3) Analisis implikasi skenario
7.9. Implikasi Kelembagaan
Berdasarkan konsep analisis IAD, karakteristik fisik sumberdaya pesisir di Kepulauan Seribu termasuk dalam sumberdaya bersama (common property) dan akses terbuka (open access) dengan implikasi terhadap penurunan produksi tangkapan dan kelangkaan biota-biota laut tertentu akibat overfishing dan over-exploitation. Sistem kelembagaan pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan yang ada di Kepulauan Seribu belum mampu mengatasi permasalahan yang timbul akibat pemanfaatan sumberdaya yang bersifat open access, diantaranya adalah kurangnya pendampingan, organisasi dan tidak berjalannya aturan main yang telah disepakati. Berdasarkan hasil analisis aktor pengelolaan sea farming,
menunjukkan bahwa selama ini masing-masing aktor dalam menjalankan perannya dilakukan berdasarkan keputusan masing-masing aktor. Hal ini disebabkan belum adanya suatu lembaga formal yang khusus dapat mengkoordinasikan masing-masing kepentingan di antara aktor. Sehingga tidak jarang menimbulkan konflik antar aktor yang terlibat dalam menjalankan aktifitasnya.
Pengembangan skala usaha bertujuan untuk meningkatkan manfaat ekonomi dari pengelolaan usaha sea farming. Kegiatan ekonomi dalam pengembangan sea farming di Pulau Panggang sudah terlihat nyata. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah keramba pembudidaya, jumlah benih yang telah disalurkan, jumlah produksi ikan yang dipanen, jumlah pinjaman yang telah dikembalikan serta jumlah pendapatan yang diterima. Dalam konteks pemberdayaan ekonomi masyarakat, nilai pendapatan yang diperoleh cukup menunjang bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Keefektifan biaya transaksi dalam menjaga mekanisme internal pelaksanaan organisasi Kelompok
sea farming sudah relatif efektif.
Program sea farming merupakan program yang sudah berjalan dan masih bertahan keberadaannya. Masyarakat dan pemerintah daerah berkepentingan terhadap keberlanjutan program ini mengingat kepercayaan masyarakat terhadap program ini semakin meningkat. Selain itu, telah banyak upaya yang dilakukan sehingga program ini secara garis besar perlu dilanjutkan. Dari hasil analisis evaluasi skenario program, maka dapat disimpulkan bahwa pilihan Skenario B (program dapat dilanjutkan dengan syarat perbaikan yang signifikan) sebagai skenario optimal dan yang terbaik mengingat pentingnya program pengelolaan
sea farming bagi para stakeholders maupun bagi keberlanjutan kelestarian sumberdaya ikan di perairan Kepulauan Seribu.
Dalam implementasi pengelolaan sumberdaya pesisir, khususnya pengelolaan sea farming, maka diperlukan adanya sebuah institusi/lembaga yang berfungsi sebagai jembatan antara kebijakan pemerintah dengan implementasi di tingkat masyarakat untuk mengatasi permasalahan yang timbul di antara para
stakeholders dan kelompok masyarakat, seperti timbulnya konflik. Lembaga
tersebut adalah Lembaga Musyawarah Kelompok Masyarakat pengelola sumberdaya perikanan. Yang perlu difokuskan adalah pelaksanaan program sesuai yang telah disepakati oleh seluruh stakeholders dan kelompok masyarakat dan lebih dikembangkan serta ditekankan pada fungsi peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, khususnya pembudidaya ikan dan nelayan. Mengingat keberadaan lembaga ini akan meningkatkan biaya manajerial organisasi, namun nilai ekonomi sumberdaya alam, baik nilai guna maupun nilai fungsional dapat
dipertahankan bahkan ditingkatkan dengan alokasi dan alternatif penggunaannya secara benar dan mengenai sasaran. Dengan terjaganya fungsi sumberdaya pesisir di Kepulauan Seribu, maka sumberdaya tersebut dapat dimanfaatkan oleh generasi penerus di masa yang akan datang.
Disamping pengembangan kelembagaan yang adaptif, perlu dilakukan pula perbaikan organisasi dan manajemen Kelompok Sea Farming dalam rangka keberlanjutan program sea farming. Penyempurnaan aturan main yang telah ditetapkan dalam AD dan ART perlu dilakukan melalui rapat pengurus dan anggota sea farming dengan didampingi oleh Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu dan pihak Akademisi (PKSPL IPB).
8.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh beberapa informasi penting tentang
kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya pesisir, khususnya sea farming di
Kelurahan Pulau Panggang Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, yaitu :
1) Karakteristik fisik sumberdaya pesisir di Kepulauan Seribu termasuk dalam
sumberdaya bersama (common property) dan akses terbuka (open access)
dengan implikasi terhadap penurunan produksi tangkapan dan kelangkaan biota-biota laut tertentu akibat overfishing dan over-exploitation.
2) Sistem kelembagaan pengelolaan sumberdaya pesisir di Kepulauan Seribu
belum mampu mengatasi permasalahan yang timbul akibat pemanfaatan
sumberdaya yang bersifat open access, diantaranya adalah kurangnya
pendampingan dari pihak terkait, kurangnya pengorganisasian serta tidak dijalankannya aturan main yang telah disepakati. Berdasarkan hasil analisis
aktor pengelolaan sea farming, menunjukkan bahwa selama ini
masing-masing aktor dalam menjalankan perannya dilakukan berdasarkan keputusan masing-masing aktor. Oleh karena itu pengelolaan sumberdaya pesisir di perairan Kepulauan Seribu perlu dilakukan dengan sistem kelembagaan yang kuat. Hal ini dimaksudkan agar pengelolaan sumberdaya pesisir Kepulauan Seribu dapat berjalan secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.
3) Alternatif program yang dapat dikembangkan dalam pengelolaan perikanan
dan program pelestarian sumberdaya ikan adalah kegiatan penstokan ulang
atau pertanian laut (sea farming) untuk jenis ikan yang tidak bermigrasi,
seperti ikan kerapu.
4) Kelembagaan dalam pengelolaan sea farming meliputi : (1) batas
pengelolaan dan mekanisme sea farming, (2) sistem aturan; (3) sistem hak;
(4) pengaturan hubungan kepemilikan; (5) sistem sanksi; dan (6) kelembagaan informal.
5) Berdasarkan hasil analisis pemetaan stakeholders, maka dapat diketahui aktor
subyek ditempati oleh masyarakat pembudidaya ikan, Kelompok Sea
Farming Pulau Panggang, pendeder dan pedagang pengumpul. Kedua,
pemain ditempati oleh Pemerintah KAKS, Pengelola TNKS dan akademisi (PKSPL IPB). Ketiga, penonton ditempati oleh aparat desa. Keempat, aktor ditempati oleh pihak keamanan (Polairud) dan Dinas Perhubungan.
6) Berdasarkan pemetaan konflik, terdapat tiga sumber yang menjadi penyebab
terjadinya konflik pengelolaan sumberdaya ikan, yaitu banyaknya ikan yang rusak dan menimbulkan kematian ikan yang banyak, penyaluran benih yang semakin sedikit, keberpihakan pemerintah, khususnya Suku Dinas Kelautan dan Pertanian Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu terhadap kelompok masyarakat tertentu.
7) Kegiatan ekonomi dalam pengembangan sea farming di Pulau Panggang
sudah terlihat nyata. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah keramba pembudidaya, jumlah benih yang telah disalurkan, jumlah produksi ikan yang dipanen, jumlah pinjaman yang telah dikembalikan (persentase anggota yang panen dan mengembalikan pinjaman periode 2006-2009 sebesar 64,9%). serta jumlah pendapatan yang diterima (rata-rata pendapatan yang diterima
setiap anggota Kelompok Sea Farming periode 2006-2009 sebesar Rp
6.805.645,00 per tahun).
8) Total biaya transaksi kelompok sea farming dalam menjaga mekanisme
internal pelaksanaan organisasi pengelolaan program sea farming sebesar Rp
875.000,00 per tahun. Biaya transaksi tersebut lebih banyak untuk biaya operasional bersama. Efektifitas biaya transaksi mencapai sekitar 0,13, yang berarti menunjukkan penggunaan biaya transaksi tersebut sudah relatif efektif.
9) Berdasarkan hasil analisis skenario evaluasi program, opsi skenario B
(program dapat dilanjutkan dengan syarat perbaikan yang signifikan) memiliki skor tertinggi, yaitu 0,84 yang kemudian diikuti oleh opsi skenario
A (program dilanjutkan sesuai dengan rencana) dengan skor 0,35, dan skenario C
(program dihentikan sama sekali) dengan skor 0,0. Evaluasi terhadap skenario
menghasilkan skenario B sebagai skenario optimal. Domain kelembagaan dan pengelolaan program menjadi domain prioritas yang perlu diperhatikan karena memiliki skor rata-rata yang rendah dibandingkan domain yang lain.
Dalam konteks ini perbaikan sistem kelembagaan dan pengelolaan program menjadi sangat krusial untuk dilaksanakan sebelum program dilanjutkan. Pelaksanaan skenario di atas memiliki justifikasi yang kuat berdasarkan analisis implikasi dari Skenario B yang mengkaji parameter kepercayaan
masyarakat, kesan stakeholders kunci, konsekuensi hukum dan konvergensi
dengan program daerah.
10) Perbaikan sistemik dari program sea farming perlu dilakukan untuk
mendukung keberlanjutan program. Dengan demikian diperlukan desain kelembagaan yang adaptif didasarkan pada karakteristik sumberdaya, lingkungan maupun pengelolaannya. Desain kelembagaan ke depan dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu harus melibatkan masyarakat, pemerintah, pihak swasta/usaha dan perguruan tinggi yang dapat dikelompokkan menjadi
level penentu kebijakan (Collective Choice Level) dan level operasional
(Operational Choice Level). Sedangkan institusi/lembaga yang berfungsi sebagai jembatan antara kebijakan pemerintah dengan implementasi di tingkat masyarakat untuk mengatasi permasalahan yang timbul di antara para
stakeholders dan kelompok masyarakat adalah lembaga musyawarah
kelompok masyarakat yang berperan memberikan dukungan dan mengkoordinasikan aspek usaha pengelolaan sumberdaya perikanan di Kelurahan Pulau Panggang KAKS. Mengingat pengembangan kelembagaan adaptif ini akan meningkatkan biaya manajerial organisasi, namun nilai ekonomi sumberdaya pesisir dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan dengan alokasi dan alternatif penggunaannya secara benar dan tepat sasaran. Dengan terjaganya fungsi sumberdaya pesisir dan lautan di Kepulauan Seribu, maka sumberdaya tersebut dapat dimanfaatkan oleh generasi penerus di masa yang akan datang.
11) Dukungan penguatan dan pengembangan kelembagaan menjadi prasyarat
awal keberlanjutan program sea framing. Disamping pengembangan
kelembagaan yang adaptif, perlu dilakukan pula perbaikan organisasi dan
manajemen Kelompok Sea Farming dalam rangka keberlanjutan program sea
8.2. Saran
Dalam rangka keberlanjutan program sea farming, sebagai salah satu
alternatif kebijakan dalam pengelolaan sumberdaya pesisir di Kepulauan Seribu, maka perlu dirumuskan konstruksi kelembagaan yang adaptif dengan melibatkan masyarakat lokal tanpa mengabaikan keterpaduan pengelolaan sumberdaya pesisir. Disamping itu, perlu dilakukan perbaikan sistem dan mekanisme
kelembagaan serta pengelolaan program sea farming dalam rangka
Abdullah N.M.R., K. Kuperan and R.S. Pomeroy. 1998. Transaction cost and fisheries co-management. Departement of Natural Resource Economics. Faculty of Economics and Management. University Pertanian Malaysia. UPM Serdang. Selangor Malaysia. 12 pp.
Adrianto L. 2007. Kerangka Ekonomi Pemacuan Stok Ikan. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSPL IPB). 26 Juni 2007. Bogor.
Adrianto L, T. Kusumastanto, S. Hadi, I. Effendi, L. Litasari, A. Damar, Widi, MA. Nawawi, F. Anwar, A. Gunawan, A. Haerudin. 2010. Rencana Aksi Pemacuan Sumberdaya Ikan Berbasis Sea Farming di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Working Paper PKSPL IPB. Vol. 1 No. 1 Mei 2010. Bogor.
Adrianto L, MAA Amin, A. Solihin, DI. Hartoto. 2011. Konstruksi Lokal Pengelolaan Sumberdaya Perikanan di Indonesia. IPB Press. Bogor.
Alchian A.A. 1993. Property Rights, dalam Henderson David. 1993. The Fortune
Encyclopedia of Economics. New York: Warner Books, Inc.
Anggraini E. 2005. Analisis Biaya Transaksi Dan Penerimaan Nelayan dan Petani di Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. [Tesis]. Tidak dipublikasikan.
Bardhan P. 1989. Alternative Approaches to the Theory of Institutional in Economic Development. Dalam Pranab Bardhan. (ed). The Economic Theory of Agrarian Institutions. Oxpord : Clarendon Press.
Berkes F. 1989. The Common Property Resources Problem and Creation of
Limited Property Right. Human Ecology 13 (2) : 187-2008.
Bogason P. 2000. Public Policy and Local Governance Institutions in Postmodern Society. Cheltenham, UK : Edward Elgar.
Bromley DW. 1988, Property Right and Environment Natural: natural resources policy in intransition. Published by the Ministry for the Environment. Wellington, New Zealand.
___________ . 1991. Testing for Common Versus Private Property : Comment. Journal of Environment Economics and Management, 21, 92-96 (91). Academic Press Inc.
Charles A. 2001. Sustainable Fisheries Systems. Blackwell Science: Oxford
University, United Kingdom.
Dharmawan AH dan A. Daryanto. 2002. Mencari Model Pengelolaan Sumberdaya Perikanan dalam Rangka Otonomi Daerah. Makalah Pembahasan Workshop Pusat Kajian Agraria, Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor bekerjasama dengan Partnership for Governance Reform I Indonesia. Bogor.
Effendi I. 2006. Riset Terapan Pengembangan Sea Farming di Kepulauan Seribu. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSPL IPB). Bogor.
Fisher S. et al. 2000. Working with Conflict : Skills Et Strategies for Action.
Bookcrafi, Midsomer Norton, Bath, UK.
Furubotn E.G. and R. Richter. 2000. Institutions and Economic Theory: The Contribution of the New Institutional Economics. The University of Michigan Press.
Hanna SS, C. Folke and Maler KG, editor. 1996. Right to Nature : Ecological, Economic, Cultural, and Political Principles of Institutions for The Environment. Island Press. Washington DC. USA.
Haswanto A.L. 2006. Studi Konstruksi Kelembagaan Pengèlolaan Sea Farming (Kasus di Pulau Panggang Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu).
Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. [Tesis]. Tidak
dipublikasikan.
Hidayat A. 2005. Institutional Analysis of Coral Reef Management. A Case Study of Gili Indah Village, West Lombok, Indonesia. Institutional Change in Agriculture and Natural Resources. Shaker Verlag. Germany.
Kelurahan Pulau Panggang. Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 2010. Laporan Tahunan 2009. Jakarta.
Kusumastanto, T. 2003. Ocean Policy Dalam Membangun Negeri Bahari di Era
Otonomi Daerah. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
_____________. 2010. Kebijakan Tata Kelola Kelautan Indonesia (Indonesia
Ocean Governance Policy) Penerbit PKSPL IPB. Bogor
Manig W. 1991. Rural Social and Economic Structure and Social Development. Dalam Winfried Manig. Stability and Change in Rural Institutions in North Pakistan. Socio-economic Studies on Rural Development. Vol 85. Aachen: Alano.
Nasution. S, 2003. Metode Research. Penerbit PT. Bumi Aksara. Jakarta. Nazir M. 1988. Metode Penelitian. Penerbit Ghalia Indonesia. Jakarta.
Nikijuluw,V. 2002 Rejim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Pusat
Pemberdayaan dan Pembangunan Regional, PT. Pustaka Cidesindo, Jakarta.
North D.C. 1990. Institutions, Institutional change and Economic Performance. Cambridge : Cambridge University Press.
Ostrom E. 1985. Self-Government of common-pool resources. Workshop in political theory and policy analysis. Indiana University, Indiana, USA. 39 pp.
_________. 1990. Governing the Common. The Evolution of Institutions for Collective Action. Cambridge University Press, UK.
Partowidagdo,W. 1999, Memahami Analisis Kebijakan. Program Studi Pembangunan. Program Pascasarjana IPB.
[PKSPL-IPB] Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor. 2003. Penyusunan Ketentuan Pemanfaatan Perairan Laut. Bogor. _________ . 2005. Konsep Kelembagaan Sea Farming. Bogor.
________ . 2006. Riset Terapan Pengembangan Sea Farming di Kepulauan Seribu. Bogor.
Satria A, A. Umbari, A. Fauzi, A. Purbayanto, E. Soetarto, I. Muchsin, I. Muflikhati, M. Karim, S. Saad, W. Oktariza, dan Z. Imran. 2002. Menuju Desentralisasi Kelautan. Penerbit Pusat Kajian Agraria IPB dan Partnership for Governance Reform in Indonesia bekerjasama dengan PT. Pustaka Cidesindo. Jakarta.
Soebagio. 2004. Analisis Kebijakan Pemanfaatan Ruang Pesisir dan Laut Kepulauan Seribu dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. [Disertasi]. Tidak dipublikasikan. Suhana. 2008. Analisis Ekonomi Kelembagaan Dalam Pengelolaan Sumberdaya
Ikan Teluk Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. [Tesis]. Tidak dipublikasikan.
[TERANGI] Yayasan Terumbu Karang Indonesia.
Tietenberg T. 1992. Environmental and Natural Resources Economics. Third Edition. Harper Collins Publishers Inc. New York USA.
Weber M. 1968. Economic and Society : An Outline of Interpretative Sociology. Edited by G. Roth and C. Wittich. Berkeley : University of California Press.
Williamson O.E. 1985. The Economic Institutions of Capitalism. New York: Free Press.
Yin R.K. 1996. Studi kasus : Desain dan Metode. Edisi revisi. Penerbit PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Lampiran 1 Anggaran Dasar Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang.
ANGGARAN DASAR
Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang
MUKADIMAH
Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa serta visi yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dan terdorong oleh rasa tanggung jawab untuk ikut serta dalam usaha mencapai tujuan kemerdekaan Indonesia, khususnya dalam mensejahterakan masyarakat Indonesia dan juga kesadaran bahwa masyarakat Pulau Panggang dapat berfungsi dan berperan
penting dalam membangun bangsa dan negara, maka Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau
Panggang berikrar untuk bersatu guna bersama-sama memberikan sumbangan dalam pembangunan negara dan bangsa di bidang ekonomi, kebudayaan dan ilmu pengetahuan melalui sektor perikanan.
Menyadari bahwa masyarakat Pulau Panggang dan lingkungan laut serta sumberdayanya perlu
dikelola dengan baik, maka dengan ini dibentuklah Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau
Panggang, dengan Anggaran Dasar sebagai berikut : BAB I
NAMA, KEDUDUKAN DAN WAKTU Pasal 1
Nama
Organisasi ini bernama Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang.
Pasal 2 Kedudukan
Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang berkedudukan di Pulau Panggang Kabupaten
Administrasi Kepulauan Seribu Negara Republik Indonesia. Pasal 3
Waktu
Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang diresmikan di Pulau Panggang Kabupaten
Administrasi Kepulauan Seribu pada hari Jum’at tanggal 10 Maret 2006 untuk waktu yang tidak ditentukan lamanya.
BAB II
AZAS, SIFAT, LAMBANG DAN BENDERA Pasal 4
Azas
Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang berazaskan Pancasila.
Pasal 5 Sifat
Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang merupakan organisasi kemasyarakatan yang
bersifat nasional dan mandiri.
Pasal 6 Lambang dan Bendera
Lambang dan bendera Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang diatur dalam Anggaran
Rumah Tangga.
BAB III
TUJUAN DAN KEGIATAN Pasal 7
Tujuan
(1) Membangun sistem pengelolaan perikanan laut terpadu berbasis masyarakat yang berkelanjutan.
(2) Meningkatkan kesejahteraan dengan peningkatan pendapatan dan kegiatan ekonomi
(budidaya perikanan) di Pulau Panggang.
(3) Ikut menunjang usaha konservasi lingkungan perairan.
(4) Meningkatkan kemampuan dan kapasitas anggota (masyarakat) mengenai keterampilan teknis
budidaya.
Pasal 8 Kegiatan
Untuk mencapai tujuan tersebut dalam pasal 7, Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang
melakukan berbagai kegiatan, antara lain sebagai berikut :
(1) Mengadakan dan ikut serta dalam berbagai kegiatan pelatihan di bidang budidaya ikan dan
bidang usaha.
(2) Menjalin kerjasama dengan instansi-instansi untuk mengembangkan kelompok dan
anggotanya di bidang manajemen, budidaya, pemasaran ataupun lain-lain yang sesuai dengan tujuan organisasi.
(3) Mensosialisasikan kegiatan-kegiatan kelompok kepada masyarakat.
(4) Usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan lain yang bermanfaat bagi kelompok, anggota dan
masyarakat Pulau Panggang.
BAB IV ORGANISASI
Pasal 9 Struktur Organisasi
Struktur organisasi Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang terdiri dari : Pasal 10
Pengurus
Pengurus Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang terdiri dari :
(1) Koordinator Kelompok;
(2) Sekretaris Kelompok;
(3) Bendahara
Pasal 11 Pengurus
(1) Pengurus Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang dipilih oleh anggota kelompok
dan ditetapkan melalui Musyawarah Kelompok.
(2) Masa jabatan pengurus selama 4 tahun.
(3) Koordinator tidak dibenarkan dijabat lebih dari dua kali masa jabatan secara berturut-turut
oleh orang yang sama.
(4) Pengurus Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang tidak dibenarkan merangkap
menjadi Pengurus Organisasi lain yang ada di Pulau Panggang ataupun tempat lain.
(5) Pengurus membentuk sekretariat yang dipimpin oleh Koordinator dibantu Sekretaris dan
Bendahara.
Pasal 12
Tugas dan Kewajiban Pengurus Tugas dan kewajiban Pengurus adalah sebagai berikut :
a. Memimpin Organisasi
b. Melaksanakan Keputusan Rapat Anggota
c. Bertanggung jawab kepada anggota
d. Melaksanakan program kerja dan keputusan lain yang ditetapkan oleh Rapat Anggota
e. Menyelenggarakan hubungan dengan berbagai pihak di dalam dan di luar negeri.
f. Membina anggota Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang.
Pasal 13
Pelindung, Penasehat dan Badan Pembina
Pelindung, Penasehat dan Badan Pembina Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang
terdiri dari :
b. Suku Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu
c. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSPL-IPB)
Pasal 14
Pelindung, Penasehat dan Badan Pembina bertugas memberikan saran, nasehat kepada pengurus menyangkut kebijakan pelaksanaan Keputusan Rapat Anggota, AD/ART dan pelaksanaan kegiatan.
BAB V KEANGGOTAAN
Pasal 15 Anggota
(1) Anggota Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang terdiri dari :
a. Anggota Biasa;
b. Anggota Kehormatan.
(2) Anggota Biasa adalah :
Warga masyarakat Pulau Panggang yang berminat dan ingin berpartisipasi dalam kegiatan
pengembangan Sea Farming di Kepulauan Seribu.
(3) Anggota Kehormatan adalah :
Mantan anggota pengurus atau Badan Pembina yang karena jasanya kepada Kelompok
Pengelola Sea Farming Pulau Panggang diangkat sebagai Anggota Kehormatan.
Pasal 16
Hak dan Kewajiban Anggota
(1) Anggota Biasa mempunyai hak suara, bicara, memilih dan dipilih.
(2) Anggota Kehormatan mempunyai hak bicara.
(3) Seluruh anggota wajib mematuhi Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan
peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh pengurus.
(4) Setiap anggota wajib membayar uang pangkal dan iuran anggota.
Pasal 17
Hilangnya Keanggotaan dan Hak Membela Diri
(1) Keanggotaan seseorang dinyatakan hilang jika yang bersangkutan :
a. Mengundurkan diri
b. Melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
c. Melakukan perbuatan yang merugikan organisasi
d. Meninggal dunia
(2) Anggota yang diberhentikan dengan hubungan pasal 17 ayat (1)b dan ayat (1)c di atas
mempunyai hak membela diri.
BAB VI
PERMUSYAWARATAN DAN KEPUTUSAN Pasal 18
Permusyawaratan (1) Permusyawaratan organisasi terdiri dari :
a. Musyawarah Kelompok
b. Rapat Anggota
c. Rapat Pengurus
(2) Musyawarah Kelompok
a. Musyawarah Kelompok merupakan pemegang kekuasaan tertinggi organisasi untuk :
- Menilai dan mensahkan laporan pertanggungjawaban pengurus
- Meninjau, menetapkan dan mensahkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga
- Menetapkan program kerja
- Memilih dan mensahkan Pengurus Pusat
- Menetapkan hal-hal yang dipandang perlu.
c. Musyawarah Kelompok baru sah apabila dihadiri sekurang-kurangnya dua per tiga dari jumlah anggota.
(3) Rapat Anggota
a. Rapat Anggota merupakan pertemuan antara anggota, pengurus, pembina dan undangan
untuk :
- Mendiskusikan perkembangan yang bterjadi dalam kelompok
- Meninjau dan mengevaluasi jalannya program-program yang sedang dilakukan
- Menetapkan program kerja.
b. Rapat Anggota dihadiri oleh pengurus, anggota dan undangan.
c. Rapat Anggota diadakan minimal 4 kali dalam satu tahun.
d. Rapat Anggota baru sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua per tiga jumlah
anggota.
(4) Rapat Pengurus
a. Rapat Pengurus adalah forum tertinggi setelah Rapat Anggota untuk membahas
pelaksanaan Program Kerja dan ketetapan-ketetapan organisasi.
b. Rapat Pengurus dihadiri oleh Pengurus serta undangan.
c. Rapat Pengurus diadakan sekurang-kurangnya satu kali dalam satu periode kepengurusan.
Pasal 19 Keputusan
(1) Pengambilan keputusan diusahakan secara musyawarah mufakat dan jika tidak dicapai
kemufakatan maka keputusan diambil dengan suara terbanyak.
(2) Dalam hal terjadi suara seimbang keputusan diserahkan kepada kebijaksanaan pimpinan
sidang.
(3) Keputusan mengenai pemilihan seseorang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas dan
rahasia.
BAB VII DANA Pasal 20
Dana Dana organisasi diperoleh dari :
(1) Iuran anggota
(2) Sumber yang tidak mengikat
(3) Hasil usaha organisasi Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang.
BAB VIII
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN PERUBAHAN ORGANISASI Pasal 21
Perubahan Anggaran Dasar
Anggaran Dasar ini dapat diubah oleh Musyawarah Kelompok dengan persetujuan sekurang-kurangnya separuh lebih satu dari jumlah suara.
Pasal 22 Perubahan Organisasi
(1) Pembubaran organisasi Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang hanya dapat
dilakukan oleh Musyawarah Kelompok dengan persetujuan dua per tiga dari jumlah anggota yang hadir.
(2) Jika Kelompok Pengelola Sea Farming Pulau Panggang dibubarkan, maka hak milik dan
kekayaan organisasi diatur dengan keputusan Musyawarah Kelompok.