kelompok untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi sekaligus melestarikan lingkungan secara berkelanjutan. Kelima jenis kelompok tersebut adalah kelompok kerja desa, kelompok pengelolaan sumber daya pesisir, kelompok pembangunan prasarana, kelompok usaha, dan kelompok tabungan.

Pendekatan kelompok dilakukan, karena ada collective action dari anggota dalam satu kelompok, rasa senasib sepenanggungan, dan saling bahu membahu menghadapi tekanan dari luar mereka, termasuk dalam menghadapi rentenir/tengkulak, atau saingan usaha dalam penagkapan ikan. Mereka juga mempunyai posisi tawar lebih baik dalam menjual produknya dengan harga yang lebih menguntungkan. Jika sendiri-sendiri lebih mudah dikuasai tengkulak.

Setiap desa/kelurahan bisa memiliki rata-rata 13 kelompok, bisa lebih atau kurang tergantung populasi penduduk desa, dan dibentuk secara bertahap tidak dalam satu tahun anggaran. Perinciannya satu kelompok pengelolaan sumber daya, satu kelompok pembangunan prasarana, 10 kelompok usaha, dan 1 kelompok tabungan. Untuk kelompok usaha minimal ada 2 kelompok usaha wanita agar didorong kesetaraan gender. Masing-masing kelompok beranggotakan 8 – 11 orang/KK. Pada setiap desa/kelurahan dibentuk satu Kelompok Kerja Desa atau Village Working

Group (VWG) yang mengkoordinasikan kegiatan 13 kelompok tersebut. VWG terdiri

dari 5 orang, yaitu satu unsur Pemerintah desa, satu tokoh masyarakat, dan 3 orang mewakili kelompok Masyarakat yang dibentuk, dua di antaranya anggota VWG wanita

(23)

Halaman

15

agar mengawal kepentingan perempuan dalam pelaksanaan. Setiap kelompok memiliki Ketua, Sekretaris, dan Bendahara.

(24)

Halaman

16

2.4 Capaian dan Hasil

Kelompok Masyarakat

Sampai akhir 2016, CCDP sudah berhasil membentuk 2.171 pokmas di 181 desa/kelurahan, terdiri dari 181 VWG, 181 pokmas infrastruktur, 180 pokmas PSDA, serta 1.607 pokmas usaha mencakup usaha penangkapan ikan, budidaya, pengolahan hasil, dan pemasaran hasil perikanan. Rincian dan distribusi jumlah pokmas tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.2 berikut.

Tabel 2.2. Rekapitulasi Jumlah Kelompok Masyarakat CCDP-IFAD

No Kab/Kota VWG Infra PSDA Pokmas Usaha Tabungan JML

Tangkap Bddy P’olah P’masar Lain2

1 Merauke 15 15 15 51 3 45 0 0 0 144 2 Yapen* 15 15 14 74 28 17 6 0 6 177 3 Ternate 17 17 17 107 1 25 9 0 1 194 4 Ambon 13 13 13 49 1 10 45 0 2 146 5 Mal Teng 16 16 16 68 61 7 2 0 2 188 6 Bitung 17 17 17 86 12 23 0 0 2 174 7 Gor Uta 16 16 16 91 20 28 12 0 0 199 8 Parepare 12 12 12 21 30 35 27 2 2 153 9 Makassar 15 15 15 69 32 40 10 0 4 200 10 Kupang 16 16 16 33 20 55 53 0 0 209 11 Lom Bar 15 15 15 106 27 34 5 1 0 218 12 Kubu Raya 14 14 14 89 15 19 3 0 1 169 Jumlah 181 181 180 844 250 338 172 3 20 2.171

Jumlah Pokmas Usaha + Pokmas Tabungan

1627

(25)

Halaman

17

Kinerja Pokmas Usaha

Membentuk kelompok masyarakat, tidaklah terlalu sulit. Justru tantangan terbesar adalah mengusahakan agar pokmas terus aktif berusaha dan berkembang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan penilaian kinerja terhadap pokmas usaha setiap semester. Kriteria penilaian mengikuti apa yang pernah disetujui antar Eselon-1 KKP yang kemudian diimprovisasi sesuai dengan kondisi dan situasi CCDP, meliputi (a) kemampuan berproduksi secara kontinyu, (b) keberhasilan meningkatkan pendapatan, (c) kemampuan mengakses pasar, (d) kemampuan menabung dan (e) kemampuan mengakses sumber keuangan.

Tabel 2.3. Kriteria Penilaian Kinerja Pokmas

Aspek Penilaian Berprodu ksi secara Kontinyu Peningkat an Pendapat an Peningkat an Akses Pasar Peningkatan jumlah tabungan Kelompok Akses terhadap Kredit Program atau Perbankan Hasil Penilaian √ √ √ √ √ Mandiri √ √ √ √ - Berhasil Baik √ √ √ - - Cukup Berhasil √ √ - - - Mulai Berhasil √ - - - - Belum Berhasil - - - Tidak Berhasil

(26)

Halaman

18

Dengan menggunakan kriteria tersebut, hasil penilaian kinerja pada semester-2 tahun 2016 seperti terlihat pada Tabel 2.4 berikut.

Tabel 2.4. Hasil Penilaian Kinerja Pokmas Usaha Semester-2 2016

No Kab/Kota Pokmas Usaha+Tab 2013-2016

Pokmas Dinilai

Hasil Penilaian Pokmas

Tidak Berhasil Belum Berhasil Mulai Berhasil Cukup Berhasil Berhasil Baik Mandiri 1 Merauke 99 99 12 19 39 14 14 1 2 Yapen 131 128 6 5 86 28 3 0 3 Ternate 143 142 9 11 38 42 42 0 4 Ambon 107 106 1 0 78 17 10 0 5 Maltera 140 140 0 0 2 92 46 0 6 Bitung 123 121 5 3 25 34 54 0 7 Gorut 151 151 4 30 27 50 28 12 8 Parepare 117 115 8 22 46 19 19 1 9 Makassar 155 144 0 22 31 38 50 3 10 Kupang 161 161 4 76 41 15 21 4 11 Lombar 173 116 0 1 3 43 60 9 12 Kubu Raya 127 117 9 1 40 29 36 2 Jumlah 1.627 1.540 58 190 456 421 383 32 % 94,65 3,51 12,34 29,61 27,34 24,87 2,08

Jika pokmas yang beroperasi dapat diperhitungkan sebagai pokmas yang mendapat penilaian ‘mulai berhasil’ sampai dengan ‘mandiri’, maka pada akhir tahun 2016 pokmas usaha yang beroperasi mencapai 83,90%. Capaian ini lebih besar dari target dalam Logframe CCDP, IFAD menargetkan bahwa di akhir operasional Proyek 60% pokmas usaha masih aktif beroperasi dan di antaranya 70% usahanya menguntungkan. Untuk menverifikasi hasil penilaian tersebut, dilakukan pendalaman melalui sampling dengan menitipkan daftar kuesioner pada survai AOS (Annual Outcome Survey) 2017.

(27)

Halaman

19

Hal lain yang menggembirakan adalah perubahan perilaku di kalangan pokmas usaha yang sudah semakin giat menabung. Jika pada semester I 2015 tercatat 433 pokmas memiliki tabungan dengan nilai Rp 720 juta, pada semester II 2016 sudah semakin berkembang menjadi 923 pokmas dengan nilai tabungan Rp 1,6 miliar. Ditinjau dari rata-rata nilai tabungan per pokmas, memang tidak meningkat karena sebagian adalah pokmas yang baru mulai menabung. Di samping itu uang tabungan juga sudah mulai digunakan untuk hal-hal yang produktif seperti untuk perbaikan perahu atau mesin perahu, bahkan juga untuk pembelian yang baru.

Infrastruktur Desa

Sebanyak 751 unit berbagai jenis infrastruktur seperti pondok informasi, jetty/tambatan perahu, jembatan dan jalan setapak, fasilitas air bersih, talud dll., telah dibangun di 181 desa/kelurahan dengan dana BP sebesar Rp 34,3 miliar ditambah

inkind sharing dari masyarakat sebesar Rp 8,9 miliar (26%). Infrastruktur tersebut

tidak hanya dimanfaatkan oleh kelompok masyarakat penerima BP, namun juga dinikmati oleh ribuan keluarga masyarakat lainnya.

Sebagai contoh, sebagian besar dari 181 unit Pondok Informasi yang telah dibangun juga telah dimanfaatkan oleh berbagai pihak, untuk kegiatan sosial seperti pengajian, Posyandu, perkawinan, pertemuan desa, dan juga digunakan untuk kegiatan lembaga dan instansi lainnya.

Dukungan usaha dan pemasaran hasil produksi pokmas

Untuk menjaga keberlanjutan dan pengembangan usaha pokmas diperlukan dukungan untuk meningkatkan produksi, kualitas produksi dan pemasarannya. Untuk itu, sebanyak 633 unit fasilitas produksi dan pemasaran seperti pabrik es mini, rumah

(28)

Halaman

20

kemasan, rumah niaga, rumah produksi, kendaraan niaga roda 3 dan roda 4 telah dibangun atau diadakan untuk mendukung usaha produksi dan pemasaran hasil pokmas. Fasilitas ini tidah hanya dimanfaatkan oleh pokmas CCDP tapi juga untuk melayani kelompok usaha masyarakat lainnya.

Untuk memperkuat pemasaran produk pokmas didukung dengan sertifikasi berupa 299 PIRT dan 99 sertifikat halal. Dengan sertifikasi, produk pokmas dapat dipasarkan tidak hanya dijual di pasar lokal, tapi juga dipasarkan ke wilayah yang lebih luas, tingkat provinsi dan nasional melalui jaringan toko-toko besar/supermarket.

Untuk menunjang pemasaran tersebut dilakukan kerjasama/MOU pemasaran antara Pokmas dengan pemasar tersebut. Demikian juga agar infrastruktur ekonomi tersebut terkelola dengan baik, maka pengelolaan dikerjasamakan dengan pihak ketiga seperti dengan koperasi atauswasta.

(Berbagai capaian dan juga testimoni terkait hal tersebut disajikan dalam buku “Menyejahterakan Masyarakat Pesisir Secara Berkelanjutan”, dan publikasi CCDP lainnya).

2.5 Terobosan Inovatif Dalam Membangun Masyarakat Pesisir

Menggarap proyek berbantuan luar negeri sarat dengan pengalaman berharga. Pada tahun-tahun pertama dan kedua misalnya, berbagai problem bermunculan mulai dari serapan dana rendah, pelaksanaan di lapangan tersendat-sendat, pelaksana di daerah belum paham konsep proyek, dan mereka sering menunggu arahan dari pusat. Berdasarkan pengalaman tersebut, maka diperlukan lima terobosan inovatif dalam proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir.

(29)

Halaman

21

Belajar dari pengalaman tersebut, maka dalam pelaksanaan CCDP dilakukan berbagai terobosan. Dengan demikian diharapkan sejak tahun pertama pelaksanaan proyek bisa berjalan secara baik dan mampu menghadirkan pelayanan cepat dan tepat secara langsung ke masyarakat yang menjadi sasaran proyek serta memacu pelaksanaan di lapangan.

Setidaknya ada lima upaya terobosan inovatif dilakukan dalam Proyek PMP, yakni sebagai berikut:

1. Membuat dan merekrut tenaga konsultan profesional yang berasal tidak jauh dari lokasi pelaksanaan proyek.

2. Mengemas paket-paket kegiatan proyek sehingga dapat diimplementasikan dalam pengadaan barang dan jasa secara mudah. Biasanya nilai paket kegiatan tersebut kurang dari US$ 50.000 per paket. Sebab, paket-paket yang nilainya di atas US$ 50.000 harus ada persetujuan beberapa tahap (no objection letter) dan melalui proses panjang.

3. Menerapkan sistem reward and punishment sehingga setiap tahun anggaran biaya proyek masing-masing kabupaten/kota dialokasikan merip dan kinerjanya.

4. Mengembangkan manajemen sistem informasi (MIS) untuk pengelolaan informasi kegiatan CCDP, dan Weekly Dashboard sebagai instrumen Monev yang dapat menyampaikan informasi secara cepat dari lapangan setiap minggu.

5. Mengembangkan sistem informasi dengan cepat menggunakan Whatsapp. Ini penting karena banyak lokasi proyek berada pada limit area dengan akses internet yang masih terbatas. Melalui cara ini, meskipun bandwith komunikasi telepon tidak besar namun informasi masih dapat dikirimi melalui Whatsapp.

(30)

Halaman

22

2.6 Pengembangan Potensi Ekowisata Desa dan Pengelolaan wilayah yang Terintegrasi

Bagian ini sesungguhnya tak terencana sebelumnya dalam program CCDP, seiring berjalannya pelaksanaan kegiatan, timbul ide di kalangan sebagian pokmas PSDA yang didukung PIU, konsultan dan TPD untuk mencoba memanfaatkan potensi keindahan sumberdaya di desanya, dan dikembangkan menjadi lokasi lokasi wisata.

Diawali dari upaya pelestarian kawasan mangrove di pulau Lembeh, pokmas PSDA berupaya mengembangkannya menjadi kawasan ekowisata, melengkapi kawasan tersebut dengan mangrove track. Upaya mereka tidak sia-sia, lokasi tersebut menjadi lokasi wisata yang ramai dikunjungi, termasuk juga juga dimanfaatkan untuk pre-

wedding shooting. Pengembangan potensi wisata tingkat desa tersebut juga memotivasi

wilayah lainnya mengembangkannya. Hingga akhir 2016 pengembangan ekowisata bahari ini sudah dilakukan di lebih dari 30 lokasi.

Pengembangan ekowisata ini juga sangat mendukung keberlanjutan pengelolaan sumberdaya pesisir pokmas PSDA, dan juga sudah mengudang perhatian dan dukungan pihak lain, seperti dari pimpinan desa dan dinas pariwisata setempat dan LSM untuk mengembangkan lebih lanjut pasca CCDP.

Hal serupa dengan perencanaan pengelolaan sumberdaya yang semula terbatas kepada inventori sumberdaya, dalam pelaksanaannya ternyata pola perencanaan secara terintegrasi (integrated coastal management-ICM) sangat membantu dan kompatibel untuk diadopsi ke dalam sistem perencanaan desa. Sampai akhir 2016, sebagian besar dari 181 desa telah dilengkapi dengan perencanaan ICM.

(31)

Halaman

23

(Informasi lebih detail tentang ekowisata bahari dan ICM disajikan pada sub bab 3.6 dan 3.7)

2.7 Pengarusutamaan Gender

Upaya menuju kesetaraan gender di Indonesia tercantum dalam Inpres No 9 tahun 2000 tentang PUG dalam pembangunan nasional, yang terkait dengan target CCDP yaitu memberikan kesempatan kepada perempuan dan laki-laki masyarakat miskin untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi, meningkatkan pendapatan dan memperkuat ketahanan dirinya, terutama untuk memperbaiki ketertinggalan kaum perempuan.

Selain memiliki fungsi reproduksi, peran perempuan dalam berbagai kegiatan produktif merupakan faktor kunci untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga nelayan terutama pada ketahanan pangan. Dengan diberinya kesempatan untuk memberdayakan dirinya, perempuan menjadi peserta aktif dalam program dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari solusi pengembangan strategi mata pencaharian yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir. Terjadi kemajuan kualitatif dengan adanya peningkatan kapasitas organisasi dan ekonomi, rasa harga diri, dan pengaruh perempuan terhadap pengambilan keputusan di tingkat rumah tangga dan masyarakat, terutama terhadap peningkatan ekonomi rumah tangganya.

Strategi PUG dan target partisipasi

Dalam rangka mencapai tujuan PUG tersebut, digunakan strategi bercabang tiga yang menyangkut tiga aspek yaitu: politik/kebijakan, ekonomi dan sosial, bertujuan untuk: (1) memperkuat peran perempuan dalam pengambilan keputusan tentang isu-isu masyarakat dan partisipasinya di lembaga-lembaga lokal, (2) memberdayakan

(32)

Halaman

24

perempuan untuk berperan aktif dalam perekonomian, dan (3) meningkatkan pengetahuan dan kesejahteraan perempuan serta mengurangi beban hidupnya.

Partisipasi perempuan ditargetkan minimal 30% dari anggota lembaga/kelompok masyarakat, minimal 30% sebagai peserta pertemuan/sosialisasi pemberdayaan dan pelatihan, dan jumlah kelompok usaha perempuan minimal 20% dari jumlah kelompok usaha ekonomi yang ada di desa. Dalam Logframe CCDP, salah satu indikator outputnya adalah 50% perempuan perdesaan menyatakan Rencana Desa mewakili prioritasnya.

Dalam pelaksanaannya CCDP secara konsisten berhasil mencapai atau mendekati target sasaran 30%. Demikian pula, berdasarkan hasil survei AOS, target dalam logframe telah terlampaui.

Tak hanya capaian kuantitatif, bertambahnya peluang usaha bagi ibu-ibu rumah tangga, terutama melalui kegiatan usaha pengolahan, telah memberikan tambahan pendapatan keluarga, sekaligus juga meningkatkan peran mereka dalam pengelolaan dan pengambilan keputusan keluarga.

Rencana Aksi

Untuk itu, melalui metoda Gender Analysis Pathway (GAP), disusun Rencana Aksi Gender yang ditujukan untuk para penentu dan pelaksana kebijakan di daerah. Rencana Aksi Gender ini meliputi delapan (8) aksi dan kegiatan yaitu:

1. Advokasi dan sosialisasi tentang PUG untuk penentu kebijakan dan pelaksana. 2. Penguatan wawasan Fasilitator/Penyuluh untuk pendampingan yang lebih sensitif

gender dan penyusunan Panduan Gender bersama Lembaga Pelaksana. 3. Penyusunan data terpilah yang responsif gender dan Panduan Gender.

(33)

Halaman

25

4. Fasilitasi pengadaan modal dari Bank/lembaga keuangan mikro formal yang tidak

memberatkan.

5. Pelatihan dan pembinaan teknik pengelolaan dan produksi, manajemen usaha dan keuangan bagi kelompok.

6. Studi banding ke masyarakat/swasta maju.

7. Kemitraan yang erat dengan P3MP, Pengusaha/Swasta, Asosiasi, Koperasi , dll. 8. Bekerjasama dengan Dinas-Dinas terkait untuk peningkatan kesejahteraan

masyarakat nelayan antaranya perbaikan gizi bagi anak-anak balita.

2.8 Keberlanjutan dan Exit Strategy

Pada 31 Desember 2017, CCDP akan memasuki Project Activity Completion Date (PACD) atau berakhir. Hal ini berarti, semua aktivitas utama CCDP yang menggunakan dana bersumber PHLN IFAD, harus diselesaikan. Enam bulan sampai 30 Juni 2018, diberikan waktu untuk menyelesaikan semua pertanggung jawaban dan replenishment, serta penyelesaikan administrasi keuangan dan keproyekan. Pada saat ini resmi dinyatakan proyek ditutup.

Pelaksana CCDP sejak awal atau menjelang Mid-Term Review yang dilaksanakan tahun 2015, telah menyiapkan dan melaksanakan proses exit strategy yang difokuskan kepada mengupayakan keberlanjutan usaha kelompok masyarakat setelah CCDP purna tugas, serta mengupayakan berbagai keberhasilan dan pembelajaran yang positif dari proyek ini dapat diteruskan, direplikasi dan dikembangkan pada lokasi yang sama maupun berbeda.

Tujuh langkah atau aksi rancangan peta jalan (road map) exit strategy telah disiapkan dan diimplementasikan PMO. Setiap PIU juga sudah menyiapkan Road map exit strategy di masing-masing PIU. Komunikasi dan implementasi exit strategy secara intensif oleh

(34)

Halaman

26

pelaksana CCDP baik di tingkat pusat (PMO) maupun PIU sudah menunjukkan hasil seperti di gambarkan berikut.

Pertama, pengintegrasian kegiatan PMP ke dalam kegiatan yang didanai dan dilaksanakan Pemda khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota yang bersangkutan. Secara bertahap, anggaran APBD 2017 dan 2018 ikut membiayai kegiatan-kegiatan PMP di desa/kelurahan yang menjadi target area PMP, ataupun direplikasi ke desa/kelurahan lain. Sebagai contoh, Dinas KP Makassar telah mereplikasikan model CCDP ke lokasi lainnya.

Kedua, pengintegrasian kegiatan PMP ke dalam kegiatan KKP yang didanai dari Ditjen Perikanan Tangkap, Perikanan Budidaya, Peningkatan Daya Saing (PDS), Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) KKP, serta Ditjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL). Kelompok usaha nelayan, bisa dibantu dari program Ditjen Tangkap, melalui pemberi BP dalam bentuk perahu, alat penangkap ikan dan kegiatan bantuan lainnya. Pengembangan dan pembinaan lebih lanjut untuk kelompok usaha budidaya, bisa dibantu seperti pemberian alat pembuat pakan, bibit ikan dan budidaya rumput. Pembinaan tracking mangrove, ekowisata bahari dan konservasi, bisa dilanjutkan melalui kegiatan Ditjen PRL. Demikian juga diusahakan BPSDM membuka kesempatan merekrut TPD ex CCDP dan mengalokasikan tenaga penyuluh di lokasi CCDP.

Ketiga, penyusunan Pengelolaan Pesisir Terpadu (Integrated Coastal Management/ICM) dan ekowisata bahari berbasis masyarakat. Perencanaan desa yang dilakukan, mulai

resource inventory, sampai perencanaan ICM, terus diupayakan untuk diintegrasikan ke

dalam sistem perencanaan desa, diperkuat dengan landasan hukum seperti Peraturan Desa, atau Peraturan Kabupaten/Kota oleh Bupati atau Walikota, Dalam perencanaan tersebut di-delineasi lokasi kegiatan ekowisata bahari, konservasi, kawasan budidaya dan kawasan perikanan berkelanjutan. Yang menarik, Pemerintah daerah Kupang dan

(35)

Halaman

27

Kubu Raya, sebagai contoh, melalui dinas pariwisata setempat mengalokasikan dana untuk pengembangan lebih lanjut lokasi-lokasi wisata yang diinisiasi CCDP

Keempat, penguatan kapasitas kelembagaan kelompok yang dibentuk, baik secara teknis maupun manajerial untuk meningkatkan produksi usaha, tabungan dan inovasi pokmas pesisir. Minimal 60% Pokmas Usaha, dan 70% masuk kategori layak secara ekonomi, yang harus dipertahankan sampai akhir proyek dan terus berlanjut pasca proyek. Untuk itu, kapasitas teknis dan manajerial mereka perlu diperkuat, pembukuannya dibenahi, sehingga kemampuan kelompok untuk meningkatkan produktivitasnya meningkat dan hasil usahanya menunjukkan cash flow yang positif, serta dibukukan dengan baik. Hal ini membuka peluang Pokmas Pesisir untuk dapat mengakses KUR, CSR, PKBL, atau sumber pendanaan lainnya, menopang permodalan kelompok dalam mengembangkan volume usahanya. Selain itu, kelompok infrastruktur juga dilatih menjadi tukang kayu atau tukang batu atau bengkel/pembuat fiber perahu nelayan. Beberapa kelompok yang terampil, sudah bisa mendapatkan pekerjaan dari desa-desa tetangga maupun program pemberdayaan masyarakat lainnya.

Kelima, pengembangan kerjasama dengan mitra pihak ketiga; swasta, koperasi, UMKM, Bumdes. Baik Pokmas usaha pesisir, maupun infrastruktur ekonomi yang dibangun memerlukan mitra yang mampu mengelolanya. Mitra ini diharapkan memiliki kapasitas manajerial, permodalan dan jaringan pemasaran sehingga dapat memperkuat pengembangan produksi, pemasaran usaha dan juga pengelola infrastruktur. Sehingga produksi pada kelompok dalam jumlah kecil digabung dengan kelompok lain, hingga mencapai skala ekonomis dan dikemas di rumah kemasan CCDP. Mitra juga dikembangkan dengan pasar swalayan atau jaringan waralaba, agar produksinya mendapat jaminan pemasaran yang langgeng, sembari kelompok tetap memproduksi untuk dijual di sekitar lokasi mereka untuk mendapatkan dana harian.

(36)

Halaman

28

Keenam, penguatan 12 koperasi mitra PMP, yang dibentuk atau difasilitasi oleh PIU CCDP. Ke depannya, koperasi ini diharapkan untuk mampu mandiri, menambah dan memperluas pelayanan kepada anggota. Penguatan koperasi antara lain melalui pemilihan pengurus koperasi yang memiliki “sense of bussiness” dan kemampuan manajemen, serta meningkatkan jumlah anggota aktif dan loyal. Konsultan dan TPD didorong aktif berperan. Saat ini dua dari 12 koperasi dipimpin olek konsultan CCDP. Perlu disadari bahwa ke depannya peran koperasi sangat penting dalam mengakses ataupun memfasilitasi/mendampingi pengelolaan kucuran dana CSR seperti PKBL Pertamina, CSR PPK Sampoerna, dana LPPMU KKP. Bahkan juga dalam kerangka pengelolaan bantuan dari Kementerian seperti bantuan kapal, mesin pakan dll.

Ketujuh, pengintegrasian kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir dalam kegiatan pembangunan desa, kegiatan Kementerian Desa (Dana Desa), dan Kementerian/ Lembaga terkait. Pada tahun 2018, anggaran dana desa (ADD) akan meningkat dan bisa digunakan untuk membiayai kelanjutkan kegiatan PMP di desa-desa yang menjadi lokasi proyek saat ini atau direplikasi ke desa lain. Untuk itu, kegiatan PMP perlu diperjuangkan untuk masuk ke dalam rencana pembangunan desa sehingga mendapatkan pendanaan dari program pemerintah untuk desa. Pada kenyataannya dana desa sudah mulai mengucur di lokasi CCDP, misalnya dalam pembangunan mangrove track dan pembinaan kelompok di Desa Langge, Gorontalo Utara, penambahan fasilitas pondok informasi di Kubu Raya. Ke depannya juga terus diusahakan untuk membantu pengembangan usaha Pokmas.

Langkah-langkah tersebut di atas serta capaian dan tindak lanjutnya akan didorong terus agar usah pokmas dan hasil dari investasi CCDP lainnya akan terjaga keberlanjutannya.

Pembelajaran dari keberhasilan exit strategy CCDP antara lain: (i) menyiapkan rencana exit strategy dari awal (jangan menunggu sampai menjelang proyek berakhir); (ii)

(37)

Halaman

29

mengkomunikasikan kegiatan proyek dan rencana strategynya, serta menjalin komunikasi yang intensif dengan para stakeholders untuk mengundang/mendorong partisipasi mereka.

2.9 Knowledge Management (KM), Inovasi dan Pembelajaran

Seperti telah disinggung dalam sub-bab 2.5, CCDP menerapkan perpaduan alat dan saluran kreatif dan ekstensif untuk memastikan akses dan berbagi pengetahuan dan informasi yang transparan sebagai bagian dari Pengelolaan Pengetahuan atau

Knowledge Management (KM).

KM berperan sangat penting dan diperlukan untuk mendukung upaya pelaksanaan kegiatan yang efektif dan efisien, serta membuahkan hasil yang optimal. Di tingkat nasional PMO:

(i) mengelola sebuah situs web proyek yang komprehensif, yang mencakup sistem MIS, termasuk semua data kemajuan dan kinerja, publikasi, dokumen panduan dan pelatihan yang terkait dengan proyek;

(ii) memanfaatkan dialog Whatsapp dengan lebih dari 100 pemangku kepentingan di tingkat nasional dan kabupaten dengan informasi dan gambar dibagi secara real-time, serta menggunakan twitter, Facebook, dan media sosial lainnya;

(iii) menyelenggarakan pelatihan dan pembinaan klinik;

(iv) menyelenggarakan kunjungan pertukaran untuk mendukung penyebaran pengetahuan dan pembelajaran peer-to-peer di antara PIU; dan

(v) berpartisipasi dalam konferensi dan lokakarya internasional dan nasional, serta (vi) mendokumentasikan dan menginformasikan aktivitas CCDP melalui media cetak

(38)

Halaman

30

Di tingkat kabupaten, PIU: (i) juga secara aktif terlibat dalam penjangkauan media (cetak, TV dan radio) yang memfasilitasi pembangunan kemitraan; (ii) terlibat dengan kelompok Whatsapp dengan pemangku kepentingan kabupaten, dan masing-masing PIU juga memiliki kelompok Whatsapp khusus untuk TPD; dan (iii) mendokumentasikan kisah sukses dalam brosur dan video. Di tingkat desa, VIC adalah jantung berbagi pengetahuan di dalam masyarakat.

Untuk meningkatkan efektifitas KM, sekaligus sebagai wadah sharing pembelajaran Pada November 2016, CCDP menyelenggarakan Workshop Knowledge Management sebagai bagian dari Konferensi Nasional KKP. Lokakarya ini mempertemukan semua PIU, IFAD dan Proyek-Proyek IFAD lainnya. CCDP juga berkontribusi terhadap Portfolio Review 2017 IFAD pada bulan Maret 2017 dan memenangkan kontes foto.

PMO juga memperluas fokus dari komunikasi internal ke komunikasi yang lebih eksternal. Pada saat Misi, Tur Media yang disponsori oleh AS mengunjungi lokasi Proyek di Lombok Barat dengan 5 wartawan dari Wilayah Asia Tenggara serta perwakilan dari Misi AS untuk Badan-badan yang berbasis di Roma. Proyek juga menerima sejumlah delegasi, termasuk dari India, Belanda dan Pakistan, yang ingin mempelajari model Proyek. Produk komunikasi terkini meliputi (i) publikasi 15 buku dan buklet yang meringkas cara-cara terbaik dan pembelajaran yang dipetik oleh PMO, yang secara khusus yang mencakup pembelajaran tentang berbagai aspek berbeda termasuk antara lain pengarusutamaan gender, akses pasar dan strategi mobilisasi masyarakat; serta (ii) serial video singkat yang menampilkan intervensi dan manfaat Proyek oleh para PIU.

Inovasi dan pembelajaran

CCDP telah menghasilkan inovasi dan pembelajaran baik dalam Proyek maupun untuk khalayak luar. Proyek telah mencurahkan sumber daya dan upaya untuk menarik

(39)

Halaman

31

pembelajaran dan pengalaman, mengenai bagaimana berbagai pendekatan yang berbeda berdampak pada kemiskinan dan gender.

Disamping terobosan inovatif seperti yang sudah dikemukanan dalam sub-bab 2.5, berbagai inovasi lain telah dikembangkan di antaranya:

(i) produk olahan ikan yang baru dan produk akuakultur seperti rumput laut, dan teknologi yang menghasilkan produk tersebut, yang telah diintroduksikan di desa-desa terpencil bersamaan dengan pengaturan dan pendekatan pemasaran yang kreatif;

(ii) insentif untuk memotivasi TPD dan menciptakan lingkungan di mana TPD yang lebih baik diperhatikan dan diberi penghargaan, misalnya diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan di luar desa;

(iii) penjualan berbasis web oleh kelompok usaha; (iv) pemanfaatan kemitraan yang inovatif; dan

(v) identifikasi potensi untuk investasi bersama antara dana Proyek dan sumber pembiayaan lainnya mis. Dana Desa, Bank Indonesia dan keuangan mikro.

Sebagai Proyek yang tersebar secara nasional, terdapat kesempatan bagi PIU untuk saling belajar satu sama lain dan juga untuk memperoleh pembelajaran yang dapat bermanfaat bagi Proyek-Proyek nasional dan internasional lainnya. CCDP sudah diakui dan didekati oleh negara-negara dan Proyek-Proyek yang didanai IFAD, yang tertarik mempelajari inovasi dan pembelajarannya.

(40)

Halaman

32

(41)

Halaman

33

BAB 3. MEKANISME PROYEK PEMBANGUNAN MASYARAKAT

PESISIR

Jiwa Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir adalah Pemberdayaan Masyarakat, yang pada dasarnya adalah upaya menumbuhkan kesadaran, meningkatkan kemampuan ekonomi dan sosial suatu komunitas untuk produktif, maju dan mandiri. Jelaslah bahwa tujuan akhir program/proyek pemberdayaan masyarakat adalah adalah kemandirian. Dengan demikian harus jelas dalam peta jalan (roadmap) program, kegiatannya sistematis dan berakhir pada suatu exit strategy yang mengarah kepada kemandirian masyarakat. Hal ini lah yang dilaksanakan oleh CCDP dengan tiga komponen kegiatan seperti telah dijelaskan di muka. Peta jalan (roadmap) tersebut ditunjukkan dalam Gambar 3.1 berikut.

Gambar 3.1. Roadmap Pemberdayaan Masyarakat

KEMANDIRIAN AKSES PERMODALAN PENGUATAN KELEMBAGAAN PENGEMBANGAN PASAR PEMELIHARAAN LINGKUNGAN BIMBINGAN TEKNIS PENGEMBANGAN USAHA PEMBENTUKAN KELOMPOK

(42)

Halaman

34

3.1 Tahapan Pelaksanaan

Kegiatan dalam program pembangunan masyarakat yang telah dipraktikkan PMP sejak tahun 2013, diawali dengan pembentukan Kantor Pengelola Proyek (untuk yang menggunakan dana Pemerintah, terdiri atas Kuasa Pengguna Anggaran, Pejabat Pembuat Komitmen, Pejabat Penandatangan SPM dan Bendahara). Pada tahap kedua, untuk kelancaran pelaksanaan proyek di lapangan dilakukan rekrutmen Tenaga Pendamping yang akan bertugas di Desa/Kelurahan lokasi proyek. Tenaga Pendamping tersebut direkrut dan ditetapkan oleh pejabat pemerintah setempat. Sebaiknya Tenaga Pendamping adalah yang mempunyai pengalaman atau berkesempatan mengikuti pelatihan untuk itu. Untuk lebih jelasnya, tahapan kegiatan Proyek PMP dapat dilihat pada gambar berikut

*) Kegiatan di Pusat

Gambar 3.2 Tahapan Kegiatan Proyek PMP

Pembentukan Tim Pengelola Kegiatan (KPA, KPA, Pejabat Penandatangan tangan SPM) 1. Rekrutmen Tenaga Pendamping 2. Pembentukan Komite Pemberdayaan Masyarakat 3. Pembentukan VWG Pembentukan Kelompok Masyarakat Pesisir (Pokmas Pesisir): 1. Identifikasi 2. Seleksi 3. Verifikasi Pelatihan Tenaga Pendamping* Pengembangan Kapasitas Masyarakat Pesisir

(Pelatihan-pelatihan) Review dan Prioritisasi

Penyusunan Rencana Pengembangan Desa Penyusunan Profil Desa* Penyusunan Rencana Kerja Kelompok (RKK) / Proposal: - Pendampingan - Verifikasi Penyusunan Rencana Detail Kegiatan Penyaluran dan Pelaksanaan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Monitoring dan Evaluasi *

(43)

Halaman

35

Pembentukan Komite Pemberdayaan Masyarakat Pesisir yang beranggotakan 9-11 orang berasal dari SKPD terkait LSM, dunia usaha, perguruan tinggi, UPT KP3K, Dinas KP Propinsi, di tingkat kabupaten/kota atau disesuaikan dengan kondisi di daerah. DOB mencakup perwakilan dari Bappeda kabupaten/kota (Dinas Perencanaan Kabupaten/kota); wakil dari UPT KP3K dan Wakil dari Dinas Propinsi, organisasi nelayan, LSM pelestarian ekosistem; dan pihak berwenang lainnya. Selanjutnya PIU/Kepala Dinas membentuk Kelompok Kerja Desa/Village Working Group (VWG) terdiri dari lima anggota, dua di antaranya adalah perempuan. VWG ini akan mencakup seorang ketua, sekretaris dan tiga anggota biasa yang semuanya diambil dari rumah tangga sasaran.

Tahap ketiga, dilakukan pembentukan Kelompok Masyarakat Pesisir (Pokmas Pesisir) yang meliputi: identifikasi dan seleksi. Proses pembentukan Pokmas Pesisir dijelaskan pada sub-bab 3.3.

Tahap keempat terdiri atas dua kegiatan yang dilakukan secara simultan, yaitu (i) pengembangan Kapasitas Masyarakat Pesisir melalui pelatihan-pelatihan serta (ii) penyusunan Rencana Pengembangan Desa Pesisir (RPDP). Proses penyusunan RPDP ini dilakukan melalui konsultasi publik dan Musyawarah Pembangunan Desa (Musrenbang-Des). Desa yang telah memiliki draft RPDP, akan dilakukan review dan prioritisasi kegiatan dari dokumen yang sudah ada. Selanjutnya RPDP ditetapkan oleh Kepala Desa sebagai acuan pelaksanaan Proyek PMP.

Tahap kelima, penyusunan Rencana Kerja Kelompok (RKK) oleh Pokmas Pesisir yang didampingi oleh VWG dan Tenaga Pendamping. Penyusunan RKK harus sesuai dengan skala prioritas pembangunan desa pada Dokumen RPD. Proses penyusunan dan pengajuan serta penetapan RKK akan dijelaskan pada bab selanjutnya.

(44)

Halaman

36

Tahap keenam, penyusunan Rencana Detail Kegiatan merupakan bagian dari penyusunan RKK. Dokumen Rencana Detail Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proposal RKK dalam pengajuan BLM.

Tahap ketujuh, Penyaluran dan Pelaksanaan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) dilakukan setelah Proposal RKK beserta kelengkapan dokumen administrasi telah lolos verifikasi ditetapkan oleh PIU/kepala dinas kabupaten/kota. Dalam pelaksanaan BLM oleh Pokmas Pesisir dengan didampingi TPD dan VWG, agar kegiatan tersebut sesuai dengan perencanaan, output dan target kegiatan.

3.2 Pemilihan Desa/Lokasi

Di setiap kabupaten/kota, diusulkan 15 desa/kelurahan pesisir dan pulau-pulau kecil, masing-masing terdiri dari sejumlah masyarakat pesisir, yang dipilih berdasarkan: 1. Tingkat kemiskinan (persentase rumah tangga di bawah garis kemiskinan –

sekurangnya 20% sesuai standar Badan Pusat Statistik);

2. Motivasi yang terlihat untuk ikut serta dalam proyek dan suksesnya partisipasi mereka dalam program pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi sebelumnya; 3. Potensi untuk menghasilkan produk dan pertambahan nilai hasil produksi usaha

kelautan dan perikanan;

4. Perlunya mengikutsertakan masyarakat di pulau-pulau kecil di setiap lokasi; 5. Desa yang dipilih, masuk klasifikasi sebagai ‘rural’;

Kabupaten/kota melalui PIU secara teliti akan memilih 3 desa awal berdasarkan kriteria tambahan sebagai berikut:

1. Suksesnya pengalaman PEMP, PNPM, PLPBM, MCRMP atau proyek pemberdayaan masyarakat lainnya;

(45)

Halaman

37

2. Sumberdaya alam dan potensi mendukung usaha kelautan dan perikanan;

3. Adanya kelompok berpotensi dalam pengembangan usaha kelautan dan perikanan;

4. Komitmen yang kuat dari pemimpin desa dan masyarakatnya; dan

5. Kualitas kepemimpinan yang dirasakan oleh kelompok sasaran dimana Pemerintah desa akan memberikan pernyataan yang memastikan komitmennya untuk Proyek PMP tersebut.

Jumlah persis desa yang akan didukung Proyek PMP di setiap kabupaten/kota akan bergantung pada kinerja kabupaten/kota tersebut dalam melaksanakan kegiatan proyek. Sembilan dari 15 desa telah dipilih sebelumnya dengan peluncuran proyek di desa-desa ini selama dua tahun pertama, sebelum evaluasi tengah proyek (midterm

review). Desa/kelurahan tambahan yang akan didanai di setiap kabupaten/kota ini

berkisar dari 0 sampai 12 desa/kelurahan, dengan rata-rata 6 desa/kelurahan tambahan. Jumlah total desa/kelurahan binaan Proyek PMP dalam sebuah kabupaten/kota akan bergantung pada kesuksesan kabupaten/kota itu dalam melaksanakan kegiatan proyek di 9 desa/kelurahan pertama. Prestasi kabupaten/kota dalam melaksanakan Proyek PMP di 9 desa/kelurahan pertama akan menjadi kunci penentu dalam memutuskan jumlah desa/kelurahan tambahan yang akan menerima dana Proyek PMP dalam sebuah kabupaten/kota. Karenanya, 180 desa/kelurahan akan diberdayakan dalam Proyek ini.

3.3 Sosialisasi dan Pembentukan Kelompok Masyarakat

Seperti telah dikemukakan sebelumnya, salah satu prinsip utama pelaksanaan PMP adalah keterlibatan atau partisipasi aktif masyarakat. Masyarakat sasaran harus diperlakukan sebagai subyek, bukan sebagai obyek. Sejak dari awal program, keterlibatan mereka sudah mulai dijaring. Rencana pelaksanaan program dibicarakan

(46)

Halaman

38

bersama masyarakat di Desa/Kelurahan sasaran program. Kegiatan ini bertujuan untuk mempertemukan rencana program yang lebih bersifat top-down dengan kebutuhan masyarakat (bottom-up). Tokoh-tokoh masyarakat serta berbagai pihak yang dipandang memiliki potensi sebagai ‘inkubator’ dan ‘motivator’ disertakan dalam perencanaan pelaksanaan program. Beberapa di antaranya (sekitar 5-9 orang) bahkan dapat dijadikan dalam satu kelompok yang dinamakan VWG (Village Working Group – Kelompok Kerja Desa), yang bersama aparat Pemerintah setempat akan membicarakan rencana pelaksanaan secara mendetil. Secara khusus, VWG akan berperan dan bertanggung jawab dalam hal :

(i) Komunikasi dengan pimpinan desa, fasilitator proyek, pihak berwenang Kabupaten/Kota, dan, ketika diperlukan, komunikasi dengan desa tetangga, tim yang bertanggung jawab untuk proyek-proyek lain dan dengan pihak berwenang kecamatan mengenai hal-hal teknis yang memengaruhi proyek.

(ii) Pengawasan kegiatan proyek termasuk pengelolaan sumber daya pesisir, prasarana, layanan dan kelompok usaha

(iii) Mengadakan rapat berkala untuk mengevaluasi pencapaian indikator keberhasilan dan kinerja kelompok

(iv) Mendorong atau memotivasi masyarakat untuk mencapai semua indikator keberhasilan

Untuk mempermudah dalam implementasi roadmap pemberdayaan, maka pelaksanaan kegiatan berbasis kelompok masyarakat. Ada beberapa jenis kelompok masyarakat (pokmas) yang perlu dibentuk dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat ini. Di samping VWG (Kelompok Kerja Desa), ada Kelompok Infrastruktur, Kelompok Pengelola Sumberdaya Alam (PSDA) dan Kelompok Usaha. Kelompok Usaha terbagi lagi berdasarkan jenis usaha yang menjadi minatnya, yaitu Kelompok Perikanan Tangkap, Kelompok Perikanan Budidaya, Kelompok Pengolahan dan Kelompok Pemasaran. Peran dan fungsi masing-masing jenis pokmas dapat dilihat pada Tabel 3.2.

(47)

Halaman

39

Tabel 3.2. Jenis Kelompok Masyarakat dan Peran/Fungsinya

No Nama

Kelompok Peran/Fungsi Keanggotaan

Cara Pemilihan Anggota 1 VWG (Kelompok Kerja Desa) Mengkoordinasikan

semua kegiatan terkait proyek, anggotanya bertindak sebagai motivator untuk kegiatan proyek di Desa itu

Minimal 5 orang, tergantung kondisi daerah (minimal 2 wanita)

Dipilih dari tokoh masyarakat, dapat dilakukan dengan penunjukan Kepala Desa atau secara ‘pilihan’

2 Kelompok PSDA

Bertanggung jawab untuk

persiapan dan pelaksanaan rencana pengelolaan wilayah pesisir Jumlah anggota ditentukan oleh aparat daerah dan VWG (30% wanita) Ditentukan oleh aparat daerah bersama VWG 3 Kelompok Infrastrukt ur Merencanakan, melaksanakan, mengoperasionalkan dan memelihara prasarana Desa Jumlah anggota ditentukan oleh aparat daerah dan VWG (30% wanita) Ditentukan oleh aparat daerah bersama VWG 4 Kelompok Usaha Merencanakan, melaksanakan dan mengelola kegiatan ekonomi berbasis kelautan Jumlah anggota 8-10 orang per kelompok

Rumah tangga yang tertarik untuk bekerjasama dalam sebuah kelompok untuk melaksanakan kegiatan ekonomi yang umum

Gambar

Tabel 2.1. Kelompok Desa
Tabel 2.2.  Rekapitulasi Jumlah Kelompok Masyarakat CCDP-IFAD
Tabel 2.3.  Kriteria Penilaian Kinerja Pokmas
Tabel 2.4.  Hasil Penilaian Kinerja Pokmas Usaha Semester-2 2016
+7

Referensi

Dokumen terkait

Beban kerja yang akan dibahas dalam penelitian ini berasal dari lingkungan psikis pekerjaan karena beban kerja yang berasal dari lingkungan fisik pekerjaan di bank bjb

Pada PDM terdapat 15 (lima belas) tabel dengan tipe data dan panjangnya, yaitu tabel anggota, petugas, koleksi bahan pustaka, stock koleksi bahan pustaka, denda, hari libur,

Metafora sebagai salah satu wujud daya kreatif bahasa di dalam penerapan makna, artinya berdasarkan kata-kata tertentu yang telah dikenalnya dan berdasarkan keserupaan atau

Jl. Prof Soedarto, Tembalang, Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tata ruang parkir yang tepat pada jembatan timbang, sebagai salah satu fasilitas untuk

Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasulullah serta Ulil Amri (penguasa) dari kalian. Dalam ayat tersebut telah diterangkan bahwa Allah

Refined Kano , identifikasi langkah yang sesuai (dari kerangka kerja 4 langkah Blue Ocean Strategy ) untuk tiap kategori tersebut, dan mengembangkan produk baru yang

Langkah-langkah yang digunakan dalam brainstorming yaitu membentuk kelompok dan menetapkan pimpinan, menginformasikan aturan-aturan dalam brainstorming, pemimpin kelompok

Hasil kajian IPCC menyatakan bahwa produksi pangan terutama padi, jagung, dan kedelai dalam beberapa dekade terakhir mengalami penurunan akibat meningkatnya frekuensi kejadian