BAB II SASARAN KRITIK DAN HAL YANG DIKRITIK
2.10 Masyarakat Luas
Masyarakat Indonesia sering kali dikepung oleh persoalan kolektif. Rendahnya kepekaan dan kepedulian social serta tingkat akses informasi masyarakat yang minim adalah beberapa penyebab masalah bersama tersebut. Penyelesaian setiap masalah ini pun harus dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, dibutuhkan sikap kritis untuk mengingatkan, menyadarkan, dan menggerakkan masyarakat untuk bahu- membahu mengentaskannya.
(61) Jadilah pemilih yang kritis. Gampang belajar kritis mah ama komentator bola tarkam. Ada yang tahu? Antarkampung. Ini komentator kritis banget. Dia ngenalin pemain nggak cuma namanya. Dia kenal nama sama aibnya.
O1: Nomor punggung sepuluh, Zaenudin. Wah, ini bininya tiga nih.
O1: Nomor punggung duapuluh, Bambang. Ya elah Bambang, cieh abis ketahuan selingkuh. (David, show 6).
(62) Saya tuh lagi kesel banget sama orang-orang yang main handphone. Orang zaman sekarang itu lebih senang ngobrol di aplikasi messenger daripada ngomong di kehidupan nyata. Kayak saya itu punya temen-temen saya yang merantau ke mana-mana itu punya grup What‟s Ap. Itu kalau ngobrol di grup
What‟s Ap itu seru banget. “Eh, nanti kita kalau ketemu, kita ngobrol bareng, ya. Kita ngopi bareng. Kita berenang di langit.” Tapi kalau pas ketemu langsung, semuanya pada main handphone, What‟s Ap-an gitu kan.
O1: Dzi, aku minta jus kamu dong.
O2: Ya elah, tinggal minta langsung aja kali. Ngapain lewat
What‟s Ap? O1: Oke, Dzi.
O1: Dzi, cek What‟s Ap. (Hifdzi, show 9).
(63) Tapi gitu, gue ngelihat tenaga kesehatan dan dokter di Indonesia kurang dihargai. Yang klise aja nih ya, misalnya habis operasi, “Bapak, operasinya berhasil.” “Terima kasih, Tuhan.” Tapi, kalau kejadiannya lain. “Bapak, kami telah berusaha, tapi anak Bapak tidak bisa selamat dalam operasi ini.”
“Dokter melakukan malpraktek! Dokter melakukan
malpraktek!” Tuh. Kalau berhasil, yang diterimkasihin Tuhan; kalau gagal yang disalahi dokter. Mungkin orang-orang lupa, tangan Tuhan bekerja lewat siapa. Maradona, tangan Tuhan. (Liant, show 6).
Sasaran tutur pada ketiga wacana tersebut mengacu pada masyarakat luas. Wacana (61) diungkapkan melalui tuturan Jadilah pemilih yang kritis. Tuturan ini mengimplikasikan masyarakat umum yang memiliki hak memilih pada Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden pada 2014 silam. Wacana (62) ditandai melalui frasa Orang-orang yang main handphone. Wacana ini mengimplikasikan
masyarakat yang gemar bersosialisasi melalui perangkat komunikasi telepon seluler. Wacana (63) ditunjukkan melalui tuturan gue ngelihat tenaga kesehatan dan dokter di Indonesia kurang dihargai. Tuturan ini mengimplikasikan masyarakat sebagai sasaran kritik comic karena selaku pengguna jasa dan layanan kesehatan.
Hal yang dikritikkan kepada masyarakat luas adalah sebagai berikut. Pertama, sikap politik dalam Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden 2014. Kedua, minimnya penghargaan terhadap dokter. Ketiga, sikap individualistis akibat penggunaan handphone.
2.10.1 Sikap Politik dalam Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden 2014 Wacana berikut berisi kritikan terhadap sikap politik masyarakat dalam perhelatan Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden 2014.
(64) Jadilah pemilih yang kritis. Gampang belajar kritis mah ama komentator bola tarkam. Ada yang tahu? Antarkampung. Ini komentator kritis banget. Dia ngenalin pemain nggak cuma namanya. Dia kenal nama sama aibnya.
O1: Nomor punggung sepuluh, Zaenudin. Wah, ini bininya tiga nih.
O1: Nomor punggung duapuluh, Bambang. Ya elah Bambang, cieh abis ketahuan selingkuh. (David, show 6).
Comic mengimbau masyarakat untuk bersikap kritis dalam menjatuhkan preferensi politiknya pada perhelatan Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 2014 silam. Hal tersebut diungkapkan melalui tuturan Jadilah pemilih yang kritis.
kampanye dan debat capres-cawapres, baik para kandidat, tim sukses, dan para pendukung saling melakukan intrik dan intimidasi. Sementara itu, di kompleks parlemen (gedung MPR/DPR/DPD) di Senayan, beberapa anggota DPR ada yang dimejahijaukan akibat terlilit kasus hukum.
Melihat realitas tersebut, comic menyarankan rakyat Indonesia untuk menjadi pemilih yang cerdas dan berhati-hati dalam menentukan pilihannya pada pasangan capres-cawapres dan caleg yang bertarung dalam Pemilu. Serupa komentator bola tarkam yang memiliki kemampuan mengenali persona (terutama aib) para pemain sepak bola, comic bermaksud mengajak masyarakat untuk mengetahui rekam jejak para kandidat yang akan dipilih guna memperbaiki kualitas pemerintah dan parlemen Indonesia.
2.10.2 Minimnya Penghargaan terhadap Dokter
Wacana (65) memuat kritikan terhadap minimnya penghargaan masyarakat atas jasa dokter Indonesia.
(65) Tapi gitu, gue ngelihat tenaga kesehatan dan dokter di Indonesia kurang dihargai. Yang klise aja nih ya, misalnya habis operasi, “Bapak, operasinya berhasil.” “Terima kasih, Tuhan.” Tapi, kalau kejadiannya lain. “Bapak, kami telah berusaha, tapi anak Bapak tidak bisa selamat dalam operasi ini.”
“Dokter melakukan malpraktek! Dokter melakukan
malpraktek!” Tuh. Kalau berhasil, yang diterimkasihin Tuhan; kalau gagal yang disalahi dokter. Mungkin orang-orang lupa, tangan Tuhan bekerja lewat siapa. Maradona, tangan Tuhan. (Liant, show 6).
Comic mengeluhkan kurangnya penghargaan masyarakat Indonesia atas hasil kerja jasa tenaga kesehatan Indonesia, secara khusus dokter. Hal ini
ditunjukkan melalui tuturan Tenaga kesehatan dan dokter di Indonesia kurang dihargai.
Sebagai contoh, comic menyebut perilaku diskriminasi pasien beserta keluarganya kepada dokter. Para pengguna jasa kesehatan sering kali melayangkan tuduhan hingga pengajuan somasi jika dokter tidak mampu mengobati atau menyelamatkan nyawa pasien. Dokter dianggap melakukan kelalaian medis apabila pengobatannya tidak menuai kesembuhan atau keselamatan pada pasien. Sebaliknya, jika pasien sembuh, keluarga pasien pertama-tama mengucap terima kasih kepada Tuhan, alih-alih dokter yang telah berusaha mengobati dan menyembuhkannya.
2.10.3 Sikap Individualistis akibat Penggunaan Handphone
Wacana berikut memuat kritikan terhadap sikap individualistis masyarakat akibat penggunaan handphone (telepon seluler).
(66) Saya tuh lagi kesel banget sama orang-orang yang main handphone. Orang zaman sekarang itu lebih senang ngobrol di aplikasi messenger daripada ngomong di kehidupan nyata. Kayak saya itu punya temen-temen saya yang merantau ke mana-mana itu punya grup What‟s Ap. Itu kalau ngobrol di grup What‟s Ap itu seru banget. “Eh, nanti kita kalau ketemu, kita ngobrol bareng, ya. Kita ngopi bareng. Kita berenang di langit.” Tapi kalau pas ketemu langsung, semuanya pada main handphone, What‟s Ap-an gitu kan.
O1: Dzi, aku minta jus kamu dong.
O2: Ya elah, tinggal minta langsung aja kali. Ngapain lewat
What‟s Ap? O1: Oke, Dzi.
Comic mengkritisi perilaku individualistis ihwal rendahnya interaksi sosial secara langsung masyarakat dewasa ini akibat gemar berkomunikasi melalui telepon seluler (ponsel) pintar. Hal ini diungkapkan melalui tuturan Orang zaman sekarang itu lebih senang ngobrol di aplikasi messenger daripada ngomong di kehidupan nyata dan Tapi kalau pas ketemu langsung, semuanya pada main handphone.
Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Google, pengguna ponsel pintar di Indonesia didominasi oleh aktivitas di media sosial dan bertukar pesan melalui aplikasi pepesan instan (http://tekno.kompas.com/read/2015/11/19/23084827/ Mau.Tahu.Hasil.Riset.Google.Soal.Penggunaan.Smartphone.di.Indonesia). Akibat buruk dari kebiasaan berkomunikasi melalui ponsel adalah minimnya interaksi sosial secara langsung
Comic pun mengalami kenyataan itu. Melalui ilustrasinya, comic menggambarkan potret laku masyarakat pengguna ponsel. Kebiasaan berkomunikasi melalui ponsel tidak hanya dapat mengganggu kepekaan terhadap lingkungan sosial individu itu berada, namun juga dapat mereduksi kebiasaan berkomunikasi secara lisan terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya.