• Tidak ada hasil yang ditemukan

5) Kelompok Pengelola Sea Farming

6.4. Aransemen Kelembagaan

6.4.1. Kelembagaan Formal

Dalam kerangka pengelolaan sumberdaya kelautan, hukum harus difungsikan untuk menciptakan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan ekologi. Secara ekonomi diharapkan dapat menciptakan kesejahteraan bagi para pelaku (user) dan secara ekologi terciptanya pengelolaan sumberdaya yang berkelanjutan. Pemeliharaan keseimbangan antara dua kepentingan tersebut bersamaan dengan tujuan negara untuk menciptakan keseimbangan antara aspek kesejahteraan (welfare) dan aspek keselamatan (safety). Keseimbangan yang telah dicapai senantiasa dipertahankan melalui pemeliharaan ketertiban dalam bermasyarakat disertai dengan pemberdayaan lembaga-lembaga penegak hukum dan pengembangan fungsi dan peranan norma-norma hukum.

Beberapa dasar hukum dan peraturan perundang-undangan yang menjadi acuan dari kegiatan pengelolaan sumberdaya kelautan di Kepulauan Seribu adalah sebagai berikut:

a. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Undang-undang tersebut mengamanatkan tentang pentingnya keseimbangan dalam pemanfaatan sumberdaya kelautan seperti yang telah disebutkan di atas. Namun pemanfaatan sumberdaya kelautan yang tidak ramah seperti penggunaan potas untuk menangkap ikan hias masih dijumpai.

b. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran

Disamping dimanfaatkan oleh sektor perikanan, wilayah laut juga dimanfaatkan oleh sektor perhubungan laut atau pelayaran. Kegiatan pelayaran yang sangat membahayakan kegiatan perikanan, khususnya budidaya laut adalah pembuangan limbah atau bahan lain yang dihasilkan kapal. Aturan mengenai pencegahan dan penanggulangan pencemaran oleh

kapal yang diatur dalam UU ini belum efektif dalam memberikan kompensasi kepada pihak-pihak yang dirugikan akibat pencemaran dari kebocoran minyak dari kapal-kapal tanker maupun kapal-kapal nelayan di kawasan ini.

c. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang

Pengembangan usaha budidaya laut harus mengacu pada tata ruang, sehingga akan menciptakan keterpaduan dengan sektor lain, keselarasan dan keseimbangan dalam pembangunan berkelanjutan. Namun penataan ruang Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini disebabkan oleh beberapa kendala dalam optimalisasi pemanfaatan rencana tata ruang, yaitu (1) Rencana tata ruang belum merupakan satu kesatuan dalam produk rencana pembangunan daerah lainnya seperti Renstra, RTRW, dan lain-lain: (2) Rencana tata ruang terlambat dibanding dengan perkembangan pembangunan; (3) Rencana tata ruang belum diperkuat oleh aturan perundangandan lemahnya penegakkan hukum dalam menangani konflik kepentingan antara stakeholders; (4) Kualitas sumberdaya manusia perencan di daerah yang masih perlu peningkatan, sehingga belum bisa memahami dan memanfaatkan rencana tata ruang secara optimal; dan (5) Rendahnya kesadaran publik akan nilai strategis sumberdaya kelautan, khususnya sumberdaya hayati (Soebagio 2004).

d. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

Merupakan undang-undang yang mengamanatkan untuk menjaga kelestarian lingkungan sebagai jaminan dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat. Namun masalah limbah rumah tangga (penempatan jamban/wc dan pembuangan sampah) masih menjadi kendala dalam menjaga kelestarian lingkungan.

e. Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

Obyek Retribusi adalah berbagai jenis jasa tertentu yang disediakan oleh pemerintah daerah. Tidak semua jasa yang diberikan oleh pemerintah daerah dapat dipangut retribusinya, tetapi hanya jenis-jenis jasa tertentu yang menurut

pertimbangan sosial ekonomi layak dijadikan sebagai objek retribusi. Pajak daerah belum mampu mendorong terciptanya infrastruktur yang memadai, seperti keterbatasan air tawar, keterbatasan sumber energi/listrik, serta sarana dan prasarana lainnya.

f. Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan

Dalam Undang-undang No. 31 Tahun 2004 Pasal 2 tertuang delapan asas pengelolaan perikanan, yaitu asas manfaat, keadilan, kemitraan, pemerataan, keterpaduan, keterbukaan, efisiensi, dan kelestarian yang berkelanjutan. Larangan melakukan penangkapan ikan dan/atau pembudidayaan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumberdaya ikan dan/ atau lingkungannya kadang-kadang masih dijumpai.

g. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Permasalahan yang masih dihadapi terkait UU No. 32 tahun 2004 adalah belum optimalnya pengaturan administratif dan tata ruang daerah Kabupaten Administrasi Kepulauan seribu, sehingga menimbulkan berbagai konflik pemanfaatan ruang.

h. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil

Undang-Undang Nomor 27 tahun 2007 yang memberikan hak pengusahaan perairan pesisir (HP3) untuk kurun waktu 20 tahun bertujuan mendorong orang, kelompok masyarakat, atau pengusaha untuk memanfaatkan sumberdaya perairan pada areal tepi laut hingga jarak 12 mil dari pantai. Pengaplingan pesisir untuk menopang HP3 dilakukan bersama-sama oleh Pemerintah Daerah, masyarakat pesisir, dan pengusaha dan dinilai akan memberikan kepastian hukum untuk berinvestasi dan sekaligus perlindungan kawasan pesisir. HP3 akan mendorong percepatan investasi di wilayah pesisir dan menguntungkan semua pihak. Pelaku usaha memiliki kepastian hukum dalam mengembangkan usaha dan nelayan terlindungi dalam menangkap ikan di perairan. Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 diharapkan menjadi payung hukum bagi para stakeholders untuk mengelola wilayah pesisir secara terpadu dan berkelanjutan. Hadirnya UU tersebut dinilai banyak kalangan

merupakan sebuah langkah strategis guna mengubah arah kebijakan pembangunan nasional dari berbasis matra darat menjadi laut. Undang-undang ini juga mengamanatkan masyarakat pesisir terlibat dalam sistem pengawasan berbasis masyarakat, sehingga pemanfaatan sumberdaya pesisir akan dapat diawasi dan dikendalikan oleh berbagai lapisan masyarakat. Namun, disadari bahwa tidak semua kewenangan bisa diserahkan kepada masyarakat, begitu pula tidak semua kewenangan dapat diserahkan kepada pemerintah. Hal ini sangat tergantung pada skala, kompleksitas isu pengelolaan dan tingkat keberdayaan masyarakat. Masyarakat biasanya efektif sebagai pengelola dalam skala desa atau kecamatan. Sedangkan dengan skala pengelolaan makin besar dan isu makin kompleks, dibutuhkan peran pemerintah. Apalagi di wilayah Kepulauan Seribu yang terdapat aktifitas selain perikanan, seperti transportasi, wisata bahari dan pertambangan.

i. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan atau Perusakan Laut.

Terjaganya kualitas air laut akan sangat berpengaruh besar dalam menciptakan keberhasilan pengembangan usaha perikanan. Oleh karenanya, dengan adanya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan atau Perusakan Laut, diharapkan kualitas air laut dapat terjamin. Pencemaran akibat penambangan pasir tahun 2008 sangat berdampak bagi pembudidaya ikan yang mengakibatkan terjadinya kematian massal ikan di keramba jaring apung. Perlindungan mutu laut meliputi upaya atau kegiatan pengendalian pencemaran dan/atau perusakan laut tidak berjalan efektif. Penegakan aturan terkait ganti rugi bagi pihak yang dirugikan belum diatur.

j. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah Otonom

Sedangkan kewenangan provinsi sebagai daerah otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten/ kota serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya antara lain adalah perencanaan dan pengendalian pembangunan secara makro, pelatihan

bidang tertentu, alokasi sumberdaya manusia potensial, penelitian yang mencakup wilayah provinsi, pengelolaan pelabuhan regional, pengendalian lingkungan hidup, promosi dagang dan budaya/pariwisata, penanganan penyakit menular dan hama tanaman dan perencanaan tata ruang provinsi. Pelayanan izin usaha pembudidayaan dan penangkapan ikan serta pengawasannya di wilayah laut belum optimal dilakukan oleh provinsi.