`2.3 NILAI TUKAR MATA UANG ATAU KURS
2.3.2. TEORI KURS
a. Pendekatan Perdagangan atau Pendekatan Elastisitas Terhadap
Pembentukan Kurs
Pendekatan ini melihat bahwa nilai tukar atau kurs antara dua mata uang dari dua negara ditentukan oleh besar kecilnya perdagangan barang dan jasa yang berlangsung di antara kedua negara tersebut. Itulah sebabnya model ini lazim disebut sebagai pendekatan perdagangan (trade approach) atau pendekatan elastisitas terhadap pembentukan kurs (elasticity approach to exchange rate determination). Menurut pendekatan ini kurs equilibrium adalah kurs yang akan menyeimbangkan nilai impor dan ekspor dari suatu negara.
Jika nilai impor negara tersebut lebih besar ketimbang nilai ekspornya (artinya negara uang bersangkutan mengalami defisit perdagangan), maka kurs mata uangnya akan mengalami penurunan (artinya mata uangnya mengalami depresiasi atau penurunan nilai tukar), dan hal ini akan berlangsung secara cepat akan sistem kurs mengambang yang berlaku pada saat ini.
membuat harga dari berbagai komoditasnya menjadi lebih murah importir atau pihak asing, sedangkan berbagai produksi barang dan jasa inmpor menjadi lebih mahal bagi penduduk domestik. Akibatnya, lambat lain ekspor negara tersebut akan mengalami kenaikan, sedangkan impornya akan terus-menerus menurun sampai pada akhirnya nilai perdagangan internasionalnya benar-benar seimbang (impor sama dengan ekspor).
Karena kecepatan proses penyesuaian tersebut ditentukan oleh seberapa responsif atau elastis impor dan ekspor terhadap perubahan harga (kurs), maka pendekatan ini lebih populer dengan sebutan pendekatan elastisitas (elasticity approach).
b. Teori Paritas Daya Beli Untuk Menjalankan Proses Pembentukan
Kurs
Teori ini merumuskan gejala bahwa kurs antara dua mata uang adalah identik dengan rasio tingkat harga umum dari kedua negara yang bersangkutan. Secara garis besar, teori menyatakan : Pasar valuta asing berada dalam kondisi keseimbangan apabila semua deposito/simpanan dalam berbagai valita asing menawarkan tingkat imbalan yang sama. Adapun kondisi dimana perkiraan tingkat imbalan yang ditawarkan semua simpanan dalam berbagai valuta asing sama (bila dihitung dengan satu satuan mata uang yang sama) disebut sebagai kondisi paritas suku bunga (interest parity).artinya segenap simpanan valuta asing menawarkan tingkat imbalan, resiko kurs dan kemungkinan perubahan kurs yang secara keselurhan
setara sehingga prospek keuntungan ataupun daya tarik atas aset-aset tersebut sama besarnya.
c. Pendekatan Moneter Terhadap Pembentukan Kurs dan Lonjakan
Kurs
Pendekatan ini mempostulasikan atau menyatakan bahwa kurs tercipta dalam proses penyamaan atau penyeimbangan stok atau total permintaan dan penawaran mata uang nasional di masing-masing negara.
Penawaran uang di suatu negara diasumsikan dapat ditetapkan atau diciptakan secara independen oleh otorita moneter dari negara yang bersangkutan. Namun sebaliknya, permintaan uang sangat ditentukan oleh tingkat pendapatan riil negara tersebut, atau tingkat harga-harga umum yang berlaku serta suku bunga.
Semakin tinggi pendapatan riil dan harga-harga yang berlaku di negara tersebut, maka akan semakin besar pula permintaan uang di negara tersebut karena setiap individu dan perusahaan memerlukan lebih banyak uang untuk membiayai transaksi hariannya. Di lain pihak, semakin tinggi suku bunga yang ada, maka akan semakin besar biaya opportunitas penyimpangan uang (tunai atau simpanan yang tidak menghasilkan bunga) sehingga setiap orang akan memilih aset atau sekuritas yang menghasilkan bunga seperti obligasi atau deposito perbankan. Itu berarti, tingkat permintaan uang memiliki hubungan terbalik dengan besaran atau tingkat bunga.
d. Pendekatan Keseimbangan Portofolio Terhadap Pembentukan Kurs
Pendekatan ini merumuskan kesimpulan yang menyatakan kenaikan penawaran uang di negara domestik akan mendorong terjadinya kemerosotan suku bunga di negara yang bersangkutan, sehingga akan membuat para investor menukarkan obligasi domestiknya menjadi mata uang domestik dan obligasi luar negeri.
Pembelian secara besar-besaran atas obligasi luar negeri itu dengan sendirinya menimbulkan depresiasi atas mata uang domestik. Selanjutnya, depresiasi itu merangsang peningkatan ekspor negara domestik dan sekaligus menyurutkan impornya. Pada gilirannya hal ini menciptakan surplus perdagangan bagi negara domestik yang segera disusul oleh apresiasi mata uangnya.
2.3.3. KESEIMBANGAN KURS
Keseimbangan nilai tukar pada dasarnya mempunyai fungsi ganda, pertama yaitu mempertahankan keseimbangan neraca pembayaran yang akhirnya bermuara kepada tingkat kecukupan cadangan devisa yang dikelola oleh Bank Indonesia. Fungsi kedua adalah menjaga kestabilan pasar domestik (Iskandar, Syarief, 2003 : 1).
Pada umumnya, kurs ditentukan oleh perpotongan kurva permintaan pasar dan kurva penawaran dari mata uang asing tersebut. Permintaan pasar dan kurva penawaran dari mata uang asing tersebut. Permintaan valuta asing timbul terutama bila kita mengimpor barang-barang dan jasa-jasa dari luar negeri atau melakukan investasi dan pinjaman luar negeri. Penawaran valuta asing timbul bila kita
mengekspor barang-barang dan jasa-jasa, atau menerima investasi dan pinjaman luar negeri.
Perbedaan tingkat kurs timbul karena beberapa hal :
• Pebedaan antara kurs beli dan jual oleh para pedagang valuta asing/bank. Kurs beli adalah kurs yang dipakai apabila para pedagang valuta asing/bank membeli valuta dan kurs jual apabila mereka menjadi selisih kurs tersebut merupakan keuntungan harga pasar perdagangan.
• Perbedaan kurs yang diakibatkan oleh perbedaan dalam waktu pembayarannya kurs T.T (Telegraphic Transfer) lebih tinggi daripada kurs M.T (Mail Transfer) sebab pemerintah order pembayaran dengan menggunakan telegram bagi bank merupakan penyerahan valuta asing dengan segera/lebih cepat dibandingkan dengan penyerahan melalui surat.
• Perbedaan dalam tingkat keamanan dalam penerimaan hak pembayaran. Sering terjadi bahwa penerimaan hak pembayaran yang berasal dari bentuk asing yang sudah terkenal (bonafide) kursnya lebih tinggi daripada yang belum terkenal.
2.4. INFLASI
2.4.1. PENGERTIAN INFLASI
Ada beberapa pengertian inflasi yang dikutip dari beberapa buku. Yang dimaksud dengan ”inflasi” adalah kecenderungan harga-harga umum barang-barang untuk naik secara terus menerus (Boediono, 1985 : 155).
Menurut G. Chowthrey inflasi adalah suaru keadaan nilai uang turun terus sedangkan harga naik terus, sedangkan menurut Hawtray inflasi adalah suatu keadaaan karena terlalu banyak uang yang beredar.
Menurut Pigou inflasi adalah suatu bentuk keadaan dimana pendapatan dalam bentuk uang bertambah terus lebih besar dari pada pertambahan output yang dihasilkan oleh para penerima pendapatan tersebut (Boediono, 1985 : 100).
Ini tidak berarti bahwa harga-harga berbagai macam barang itu naik dengan persentase yang sama, mungkin dapat terjadi kenaikan tersebut secara tidak bersamaan. Yang penting terdapat kenaikan harga umum barang secara terus-menerus selama satu periode tertentu.
Kenaikan yang terjadi hanya sekali saja meskipun dengan persentase yang cukup besar bukanlah merupakan inflasi. Perkataan kecenderungan dalam defenisi perlu digaris-bawahi, kalau seandainya harga-harga dari sebagian besar barang diatur oleh pemerintah, maka harga-harga yang dicatat oleh Biro Pusat Statistik mungkin tidak menunjukkan kenaikan apapun (karena yang dicatat adalah harga-harga resmi pemerintah). Tapi mungkin dalam realita ada kecenderungan bagi harga-harga untuk terus menaik.
Keadaan seperti ini tercermin dari misalnya harga-harga ”bebas” atau harga ”tidak resmi” yang lebih tinggi dari harga-harga dan yang cenderung menaik. Dalam hal ini masalah inflasi sebetulnya ada, tetapi tidak diperkenankan untuk menunjukkan dirinya. Keadaan seperti ini disebut ”Suppressed inflation” atau inflasi yang ditutupi yang pada suatu waktu akan relevan bagi kenyataan.
Sehingga secara umum inflasi dapat didefenisikan sebagai ”suatu tendensi yang terus-menerus dalam meningkatnya harga-harga umum sepanjang masa”. Defenisi ini bersumber pada tiga pengertian pokok mengenai inflasi, yaitu :
1) Harus dibedakan peningkatan harga yang sebenarnya terjadi (Actual Price Increase) dengan tendensi peningkatan harga. Perbedaan ini penting disebabkan tingkat harga tidak selamanya bebas berfluktuasi sebagai respon atas kondisi-kondisi pasar. Adakalanya terdapat kebijaksanaan pemerintah untuk mempenga-ruhi kenaikan harga, misalnya menekan rupiah, sehingga tingkat kenaikan harga dicegah untuk tidak terjadi semena-mena kendatipun kenaikan harga tetap terjadi. Situasi ini kita sebut inflasi yang ditekan (repressed inflation). Di lain pihak jika tendensi kenaikan harga umum direfleksikan dalam kenaikan harga-harga yang terjadi di pasaran, maka situasi ini disebut Open Inflation.
2) Pengertian perkataan terus-menerus (sustained). Gejolak-gejolak kenaikan harga bisa terjadi disebabkan adanya fluktuasi-fluktuasi insidentil dalam kegiatan ekonomi. Misalnya masa panceklik, pemogokan umum dan faktor- faktor lain dapat mengakibatkan kenaikan harga umum. Situasi kenaikan harga yang sporadis dan random ini akan bersifat menurun kembali setelah situasi reda (self-concelling) pada suatu masa, tidaklah disebut sebagai situasi inflasi.
3) Pengertian tingkat harga umum (general price level) yaitu peningkatan keseluruhan harga barang dan jasa dalam ekonomi (Arief, Soritua, p, 230).