BAB II SASARAN KRITIK DAN HAL YANG DIKRITIK
2.2 Pemerintah
2.2.1 Kebijakan Diskriminatif
Wacana (13) memuat kritikan comic atas sikap diskriminasi pemerintah pusat perihal pelaksanaan dan pemerataan pembangunan daerah-daerah di Indonesia.
(13) Saya heran, pembangunan itu selalu dibeda-bedakan, selalu dibeda-bedakan. Padahal, kita ini kan satu Ibu Pertiwi, teman- teman, satu Ibu Pertiwi. Saya itu terkadang berpikir itu dengan frasa Ibu Pertiwi. Kalau kita memang satu Ibu Pertiwi begitu, apakah memang dulu itu ada satu seorang perempuan, kemudian melahirkan pulau-pulau di Indonesia kah? Iya, jadi kamar bersalin begitu, lampu terang, follow spot di mana-mana begitu, kemudian Ibu Pertiwi berbaring.
O1: Ya, Ibu Per.
Ini panggilan akrab Ibu Pertiwi, ya.
O1: Ya, Ibu Per, tarik nafas dalam-dalam, Ibu. Terus Ibu, terus, iya, terus, kuat, terus, kepalanya sudah keluar, oke, ya. Sumatera.
Sumatera lahir, dan itu adalah pulau yang paling susah lahir karena gunungnya paling banyak. Itu Ibu Pertiwi sampai robek- robek itu. Dan mungkin setelah itu, Kalimantan lahir, Jawa lahir, Bali lahir, dan pulau-pulau di bagian Indonesia Timur itu lahirnya paling terakhir.
O1: Ya, Ibu Per, tarik nafas dalam-dalam, Ibu. Terus Ibu, iya terus, sedikit lagi, sedikit lagi, kepalanya sudah keluar, oke, iya, listrik mati.
gelap. (Abdur, show 17).
Wacana di bawah ini berisi kritikan comic atas sikap diskriminasi pemerintah pusat perihal pemerataan pembangunan infrastruktur daerah-daerah di Indonesia.
(14) Di Malang itu teman-teman, saya suka sekali nonton Arema di stadion; dan aremania di sana itu sudah mulai ada kubu- kubunya. Jadi, ada aremania tribun utara, tribun selatan, tribun ekonomi, manajemen, akuntasi, oi macam-macam, macam- macam. Akhirnya saya berpikir, kayaknya saya juga harus buat kubu sendiri. Saya beri nama Aremania tribun tenggara timur laut. Yang lain bawa terompet, kami bawa kompas. “Ini tenggara timur laut di bagian mana?” Begitu dapat tempat duduk, ada yang protes, “ Ah, di sini bukan tenggara timur laut. Di sini ini selatan barat daya.” Akhirnya harus cari lagi. Begitu dapat tempat duduk yang benar, pertandingan sudah bubar. Tapi teman-teman, paling tidak enak itu kalau kalian nonton dari tribun timur, karena kalau di tribun barat itu nonton pakai lampu, cahaya terang kelap-kelip di mana-mana, tapi di tribun timur itu masih gelap, listrik tidak ada. Di tribun barat itu dikasih kursi, dikasih sofa, makan enak-enak, tapi di tribun timur itu masih beralaskan tanah, makan seadanya. Bahkan orang dari tribun barat itu berteriak ke tribun timur, “Woi, kalian yang ada di tribun timur, sabar saja, nanti kami bangun kursi di situ. Kami kasih makan enak.” Tetapi, sampai pertandingan berakhir tidak ada yang datang. (Abdur, show 9).
Wacana (15) mengandung kritikan comic atas sikap diskriminasi pemerintah pusat terhadap penanggulangan bencana alam di daerah terpencil di Indonesia.
(15) Teman-teman, di sini ada yang tahu Rokatenda? Tidak ada. Inilah suara minor yang mau saya bawa malam ini. Teman- teman, Rokatenda adalah gunung berapi di Pulau Flores. Dia meletus dari bulan Oktober 2012 sampai Desember 2013. Empatbelas bulan, empatbelas bulan. Bahkan dari pertama kali dia meletus sampai dia ulang tahun yang pertama, tiup- tiup lilin, tidak ada kado yang datang, tidak ada. Wajar kalau teman-teman tidak tahu karena memang berita Rokatenda meletus pada waktu itu, itu tertutup oleh berita banjir Jakarta. Bahkan berita banjir Jakarta itu diarahkan menjadi bencana
nasional karena merugikan negara hampir duapuluh triliun. Rokatenda selama empatbelas bulan meletus itu negara cuma rugi seribu rupiah. Iya, dua koin lima ratus untuk tutup telinga. (Abdur, show 1).
Abdur, penutur wacana (13) merupakan comic yang berasal dari Desa Lamakera, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Dalam penampilannya, Abdur sering kali mengungkapkan keprihatinannya dengan mengangkat isu sosial seputar kehidupan masyarakat Indonesia Timur (kawasan Indonesia yang merujuk pada daerah Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara).
Pada wacana (13), comic mengkritisi sikap diskriminatif pemerintah pusat dalam melaksanakan pembangunan (seperti pembangunan manusia dan pembangunan infrastruktur) di Indonesia Timur. Hal ini ditandai melalui tuturan (1) Saya heran, pembangunan itu selalu dibeda-bedakan, selalu dibeda-bedakan dan (2) Pulau-pulau di bagian Indonesia Timur itu lahirnya paling terakhir. Kedua tuturan kunci di atas mengimplikasikan kesenjangan dan dikotomi pembangunan manusia dan pembangunan infrastruktur antara daerah-daerah di Indonesia, khususnya di kawasan Indonesia Timur. Dalam pembangunan nasional, Indonesia Timur memang selalu dikebelakangkan.
Pada wacana (14), comic mengkritisi perbedaan perlakuan pemerintah dalam pemerataan pembangunan daerah-daerah di Indonesia. Hal ini ditunjukkan pada tuturan Tapi teman-teman, paling tidak enak itu kalau kalian nonton dari tribun timur, karena kalau di tribun barat itu nonton pakai lampu, cahaya terang kelap-kelip di mana-mana, tapi di tribun timur itu masih gelap, listrik tidak ada. Di tribun barat itu dikasih kursi, dikasih sofa, makan enak-enak, tapi di tribun timur itu masih beralaskan tanah, makan seadanya. Pernyataan ini merupakan
tuturan figuratif yang mengimplikasikan konteks ketidakmerataan pembangunan di Indonesia. Frasa tribun timur mengacu pada daerah-daerah Indonesia Timur yang digambarkan miskin infrastruktur dan kebutuhan hidup. Sebaliknya, frasa tribun barat mengacu pada daerah-daerah Indonesia Barat yang dilukiskan memiliki pembangunan infrastruktur yang baik dan berpenduduk sejahtera.
Pada wacana (15), comic mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah pusat pada daerah-daerah terpencil di Indonesia. Hal ini ditandai pada kalimat Bahkan dari pertama kali dia meletus sampai dia ulang tahun yang pertama, tiup- tiup lilin, tidak ada kado yang datang, tidak ada. Tuturan ini mengimplikasikan periode terakhir letusan Gunung Rokatenda yang terjadi selama satu tahun, yakni pada Oktober hingga Desember 2013. Rokatenda merupakan gunung berapi yang tepatnya berada di Pulau Palue, sebelah utara Pulau Flores. Akibat letusan ini, beberapa desa dihujani kerikil dan abu vulkanik, ketersediaan pangan dan air bersih berkurang, dan lima warga sekitar Rokatenda meregang nyawa akibat tersapu awan panas. Meskipun bencana alam ini berlangsung lama, comic mengklaim bahwa pemerintah pusat tidak memberikan bantuan logistik dan uang kepada korban letusan Rokatenda.