HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4. Kebijakan Hutang
Dengan bantuan program komputer maka diperoleh hasil analisis persamaan kebijakan hutang seperti ditunjukkan pada Tabel 5.8 berikut:
Tabel 5.8. Hasil Regresi 2 SLS Persamaan Kebijakan Hutang (DEBT)
Variabel B SE B Beta T Sig T
MOWN -104,568166 14,257331 -0,348316 -7,334 0,0000 ION -23,850286 2,494946 -0,530193 -9,559 0,0000 RISK 172,945451 11,586762 0,742055 14,926 0,0000 DIVD -6,399749 1,814598 -0,198003 -3,527 0,0006 SIZE -1,827859 0,173769 -0,581027 -10,519 0,0000 FAST 1,513136 0,468834 0,144585 3,227 0,0015 Constant 15,776142 2,506621 6,294 0,0000
F = 64,63554 Signif F = 0,0000 Adjusted R Square 0,70731 Sumber: Lampiran 11
Pada Tabel 5.8 dapat dilihat bahwa persamaan kebijakan hutang memiliki nilai Adjusted R squared sebesar 0,70731. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara serempak variabel; MOWN, ION, RISK, DIVD, SIZE dan FAST mempengaruhi DEBT sebesar 0,70731. Pengaruh secara bersama-sama tersebut signifikan, terbukti dengan tingkat probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0000. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 11.
a. Simultanitas Kebijakan Kepemilikan Manajerial dan Kebijakan Hutang
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.8 kebijakan kepemilikan manajerial secara statistik berpengaruh negatif signifikan terhadap kebijakan hutang pada nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0000. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H4a diterima. Nilai koefisien kepemilikan manajerial sebesar
-104,568166. Artinya bahwa setiap kenaikan sebesar 1% kepemilikan manajerial, maka akan mengurangi kebijakan hutang sebesar 104,568166%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah (one-tailed test) dengan nilai t hitung sebesar -7,334. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 11. Sesuai dengan Chen dan Steiner (1999) didapatkan bahwa kepemilikan manajerial dan kebijakan hutang memiliki hubungan negatif. Hal ini dikarenakan adanya faktor substitusi antara keduanya. Pengaruh negatif kepemilikan manajerial terhadap kebijakan hutang ini mengindikasikan bahwa tingginya kepemilikan manajerial semakin memungkinkan tindakan oportunis manajer sehingga meresahkan shareholders. Penggunaan hutang dapat menjadi solusi atas permasalahan ini. Penggunaan hutang akan meningkatkan monitoring dari bondholders dan membuat shareholders lebih
tenang karena pembiayaan investasi tidak menggunakan dananya sehingga mengurangi risiko dari shareholders. Hal ini sesuai dengan Putri dan Nasir (2006) serta Jensen, Solberg, dan Zorn (1992) tingkat kepemilikan internal berpengaruh negatif terhadap tingkat hutang perusahaan.
b. Simultanitas Kebijakan Kepemilikan Institusional dan Kebijakan Hutang
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.8, kebijakan kepemilikan institusional secara statistik berpengaruh negatif signifikan terhadap kebijakan hutang pada nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0000. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H4b diterima. Nilai koefisien kebijakan pengambilan risiko
sebesar -23,850286. Artinya bahwa setiap kenaikan sebesar 1% kebijakan kepemilikan institusional, maka akan mengurangi kebijakan hutang sebesar 23,850286%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah
(one-tailed test) dengan nilai t hitung sebesar -9.559. Hasil perhitungan dapat dilihat pada
Lampiran 11. Pengaruh negatif kebijakan kepemilikan institusional terhadap kebijakan hutang tidak sesuai dengan Crutchley et al, (1999) dan Fitri dan Mamduh (2003) serta Putri dan Nasir (2006) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap kebijakan hutang.
c. Simultanitas Kebijakan Pengambilan Risiko dan Kebijakan Hutang
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.8, kebijakan pengambilan risiko secara statistik berpengaruh positif signifikan terhadap kebijakan hutang pada nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0000. Berdasarkan hasil
tersebut hipotesis H4c diterima. Nilai koefisien kebijakan hutang sebesar 172,945451.
Artinya bahwa setiap kenaikan sebesar 1% kebijakan pengambilan risiko, maka akan menaikkan kebijakan hutang sebesar 172,945451%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah (one-tailed test) dengan nilai t hitung sebesar 14,926. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 11. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Jensen, Solberg dan Zorn (1992), Chen dan Steiner (1999), Putri dan Nasir (2006) menunjukkan bahwa pada kondisi risiko tinggi manajer memilih proyek berisiko tinggi dengan tujuan mendapat return tinggi. Pengurangan risiko dilakukan dengan menggunakan pendanaan hutang dari pihak kreditur. Namun penggunaan hutang pada tingkat risiko tinggi dapat mengurangi biaya keagenan ekuitas namun memicu biaya keagenan hutang. Pengurangan risiko bertujuan untuk mendapatkan pendanaan melalui hutang. Karena pihak debtholders tidak akan mempercayakan dananya pada perusahaan dengan risiko tinggi.
d. Simultanitas Kebijakan Dividen dan Kebijakan Hutang
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.8, kebijakan dividen secara statistik berpengaruh negatif signifikan terhadap kebijakan hutang pada nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0006. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H4d diterima. Nilai koefisien kebijakan dividen sebesar
-6.399749. Artinya bahwa setiap kenaikan sebesar 1% kebijakan dividen, maka akan mengurangi kebijakan hutang sebesar 6,399749%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah (one-tailed test) dengan nilai t hitung sebesar -3,527. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 11.
Megginson (1997) dalam Mahadwarta (2002) menyatakan bahwa free cash
flow hypothesis dapat digunakan untuk memprediksi hubungan interdependensi
antara kebijakan hutang dan kebijakan dividen perusahaan. Dividen mempengaruhi hutang dengan hubungan yang positif. Perusahaan yang membagikan dividennya dalam jumlah besar memerlukan tambahan dana melalui hutang untuk membiayai investasinya. Hubungan positif antara kebijakan dividen dan kebijakan hutang yang mengindikasikan bahwa banyak perusahaan di Indonesia yang menggunakan dananya untuk melakukan pembayaran dividen demi menarik investor alih-alih untuk membayar hutang yang sebenarnya masih harus dilunasi. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Fitri dan Mamduh (2003) dan Kim, Rhim, dan Friesner (2007).
e. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Kebijakan Hutang
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.8, ukuran perusahaan secara statistik berpengaruh negatif signifikan terhadap kebijakan hutang pada nilai probabilitas yang lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,000. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H6g ditolak. Nilai koefisien ukuran perusahaan sebesar -1,827859. Artinya
bahwa setiap kenaikan sebesar 1% ukuran perusahaan, maka akan mengurangi kebijakan hutang sebesar 1,827859%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah (one-tailed test) dengan nilai t hitung sebesar -10,519. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 11. Pengaruh negatif ukuran perusahaan terhadap kebijakan hutang yang mengindikasikan bahwa jumlah dewan direksi yang besar yang dikaitkan dengan ukuran perusahaan secara tidak langsung akan
membebani hutang perusahaan karena menambah biaya operasional dan mengurangi laba perusahaan. Komposisi dewan direksi yang terkait dengan ukuran perusahaan dapat memicu keberadaan kolusi dan dominasi dari direksi.
f. Pengaruh Perputaran Aktiva Tetap Perusahaan terhadap Kebijakan Hutang
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.8, perputaran aktiva tetap perusahaan secara statistik berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan hutang pada nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0015. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H6h diterima. Nilai koefisien rasio aktiva tetap
perusahaan 1,513136. Artinya bahwa setiap kenaikan sebesar 1% rasio aktiva tetap perusahaan, maka akan menaikkan kebijakan hutang sebesar 1,513136%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah (one-tailed test) dengan nilai t hitung sebesar 3,227. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 11. Pengaruh positif rasio aktiva tetap perusahaan terhadap kebijakan hutang yang mengindikasikan dengan tingginya aktiva tetap yang dimiliki perusahaan menunjukkan perusahaan dalam kondisi stabil dan tidak memerlukan level hutang yang tinggi.