5) Kelompok Pengelola Sea Farming
7.2. Sistem Kelembagaan Pengelolaan Sea Farming
Sea farming pada dasarnya merupakan sebuah sistem yang terdiri dari tiga sub-sistem yaitu sub-sistem input, sub-sistem marikultur (proses) dan sub-sistem
output. Sub-sistem input merupakan prasyarat awal pembentukan kelembagaan
sea farming yang memiliki fungsi utama sebagai penyedia faktor pendukung (supporting factors) bagi beroperasinya sea farming di lokasi yang dituju. Dalam sub-sistem ini, faktor paling penting adalah berfungsinya demarcated fishing rights sebagai persyaratan batas sistem operasi sea farming secara geografis (system boundary). Pembentukan sistem fishing rights ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan riset partisipatif hingga mencapai kesepakatan lokal. Penentuan fishing rights ini tidak dapat dilepaskan dari analisis kesesuaian ekosistem sebagai penyokong keberhasilan operasi sea farming secara teknis-ekologis.
Sub-sistem kedua adalah marikultur (budidaya kelautan) dimana kegiatan pembenihan, pendederan hingga pembesaran komoditas sea farming dilakukan. Sub-sistem ini merupakan jantung dari implementasi sea farming, karena input
dan output ekonomi sea farming pada dasarnya berasal dari sub-sistem marikultur ini. Agar akselerasi sub-sistem marikultur ini dapat dilakukan sesuai dengan tujuan, maka dalam sub-sistem ini digunakan pendekatan community-based agribusiness system (sistem agribisnis berbasis pada masyarakat, SABM). Dalam SABM ini, sebagian besar pelaku adalah masyarakat lokal sehingga diharapkan manfaat ekonomi langsung maupun tidak langsung dari sistem sea farming ini akan bermuara pada kesejahteraan masyarakat lokal. Sebagai contoh, dengan implementasi intermediary mariculture process yang melibatkan pendeder 1, pendeder 2, dan seterusnya maka alur finansial dalam bentuk perdagangan benih dapat dilakukan, menggantikan sistem konvensional yang hanya terbatas pada
grower (pembesaran) (Adrianto et al. 2010).
Sub-sistem ketiga adalah sub-sistem output di mana komoditas sea farming akan diperdagangkan melalui sistem distribusi dan perdagangan yang adil antar pelaku sea farming dan pada saat yang sama berfungsi juga sebagai penyedia stok bagi kepentingan konservasi dan pengkayaan stok ikan (stock enhancement). Fungsi konservasi ini dapat melibatkan pemerintah daerah sebagai
penjamin pasar bagi pelaku sea farming. Dengan kata lain, Pemerintah Daerah membeli stok dari pelaku sea farming bukan untuk kepentingan komersial melainkan untuk konservasi dan pengkayaan stok alam di perairan yang sesuai. Sistem kelembagaan sea farming dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11 Sistem kelembagaan sea farming (Adrianto et al. 2010).
Pendekatan program sea farming di Kelurahan Pulau Panggang menggunakan konsep agribisnis, dimana pertumbuhan perekonomian masyarakat lokal digerakkan oleh pelaku-pelaku bisnis yang saling menunjang dan saling terkait sehingga usaha perekonomian dapat dilakukan secara massal dan berkesinambungan.
Kendala yang dihadapi dalam usaha budidaya ikan adalah sedikitnya pelaku bisnis yang terdiri dari pelaku usaha pembenihan dan pelaku usaha pembesaran serta lamanya waktu pembesaran, yaitu berkisar antara 6 hingga 12 bulan tergantung ukuran bibit dan jenis ikan yang dibudidayakan, sehingga dapat mempengaruhi cash flow pelaku usaha karena masa panen yang lama. Jika hal
Populasi P. Panggang Lokasi Sea Farming Demarcated Fishing Right Implementasi Sea Farming Community Based Agribusiness System
Hatchery Pendeder-1 Pendeder-2
Pendeder-3 Grower Pasar Distribusi Perdagangan Nelayan Stock Enhancement Kesepakatan Lokal Definisi Pelaku SF Monitoring dan Evaluasi Berbasis Masyarakat Pendampingan, Monitoring dan Evaluasi Berbasis Masyarakat Pendampingan, Monitoring dan Evaluasi Berbasis Masyarakat
tersebut diterapkan kepada pelaku pembudidaya yang dulu merupakan nelayan maka tidak sedikit para pelaku yang mengalami kegagalan. Namun melihat potensi sumberdaya perikanan tangkap yang semakin menurun, maka usaha budidaya ikan merupakan salah satu usaha alternatif yang sangat menjanjikan.
Untuk mengatasi kendala tersebut, sesuai dengan pendekatan community-based agribusiness system maka penciptaan pelaku-pelaku usaha yang berada diantara pelaku pembenihan dan pembesaran dapat ditumbuhkan. Pelaku tersebut adalah pelaku pendederan atau raiser. Umumnya usaha pendederan ikan kerapu tidak lama sekitar dua bulan. Sehingga dalam jangka waktu yang tidak lama, maka pelaku usaha sudah dapat memperoleh pendapatan. Jika pola pengaturan musim tanam dilakukan, maka manfaat ekonomi yang diterima oleh pelaku dapat diperoleh setiap bulannya.
Dalam sub sistem marikultur, pelaku usaha pendederan dapat dibagi menjadi beberapa segmen usaha berdasarkan ukuran ikan yang diproduksi, sehingga terdapat pelaku usaha pendederan I, pendederan II, pendederan III dan seterusnya. Pelaku usaha budidaya ikan tersebut saling mendukung dan saling membutuhkan. Produk hatchery menjadi input usaha pendederan I yang memproduksi ikan untuk input usaha pendederan II. Produk usaha pendederan II menjadi input usaha pendederan III dan produk usaha pendederan III menjadi input usaha pembesaran.
Dalam konsep sea farming terdapat beberapa sistem budidaya yang bekerja secara sinergis, baik secara serial maupun paralel. Sistem budidaya tersebut meliputi hatchery, sea ranching, enclosure, pen culture, cage culture
(apung dan tetap) dan longline (rumput laut dan tiram). Pelaku sistem dalam hal ini adalah penyedia bibit, nelayan petambak, pedagang pengumpul/pengangkut dan konsumen, sedangkan pembina/pemandu sistem adalah pemerintah, koperasi dan peneliti/LSM/lembaga pendampingan.
Dengan sistem sea farming otomatis pelaku usaha penyedia bibit dan nelayan pembudidaya menjadi banyak dan saling berhubungan satu dengan lainnya, hal ini akan sangat baik bagi kesinambungan usaha budidaya dan tentunya bagi pengembangan ekonomi masyarakat setempat. Begitu pun jika dilihat dari sisi pelaku pedagang pengumpul/pengangkut atau dari sistem
pemasaran komoditi, juga cukup banyak pemain yang terlibat di dalamnya, seperti pada kegiatan pemasaran ikan kerapu (Gambar 12).
Gambar 12 Rantai pemasaran ikan kerapu (Adrianto et al. 2011)
Secara garis besar sistem agribisnis yang dapat dikembangkan dalam sea farming seperti pada gambar berikut.
Gambar 13 Sistem agribisnis antar sistem budidaya dalam Konsep Sea Farming (Adrianto et al. 2011)
Pada konsep sea farming ini, masing-masing sistem budidaya setelah
hatchery berperan ganda sebagai pendeder yang menghasilkan benih bagi sistem budidaya berikutnya dan juga sebagai penghasil ikan ukuran konsumsi. Hatchery
merupakan unit pembenihan yang berfungsi menghasilkan benih serta menjual Nelayan Penangkap Kerapu Penampung Di Pulau Pedagang Pengumpul Nelayan Pembudidaya Kerapu Ekspor Konsumen - Konsumsi - Restoran Hachery Budidaya Enclosure Nelayan Penangkap Budidaya Cage Culture Budidaya Pen Culture Alam Restocking Penangkapan Konsumen (Lokal/Ekspor)
Suplai Ikan Bibit Ikan Ukuran Konsumsi
benih kepada sistem lainnya. Pelaku budidaya sistem enclosure membeli benih dari hatchery, output dari kegiatan bisnis dengan sistem ini adalah ikan ukuran konsumsi (5-12 bulan pemeliharaan) dan ukuran bibit (2-3 bulan pemeliharaan).
Output ukuran bibit dari sistem ini diperlukan untuk kegiatan pembesaran
(fatening) pada sistem cage culture dan atau pen culture (Adrianto et al. 2011). Pelaku budidaya sistem pen culture membeli benih dari hatchery atau dari sistem budidaya enclosure, output dari kegiatan ini adalah ikan ukuran konsumsi dan ikan ukuran bibit. Untuk ikan ukuran bibit yang dihasilkan dari sistem ini diperlukan untuk pembesaran juga pada sistem cage culture.
Pelaku budidaya sistem cage culture membeli bibit dari hachery,
enclosure, pen culture dan juga dari nelayan penangkap, dimana masing-masing bibit yang diperoleh dari masing-masing sistem tersebut memiliki keunggulan tersendiri. Output dari kegiatan ini adalah ikan ukuran konsumsi untuk pasar lokal/domestik maupun ekspor.
7.2.1. Batas Pengelolaan dan Mekanisme Sea Farming
Penetapan batasan pengelolaan sumberdaya dalam kerangka sea farming
berdasarkan fungsi dan kondisi sumberdaya yang disesuaikan dengan kondisi fisik lahan, kebutuhan dan budaya masyarakatnya. Secara ekologis, wilayah pengelolaan mencakup wilayah ekosistem laut dangkal (goba) Tipis di sebelah utara, goba Nawi dan goba di sebelah selatan, serta goba Sempit di sebelah barat.
7.2.2. Sistem Aturan
Kunci dari aturan yang digunakan dalam sea farming adalah right-based fisheries yang merupakan alternatif pengelolaan sumberdaya secara terbuka (open access) yang mengakibatkan konflik antar nelayan dan menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan. Salah satu pilar penting dalam pelaksanaan sea farming
adalah penguatan hukum dan kelembagaan. Pemberian hak pemanfaatan perairan (use rights) yang jelas kepada pelaku sea farming merupakan prasyarat penting dalam kerangka insentif institusi menuju produksi perikanan yang berkelanjutan. Pemberian hak ini dapat dilakukan apabila diperkuat melalui mekanisme legal yang transparan dan berkeadilan. Peranan hukum dalam memelihara keseimbangan antara kepentingan individu dan masyarakat dapat dilakukan
melalui berbagai inovasi dalam penerapan sanksi hukum, termasuk pemberian insentif dan disinsentif supaya dapat lebih mendekati rasa keadilan yang berkembang di dalam masyarakat (Adrianto et al. 2011).
Sistem aturan main yang disepakati oleh Kelompok Sea Farming adalah yang tercantum dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (Lampiran 1 dan 2). Aturan main tersebut sebenarnya mengacu pada faktor kelembagaan pengelola yang mencakup unsur-unsur : 1) wewenang (authority), 2) hak kepemilikan (right), 3) aturan (rules), 4) monitoring, accountability, dan
enforcement, 5) sanksi (sanction). Pemanfaatan sumberdaya laut biasanya
dikontrol oleh kewenangan tradisi yang secara alami mencerminkan organisasi masyarakat dan pemilik hak (ownership). Kelembagaan formal yang dibentuk oleh masyarakat umumnya terkait dengan aktivitas kesehariannya.
7.2.3. Sistem Hak
Beberapa hak yang harus dipenuhi dalam pengelolaan sea farming menurut Adrianto et al. (2011), diantaranya adalah :
a. Kelompok usaha anggota sea farming berhak memanfaatkan dan mengelola di wilayah sea farming sesuai dengan peruntukkannya dan luas yang telah ditentukan.
b. Kelompok usaha anggota sea farming berhak mendapatkan pembinaan dan pelatihan dalam rangka meningkatkan kemampuannya di bidang budidaya perikanan.
7.2.4. Pengaturan Hubungan Kepemilikan
Kelembagaan berfungsi sebagai pengaturan hubungan kepemilikan. Hak kepemilikan (right) sistem pengelolaan berada pada seluruh masyarakat Pulau panggang dengan memenuhi persyaratan tertentu untuk bergabung dalam kelembagaan sea farming. Sehingga tercermin adanya kejelasan substansi dan struktur hak kepemilikan melalui penentuan bagaimana suatu hak dapat digunakan. Melalui aturan ini ditetapkan area sea farming dan siapa yang dijinkan menangkap dan siapa yang tidak, dan bagaimana aturan jika orang luar ikut memanfaatkan. Agar hak-hak dapat diterapkan perlu adanya monitoring
pelaksanaan aturan (monitoring, accountability, dan enforcement). Sedangkan bagi yang melanggar akan terkena sanksi hukumnya.
7.2.5. Sistem Sanksi
Sanksi yang disepakati sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku menurut Adrianto et al. (2011), diantaranya adalah :
a. Setiap orang atau badan hukum dalam yurisdiksi Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu harus mentaati setiap hukum maupun peraturan yang berlaku, yang ditetapkan oleh pemerintah;
b. Setiap orang atau badan hukum yang melakukan pelanggaran dan atau kejahatan terhadap lingkungan hidup dalam yurisdiksi Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu berlaku ketentuan sanksi yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku;
c. Selain dari POLRI atau alat penegak hukum lainnya, Bupati Kepala Daerah dapat memberikan wewenang kepada Kepala Suku Dinas Perikanan dan Pertanian untuk mengusut segala pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku.
7.2.6. Kelembagaan Informal Pengelolaan Sea Farming
Beberapa norma atau aturan tak tertulis yang berlaku dalam pengelolaan sea farming umumnya sama dengan norma-norma yang dijumpai dalam masyarakat Kepulauan Seribu, diantaranya adalah :
a) Meliburkan kegiatan pada hari Jumat.
b) Kebiasaan untuk menyisihkan sebagian hasil panen budidaya ikan kerapu (terutama saat hasil banyak) untuk dibagikan kepada anak yatim piatu maupun janda.
c) Kesepakatan masyarakat lainnya terkait pemanfaatan ruang dalam aktivitas budidaya ikan kerapu yaitu pemanfaatan bagian dari ruang perairan laut di sebelah manapun untuk aktivitas yang tidak dilarang oleh hukum, dengan catatan tidak mengganggu pemanfaatan sebelumnya.