Sea farming berasal dari bahasa Inggris yang terdiri atas kata sea berarti
laut dan farming yang berarti berusaha tani, sehingga secara harfiah berarti
berusaha tani di laut dalam rangka memproduksi ikan. Laut dijadikan ladang atau
lahan untuk memproduksi ikan dengan menerapkan prinsip usaha tani. Sea
farming dapat didefinisikan pula sebagai aktivitas melepas telur, larva, juvenil atau ikan muda ke laut untuk meningkatkan populasi ikan atau hasil tangkapan (Effendi 2006).
Sea farming sudah dimulai sejak abad ke-17 di Jepang, Norwegia, dan Amerika Serikat. Di Norwegia dan Amerika Serikat kegiatan pelepasan larva ikan yang masih mengandung kuning telur dimulai sejak tahun 1887, dan kegiatan ini terus berlangsung sampai dengan tahun 1967 di Norwegia. Jepang sebagai negara
yang dianggap paling berhasil menerapkan sea farming mendefinisikan sea
farming sebagai kegiatan memproduksi benih (seed production), kemudian
melepaskan benih tersebut ke laut (releasing atau restocking) dan selanjutnya
menangkap kembali ikan tersebut (recapturing atau harvesting) untuk dijual
sebagai produk perikanan laut. Perairan laut untuk restocking ini dianggap sebagai
kawasan sea ranching, bisa berupa teluk atau gosong (laut dangkal terlindung)
dengan luas ratusan hingga ribuan hektar (Effendi 2006).
Secara umum FAO (2004), diacu dalam Adrianto (2007) mendefinisikan kegiatan pemacuan stok ikan sebagai kegiatan sistematik berbasis budidaya (culture-based fisheries) melalui pelepasan benih ikan dengan ukuran tertentu ke perairan alamiah atau buatan dengan tujuan merestorasi cadangan sumberdaya ikan di perairan tersebut dan pada jangka panjang mendukung kegiatan perikanan
tangkap yang berkelanjutan (sustainable capture fisheries). Kegiatan pemacuan
stok ikan menjadi wacana yang menarik mengingat gejala umum di dunia perikanan bahwa stok sumberdaya ikan di perairan alamiah (baik laut maupun tawar) relatif mulai terkuras akibat tingginya tekanan penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan.
Kegiatan sea farming awalnya dikategorikan menjadi tiga kegiatan
populasi ikan di suatu areal yang rendah, 2) sport fishing dan rekreasi, dan 3)
meningkatkan hasil tangkapan nelayan. Sehingga berdasarkan aktivitas ini sea
farming berkembang menjadi 5 kegiatan, mulai dari pembenihan, pembesaran
ikan sampai mencapai ukuran tertentu yang siap dilepas ke laut, penandaan, pelepasan ikan ke laut, dan penangkapan kembali (Effendi 2006).
Berdasarkan arealnya, kegiatan sea farming dapat dilakukan di daratan
(land based mariculture) dan laut. Berdasarkan arealnya di laut, pelepasan ikan
dibagi menjadi dua macam, yaitu untuk farsea (200 mil dari garis pantai) dan
coastal. Pembagian areal ini tentunya akan berdampak pada jenis ikan, ukuran ikan, dan daerah pelepasan. Selanjutnya di laut sendiri kegiatan tersebut dapat
dilakukan pada enclosure, pen culture, cage culture dan sea ranching dimana satu
dan lainnya saling terkait sangat erat. Keberhasilan kegiatan itu sangat ditentukan oleh 5 faktor utama yang perlu diperhatikan, yakni 1) sumberdaya alam, 2) teknologi, 3) kemasyarakatan, 4) kelembagaan, dan 5) hukum (Effendi 2006).
Berdasarkan tujuan tersebut ternyata negara yang sudah memiliki pengalaman yang cukup lama dan teknologi yang sudah maju memiliki tujuan yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan negara masing-masing. Oleh karena
itu, pengembangan kegiatan sea farming di Indonesia seharusnya ditujukan pada
kegiatan untuk meningkatkan pendapatan nelayan di suatu daerah yang kegiatan utamanya adalah menangkap ikan dan secara simultan memastikan kelestarian stok ikan tersebut (Effendi, 2006).
Berdasarkan studi literatur terhadap hasil penelitian tentang kondisi sumberdaya ikan di Perairan Kepulauan Seribu diketahui bahwa saat ini kondisi sumberdaya ikan di Perairan Kepulauan Seribu sudah mengalami penurunan. Banyak hal yang diduga menjadi penyebab terjadinya penurunan sumberdaya ikan tersebut, termasuk sistem kelembagaan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan.
Penelitian ini difokuskan untuk mengkaji sistem kelembagaan yang ada (existing) dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya pesisir di Perairan Pulau Panggang Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, dengan terlebih dahulu mengkaji karakteristik fisik sumberdaya pesisir terhadap implikasi pengelolaan dan pemanfaatan. Kerangka pendekatan studi menggunakan kerangka
analisis Institutional Analysis and Development (IAD) yang merupakan kerangka
kerja yang dapat membantu menganalisis performa dan struktur aransemen kelembagaan. IAD ini dapat digunakan juga untuk menguji aransemen kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya pesisir.
IAD menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi desain kelembagaan seperti karakteristik fisik suatu ekosistem, aturan/kelembagaan yang bersifat formal (hukum, kebijakan, peraturan) dan informal (norma sosial dan budaya). Aturan/regulasi merupakan salah satu sistem kelembagaan yang sangat penting dalam pengelolaan sumberdaya pesisir di Kepulauan Seribu. Oleh karena itu perlu diidentifikasi regulasi-regulasi apa saja yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya pesisir. Dengan adanya informasi tersebut diharapkan
dapat diketahui bagaimana aturan main (rule of the game) pengelolaan
sumberdaya ikan di Pulau Panggang Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Kelembagaan informal merupakan kelembagaan yang mengacu pada organisasi abstrak yang diakui dan diterima oleh masyarakat namun tidak mempunyai justifikasi hukum, seperti lembaga-lembaga adat. Aturan informal meliputi pengalaman, nilai-nilai tradisional, agama, dan seluruh faktor yang mempengaruhi bentuk persepsi subyektif individu tentang dunia tempat hidup mereka.
Selanjutnya dalam menentukan format kelembagaan dalam pengelolaan
sumberdaya pesisir adalah arena aksi para pelaku/aktor dan stakeholders.
Aktor-aktor yang terlibat sangat menentukan keberlanjutan pengelolaan sumberdaya ikan di Pulau Panggang Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Oleh sebab itu identifikasi masing-masing aktor yang terlibat dan perannya menjadi salah satu kunci keberlanjutan pembangunan sumberdaya ikan di Pulau Panggang Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Faktor selanjutnya adalah pola interaksi atau identifikasi konflik yang terjadi antar aktor pengelola sumberdaya ikan.
Kemudian dilakukan analisis manfaat ekonomi dan biaya transaksi yang dibatasi pada aspek administrasi dan biaya yang berkaitan dengan mekanisme internal pelaksanaan organisasi. Selanjutnya dilakukan evaluasi performa kelembagaan dan evaluasi keberlanjutan program dalam rangka kesinambungan
pengelolaan program sea farming. Secara sistematis kerangka pendekatan studi
ini dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5 Kerangka pendekatan studi.
• Atribut fisik dari sistem
• Aturan/kelembagaan
• Atribut masyarakat/
norma sosial dan budaya
Arena aksi : • Pelaku (actor) • Stakeholders Pola interaksi/ identifikasi konflik •Manfaat ekonomi •Biaya transaksi Evaluasi performa kelembagaan serta keberlanjutan program