VII. ANALISIS KELEMBAGAAN PENGELOLAAN SEA
7.7. Keberlanjutan Program Sea Farming
Keberlanjutan program menyangkut indikator : (1) eksistensi; (2) perkembangan kelompok; dan (3) keaktifan anggota. Program sea farming merupakan program yang sudah berjalan dan masih bertahan keberadaannya. Masyarakat dan pemerintah daerah berkepentingan terhadap keberlanjutan program ini mengingat kepercayaan masyarakat terhadap program ini semakin meningkat. Selain itu, telah banyak upaya yang dilakukan sehingga program ini secara garis besar perlu dilanjutkan. Perkembangan anggota kelompok sea
farming setiap tahunnya cenderung mengalami perkembangan, yang didahului
oleh pelatihan sea farming. Setiap tahunnya anggota sea farming meningkat sebanyak 25 orang. Dari jumlah tersebut yang aktif berkisar 15-20 orang. Analisis tersebut dilakukan dengan menggunakan kuisioner dan hasil nilai skor analisis skenario evaluasi program disajikan di Lampiran 8.
Keberlanjutan program menggunakan analisis skenario evaluasi program, yaitu :
93
1) Diagram Skenario Evaluasi
Berdasarkan hasil analisis skenario evaluasi program sea farming dengan menggunakan software Decision Criterium Plus (DCP) dapat digambarkan mengenai kerangka pengambilan keputusan identifikasi skenario evaluasi program melalui mekanisme multi-criteria (Gambar 21).
Evaluasi Sea Farming
Lingkungan Sosial Ekonomi
Kelembagaan
Pengelolaan program
luas kegiatan sea farming Jumlah RT yang tersosialisasi
Peran institusi terkait pencapaian tujuan Keterlibatan masyarakat
Efisiensi dan efektifitas anggaran
Skenario C Tata kelembagaan program
Skenario B
Kesesuaian dengan tujuan program
Kemampuan dan keterampilan SDM
Skenario A
Pengalaman berusaha SDM Mekanisme koordinasi
Perilaku SDM (kejujuran, tanggung jawab) Pengembalian dana pinjaman
2) Hasil Skenario Evaluasi
Dari hasil analisis Delphi dengan menggunakan alat bantu Decision Criterium
Plus (DCP) diperoleh hasil bahwa dari domain lingkungan, opsi yang optimal
adalah skenario B, yaitu program dapat dilanjutkan dengan perbaikan signifikan dengan kontribusi skor sekitar 0,19, lebih besar dari opsi-opsi yang lain, dimana skenario A memiliki kontribusi skor sekitar 0,08 (Gambar 22).
0.00 0.05 0.10 0.15 0.20
Skenario B
Skenario A
Skenario C
Lingkungan
Contributions to Lingkungan from Level:main criteria
Gambar 22 Identifikasi opsi skenario evaluasi berbasis domain lingkungan dengan menggunakan teknik Delphi.
Sementara itu, dalam konteks kriteria domain sosial ekonomi, skenario B juga menempati rangking tertinggi dengan kontribusi skor sekitar 0,41 kemudian diikuti skenario A dengan kontribusi skor sekitar 0,16. Gambar 23 menyajikan skor skenario evaluasi program menurut domain sosial ekonomi.
0.00 0.05 0.10 0.15 0.20 0.25 0.30 0.35 0.40 0.45
Skenario B
Skenario A
Skenario C
Sosial Ekonomi
Contributions to Sosial Ekonomi from Level:main criteria
Gambar 23 Identifikasi opsi skenario evaluasi berbasis domain sosial ekonomi dengan menggunakan teknik Delphi.
Selanjutnya dalam konteks kelembagaan, opsi skenario B tetap menjadi pilihan dengan skor tertinggi yaitu sekitar 0,17 dibandingkan skenario A dengan skor sekitar 0,08 (Gambar 24).
0.00 0.02 0.04 0.06 0.08 0.10 0.12 0.14 0.16 0.18
Skenario B
Skenario A
Skenario C
Kelembagaan
Contributions to Kelembagaan from Level:main criteria
Gambar 24 Identifikasi opsi skenario evaluasi berbasis domain kelembagaan dengan menggunakan teknik Delphi.
Sementara itu, dalam konteks domain pengelolaan program, opsi skenario B tetap menjadi opsi paling optimal dibandingkan dengan skenario A dan skenario C. Hal ini ditunjukkan dari kontribusi skor yang secara diagram disajikan pada Gambar 25.
95 0.00 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.07 Skenario B Skenario A Skenario C Pengelolaan program
Contributions to Pengelolaan program from Level:main criteria
Gambar 25 Identifikasi opsi skenario evaluasi berbasis domain pengelolaan program dengan menggunakan teknik Delphi.
Dengan menggunakan analisis agregat untuk seluruh domain, opsi skenario B memiliki skor tertinggi, yaitu 0,84 yang kemudian diikuti oleh opsi skenario A dengan skor 0,35, dan skenario C (0,0). Opsi optimal bagi skenario evaluasi program sea farming tersaji pada Gambar 26.
0.0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 Skenario B Skenario A Skenario C Sosial Ekonomi Lingkungan Kelembagaan Pengelolaan program
Contributions to Evaluasi Tata Kelola Sea Farming from Level:main criteria
Gambar 26 Analisis agregat opsi skenario evaluasi program sea farming.
3) Analisis implikasi skenario
Berdasarkan Gambar 26 di atas, evaluasi terhadap skenario menghasilkan skenario B (program dapat dilanjutkan dengan syarat perbaikan yang signifikan) sebagai skenario optimal. Lebih lanjut, domain kelembagaan dan pengelolaan program menjadi domain prioritas yang perlu diperhatikan karena memiliki skor rata-rata yang rendah dibandingkan domain yang lain. Dalam konteks ini perbaikan sistem kelembagaan dan pengelolaan program menjadi sangat krusial untuk dilaksanakan sebelum program dilanjutkan. Dengan demikian diperlukan kajian mendalam terhadap upaya perbaikan kelembagaan dan proses pelaksanaan program tersebut sehingga output optimal terhadap prasyarat ini dapat dihasilkan. Karena kajian terhadap upaya perbaikan kelembagaan dan proses pelaksanaan program memerlukan waktu, maka program dapat diterminasi untuk sementara dan dapat dilanjutkan setelah
rekomendasi perbaikan mekanisme kelembagaan dan proses pelaksanaan program dihasilkan. Sehingga secara diagramatis, implikasi skenario terpilih disajikan pada Gambar 27 di bawah ini.
Gambar 27 Kerangka implikasi skenario terpilih
Pelaksanaan skenario di atas memiliki justifikasi yang kuat berdasarkan analisis implikasi dari Skenario B yang mengkaji parameter kepercayaan masyarakat, kesan stakeholders kunci, konsekuensi hukum dan konvergensi dengan program daerah. Uraian implikasi skenario B terhadap beberapa parameter penting terkait dengan pentingnya kelanjutan program sea farming tersaji pada Tabel 19.
Tabel 19 Uraian implikasi pentingnya kelanjutan program sea farming
No. Parameter Implikasi
1. Kepercayaan
masyarakat
Program sea farming merupakan program yang sudah berjalan dan masyarakat dan pemerintah daerah berkepentingan terhadap keberlanjutan program ini mengingat kepercayaan masyarakat akan turun apabila program ini dihentikan total. Selain itu, telah banyak upaya yang dilakukan sehingga program ini secara garis besar perlu dilanjutkan.
2. Kesan (image)
Stakeholders kunci
Mengingat tujuan program sea farming yang cukup baik, maka kesan (image) stakeholders kunci seperti pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, perguruan tinggi, serta pihak swasta yang berkepentingan perlu dipertahankan. Keberhasilan program ini merupakan taruhan kesan para stakeholders utama sehingga kelanjutan program ini menjadi sangat penting setelah upaya perbaikan signifikan terhadap proses, mekanisme dan kelembagaan pengelolaan program ini dilakukan.
3. Konsekuensi hukum Efektifitas penggunaan dana dan hasil yang dicapai dapat menjadi
basis bagi upaya untuk meningkatkan kinerja dan keragaan program sea farming. Hal ini untuk menghindari konsekuensi hukum yang mungkin terjadi sehingga perbaikan signifikan dari sistem perlu dilakukan secara komprehensif.
4. Konvergensi dengan
program daerah
Program peningkatan kesejahteraan masyarakat dan konservasi konvergen dengan misi pembangunan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu dimana lingkungan kawasan strategis perlu dilestarikan. Program Sea Farming Tahap 1 Senario B : Program Sea Farming dapat dilanjutkan dengan perubahan signifikan Kompleksitas masalah Tahap 1 Perbaikan Sistemik Program Sea Farming Tahap 1 Program Pengelolaan Sea Farming Dilanjutkan (Tahap 2)
97
Dari hasil analisis tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pilihan Skenario B adalah yang terbaik mengingat pentingnya program pengelolaan sea farming bagi para stakeholders maupun bagi keberlanjutan kelestarian sumberdaya ikan di perairan Kepulauan Seribu.