BAB 3. MEKANISME PROYEK PEMBANGUNAN MASYARAKAT PESISIR
3.3 Sosialisasi dan Pembentukan Kelompok Masyarakat
Seperti telah dikemukakan sebelumnya, salah satu prinsip utama pelaksanaan PMP adalah keterlibatan atau partisipasi aktif masyarakat. Masyarakat sasaran harus diperlakukan sebagai subyek, bukan sebagai obyek. Sejak dari awal program, keterlibatan mereka sudah mulai dijaring. Rencana pelaksanaan program dibicarakan
Halaman
38
bersama masyarakat di Desa/Kelurahan sasaran program. Kegiatan ini bertujuan untuk mempertemukan rencana program yang lebih bersifat top-down dengan kebutuhan masyarakat (bottom-up). Tokoh-tokoh masyarakat serta berbagai pihak yang dipandang memiliki potensi sebagai ‘inkubator’ dan ‘motivator’ disertakan dalam perencanaan pelaksanaan program. Beberapa di antaranya (sekitar 5-9 orang) bahkan dapat dijadikan dalam satu kelompok yang dinamakan VWG (Village Working Group – Kelompok Kerja Desa), yang bersama aparat Pemerintah setempat akan membicarakan rencana pelaksanaan secara mendetil. Secara khusus, VWG akan berperan dan bertanggung jawab dalam hal :
(i) Komunikasi dengan pimpinan desa, fasilitator proyek, pihak berwenang Kabupaten/Kota, dan, ketika diperlukan, komunikasi dengan desa tetangga, tim yang bertanggung jawab untuk proyek-proyek lain dan dengan pihak berwenang kecamatan mengenai hal-hal teknis yang memengaruhi proyek.
(ii) Pengawasan kegiatan proyek termasuk pengelolaan sumber daya pesisir, prasarana, layanan dan kelompok usaha
(iii) Mengadakan rapat berkala untuk mengevaluasi pencapaian indikator keberhasilan dan kinerja kelompok
(iv) Mendorong atau memotivasi masyarakat untuk mencapai semua indikator keberhasilan
Untuk mempermudah dalam implementasi roadmap pemberdayaan, maka pelaksanaan kegiatan berbasis kelompok masyarakat. Ada beberapa jenis kelompok masyarakat (pokmas) yang perlu dibentuk dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat ini. Di samping VWG (Kelompok Kerja Desa), ada Kelompok Infrastruktur, Kelompok Pengelola Sumberdaya Alam (PSDA) dan Kelompok Usaha. Kelompok Usaha terbagi lagi berdasarkan jenis usaha yang menjadi minatnya, yaitu Kelompok Perikanan Tangkap, Kelompok Perikanan Budidaya, Kelompok Pengolahan dan Kelompok Pemasaran. Peran dan fungsi masing-masing jenis pokmas dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Halaman
39
Tabel 3.2. Jenis Kelompok Masyarakat dan Peran/Fungsinya
No Nama
Kelompok Peran/Fungsi Keanggotaan
Cara Pemilihan Anggota 1 VWG (Kelompok Kerja Desa) Mengkoordinasikan
semua kegiatan terkait proyek, anggotanya bertindak sebagai motivator untuk kegiatan proyek di Desa itu
Minimal 5 orang, tergantung kondisi daerah (minimal 2 wanita)
Dipilih dari tokoh masyarakat, dapat dilakukan dengan penunjukan Kepala Desa atau secara ‘pilihan’
2 Kelompok PSDA
Bertanggung jawab untuk
persiapan dan pelaksanaan rencana pengelolaan wilayah pesisir Jumlah anggota ditentukan oleh aparat daerah dan VWG (30% wanita) Ditentukan oleh aparat daerah bersama VWG 3 Kelompok Infrastrukt ur Merencanakan, melaksanakan, mengoperasionalkan dan memelihara prasarana Desa Jumlah anggota ditentukan oleh aparat daerah dan VWG (30% wanita) Ditentukan oleh aparat daerah bersama VWG 4 Kelompok Usaha Merencanakan, melaksanakan dan mengelola kegiatan ekonomi berbasis kelautan Jumlah anggota 8-10 orang per kelompok
Rumah tangga yang tertarik untuk bekerjasama dalam sebuah kelompok untuk melaksanakan kegiatan ekonomi yang umum
Halaman
40
Pada setiap desa/kelurahan terdiri dari sekitar 13 kelompok, yaitu: 1 Kelompok Pengelolaan Sumberdaya, 1 Kelompok Pembangunan Prasarana, 10 Kelompok Usaha. Masing-masing kelompok beranggotakan rata-rata 10 orang (8 – 12) anggota per-kelompok. Namun demikian jumlah pokmas, khususnya Pokmas usaha dalam satu wilayah Desa/Kelurahan dapat disesuaikan dengan kondisi dan potensi sumberdaya yang tersedia di daerah bersangkutan. Pembentukan Pokmas sebaiknya tidak sekaligus, namun bertahap dalam dua atau tiga tahun.
Dari semua kelompok yang ada pada sebuah desa, maka setiap kelompok akan memiliki Ketua dan Sekretaris. Jika sebuah kelompok memiliki tanggung jawab untuk menggunakan dana Proyek, maka akan dipilih seorang Bendahara. Para TPD bersama dengan konsultan dan PIU akan memberikan pelatihan kepada kelompok-kelompok tersebut mengenai pelaksanaan rapat, pencatatan kegiatan kelompok, pencatatan keuangan, akuntansi, dan pengetahuan keuangan.
Kelompok Kerja Desa (VWG)
VWG ini bukan termasuk kelompok pelaku yang mendapatkan dana BP, namun memiliki peran yang sangat penting. Setiap VWG terdiri dari seorang Ketua, seorang Sekretaris, dan 3 orang anggota biasa yang diharapkan 2 diantaranya adalah wanita. Para pejabat desa hanya dapat menjadi anggota VWG jika berasal dari rumah tangga yang aktif melaksanakan usaha ekonomi kelautan dan perikanan. Jika desa terdiri dari beberapa dusun atau desa kecil, maka setiap dusun akan diwakili oleh 1 orang yang duduk dalam keanggotaan VWG sehingga jumlah anggota VWG dapat melebihi lima orang. Anggota VWG diharapkan dapat bertindak sebagai 'motivator' dan mendorong masyarakat untuk mengambil peluang yang disediakan oleh Proyek PMP. Semua anggota VWG akan menerima pelatihan selama tiga hari mengenai Proyek ini oleh Konsultan dibantu Tim Pendamping Desa (TPD) kabupaten/kota.
Halaman
41
Secara khusus, VWG akan bertanggung jawab untuk:
a. Komunikasi dengan pimpinan desa, TPD/fasilitator proyek, konsultan, PIU Proyek PMP kabupaten/kota, dan ketika diperlukan dapat berkomunikasi dengan desa tetangga, tim yang bertanggung jawab untuk proyek-proyek lain; b. Pengawasan pelaksanaan kegiatan proyek tingkat desa/kelurahan terutama
pelaksanaan kegiatan Kelompok Pengelola Sumberdaya Pesisir, Kelompok Pembangunan Prasarana Masyarakat, dan Kelompok Usaha, serta Kelompok Tabungan;
c. Mengadakan rapat secara berkala untuk mengevaluasi pencapaian indikator keberhasilan dan kinerja kelompok; dan
d. Mendorong dan memotivasi masyarakat untuk mencapai semua indikator keberhasilan.
Kelompok Pengelolaan Sumberdaya Pesisir
VWG, dibantu konsultan PIU dan TPD memfasilitasi pembentukan Kelompok Pengelolaan Sumberdaya Alam Pesisir (PSDA). Kelompok ini dibentuk melalui pendekatan pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu dan berkelanjutan.
Pokmas PSDA mempersiapkan perencanaan awal desa dan pemetaan sumber daya pesisir, dengan mempertimbangkan pemetaan kemiskinan rumah tangga dan dusun (atau desa kecil), kegiatan ekonomi kelautan dan perikanan desa, serta potensi desa. Pokmas PSDA membangun konsensus dan kesadaran terhadap penggunaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan, serta juga mengusulkan kegiatan dan investasi yang akan didanai oleh dana BLM. Usulan tersebut harus disetujui oleh pihak desa dalam hal ini VWG.
Halaman
42
Ativitas Pokmas dengan dana BLM antara lain menyelesaikan inventarisasi sumber daya pesisir, mengembangkan pengelolaan pesisir terpadu berbasis desa, mendorong dialog dan konsensus dengan desa-desa yang berdekatan serta pengguna sumber daya pesisir. Dana BLM juga bisa digunakan untuk kegiatan terkait pengelolaan SDA seperti pembangunan menara pengawas, kegiatan pokmaswas, peralatan perahu atau mesin perahu untuk pengawasan, peralatan dan bahan untuk batas DPL atau daerah pengelolaan, kampanye untuk penyadaran, lomba untuk pelestarian ekosistem, serta aktivitas terkait lainnya seperti kunjungan atau komunikasi dengan desa sebelah untuk pengaturan atau kerjasama PSDA.
Fase 1 Mobilisasi: Persiapan
Menyelenggarakan Kemitraan
• Rapat dengan pelaku kelembagaan dan pemangku kepentingan dari luar; mengusulkan cara dan prosedur untuk keterlibatan, termasuk pertimbangan keadilan
• Menentukan batasan daerah pengelolaan bersama yang diusulkan, visi bersama dan pendekatan pengelolaan, dan peraturan negosiasi Fase 2 Proses Perencanaan: Penentuan Sasaran • Menentukan sasaran biologis, ekologis, sosial dan ekonomi yang diperlukan untuk mencapai visi bersama
• Menentukan langkah-langkah pengelolaan – tindakan yang akan diambil untuk mencapai sasaran Fase 3: Menegosiasikan Rencana dan Kesepakatan Pengelolaan Bersama termasuk:
• Apa yang akan dilakukan oleh siapa dengan cara bagaimana; • Mekanisme untuk
menengahi konflik dan berbagi fungsi pengelolaan sumber daya pesisir;
• Hak dan tanggung jawab di antara para pemangku kepentingan; • Kesepakatan mengenai protokol yang ditindak lanjuti.
Inventaris Sumber Daya Masyarakat/Analisa Keadaan • Mengumpulkan informasi
mengenai masalah ekologi dan sosial, termasuk peta, pencitraan satelit, dan lain-lain.
• Analisa pemangku kepentingan
• Penyediaan informasi pasar
• Meninjau dan kecenderungan perubahan sosio-ekologis saat ini
• Mendefinisikan masalah yang dihadapi oleh perikanan dan ekosistem pendukungnya
• Mengidentifikasi faktor utama yang berdampak pada sumber daya pesisir dan penggunaannya oleh para pemangku kepentingan
Halaman
43
Gambar 3.1 Fase Mobilisasi, Proses Perencanaan dan Inventarisasi Sumber Daya Pesisir
Kelompok Pembangunan Prasarana
Setiap desa akan dibentuk 1 Kelompok Pembangunan Prasarana. Kelompok ini bertanggung jawab untuk penyelenggaraan kegiatan pembangunan prasarana yang konsisten dengan pagu anggaran yang tersedia dan komitmen untuk memberikan kontribusi inkind dalam bentuk barang, jasa, dan tenaga yang diperkirakan sebesar 20% dari perkiraan biaya pembangunan prasarana. Kelompok ini akan bekerja sama dengan VWG, TPD, konsultan, PIU, dan tenaga ahli teknis yang diperlukan untuk menilai kelayakan teknis proyek dan perkiraan biaya awal. Setelah pemilihan kebutuhan prasarana desa disepakati, maka kelompok ini akan bekerja sama dengan TPD, konsultan, dan PIU untuk menyusun rincian biaya, rancangan kegiatan, pengadaan barang, kontribusi barang dan jasa dan modalitas pemeliharaan.
Prasarana yang akan dipilih dan dibangun wajib mempertimbangkan (a) memberikan manfaat atau peran langsung maupun tidak langsung dalam penggunaan sumberdaya pesisir yang berkelanjutan di desa itu, atau (b) memberikan kontribusi langsung maupun tidak langsung atas meningkatnya pendapatan kelompok sasaran.
Contoh kegiatan pembangunan prasarana meliputi: pembangunan atau perbaikan dermaga; penyediaan air bersih (yang dapat mendukung pengolahan ikan); jalur sepeda motor yang menghubungkan ke jalan raya atau pasar; listrik tenaga surya untuk meningkatkan komunikasi (ramalan cuaca, informasi harga pasar, peringatan untuk penangkapan ikan yang merusak).
Proposal pembangunan prasarana ini diajukan kepada PIU. Kemudian PIU melakukan review terhadap proposal tersebut. PIU dapat menolak usulan tersebut karena: (a)
Halaman
44
alasan teknis, atau (b) usulan dinilai tidak memberikan kontribusi terhadap pengurangan kemiskinan di masyarakat sasaran. Jika PIU menerima proposal tersebut, maka diajukan kepada Komite Pemberdayaan Masyarakat Pesisir untuk direview apakah proposal layak dibiayai. Jika Komite menyetujuinya, akan merekomendasikan kepada PIU untuk dibiayai. Selanjutnya Ketua PIU akan menetapkan persetujuan kegiatan pembangunan prasarana masyarakat dan akan mentransfer dana ke rekening Kelompok Pembangunan Prasarana Masyarakat sesuai dengan aturan yang berlaku.
Kelompok Usaha
Kelompok usaha akan dibentuk untuk kegiatan ekonomi tertentu misalnya budidaya laut, perikanan tangkap, pengolahan dan pemasaran oleh rumah tangga masyarakat pesisir yang berminat. Keanggotaan berdasarkan rumah tangga, dan satu Kelompok Usaha akan terdiri dari rata-rata 10 rumah tangga atau 8-12 rumah tangga per kelompok. Untuk menjaga dan mempertimbangkan rasa keadilan maka tidak boleh dalam 1 rumah tangga, lebih dari 1 orang tergabung dalam 1 Kelompok Usaha yang sama.
Proyek ini dapat bekerja sama dengan kelompok yang sudah ada dan bisa mengembangkan usaha yang sukses atau membentuk kelompok baru, selama kegiatan usaha yang diusulkan mereka layak dan konsisten dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan perencanaan pembangunan desa pesisir (VDP) yang masuk dalam koridor dokumen Proyek PMP. Pada tahun pertama, kelompok yang ada dengan kinerja dan prospek yang baik untuk beradaptasi sesuai dengan indikator keberhasilan Proyek akan menjadi fokus utama untuk didukung Proyek PMP. Pada tahun kedua akan lebih banyak kelompok usaha yang muncul dari masyarakat setelah mendapat pengalaman dan pembelajaran dari Kelompok Usaha tahun pertama. Proyek ini akan membuka peluang baru untuk proses adopsi terakhir di tahun ketiga dari siklus pembangunan masyarakat desa pesisir.
Halaman
45
Keterlibatan wanita dalam kegiatan usaha berorientasi pada produksi akan menjadi tantangan bagi beberapa Kelompok Usaha, terutama kelompok usaha yang terlibat dalam kegiatan penangkapan ikan. Namun, wanita sangat didorong untuk berpartisipasi dalam kegiatan usaha budidaya perikanan, pengolahan dan pemasaran, pembangunan prasarana masyarakat, dan penggalangan tabungan. Sebagai pedoman, dalam satu kelompok usaha, satu dari tiga anggota kelompok atau minimal 30% harus wanita. Jika pedoman ini tidak dapat dipenuhi maka pertimbangan mainstream gender gagal dilaksanakan dan konsekuensinya alokasi dana untuk desa tersebut dapat dikurangi.
Proses seleksi dan alokasi dana BLM akan mengikuti proses yang disebutkan di atas dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegiatan kelompok usaha ini memiliki dimensi keuangan yang lebih besar dan keragaman pengeluaran, maka kelompok ini perlu diberikan perhatian dan pengawasan yang lebih besar. Contoh kegiatan Kelompok Usaha meliputi: budidaya rumput laut, tambak garam, rumpon, pengolahan ikan, penangkapan dan budidaya kepiting hijau/rajungan, keramba ikan.
Proses pembentukan Kelompok Usaha dan/atau seleksi anggota, sebagai berikut:
a. Proses revitalisasi kelompok yang sudah ada di desa dan dianggap sudah memenuhi persyaratan untuk mengembangkan usaha sesuai dengan dokumen Proyek PMP;
b. Jika dibentuk Kelompok Usaha baru maka VWG dibantu oleh TPD dan staf PIU teknis memberikan keterangan tentang dasar pemikiran, konsepsi Proyek, dan proses pembentukan Kelompok Usaha kepada masyarakat yang menjadi sasaran Proyek;
c. Rumah tangga pesisir yang memenuhi persyaratan difasilitasi oleh TPD dan staf PIU untuk membentuk kelompok. Kelompok Usaha yang dibentuk, diajukan secara
Halaman
46
resmi dan didaftarkan kepada pemerintahan desa/kelurahan untuk ditetapkan oleh kepala desa.
d. TPD dan anggota PIU memberikan pelatihan mengenai pengelolaan usaha kelompok, pengelolaan keuangan dan membantu Kelompok Usaha mempersiapkan proposal yang berisi rincian proyek termasuk spesifikasi teknis, biaya dan perkiraan modal, penentuan keberlanjutan sumberdaya pesisir bekerjasama dengan Kelompok Pengelolaan Sumberdaya Pesisir, rincian kontribusi barang dan jasa, dan alokasi tanggung jawab kelompok. Project Implementation Manual akan memberikan contoh untuk informasi proyek dan proses kelompok yang terlibat;
e. TPD dan PIU akan memverifikasi kelayakan teknis dan finansial, mungkin dalam hubungannya dengan lembaga bank atau kredit mikro dan mencari sinergi antara kelompok-kelompok yang ada dalam satu desa;
f. Komite Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (DOB) akan melakukan proses review proposal kelompok secara transparan dengan tujuan agar proses ini 'semi-kompetitif', di mana proyek yang lebih baik disetujui untuk tahap pertama, seleksi sementara proyek yang kurang menarik masih bisa dilakukan dalam tahap kedua; g. Setelah proposal teknis direview oleh PIU dan rekomendasi dari DOB diberikan, maka Kelompok Usaha tersebut akan resmi terdaftar di desa dan ditetapkan di Dinas Kelautan dan Perikanan. Selanjutnya sesuai dengan peraturan yang berlaku dan prosedur keuangan PIU maka Kelompok Usaha tersebut akan membuka rekening atas nama kelompok dan PIU mengatur transfer dana BLM ke rekening kelompok;
h. PIU mungkin memerlukan revisi rincian teknis atau keuangan dari proposal untuk memenuhi kriteria yang jelas. Jika terjadi kegagalan dalam menyelesaikan masalah / keuangan, PMO dapat diminta untuk membuat penetapan terhadap pendanaan proyek.
Halaman
47
Kelompok Tabungan
Anggota kelompok tabungan adalah rumah tangga miskin desa sasaran. Mereka adalah rumah tangga miskin yang kekurangan modal. Rumah tangga ini belum memenuhi persyaratan untuk membentuk Kelompok Usaha sebagaimana disebutkan di atas, akan tetapi mereka adalah kelompok marginal yang harus diperhatikan. Untuk itu dilakukan upaya persuasi dan pendekatan agar individu-individu yang belum memenuhi persyaratan ini mau bergabung dalam satu kelompok yang disebut Kelompok Tabungan. Kelompok Tabungan ini akan memungkinkan rumah tangga pesisir untuk mengembangkan budaya menabung dan mengumpulkan modal awal yang dapat digunakan sebagai kontribusi yang secara bertahap akan berevolusi membentuk Kelompok Usaha baru. Setidaknya satu dari empat Kelompok Tabungan wajib kelompok wanita, meskipun pengalaman menunjukkan bahwa wanita kemungkinan menjadi peserta aktif dalam kelompok tersebut.
Halaman
48
Dalam Proyek PMP ini kegiatan investasi dilaksanakan oleh Kelompok Pembangunan Prasarana Masyarakat dan Kelompok Usaha dengan uraian sebagaimana tercantum pada tabel 2.2 di bawah ini:
Tabel 3.2. Kelompok Usaha yang Mengembangkan Investasi
Investasi Jenis Kelompok yang bertanggung jawab Tanggung jawab kelompok Rekening bank kelompok Kepemilikan aset tetap akibat Sumbangan penerima manfaat Kelompok Pembangunan Prasarana (Infrastructure Group atau IG): Prasarana ekonomi berskala kecil Kelompok pengguna prasarana Pengelolaan konstruksi prasarana dan O & M Pengaturan O & M harus menjadi bagian dari proposal proyek dan tidak dibiayai dari BLM Ya. Digunakan untuk anggaran pembangunan fisik, kemudian untuk biaya teknis dan O & M Berdasarkan kebijakan nasional. 20% barang dan jasa ataupun uang tunai dari masyarakat. Pengaturan terhadap O & M yang tengah berlangsung. 8 s/d 10 orang
Jika aset ini dimiliki masyarakat, maka aset ini dimiliki dan dikelola kelompok atas nama masyarakat Kelompok Usaha (Enterprise Groups atau EG) Kelompok Usaha Pengelolaan penuh terhadap investasi awal dan Ya. Digunakan untuk hibah awal, kemudian untuk oleh Kelompok Usaha 20% barang dan jasa ataupun uang tunai dari anggota Minimal 8 s/d 10 orang
Halaman
49
kegiatan perusahaan yang tengah berlangsung tabungan pendapatan lebih dari kelompok melalui skema tabungan kelompok kelompok usahaRumah Tangga Masyarakat Pesisir yang menjadi anggota kelompok usaha Proyek PMP: a. Rumah tangga masyarakat pesisir yang memiliki aset dan tenaga kerja yang
sehari-hari mata pencaharian utamanya merupakan usaha perikanan tangkap, usaha perikanan budidaya, usaha pengolahan dan pemasaran dalam skala usaha kecil sampai menengah. Rumah tangga ini rentan terhadap perubahan status ekonomi, sebagian besar berada diatas garis kemiskinan namun pada musim tertentu berubah menjadi dibawah garis kemiskinan.
b. Rumah tangga masyarakat pesisir dengan aset yang terbatas, sehingga mempunyai akses yang terbatas untuk memanfaatkan sumber daya pesisir, seperti untuk perikanan tangkap, kelompok ini termasuk para pemilik perahu kecil/katinting dengan mesin tempel yang memiliki HP kecil, kru kecil (1-2 orang), dan peralatan jarak terbatas, serta untuk operator budidaya perikanan, dan pedagang ikan tibo-tibo/bakul/pengepul. Kategori ini termasuk rumah tangga dengan aset produksi terbatas yang membatasi investasi dan pengoperasian mereka. Secara umum mereka berada dalam batas-batas garis kemiskinan yang sangat rentan dan dapat berubah sewaktu-waktu status ekonominya menjadi dibawah garis kemiskinan.
c. Rumah tangga masyarakat pesisir dengan aset produksi yang sangat dasar, sumber daya pesisir yang tersedia untuk mereka terbatas, peluang lapangan kerja juga terbatas untuk meningkatkan pendapatan mereka – seperti nelayan dengan
Halaman
50
kapal tanpa motor misalnya cadik, sampan atau kano, semuanya memiliki modal, kemampuan dan kecepatan yang sangat terbatas, yang membatasi akses mereka dalam hal peralatan yang digunakan, kapasitas pengolahan hasil tangkapan, dan jarak dari pendaratan ke tempat penangkapan ikan. Hanya sedikit dari rumah tangga ini yang terlibat dalam budidaya perikanan kecuali sebagai buruh nelayan. Secara umum mereka ini adalah kaum marginal yang berada di bawah garis kemiskinan.
d. Rumah tangga masyarakat pesisir tanpa aset yang memadai dan memiliki akses yang sangat terbatas untuk memanfaatkan sumberdaya pesisir. Mereka bekerja sebagai buruh yang tidak memiliki keterampilan, seperti nelayan muda yang bekerja untuk saudara mereka dan perempuan pengumpul kepiting dan spesies lain, yang berskala kecil bahkan seringkali hanya bersifat paruh waktu. Mereka ini adalah kaum marginal yang strata sosialnya berada di bawah garis kemiskinan atau the poorest of the poor, sering kurang berminat untuk membentuk kelompok usaha dan bersifat nrimo (hanya mengharapkan bantuan). Kelompok ini menjadi sasaran dari kelompok tabungan.