BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Kebijakan Desentralisasi
Sejalan dengan tuntutan demokratisasi dalam bernegara,
penyelenggaraan pemerintahan juga mengalami perubahan. Sistem
pemerintahan yang semula lebih condong pada sentralisasi menjadi desentralisasi. Selaras dengan perubahan sistem tersebut, maka tata aturan juga mengalami perubahan yang lebih mengarah kepada penyempurnaan pelaksanaan otonomi daerah, melalui pemberian kewenangan yang seluas-luasnya dengan tetap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berbagai penyempurnaan dilakukan seperti yang tertuang dalam UU Nomor 33 Tahun 2004, yang merupakan penyempurnaan dari UU Nomor 25 Tahun 1999, dengan pokok-pokok perubahan bahwa penyediaan
sumber-commit to user
sumber pendanaan untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah berdasarkan kewenangan Pemerintah, desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan, perlu diatur melalui perimbangan keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah, yang berupa sistem keuangan yang diatur berdasarkan kewenangan, tugas, dan tanggung jawab yang jelas antarsusunan pemerintahan.
Hakikat penyempurnaan utamanya menjaga prinsip money follows
function, artinya pendanaan mengikuti fungsi-fungsi pemerintahan sehingga kebijakan perimbangan keuangan mengacu kepada 3 prinsip yakni (1) perimbangan keuangan antara Pemerintah dengan pemerintahan daerah merupakan subsistem keuangan negara sebagai konsekuensi pembagian tugas antara Pemerintah dan pemerintah daerah; (2) pemberian sumber keuangan negara kepada pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi didasarkan atas penyerahan tugas oleh Pemerintah kepada pemerintah daerah dengan memperhatikan stabilitas dan keseimbangan fiskal; dan (3) perimbangan keuangan antara Pemerintah dan pemerintah daerah merupakan suatu sistem yang menyeluruh dalam rangka pendanaan penyelenggaraan asas
desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan. Mempertegas
perimbangan keuangan sebagai unsur utama dalam kebijakan desentralisasi fiskal, maka pelaksanaan tiga paket undang-undang di bidang keuangan negara, yakni UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan
commit to user
Negara merupakan acuan dasar pelaksanaan UU Nomor 33 Tahun 2004, khususnya pengaturan komponen dana perimbangan yang terdiri atas DBH, DAU, dan DAK.
Pelaksanaan UU Nomor 25 Tahun 1999, maka penyempurnaan yang dimuat dalam UU Nomor 33 Tahun 2004 antara lain (1) DBH Pajak, yang meliputi DBH PBB dan DBH BPHTB, ditambah dengan DBH PPh wajib pajak orang pribadi dalam negeri (WPOPDN); (2) DBH SDA kehutanan, dengan mengakomodir dana reboisasi, yang semula merupakan DAK-DR; dan (3) DBH SDA, yang meliputi SDA minyak bumi, gas alam, pertambangan umum, kehutanan dan perikanan, ditambahkan dengan DBH Panas Bumi. Pelaksanaan kebijakan perimbangan keuangan dalam tatanan keuangan negara yang semula termasuk dalam kategori belanja ke daerah juga disempurnakan secara bertahap. Penyempurnaan tersebut meliputi pola pembagian DBH yang lebih transparan dan akuntabel, penyempurnaan formulasi DAU yang dilakukan secara konsisten dan mengarah kepada fungsi pemerataan kemampuan keuangan daerah, serta penyempurnaan terhadap penerapan kriteria penentuan DAK.
Penyempurnaan juga dilakukan untuk memenuhi ketentuan
perbendaharaan negara, sehingga sejak tahun 2008 sebagai pelaksanaan pemindahbukuan dari rekening kas umum negara ke rekening kas umum daerah, belanja ke daerah dikategorikan sebagai transfer ke daerah. Diharapkan arah kebijakan desentralisasi fiskal dalam pelaksanaannya menjadi lebih terukur sebagai capaian kinerja, baik Pemerintah maupun pemerintahan daerah.
commit to user
Pemerintah juga memberikan perhatian yang besar terhadap sumber PAD. Hal ini dimaksudkan agar daerah dapat memungut sumber-sumber pendapatannya secara optimal sesuai dengan potensi tiap-tiap daerah. Pelaksanaan pemungutannya tidak boleh menimbulkan ekonomi biaya tinggi dan tetap menciptakan iklim yang kondusif bagi para investor.
Pemerintah dan DPR saat ini telah melakukan perubahan UU Nomor 34 Tahun 2000 menjadi UU Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah untuk memperkuat taxing power daerah dan meningkatkan
kepastian hukum di bidang perpajakan daerah. Sumber-sumber PAD yang sebagian besar terdiri atas pajak daerah dan retribusi daerah diatur oleh undang-undang tersendiri, yang memberikan kewenangan kepada daerah provinsi dan Kabupaten/kota untuk memungut pajak dan retribusi. Undang-undang tersebut juga diatur jenis-jenis pajak dan retribusi yang dipungut provinsi dan Kabupaten/kota, sehingga dapat dihindari adanya tumpang tindih pemungutan pajak atau satu objek pajak dikenai dua atau lebih pungutan pajak. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat pendanaan daerah dalam menyelenggarakan pembangunan dan pelayanan masyarakat. APBD mengalami defisit, pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman. Pelaksanaan pinjaman daerah harus mengikuti kriteria dan persyaratan yang ditetapkan oleh Pemerintah, seperti pemerintah daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung ke luar negeri, jumlah pinjaman tidak boleh lebih dari 75 persen
commit to user
persen. ( APBN 2009, Bab V Kebijakan Desentralisasi Fiskal dan Pengelolaan
Keuangan Daerah)
Pengelolaan keuangan, daerah diberikan keleluasaan, sehingga dapat mengalokasikan dananya sesuai dengan kebutuhan daerah dengan tetap mengacu pada peraturan perundangan. Alokasi dana transfer Pemerintah yang sebagian besar telah diberikan diskresi sepenuhnya kepada pemerintah daerah. Pengelolaan keuangannya, daerah harus melakukan secara tertib, efisien, ekonomis, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada para pemangku kepentingan. Seluruh penerimaan dan pengeluaran daerah yang menjadi hak dan kewajiban harus diadministrasikan dalam APBD. Pengelolaan keuangan daerah selain dilakukan secara efektif dan efisien diharapkan dapat mendukung terwujudnya tata kelola pemerintah daerah yang baik bersandarkan pada transparansi, akuntabilitas, dan partisipatif. Pengelolaan keuangan daerah, telah dilakukan juga perubahan yang cukup mendasar antara lain mengenai bentuk dan struktur APBD, anggaran berbasis kinerja, klasifikasi anggaran, dan prinsip- prinsip akuntansi.
1. Pengelolaan Keuangan Daerah
Pengelolaan keuangan daerah meliputi keseluruhan kegiatan perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah. Pengelolaan keuangan daerah secara umum mengacu pada paket reformasi keuangan negara, yang dituangkan dalam beberapa peraturan perundang-undangan, yaitu UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU Nomor 1
commit to user
Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, dan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
Subsistem dari pengelolaan keuangan negara dan merupakan kewenangan pemerintah daerah, pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, yang mengatur secara komprehensif dan
terpadu (omnibus regulation) ketentuan-ketentuan dalam bidang
pengelolaan keuangan daerah, dengan mengakomodasi berbagai substansi yang terdapat dalam berbagai undang-undang di atas. Peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan keuangan daerah, diharapkan dapat mengharmoniskan pengelolaan keuangan daerah, baik antara Pemerintah dan pemerintah daerah, serta antara pemerintah daerah dan DPRD, ataupun antara pemerintahan daerah dan masyarakat. Daerah dapat mewujudkan pengelolaan keuangan secara efektif dan efisien, serta dapat mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, berdasarkan tiga pilar utama, yaitu transparansi, akuntabilitas, dan partisipatif. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 memuat berbagai kebijakan terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, dan pertanggungjawaban keuangan daerah. Pengaturan pada aspek perencanaan diarahkan agar seluruh proses penyusunan APBD semaksimal mungkin dapat menunjukkan latar belakang
commit to user
pengambilan keputusan dalam penetapan arah kebijakan umum, skala prioritas dan penetapan alokasi, serta distribusi sumber daya dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Proses dan mekanisme penyusunan APBD dapat memperjelas jenjang tanggung jawab, baik antara pemerintah daerah dan DPRD, maupun di lingkungan internal pemerintah daerah. Pengelolaan keuangan daerah juga menerapkan prinsip anggaran berbasis kinerja.
Dokumen penyusunan anggaran yang disampaikan oleh tiap-tiap satuan kerja perangkat daerah (SKPD) disusun dalam format rencana kerja dan anggaran (RKA) SKPD dan harus betul-betul dapat menyajikan informasi yang jelas, tentang tujuan, sasaran, serta korelasi antara besaran anggaran (beban kerja dan harga satuan), dengan manfaat dan hasil yang ingin dicapai atau diperoleh masyarakat dari suatu kegiatan yang dianggarkan. Penerapan anggaran berbasis kinerja mengandung makna bahwa setiap penyelenggara negara berkewajiban untuk bertanggung jawab atas hasil proses dan penggunaan sumber dayanya. Keterkaitan antara kebijakan perencanaan dengan penganggaran oleh pemerintah daerah sedemikian rupa, sehingga sinkron dengan berbagai kebijakan Pemerintah. Sisi pelaksanaan APBD telah diatur mengenai pemberian peran dan tanggung jawab pengelola keuangan, sistem pengawasan pengeluaran dan sistem pembayaran, manajemen kas dan perencanaan keuangan, pengelolaan piutang dan utang, pengelolaan investasi, pengelolaan barang milik daerah, larangan penyitaan uang dan barang milik daerah dan/ atau
commit to user
yang dikuasai negara/daerah, penatausahaan dan pertanggungjawaban APBD, serta akuntansi dan pelaporan. Pengaturan bidang akuntansi dan pelaporan dilakukan dalam rangka menguatkan pilar akuntabilitas dan transparansi.
Pengelolaan keuangan daerah yang akuntabel dan transparan, pemerintah daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban berupa (1) laporan realisasi anggaran; (2) neraca; (3) laporan arus kas; dan (4) catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan dimaksud disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah, sebagaimana diatur dalam PP Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah dan PP Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. Menilai ketaatan dan kewajaran sebelum dilaporkan kepada masyarakat melalui DPRD, laporan keuangan perlu diperiksa terlebih dahulu oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sesuai UU Nomor 15 Tahun 2004.
Implementasinya penerapan pengelolaan keuangan daerah telah
ditindaklanjuti dengan berbagai peraturan teknis sebagai acuan pelaksanaan bagi setiap pemerintah daerah, antara lain dituangkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007. Aspek tata urutan dan kelengkapan peraturan perundang-undangan, masih banyak daerah yang belum memiliki peraturan daerah dan peraturan kepala daerah terkait pengelolaan keuangan daerah, sebagaimana diamanatkan oleh PP Nomor 58
commit to user
Tahun 2005. Peraturan daerah dan peraturan kepala daerah ini sangat penting sebagai acuan bersama baik bagi eksekutif, legislatif, pemeriksa, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Dasar hukum keuangan daerah : (i) Undang- Undang Nomor 12 tahun 2008 perubahan Undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah; (ii) Undang-undang nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan negara; (iii) Undnag-undang nomor 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah derah; (iv) Peraturan perundang-undangan sebagai pedoman dan pengaturan operasional lain dalam pengelolaan keuangan daerah :
a. Undang-undang nomor 1 tahun 2004 tentang perbendaharaan negara. Undang-undang nomor 15 tahun 2004 tentang pemeriksaan, pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara.
b. Peraturan pemerintah nomor 54 tahun 2005 tentang pinjaman daerah. c. Peraturan pemerintah nomor 55 tahun 2005 tentang dana perimbangan. d. Peraturan pemerintah nomor 56 tahun 2005 tentang sistem informasi
keuangan daerah.
e. Peraturan pemerintah nomor 57 tahun 2005 tentang hibah kepada daerah. f. Peraturan pemerintah nomor 58 tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan
derah.
g. Peraturan Menteri dalam negeri nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman pengelolaan keuangan daerah.
commit to user
2. Pelaksanaan Desentralisasi Fiskal
Perkembangan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal,
nomenklatur pendanaan desentralisasi dalam APBN juga mengalami
perubahan. Sejak tahun 2001-2007, dalam postur APBN nomenklatur untuk
pendanaan desentralisasi telah mengalami penyesuaian beberapa kali. Anggaran yang didaerahkan disesuaikan menjadi belanja daerah, dan terakhir sampai dengan tahun 2007 disesuaikan menjadi belanja ke daerah. Mulai tahun 2008 nomenklatur tersebut berubah menjadi transfer ke daerah yang selanjutnya ditetapkan pengaturannya dalam Bagan Akun Standar.
Pada tahun 2001, alokasi transfer ke daerah baru mencakup dana perimbangan. Sejak tahun 2002, alokasi transfer ke daerah juga mencakup dana otonomi khusus untuk Provinsi Papua sebagai pelaksanaan UU Nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, dan Dana Penyeimbang (Dana Penyesuaian), yang dialokasikan kepada daerah-daerah yang menerima DAU lebih kecil dari tahun sebelumnya. Mulai tahun 2008, sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Pemerintah juga mengalokasikan dana otonomi khusus untuk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), dengan nilai setara 2 persen dari pagu DAU nasional selama 15 tahun, mulai tahun 16 sampai dengan tahun ke-20 setara 1 persen dari pagu DAU nasional. Dilaksanakannya kebijakan desentralisasi fiskal, perkembangan alokasi transfer ke daerah dari tahun 2001-2008 secara nominal terus meningkat, dari Rp81,1 triliun (4,8 persen terhadap PDB) pada tahun 2001 menjadi Rp253,3 triliun (6,4 persen
commit to user
terhadap PDB) pada tahun 2007, dan diperkirakan menjadi Rp293,6 triliun (6,3 persen terhadap PDB) pada tahun 2008, atau rata-rata tumbuh 20,2 persen per tahun. Alokasi transfer ke daerah dapat dilihat pada Dalam kurun waktu 2001-2008, dana perimbangan, yang merupakan komponen terbesar dari transfer ke daerah, yang terdiri atas dana bagi hasil (DBH), dana alokasi umum (DAU), dan dana alokasi khusus (DAK), menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan, dari Rp81,1 triliun (4,8 persen terhadap PDB) pada tahun 2001 menjadi Rp244,0 triliun (6,2 persen terhadap PDB) pada tahun 2007, dan diperkirakan mencapai Rp279,6 triliun (6,0 persen terhadap PDB) pada tahun 2008, atau ratarata tumbuh 19,3 persen per tahun. Perkembangan
alokasi dana perimbangan dari tahun 2001—2008. (APBN 2009, Bab V
Kebijakan Desentralisasi Fiskal dan Pengelolaan Keuangan Daerah)
3. Efektivitas Pemungutan Pajak dan Retribusi Daerah
Pemberian kewenangan yang lebih besar kepada daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat, provinsi dan Kabupaten/kota juga diberikan kewenangan untuk memungut pajak dan retribusi sebagaimana diatur dalam UU No. 28 tahun 2009 perubahan atas UU Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Berdasarkan undang-undang tersebut, terdapat 11 jenis pajak daerah, yaitu 4 jenis pajak provinsi dan 7 jenis pajak Kabupaten/kota. Jenis pajak provinsi ditetapkan secara limitatif, sedangkan pajak Kabupaten/ kota selain yang ditetapkan dalam undang-undang dapat ditambah oleh daerah sesuai dengan potensi yang ada dan harus sesuai dengan kriteria pajak yang ditetapkan
commit to user
dalam undang-undang. Penetapan tarif definitif untuk pajak provinsi ditetapkan dengan peraturan pemerintah, sedangkan tarif definitif untuk pajak Kabupaten/kota diserahkan sepenuhnya kepada tiap-tiap daerah, dengan mengacu kepada tarif tertinggi untuk masingmasing jenis pajak, sebagaimana diatur dalam UU Nomor 28 Tahun 2009. Pajak daerah diatur dalam PP Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah. Retribusi daerah dikelompokkan menjadi tiga golongan sesuai dengan jenis pelayanan dan perizinan yang diberikan, yaitu sebagai berikut: (1) retribusi jasa umum, (2) retribusi jasa usaha, dan (3) retribusi perizinan tertentu. Yang termasuk golongan jasa umum adalah pelayanan yang wajib disediakan oleh pemerintah daerah.
Pemungutan jenis retribusi yang termasuk dalam golongan Jasa Usaha dilakukan sesuai dengan pelayanan yang diberikan oleh daerah. Jenis retribusi daerah juga diberikan kewenangan untuk memungut jenis retribusi baru sesuai dengan kriteria retribusi yang ditetapkan dalam undang-undang. Jenis retribusi selengkapnya sebagai berikut :
a) Golongan Retribusi Jasa Umum 1) Retribusi pelayanan kesehatan;
2) Retribusi pelayanan persampahan / kebersihan;
3) Retribusi penggantian biaya cetak kartu tanda penduduk dan akte; 4) Retribusi pelayanan pemakaman dan pengabuan mayat;
5) Retribusi pelayanan parkir di tepi jalan umum ; 6) Retribusi pelayanan pasar;
commit to user
7) Retribusi pengujian kendaraan bermotor;
8) Retribusi pemeriksaan alat pemadam kebakaran; 9) Retribusi penggantian cetak peta;
10) Retribusi pengujian kapal perikanan;
b) Golongan retribusi Jasa Usaha
1) Retribusi pemakaian kekayaan daerah; 2) Retribusi pasar grosir dan/atau pertokoan; 3) Retribusi tempat pelelangan;
4) Retribusi terminal;
5) Retribusi tempat khusus parkir;
6) Retribusi tempat penginapan/pesanggrahan/villa; 7) Retribusi penyedotan kakus;
8) Retribusi rumah potong hewan; 9) Retribusi pelayanan pelabuhan kapal; 10) Retribusi tempat rekreasi dan olah raga; 11) Retribusi penyeberangan diatas air; 12) Retribusi pengelolaan limbah cair; 13) Retribusi penjualan produk usaha daerah;
c) Golongan Retribusi Perijinan Tertentu
1) Retribusi izin mendirikan bangunan;
2) Retribusi izin tempat penjualan minuman beralkohol; 3) Retribusi izin gangguan;
commit to user
Peningkatkan PAD pemerintah daerah cenderung untuk memungut berbagai jenis pajak dan retribusi selain yang telah ditetapkan dalam undang-undang dan peraturan pemerintah, meskipun hasilnya kurang signifikan. Setiap daerah mengenakan lebih dari 10 jenis retribusi baru dengan hasil yang sangat kecil. Penerimaan retribusi yang memberikan hasil yang relatif besar adalah retribusi yang berkaitan dengan pemanfaatan hasil hutan dan pertambangan, yang sebenarnya telah dikenakan pungutan sejenis oleh Pemerintah. Sebagian besar pungutan tersebut, baik pajak maupun retribusi mempunyai kaitan dengan lalu-lintas barang, misalnya pengenaan pajak/retribusi atas pengeluaran dan pemasukan barang, hasil-hasil bumi, hewan dan ternak, serta retribusi atas penggunaan jalan umum. Sebagian lainnya adalah retribusi yang berkaitan dengan pelayanan administrasi pemerintahan, seperti penerbitan izin usaha, rekomendasi, legalisasi surat, dan administrasi lainnya, yang seharusnya dapat dibiayai dari penerimaan umum daerah.
Pengenaan pajak dan retribusi baru tersebut cenderung mendorong terjadinya ekonomi biaya tinggi dan tidak kondusif bagi iklim investasi, karena investor dihadapkan dengan berbagai macam pemungutan sehingga dapat meningkatkan biaya pemenuhan penerimaan pajak dan retribusi
(compliance cost). Pajak dan retribusi baru yang bermasalah telah dibatalkan oleh Pemerintah. Pembatalan tersebut dilakukan juga karena tidak memenuhi kriteria sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. Retribusi yang berkaitan dengan pelayanan administrasi, yang pengenaannya tidak
commit to user
bersifat pajak belum dibatalkan. Pemberikan ruang bagi daerah dalam meningkatkan penerimaan dan meningkatkan kualitas pelayanan administrasi. Kecenderungan daerah untuk menciptakan jenis pajak dan retribusi baru disebabkan karena UU No.28 Tahun 2009 telah memberikan ruang bagi daerah untuk menciptakan berbagai jenis retribusi dan pajak baru untuk Kabupaten/kota. Akan tetapi, ruang ini dimanfaatkan hampir semua daerah tanpa memperhatikan kriteria sebagaimana ditetapkan dalam undang-undang.
4. Retribusi Pelayanan Kesehatan
Pelaksanaan Undang-undang No. 12 tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah dan peraturan pelaksanaannya serta untuk mewujudkan otonomi daerah di Kabupaten Sragen maka perlu diupayakan intensifikasi dan ekstensifikasi pungutan sebagai peningkatan pendapatan asli daerah. Peningkatan kesehatan masyarakat serta meningkatan pendapatan daerah maka perlu dengan adanya pengaturan pemungutan retribusi di Puskesmas. Pemungutan retribusi bisa dilaksanakan dengan tertib maka perlu diatur pelayanan kesehatan pada rumah sakit dan Puskesmas dengan peraturan daerah.
Peraturan Daerah Kabupaten Sragen No. 5 tahun 2002 tentang Retribusi pelayanan kesehatan pada Puskesmas dalam wilayah Kabupaten Sragen : (Pasal 2 ayat 2) Pelayanan kesehatan di Puskesmas yang dikenakan tarif dan dikelompokkan menjadi : (a) Pelayanan rawat jalan; (b) Pelayanan inap; (c) Pelayanan kir dan pengujian kesehatan; (d) Pelayanan pemeriksaan calon pengantin; (e) Pelayanan lain-lain; (Pasal 5) Subyek retribusi adalah
commit to user
orang pribadi atau badan yang menggunakan/menikmati pelayanan. Bukan termasuk askes wajib (PNS/TNI/POLRI/Veteran), askes sosial ( Jamkesmas / JPS), surat keterangan tidak mampu yang disahkan oleh pejabat yang berwewenang dan gratis; (Pasal 7) Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan jumlah pelayanan, jenis pelayanan, pemakaian alat pelayanan kesehatan dan kelas serta waktu pelayanan yang diterima oleh wajib retribusi di Puskesmas atau Puskesmas perawatan; (Pasal 8) Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi didasarkan pada tujuan untuk menutup biaya administrasi rawat jalan, rawat inap, kunjungan rumah, tindakan medis dan pemeriksaan penunjang diagnostik kepada pribadi dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan aspek keadilan.