• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebelum melakukan usaha budidaya kerapu perlu dilakukan kajian perencanaan usaha budidaya kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di kawasan perairan Kelurahan Pulau Panggang KAKS. Berdasarkan data salah seorang anggota Kelompok sea farming (Syaifudin, 2005) dan PKSPL IPB (2007), diperoleh perkiraan biaya investasi, yang meliputi pembuatan jaring, misalnya dengan 4 lubang tebar masing-masing berukuran 4m x 4m, rumah jaga, sampan, dan peralatan pendukung dengan total perkiraan biaya investasi sebesar Rp 15.667.000,00. Perkiraan usia investasi selama 5 tahun, maka diperoleh biaya penyusutan sebesar Rp 3.133.400,00 per tahun (Lampiran 6). Biaya produksi meliputi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap terdiri atas biaya pemeliharaan sebesar Rp 2.400.00,00 per tahun dan biaya penyusutan sebesar Rp 3.133.400,00 per tahun. Biaya variabel terdiri atas pembelian bibit 1.000 ekor @ Rp 10.000,00, pakan 3.360 kg @ Rp 2.000,00 dan obat-obatan sebesar Rp 100.000,00 per tahun, sehingga diperkirakan total biaya produksi atau Total Cost (TC) sebesar Rp 22.353.400,00. Harga Pokok Produksi (HPP) ikan kerapu macan diperoleh dari biaya produksi total dibagi total produksi, sehingga diperoleh nilai HPP sebesar Rp 49.674,00 per kg.

Produksi ikan kerapu macan yang dihasilkan dari penebaran 1.000 ekor dengan panen 90% populasi (10% kematian) dengan asumsi berat ikan 0,5 kg per ekor, diperoleh produksi sebesar 450 kg per tahun. Jika harga jual ikan kerapu macan Rp 75.000,00 per kg, maka perkiraan penerimaan penjualan atau Total Revenue

(TR) sebesar Rp 33.750.000,00, sehingga perkiraan keuntungan usaha budidaya ikan kerapu selama satu tahun (π) sebesar Rp 11.396.600,00 atau tingkat keuntungannya mencapai 50,98% per tahun pada investasi total Rp 15.667.000,00 untuk 5 tahun.

Payback Period (PP) diperoleh dari jumlah investasi dibagi keuntungan,

sehingga diperoleh nilai PP = 1,37 tahun atau sama dengan 17 bulan. Sedangkan R/C Ratio diperoleh dari penerimaan total atau Total Revenue (TR)

dibagi dengan biaya total atau Total Cost (TC), sehingga diperoleh R/C = 1,5, berarti dari setiap Rp 100,00 yang ditanamkan pada usaha budidaya ikan kerapu macan akan diperoleh penerimaan sebesar Rp 150,00 atau diperoleh keuntungan sebesar Rp 50,00.

Dari jumlah benih yang telah disalurkan kepada anggota sea farming, 28% telah dipanen dan menghasilkan pendapatan bagi masyarakat. Jumlah panen tersebut relatif rendah. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kematian massal ikan akibat penyakit dan gangguan lingkungan, benih yang disalurkan tidak sehat, anggota yang tidak melaporkan hasil panennya, pencurian ikan di keramba dan lain-lain. Disamping itu lamanya pemeliharaan ikan kerapu untuk mencapai ukuran panen (0,5 kg per ekor) yaitu selama 8 bulan, sehingga benih-benih kerapu yang telah disalurkan masih dalam proses pemeliharaan. Jumlah produksi ikan kerapu tahun 2006 mencapai 4.840 ekor atau 2.007 kg. Tahun 2007 mencapai 4.842 ekor atau 2.228 kg. Tahun 2008 mencapai 170 ekor atau 100 kg. Tahun 2009 menunjukkan belum adanya anggota yang panen. Sehingga total produksi mencapai 9.852 ekor atau 4.395 kg. Selengkapnya data produksi (panen) ikan kerapu anggota sea farming

selama periode 2006-2009 dapat dilihat pada Gambar 18 dan Lampiran 6.

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000 10000 2006 2007 2008 2009 Jumlah Ekor Kg

Selama periode 2006-2009, hasil penjualan ikan kerapu macan dengan asumsi rata-rata harga ikan kerapu macan Rp 100.000,00/kg adalah sebesar Rp 405.300.000,00. Hasil penjualan ikan kerapu bebek dengan asumsi rata-rata harga ikan kerapu bebek Rp 350.000,00/kg adalah sebesar Rp 119.700.000,00. Sehingga total penjualan ikan kerapu sebesar Rp 525.000.000,00. Data hasil penjualan ikan kerapu periode 2006-2009 tersaji pada Gambar 19.

0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 2006 2007 2008 2009 Jumlah

Kerapu macan dalam Rp

1.000.000,-Kerapu bebek dalam Rp

1.000.000,-Gambar 19 Hasil penjualan ikan kerapu anggota kelompok sea farming Pulau Panggang periode 2006-2009 (dalam Rupiah).

Berdasarkan data penjualan di atas dan data anggota yang panen, maka dapat terlihat pendapatan rata-rata yang diterima oleh setiap anggota sea farming

(Gambar 20). Berdasarkan rata-rata pendapatan yang diterima setiap anggota periode 2006-2009, maka rata-rata setiap anggota sea farming memperoleh Rp 4.537.097,00 setiap kali panen ikan kerapu macan selama periode 8 bulan atau Rp 6.805.645,00/tahun (setelah dikurangi besaran pinjaman yang harus dikembalikan) dengan catatan pendapatan ini berasal dari benih yang dipelihara oleh anggota berkisar 200-400 ekor (sesuai mekanisme pinjaman benih kelompok) dan infrastruktur keramba yang sederhana. Artinya skala usahanya masih terbatas akibat keterbatasan modal dan benih yang tersedia.

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 2006 2007 2008 2009 Rata-rata Rata-rata pendapatan per anggota (Rp 1.000) untuk ikan kerapu macan

Rata-rata pendapatan per anggota (Rp 1.000) untuk ikan kerapu bebek

Gambar 20 Rata-rata pendapatan yang diterima setiap anggota sea farming

yang panen periode 2006-2009 (dalam Rupiah)

Berdasarkan data PKSPL IPB tersebut di atas, maka kegiatan ekonomi dalam pengembangan sea farming di Pulau Panggang sudah terlihat nyata. Dalam konteks pemberdayaan ekonomi masyarakat, nilai pendapatan ini cukup menunjang bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Langkah selanjutnya adalah bagaimana meningkatkan skala usaha anggota sea farming ini melalui mekanisme permodalan dan teknologi. Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan oleh PKSPL-IPB (2007), menyebutkan bahwa untuk memperoleh pendapatan Rp 2.000.000,- per bulan, maka setiap anggota sea farming harus mendapatkan pinjaman benih sebanyak 1.500 ekor kerapu macan dengan KJA yang mempunyai 6 lubang/jaring. Oleh karena itu langkah sederhana yang dapat diambil oleh pembuat kebijakan adalah menyediakan benih dengan perhitungan apabila jumlah anggota ada sebanyak 100 orang, maka dibutuhkan 150.000 ekor benih ikan kerapu macan ditambah dengan perbaikan keramba sehingga mencapai 6 lubang/jaring/anggota.

7.6. Keefektifan Biaya Transaksi Organisasi

Berdasarkan kerangka analisis yang dikembangkan oleh Abdullah et.al

(1998), biaya transaksi kelompok sea farming terdiri atas :

1) Biaya transaksi penyusunan keputusan, meliputi biaya pertemuan anggota, biaya pembuatan keputusan.

2) Biaya operasional bersama, meliputi biaya koordinasi dan biaya pengawasan. 3) Biaya informasi, meliputi biaya pengumpulan bahan-bahan dan biaya

sosialisasi.

Total biaya transaksi terkait dengan mekanisme internal pelaksanaan organisasi kelompok sea farming adalah sebesar Rp 875.000,00 setiap tahun. Biaya transaksi tersebut lebih banyak untuk biaya operasional bersama, yaitu mencapai Rp 525.000,00 setiap tahunnya, meliputi biaya koordinasi pengurus (rata sebesar Rp 350.000,00) dan biaya santunan anak yatim dan janda rata-rata sebesar Rp 175.000,00. Sementara itu untuk biaya penyusunan keputusan, setiap tahunnya kelompok mengeluarkan biaya transaksi untuk pertemuan anggota rata-rata sebanyak 5 kali rapat masing-masing sebesar Rp 50.000,00 per pertemuan. Biaya pertemuan anggota umumnya dikeluarkan setiap ada pergantian pengurus dan pertemuan rutin evaluasi organisasi. Sedangkan biaya informasi dikeluarkan untuk biaya sosialisasi sebesar Rp 100.000,00 per tahun. Biaya informasi tersebut umumnya dikeluarkan untuk perbanyakan dokumen sosialisasi. Selengkapnya biaya transaksi tersebut tersaji pada Tabel 18.

Pemasukan kas Kelompok sea farming berasal dari iuran anggota dan bagi hasil 5% pengembalian dana bergulir dari setiap anggota. Efektifitas biaya transaksi dianalisis dengan melihat rasio antara total biaya transaksi yang telah dikeluarkan dengan total manfaat. Semakin kecil nilai rasio yang diperoleh maka menunjukkan semakin efektif penggunaan biaya transaksi tersebut. Total manfaat yang dipakai dalam penelitian ini adalah keuntungan anggota kelompok sea farming dalam usaha budidaya keramba jaring apung ikan kerapu di perairan Pulau Panggang Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Berdasarkan Tabel 19, terlihat bahwa efektifitas biaya transaksi mencapai sekitar 0,13, yang berarti menunjukkan penggunaan biaya transaksi tersebut sudah relatif efektif.

Tabel 18 Biaya transaksi yang dikeluarkan kelompok sea farming terkait dengan mekanisme internal pelaksanaan organisasi di Kelurahan Pulau Panggang Kabupaten administrasi Kepulauan Seribu.

No. Jenis Biaya Transaksi Nilai rata-rata (per tahun) A. Biaya penyusunan keputusan Rp 250.000,00

Biaya pertemuan anggota Rp 250.000,00

B. Biaya operasional bersama Rp 525.000,00

1. Biaya koordinasi Rp 350.000,00

2. Biaya santunan anak yatim dan janda Rp 175.000,00

C. Biaya informasi Rp 100.000,00

Biaya sosialisasi Rp 100.000,00

Total Biaya Transaksi Rp 875.000,00 Pendapatan anggota kelompok sea farming

(Total Manfaat Langsung)

Rp 6.805.645,00

Efektifitas Biaya Transaksi 0,13 Sumber : Data primer, diolah 2010

7.7. Keberlanjutan Program Sea Farming

Keberlanjutan program menyangkut indikator : (1) eksistensi; (2) perkembangan kelompok; dan (3) keaktifan anggota. Program sea farming

merupakan program yang sudah berjalan dan masih bertahan keberadaannya. Masyarakat dan pemerintah daerah berkepentingan terhadap keberlanjutan program ini mengingat kepercayaan masyarakat terhadap program ini semakin meningkat. Selain itu, telah banyak upaya yang dilakukan sehingga program ini secara garis besar perlu dilanjutkan. Perkembangan anggota kelompok sea farming setiap tahunnya cenderung mengalami perkembangan, yang didahului oleh pelatihan sea farming. Setiap tahunnya anggota sea farming meningkat sebanyak 25 orang. Dari jumlah tersebut yang aktif berkisar 15-20 orang. Analisis tersebut dilakukan dengan menggunakan kuisioner dan hasil nilai skor analisis skenario evaluasi program disajikan di Lampiran 8.

Keberlanjutan program menggunakan analisis skenario evaluasi program, yaitu :