• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PERDAGANGAN INTERNASIONAL

2.1.3. KEBIJAKAN EKONOMI INTERNASIONAL

Dalam arti luas, kebijakan ekonomi internasional adalah tindakan atau kebijaksanaan ekonomi pemerintah, baik secara langsung maupun tidak langasung mempengaruhi komposisi, arah serta bentuk daripada perdagangan dan pembayaran internasional. Hal ini terkait dengan kebijakan fiskal dan moneter. Sedangkan dalam arti sempit, adalah tindakan atau kebijakan ekonomi pemerintah yang secara langsung mempengaruhi perdagangan dan pembayarn internasional (Rosyidi, 2002)

Menurut Rasyidi (2002), instrumen kebijakan ekonomi internasional terdiri dari:

a. Kebijakan ekonomi internasional.

Kebijakan ini mencakup tindakan pemerintah terhadap rekening yang sedang berjalan (current account) dari neraca pembayaran internasional, khususnya tentang ekspor dan impor, kuota impor, subsidi, bilateral trade agreement dll. b. Kebijakan pembayaran internasional.

Menyangkut tindakan pemerintah terhadap rekening modal (capital account) dalam neraca pembayaran internasional dalam bentuk pengawasan terhadap pembayaran internasional seperti : exchange control, pengawasan lalu lintas jangka panjang dll.

c. Kebijakan bantuan luar negeri.

Kebijakan ini terkait dengan bantuan luar negeri (grants) dan hutan (loans). Tokoh pemikir ekonomi aliran sejarah , pernah mengemukakan pendapat bahwa perdagangan bebas hanya menguntungkan negara-negara yang industri dalam

negerinya sudah maju. Mereka bisa menghasilkan berbagai macam produk secara lebih efesien, sehingga lebih kompetitif dalam bersaing. Tetapi bagi negara yang industri dalam negerinya belum mantap akan rugi jika perdagangan dibebaskan dari campur tangan pemerintah.

Sebagaimana diketahui, perdagangan bebas memungkinkan terjadinya impor barang-barang lokal atau negara-negara lain. Makin banyak barang dan jasa yang diimpor, makin berkurang kegiatan produksi dalam negeri. Selanjutnya hal ini bisa menyebabkan kesempatan kerja berkurang, neraca perdagangan menjadi tidak seimbang dan bahkan bisa menyebabkan terjadinya deflasi. Untuk menghindari berbagai dampak di atas, sekaligus untuk memperoleh keuntungan yang lebih maksimal dari aktivitas perdagangan internasional, maka banyak negara yang melakukan berbagai restiksi perdagangan.

Restruksi perdagangan banyak dilakukan dengan berbagai cara, antara lain melalui perdagangan (embargo), bea cukai (tariff) dan penetapan kuota (quota), kebijaksanaan intervensi tarif, pemberian subsidi serta kebijaksanaan fiskal dan moneter lainnya yang umumnya menggunakan perekonomian domestik.

2. Embargo.

Cara paling efektif untuk membatasi perdagangan ialah dengan mengeliminasi perdagangan itu sendiri, yang dikenal dengan istilah embargo. Embargo bisa ditujukan untuk melarang impor maupun ekspor.

3. Tariff.

Tariff dilakukan lewat custum duties, yaitu pengenaan pajak atas barang- barang impor dan ekspor serta transito (transit duties). Kebijakkan penetapan tarif bisa berdampak positif namun juga bisa berdampak negatif. Dilihat dari dampak positif , kebijakkan tarif mampu memberikan dampak ganda bagi perekonomian domestik : disamping dapat digunakan untuk melindungi industri dalam negeri , juga dapat dimanfaatkan untuk menambah penerimaan devisa negara. Dampak negatifnya tariff dapat dirasakan oleh masyarakat negara lain yang sering disebut sebagai beggerhy neighbor policy, yaitu kebijaksanaan untuk memperoleh keutungan (dalam negeri )atas biaya yang ditanggung negara-negara lain.dampak negatif tarif juga dapat dirusakan oleh masyarakat domestik. Penetapan tarif yang kelewat tinggi menyebabkan konsumen dalam negeri harus membayar hanya barang yang lebih tinggi. 4. Kuota.

Kebijaksanaan kuota dilakukan dengan melakukun pembatasan jumlah fisik terhadap barang-barang yang keluar / masuk dan / ke dalam (quota export and import).

5. Subsidi.

Kebijaksanaan pemberian subsidi merupakan kebijaksanaan ekonomi dalam negeri yang dimaksudkan untuk membantu produsen sehingga tetap tertarik berproduksi. Dengan memberikan subsidi diharapkan produksi dalam negeri meningkt dan dengan sendirinya import dapat dikurangi.

6. Blok-Blok Perdagangan.

Blok-blok perdagangan adalah salah satu cara yang diambil untuk mencegah dampak negatif tarif. Banyak negara yang terlihat dalam kesepakatan di antara sekelompok negara untuk membatasi perdagangan. Minimal mereka mengusahakan perdagangan yang lebih bebas diantara sesama anggota yang sepakat melakukan pengelompokan –pengelompokan ekonomi yang sifatnya eksklusif dan proteksiunisme. Antara lain EFTA, AFTA, APEC, dll.

2.1.4. BEBERAPA FAKTOR KHUSUS PERDAGANGAN

INTERNASIONAL

Sama halnya dengan perdagangan dalam negeri yakni melakukan transaksi “jual beli” maka dalam perdagangan luar negeri pun juga dilakukan aktivitas “jual” yang disebut ekspor dan aktivitas “beli” yang lazim disebut impor. Yang dimaksudkan ekspor dan impor barang-barang (visible goods).

Faktor pertama yang harus diperhatikan adalah faktor hasil (proceeds) dan biaya (cost). Barang-barang yang akan dijual ke luar negeri adalah barang yang biaya pembuatannya relatif murah dibandingkan dengan ongkos pembuatannya di luar negeri, dalam arti kata kalau diekspor dapat dijual dengan mendapatkan hasil penjualan yang menguntungkan, dan sebaliknya di dalam negeri terlalu tinggi, atau yang sama sekali belum bisa diproduksi.

Kedua aktivitas ini sudah barang tentu hanya dapat dilakukan dalam batas tertentu sesuai dengan kebijaksanaan umum pemerintah. Dalam sudut ini mudah

dapat dipahami ada kalanya suatu jenis barang ekspor harus diekspor sekalipun akan menderita rugi kalau dihitung dalam mata uang sendiri (misalnya dalam mata uang Rupiah), tetapi kalau pemerintah memerlukan dan mengutamakan penghasilan dalam bentuk valuta asing, maka ekspor harus dijalankan. Sebaliknya kalau pemerintah memandang sesuatu jenis barang tidak begitu diperlukan demi kesejahteraan rakyat banyak, maka pemerintah dapat pula membatasi jenis-jenis barang yang boleh diimpor.

Setiap transaksi perdagangan luar negeri dapat dilihat sebagai transaksi impor maupun sebagai transaksi ekspor, yang dicatat di dalam neraca pembayaran yang di dalamnya terdapat neraca perdagangan yang memuat besarnya nilai ekspor dan impor barang-barang dan jasa-jasa.

Dalam neraca perdagangan dimuat hal-hal sebagai berikut :

a. Neraca Perdagangan, memuat ekspor dan impor barang migas dan non migas. b. Neraca Jasa, memuat transaksi jasa migas dan non migas.

c. Transaksi Berjalan, memuat jumlah antara neraca perdagangan dan neraca jasa. Jika bertanda (-) berarti terjadi defisit, dan bertanda (+) berarti surplus. Untuk mengatasi defisit dalam transaksi berjalan kadang-kadang (tidak selalu) digunakan SDR (Special Drawing Right).

2.2 EKSPOR BATUBARA

Kebijakan ekspor didasarkan pada Program Perencanaan Nasional (Propenas) dan Rencana Jangka panjang dan Menengah (RJPM) yang pelaksanaannya

dituangkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan, peraturan Presiden dan peraturan Menteri; Penetapan kebijakan ekspor dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat mengingat bahwa kebijakan tersebut terkait dengan perjanjian internasional, jangkauan operasional bersifat nasional yang memerlukan koordinasi antar instansi terkait tingkat nasional maupun lembaga internasional; Kebijakan ekspor disusun dalam rangka peningkatan daya saing, menjamin kepastian usaha dan kesinambungan bahan baku industri di dalam negeri, mendukung tetap terpeliharanya kelestarian lingkunganjsumber daya alam dan yang menyangkut Kesehatan, Keamanan, Keselamatan, Lingkungan dan Moral Bangsa (K3LM) serta adanya perjanjian internasional; Kebijakan ekspor ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dalam hal ini Menteri Perdagangan.

Menurut “Economic Survey of Aseanan The Far East 1963, United Nation Publication”, menjual barang-barang ke luar negeri untuk ekspor memperoleh devisa yang akan digunakan bagi penyelenggara industri/ pembanguna di negaranya, dengan asumsi ekspor yang terjadi haruslah dengan difersifikasi ekspor sehingga bila kerugaian dalam satu macam barang akan dapat diimbangi oleh keunggulan komoditi lainnya (Suparmoko, 1982 : 299).

Pengertian ekspor menurut Michael P. Todaro adalah :

Kegiatan perdagangan internasional yang memberikan ransangan guna menumbuhkan pemerintah dalam negara yang menyebabkan tumbuhanya industri- industri pabrik besar, bersamaan struktur politik yang stabil dan lembaga sosial yang fleksibel (Todaro, 2000 : 167)

Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa ekspor mencerminkan aktifitas perdagangan antar bangsa yang dapat memberikan dorongan dalam dinamika pertumbuhan perdagangan internasional, sehingga suatu negara-negara yang sedang berkembang kemungkinan untuk mencapai kemajuan perekonomian setara dengan negara-negara yang lebih maju.

Menurut G.M. Meier dan Baldwin, ekspor adalah salah satu sektor perekonomian yang memegang peranan penting melalui perluasan pasar antara beberapa negara dimana dapat mengadakan perluasan dalam sektor industri, sehingga mendorong dalam industri lain, selanjutnya mendorong sektor lainnya dapri perekonomian (Baldwin, 1965 : 313).

Dari defenisi di atas dapat dilihat peranan sektor ekspor yaitu :

1. Pasar di seberang lautan memperluas pasar bagi barang-barang tertentu. Sebagaimana ditekankan oleh para ahli ekonomi klasik, suatu industri dapat tumbuh dengan cepat jika industri itu dapat menjual hasilnya di seberang lautan dari pada hanya di pasar dalam negeri yang lebih sempit.

2. Ekspor menciptakan permintaan efektif yang baru, akibatnya permintaan akan barang-barang di pasar dalam negeri meningkat. Terjadinya persaingan mendorong industri-industri dalam negeri mencari inovasi yang ditujukan untuk menaikkan produktifitas.

3. Perluasan kegiatanekspor mempermudah pembangunan, karena industri tertentu tumbuh tanpa membutuhkan investasi dalam kapital sosial sebanyak yang dibutuhkannya seandainya barang-barang itu akan dijual di dalam negeri

misalnya karena sempitnya pasar dalam negeri akibat tingkat pendapatan riil yang rendah atau hubungan transportasi yang belum memadai.

Dengan demikian, selain menambah permintaan produksi barang untuk dikirim ke luar negeri, ekspor juga menambah permintaan dalam negeri, sehingga secara langsung ekspor memperbesar output industri-industri itu sendiri, dan secara tidak langsung permintaan luar negeri mempengaruhi industri untuk menggunakan faktor produksinya, misalnya modal, dan juga menggunakan metode-metode produksi yang lebih meurah dan efesien sehingga harga dan mutu dapat bersaing dari pasar perdagangan internasional.

Menurut Alfred Hutahuruk, ekspor berarti :

a. Membawa barang ke dalam kapal laut atau kapal terbang untuk diangkut keluar Indonesia, kecuali perbuatan ini berhubungan dengan daya pengangkutan lanjutan. Ini terjadi jika daerah hukum di Indonesia di luar daerah pabean.

b. Mengeluarkan dan peredaran bebas dari barang sepanjang daerah pabean Indonesia. (Alfred, 1983 : 5).

Ekspor adalah suatu kegiatan yang berupa antara lain :

a. Menyiapkan sebuah alat pengangakutan untuk berangkat jika alat untuk diekspor.

b. Menyerahkan barang kepada seorang pengusaha pengangkutan untuk diangkut ke luar negeri.

c. Melaporkan barang untk diekspor kepada pegawai pabean yang bersangkutan. d. Memasukkan barang ke dalam sebuah alat pengangkutan atau memasangnya

pada sebuah alat pengangkutan yang langsung atau tidak langsung diberangkatkan ke luar dimaksudkan untuk tinggal di dalam negeri.

e. Tidak membongkar barang di tempat yang telah ditentukan dalam waktu yang telah ditetapkan yang mungkin diperpanjang dalam hal barang itu menurut dokumen yang telah dibuat berdasarkan keterangan lisan sedang diangkut ke tempat tujuan di wilayah Indonesia, kecuali jikalau yang berkepentingan membuktikan bahwa barang itu telah dibongkar ke tempat yang lain di Indonesia atau pun bahwa dalam perjalanan telah hilang.

Ekspor Batubara merupakan kunci yang sangat mendukung keberhasilan pemerintah dalam mengadakan deversifikasi sektor pendukung pembangun ekonomi untuk mengurangi ketergantungan kepada migas. Baik dalam penerimaan negara apapun dalam penerimaan ekspor karena harga minyak mengandung unsur ketidakpastian.

Pertumbuhan ekonomi yang didukung oleh stabilitas ekonomi yang mantap juga mendorong terjadinya pergeseran struktur ekonomi Indonesia kearah yang makin kukuh dan seimbang.

Selama kurun waktu enam tahun yang lalu, Indonesia masih menduduki peringkat ke empat setelah Australia, Cina, Afrika Selatan dengan total ekpornya pada tahun 2002 sebesar 73,1 juta ton atau senilai $1,76 Milyar. Kemudian pada tahun 2005 ekspor batubara mencapai 110,8 juta ton. Dan pemerintah menargetkan

pada tahun 2008 produksi batubara mencapai 232 juta ton. Realisasi sampai bulan Mei 2008 mencapai 64,72 juta ton. Total penjualan mencapai 67,12 juta ton (termasuk akumulasi dari sisa penjualan diakhir tahun 2007 ). Dari total penjualan tersebut, sebesar 48,78 juta ton diekspor, sisanya 17,34 juta ton dijual kepasar domestik.

Didalam memenuhi permintaan ekspor, dimana kebutuhan batubara dunia saat ini ternyata sangta cepat,yang antara lain dipicu oleh booming harga dan semakin banyaknya pembangunan PLTU diluar negeri yang menggunakan bahan bakar batubara, serta kran ekspor Cina yang telah ditutup. Hal ini mengantarkan Indonesia sebagai eksportir terbesar pada tahun 2005 menyaingi Australia dan Afrika Selatan. Perusahaan pemegang PKP2B merupakan eksportir batubara terbesar, yaitu sekitar 95,36 % dari jumlah ekspor batubara Indonesia, diikuti oleh BUMN sebesar 2,52 % dan KP sebesar 2,12 %.

Di dalam kebijakan bauran energi nasional 2025, pemakaian batubara diharapkan mencapai 33 %. Pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang digunakan sebagai landasan di dalam kebijakn pengusahaan batubara, yaitu:

a. Kepmen ESDM No. 1128 Tahun 2004,tentang Kebijakan Batubara Nasional b. Perpres No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional.

c. Inpres No. 2 Tahun 2006 tentang penyediaan dan Pemanfaatan Batubara yang Dicairkan Sebagai Bahan Bakar Lain.

Di dalam sasaran bauran energi nasional tersebut, batubara menempeti urutan pertama di dalam penggunaan energi. Hal tersebut dikarenakan oleh :

a. Sumber daya batubara sangat melimpah , yaitu 61,3 milyar ton, dengan cadangan 6,7 milyar ton (Pusat Sumber Daya Geologi 2005).

b. Dapat digunakan langsung dalam bentuk padat, atau dikonversi menjadi bentuj gas (gasifikasi) dan cair (pencairan).

c. Harga batubara kompetitif dibandingkan energi lain.

d. Teknologi pemanfaatan batubara yang ramah lingkungan telah berkembang pesat, yang dikenal sebagai teknologi Batubara bersih (Clean Coal Teknologi).

Didalam memenuhi permintaan ekspor, dimana kebutuhan batubara dunia saat ini ternyata sangta cepat,yang antara lain dipicu oleh booming harga dan semakin banyaknya pembangunan PLTU diluar negeri yang menggunakan bahan bakar batubara, serta kran ekspor Cina yang telah ditutup. Hal ini mengantarkan Indonesia sebagai eksportir terbesar pada tahun 2005 menyaingi Australia dan Afrika Selatan. Perusahaan pemegang PKP2B merupakan eksportir batubara terbesar, yaitu sekitar 95,36 % dari jumlah ekspor batubara Indonesia, diikuti oleh BUMN sebesar 2,52 % dan KP sebesar 2,12 %.

Dokumen terkait