• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Penyediaan Barang Publik

Salah satu kewajiban pemerintah adalah menyediakan barang dan jasa yang tidak dapat dihasilkan oleh fihak swasta. Masalah selanjutnya adalah, seberapa besar pemerintah harus menyediakan barang publik,karena keterbatasan kemampuan anggaran pemerintah. Penyediaan barang publik dalam jumlah yang terlalu besar akan menyebabakan terjadinya pemborosan sumber-sumber ekonomi, sebaliknya penyediaan barang dan jasa publik yang terlalu sedikit akan menimbulkan ketidakpuasan masyarakat. Beberapa teori telah dikemukakan oleh para ahli ekonomi, seperti Pigou, Bowen, Lindahl, Samuelson dan teori anggaran.

A.C. Pigou berpendapat, bahwa penyediaan barang publik akan

memberi manfaat (utility) bagi masyarakat; sebaliknya pajak yang dikenakan

akan menimbulkan ketidakpuasan masyarakat (disutility). Semakin banyak

barang dan jasa publik disediakan pemerintah, maka tambahan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat akan semakin menurun. Hal ini analog dengan

commit to user

segelas air yang diberikan terus menerus kepada seseorang. Gelas pertama akan memberikan kepuasan yang sangat besar. Gelas ketiga akan memberikan kepuasan lebih kecil dan akhirnya gelas keenam, ketujuh, kedelapan dan seterusnya mungkin tidak memberi kepuasan sama sekali.

Sebaliknya, semakin banyak barang dan jasa publik, semakin besar biaya yang dibutuhkan dan konsekwensinya semakin besar pula pajak yang dipungut dari masyarakat. Keadaan ini menyebabkan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat. Secara teoristis, penyediaan barang dan jasa publik akan optimal, apabila kepuasan masyarakat yang diperoleh sama dengan ketidakpuasan masyarakat dari pemungutan pajak. Kesulitan dari analisis ini adalah, kepuasan dan ketidakkpuasan adalah merupakan suatu yang tidak dapat diukur secara kuantitatif, karena analisisnya didasarkan pada rasa ketidakpuasan marginal masyarakat dalam membayar pajak dan rasa kepuasan marginal terhadap barang publik.

Teori yang dikemukakan oleh Bowen, Lindahl, Samuelson dan teori anggaran, berusaha memberi jawaban mengenai berapa jumlah barang publik yang harus disediakan pemerintah, sehingga kepuasan masyarakat terhadap alokasi sumber ekonomi antara barang publik dan barang swasta tercapai tingkat optimal. Teori yang dikemukakan Bowen mengenai penyediaan barang publik, didasarkan pada teori harga seperti dalam penentuan harga pada barang swasta.

Lindahl mengemukakan analisisnya yang mirip dengan Bowen, dengan perbedaan dalam bentuk harga yang digunakannya. Bowen

commit to user

menggunakan harga absolut, sementara Lindahl menggunakan harga relatif, yaitu presentasi dari pembiayaan pemerintah total.

Samuelson juga mengemukakan teorinya dengan menggunakan

pendekatan biaya keseimbangan umum (general equilibrium). Ia

menyimpulkan bahwa adanya barang publik tidak menghambat masyarakat

untuk mencapai kesejahteraan masyarakat yang optimal (Pareto optimality).

Teori Samuelson mengenai pengeluaran pemerintah merupakan teori paling baik, karena sederhana, jelas, dan komfrehensif. Namun inipun juga mengandung beberapa kelemahan, misalnya pada anggapan bahwa konsumen dapat mengemukakan kesukaan mereka terhadap barang publik. Hal ini merupakan kelemahan hal yang mendasar dari analisis pengeluaran pemerintah, karena masalah utamanya adalah bagaimana pemerintah memungut pembayaran dari konsumen barang publik. Tidak seorangpun mau dengan sukarela mengemukakan kesukaanya akan barang sosial karena kesukaan ini akan menjadi dasar bagi pemerintah dalam mengenakan tarif. Selain itu apabila barang publik sudah tersedia, mereka tidak dapat dikecualikan dari penggunaan barang tersebut. Kelemahan berikutnya adalah barang publik yang dibahas mempunyai sifat kebersamaan yang dapat digunakan konsumen dalam jumlah yang sama. Barang-barang publik yang memiliki sifat tersebut praktis sangat terbatas, misalnya pertahanan, kehakiman. Sementara itu sebagian besar dari barang publik tidak mengandung sifat-sifat itu seperti misalnya rumah sakit dan sekolah.

commit to user

Teori lain yang menerangkan tentang penyediaan barang-barang publik adalah teori alokasi barang sosial melalui anggaran. Teori ini didasarkan suatu analisis bahwa setiap orang harus membayar pengunaan barang publik dalam jumlah yang sama sesuai dengan sistem harga untuk barang swasta.

Semua teori ekonomi mengenai penyediaan barang publik diatas, secara konseptual sangat baik. Sayangnya semua itu kurang bermanfaat untuk diterapkan dalam praktek. Oleh karena itu untuk mendapatkan cara mengenai penentuan jumlah barang publik perlu ”meminjam” teori yang dikembangkan

dalam ilmu politik yaitu pemungutan suara ”voting”. Pemungutan suara dapat

dilakukan dalam berbagai cara tetapi cara yang terbaik adalah dengan aklamasi, dimana suatu program pemerintah akan dilaksanakan apabila semua orang menyatakan setuju. Hasil yang diperoleh dengan cara aklamasi akan sama dengan mekanisme pasar sehingga dapat dicapai hasil yang terbaik. Namun demikian cara aklamasi inipun dalam praktek juga sering sulit direalisasikan sehingga muncul alternatif lain mengenai jumlah suara minimal yang diperlukan dalam suatu pemungutan suara. Pada awalnya teori ini dikemukakan oleh Knut Wicksell. Ia berpendapat bahwa sistem yang baik adalah apabila 2/3 suara menyatakan persetujuannya. Buchanan-Tullock kemudian mencoba memberikan jawaban bahwa pemungutan suara harus dilakukan dengan cara meminimalkan biaya pemungutan suara.

Sistem pemungutan suara dengan sistem mayoritas sederhana (simple

majority), dalam memilih dua atau lebih program pemerintah, dapat terjadi

commit to user

Untuk menghindarinya maka dapat ditempuh beberapa cara altrnatif, seperti,

plural voting, point voting dan sebagainya. Pemungutan suara dengan cara pemilihan langsung sulit dilakukan dinegara-negara yang berpenduduk sangat banyak karena faktor pembiayaan. Pemungutan suara untuk memilih program pemerintah dilakukan secara demokratis melalui perwakilan rakyat. Tetapi masalahnya adalah apakah dengan cara ini dapat dijamin bahwa suara wakil rakyat selaras dengan kehendak rakyat yang diwakilinya. Schumpeter dan A. Down menunjukkan bahwa karena dengan adanya motivasi dan rasa individualistik dari rakyat dan wakil rakyat maka akan ada jaminan keserasian antara pilihan wakil rakyat dan kehendak rakyat (A.Tony Prasentiantono, 1994:16-20).

Dokumen terkait