BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.7. Skema Mata Rantai Perdagangan Kopi
4.7.4. Kebijakan Harga
Kebijakan ini erupakan salah satu kebijakan yang terpenting di banyak negara dan biasanya digabung dengan kebijakan pendapatan sehingga disebut kebijakan harga dan pendapatan (price and economic policy). Segi harga dari kebijakan itu bertujuan untuk mengadakan stabilitas harga, sedangkan segi
musim ke musim dan dari tahun ke tahun. Kebijakan harga dapat mengandung pemberian penyangga (support) atas harga-harga hasil pertanian supaya tidak terlalu merugikan petani atau langsung mengandung sejumlah subsidi tertentu bagi petani. Di banyak negara seperti; Amerika Serikat, Jepang, dan Australia banyak sekali hasil pertanian seperti gandum, kapas, padi, dan gula yang mendapat perlindungan pemerintah berupa harga penyangga dan atau subsidi. Indonesia baru mulai mempraktekkan kebijakan harga untuk beberapa hasil pertanian sejak tahun 1969. Secara teoritis kebijakan harga yang dapat dipakai untuk mencapai tiga tujuan yaitu:
1. stabilitas harga hasil-hasil pertanian terutama pada tingkat petani
2. meningkatkan pendapatan petani melalui pebaikan dasar tukar (term of trade)
3. memberikan arah dan petunjuk pada jumlah produksi.
Kebijakan harga di Indonesia terutama ditekankan pada tujuan pertama yaitu Stabilitas harga hasil-hasil pertanian dalam keadaan harga-harga umum yang stabil berarti pula terjadi kestabilan pendapatan. Tujuan yang kedua banyak sekali dilaksanakan pada hasil-hasil pertanian di negara-negara yang sudah maju dengan alasan pokok pendapatan rata-rata sektor pertanian terlau rendah dibandingkan dengan penghasilan di luar sektor pertanian.
Tujuan yang kedua ini sulit untuk dilaksanakan di negara-negara yang jumlah petaninya berjuta-juta dan terlalu kecil-kecil seperti di Indonesia karena persoalan administrasinya sangat kompleks. Pada prinsipnya kebijakan harga yang demikian ini merupakan usaha memindahkan pendapatan dari golongan bukan pertanian ke golongan pertanian, sehingga hal ini bisa dilaksanakan dengan
mudah di negara-negara yang sudah maju dan kaya, dimana golongan penduduk di luar pertanian jumlahnya jauh lebih besar dengan pendapatan lebih tinggi dibanding golongan penduduk pertanian. Di negara-negara ini penduduk sektor pertanian rata-rata di bawah 10 persen dari seluruh penduduk, sedangkan di negara kita masih antara 60 persen-70 persen.
Tujuan kebijakan yang ketiga dalam praktek sering dilaksanakan oleh negara-negara yang sudah maju bersamaan dengan tujuan kedua yaitu dalam bentuk pembatasan jumlah produksi dengan pembayaran kompensasi. Berdasarkan ramalan harga, pemerintah membuat perencanaan produksi dan petani mendapat pembayaran kompensasi untuk setiap kegiatan produksi yang diistirahatkan. Di negara kita, dimana hasil-hasil pertanian pada umumnya belum mencukupi kebutuhan, maka kebijakan yang demikian tidak relevan. Selain kebijakan harga yang menyangkut hasil-hasil pertanian, peningkatan pendapatan petani dapat dicapai dengan pemberian subsidi pada harga sarana-sarana produksi seperti pupuk/insektisida. Subsidi ini mempunyai pengaruh untuk menurunkan biaya produksi yang dalam teori ekonomi berarti menggeser kurva penawaran ke atas.
Pemerintah harus melakukan koordinasi dengan pihak terkait, mengaktifkan badan penyuluh pertanian untuk mensosialisasikan sistem tata kelola komoditi kopi khusus pasca panen, yang selama ini kurang dijaga oleh petani sehingga kebanyakan petani memetik buah kopi hijau, dan ini jelas mempengaruhi kualitas dan harga karena terase akan tinggi. Begitu juga pemerintah telah melakukan beberapa tindakan seperti menindaklanjuti hasil
penjemuran, membuat upaya –upaya untuk mengembalikan netralitas unsur hara dalam tanah. saat ini telah berupaya dengan membangun pabrik pupuk Delomit, mudah-mudahan dapat membantu para petani untuk mengolah lahan perkebunannya sehingga produktifitas komoditi kopi dapat kembali normal, “Artinya kopi arabika Gayo yang selama ini menjadi produk andalan dan tempat bergantungnya kelangsungan hidup masyarakat Gayo dapat dipertahankan dan dikembangkan, selain mempertahankan salah satu produk khas budaya comunity urang Gayo dimata dunia.
Upaya yang dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam alur perdagangan kopi adalah untuk mensejahtrakan petani, cita-cita ini juga merupakan upaya Pemerintah daerah secara khusus pemerintah di kabupaten Bener Meriah disamping upaya untuk mempersingkat mata rantai perdagangan juga menentukan varietas (jenis) kopi yang seharusnya ditanam oleh masyarakat petani. Hal ini perlu dilakukan karena kopi sudah menjadi bkebutuhan konsumen, pemerintah harus mengetahui dan mengsosialisasikannya kepada masyarakat petani, sehingga kualitas dapat terjaga yang akhirnya memberi keuntungan kepada semua pihak yang terlibat termasuk petani.
Peran pemerintah dan pihak-pihak yang ikut mengangani kopi tidak hanya terbatas pada peardagangan, tetapi sebagaimana disebutkan juga pada bagaimana pengolahan lahan sehingga memenuhi kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman kopi, pemilihan perkebunan induk untuk menghasilkan benih kopi yang memenuhi standar, pembibitan yang baik, penanam (transplanting) yang sesuai perawatan kopi agar berproduksi optimal, pemanenan sampai penanganan pasca panen.
Walaupun secara konsep teknik budidaya kopi sampai penanganan pasca panen mulai dari ,masa kolonialisme Belanda sampai saat ini tidak banyak juga teknik yang diperbaharui terutama di fase perawatan, panen nan penanganan pasca panen kopi. Hal ini mengikuti permintaan pasar yang memiliki standar bagi komoditas kopi di perdagangan internasional.
Saat ini tanaman kopi telah dibentuk dengan cara dipuntung, berbeda dengan masa belanda dimana kopi dibiarkan tumbuh tinggi. Perawatan kopi yang tidak terlalu tinggi dapat mempermudah perawatan terutama pembuangan cabang-cabang tidak produktip dari tanaman kopi, serta mempermudah pengaturan cabang produktip sehingga produksi kopi dapat diatur untuk menghindari produksi tinggi pada masa panen tertentu tapi turun dipanen selanjutnya. Kestabilan produksi juga mempengaruhi aspek perdagangan kopi.
Kopi organik merupakan kopi yang sangat diharuskan oleh buyer sehingga saat ini telah banyak upaya baik dari pemerintah maupun pihak lain yang terkait dalam perdagangan kopi, untuk mengorganikkan kopi gayo dengan mengeluarkan sertifikat organik yang harus melalui beberapa tahap dan melalui beberapa proses.panen kopi juga telah banyak mengelami perubahan dari segi teknik, jika dulu sebelum buyer menentukan standar mutu untuk kopi gayo, kopi mengutip kopi sampai selesai baru gelondong digiling, tapi setelah diketahui tehnik memanen mempengaruhi kwalitas biji kopi yang dihasilkan karena sifat buah kopi yang fermentif jika tidak langsung di pulper dan di fermentasi lalu di cuci. Saat ini begitu kopi panen sore harinya langsung di pulper difermentasi dan dicuci baru dijemur untuk dijadikan gabah.
Pemerintah saat ini telah bekerja sama dengan berbagai pihak yang berkompeten dalam perdagangan kopi.karena yang menjadi masalah bagi petani kopi adalah disektor perdagangan kopi, petani kopi telah mampu menghasilkan kopi yang memenuhi standar baik dari segi kwalitas maupun kwantitas, namun dalam sektor perdagangan petani tertumpu pada pemerintah dan pihak lain yang bergerak dibidang perdagangan kopi.
Pranan mutu kopi dalam perdagangan kopi diperlukan dalam pembuatan kontrak jual beli terutama untuk kopi yang akan di ekspor, mutu kopi secara umum meliputi mutu fisik biji berdasarkan SNI 01-2907-1999 dan mutu citarasa yang diperoleh berdasarkan uji organoleptik/uji cita rasa. Menggunakan sistem nilai cacat (defect system), setiap 5 tahun dilakukan revisi. Jenis mutu kopi berdasarkan jenisnya adalah Robusta dan Arabika, berdasarkan cara pengolahannya kopi digolongkan kedalam 6 tingkat mutu. Dalam perdagangan internasionan, mutu fisik berdasarkan nilai cacatnya merupakan standar yang dipakai.
Tabel 4.5. Klasifikasi mutu berdasarkan sistem nilai cacat
Mutu Syarat Mutu
Mutu 1 Mutu 2 Mutu 3 Mutu 4a Mutu 4 b Mutu 5 Mutu 6
Jumlah nilai cacat maksimum 11
Jumlah nilai cacat 12 sampai 25
Jumlah nilai cacat 26 sampai 44
Jumlah nilai cacat 45 sampai 60
Jumlah nilai cacat 61 sampai 80
Jumlah nilai cacat 81 sampai 150
Jumlah nilai cacat 151 sampai dengan 225
Sumber : buku kopi dan kehidupan sosial budaya masyarakat gayo
Ulah para trader atau pedagang asing acap kali dinilai merugikan pengusaha kopi nasional. Banyak dari mereka yang langsung membeli komoditas kopi di tingkat petani. Apalagi, kini kopi indonesia menjadi rebutan para pembeli di pasar internasional.
Perilaku trader asing sangat mengganggu iklim bisnis dalam negeri. Biasanya, trader melakukan 'jemput bola' dengan membeli kopi di tingkat petani, sehingga tanpa melalui jalur perusahaan lokal. "Mereka (trader asing,) tidak perlu menyewa gudang maupun office, dari situ mereka tidak mengeluarkan modal. Tentu itu merugikan, karena cost of fund murah kalau dibandingkan eksporter nasional yang menanggung biaya tinggi. Akan lebih baik kalau mereka bekerja sama dengan
AEK1 mengeluhkan dominasi pedagang asing yang menguasai perdagangan kopi di dalam negeri dengan volume mencapai 60% dari total produksi 560.000 ton pada tahun lalu. Tekanan pedagang asing tersebut menyebabkan pedagang lokal semakin sulit bersaing mendapatkan kopi dari petani. pedagang asing lebih kompetitif, karena suku bunga pinjaman di luar negeri lebih rendah dibanding dengan suku bunga di dalam negeri. Suku bunga di luar negeri hanya 2%, kita bayar bunga masih di atas 10%, sehingga pedagang asing berani membeli dengan harga lebih tinggi
Telah menjadi permasalahan klasik selama ini untuk itu diperlukan kemampuan pedagang lokal dalam menyiasati persaingan dengan pedagang asing. Kembali pada bagaimana kiat berdagangnya. Faktor ketimpangan pembiayaan salah satu faktor saja.