HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2. Kepemilikan Institusional
Dengan bantuan program komputer maka diperoleh hasil analisis persamaan kepemilikan institusional seperti ditunjukkan pada Tabel 5.6 berikut:
Tabel 5.6. Hasil Regresi 2 SLS Persamaan Kepemilikan Institusional (IOWN) Variabel B SE B Beta T Sig T
MOWN -25,787038 2,429638 -0,640394 -10.614 0,0000 RISK -11,167816 2,280653 -0,357246 -4.897 0,0000 DEBT -0,115153 -0,053575 -0,138724 -2.149 0,0332 DIVD -1,968929 -0,271570 -0,454161 -7.250 0,0000 SIZE 0,078386 0,027800 0,185765 2.820 0,0054 PROF 0,021957 0,035209 -0,035717 0.624 0,5338 Constant 0,450926 0,304368 - 4.712 0,0000
F = 31,36456 Signif F = 0,0000 Adjusted R Square 0,53555 Sumber: Lampiran 9
Pada Tabel 5.6 dapat dilihat bahwa persamaan kepemilikan manajerial memiliki nilai Adjusted R squared sebesar 0,53555. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara serempak variabel; MOWN, RISK, DEBT, DIVD, SIZE dan PROF mempengaruhi ION sebesar 0,53555. Pengaruh secara bersama-sama tersebut signifikan, terbukti dengan tingkat probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0000. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 9.
a. Simultanitas Kebijakan Kepemilikan Manajerial dan Kebijakan Kepemilikan Institusional
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.6 kepemilikan manajerial secara statistik berpengaruh negatif signifikan terhadap kepemilikan institusional pada nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0000. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H2a diterima. Nilai koefisien kepemilikan manajerial sebesar
-25,787038. Artinya bahwa setiap kenaikan sebesar 1% kepemilikan manajerial, maka akan mengurangi kepemilikan institusional sebesar 25,787038%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah (one-tailed test) dengan nilai
t hitung sebesar -10.614. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 9. Pengaruh negatif kepemilikan manajerial terhadap kepemilikan institusional ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Crutchley (1999), namun sesuai dengan penelitian Fitri dan Mamduh (2003). Dengan tingginya kepemilikan manajerial, para investor institusional akan mendapatkan kesempatan kontrol perusahaan yang lebih sedikit. Ini berarti bahwa hubungan antara kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional adalah negatif. Apabila manajer meningkatkan sahamnya maka dikhawatirkan perusahaan akan menjadi perusahaan keluarga atau perusahaan pribadi, sehingga keputusan yang dilakukan perusahaan akan lebih menjurus kepada kepentingan oportunistik manajer. Oleh karena itu, untuk mengimbangi saham manajer dan mengurangi biaya agensi maka diperlukan pengawasan dari pihak institusional.
b. Simultanitas Kebijakan Pengambilan Risiko dan Kebijakan Kepemilikan Institusional
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.6, kebijakan pengambilan risiko secara statistik berpengaruh negatif signifikan terhadap kepemilikan institusional pada nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0000. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H2b diterima. Nilai koefisien kebijakan
pengambilan risiko sebesar -11,167816. Artinya bahwa setiap kenaikan sebesar 1% kebijakan pengambilan risiko, maka akan mengurangi kepemilikan institusional sebesar 11,167816%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah (one-tailed test) dengan nilai t hitung sebesar -4,897. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 9. Pengaruh negatif kebijakan pengambilan risiko terhadap
kepemilikan institusional ini sesuai dengan penelitian Fitri dan Mamduh (2003). Risiko mempunyai hubungan negatif dan signifikan terhadap kepemilikan institusional. Tingginya risiko yang dihadapi perusahaan meningkatkan risiko kebangkrutan dan volatilitas dari pendapatan, hal ini akan mengurangi minat institusi untuk melakukan investasi pada saham perusahaan itu karena institusi lebih mementingkan pada stabilitas pendapatan. Dengan meningkatnya risiko yang dihadapi oleh perusahaan dalam rangka investasi proyek baru berarti meningkat pula dana yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk membiayai investasi proyek ini, oleh karena itu perusahaan akan memperbanyak jumlah saham dan dengan begitu juga akan meningkatkan saham yang dimiliki oleh institusi.
c. Simultanitas Kebijakan Hutang dan Kebijakan Kepemilikan Institusional
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.6, kebijakan hutang secara statistik berpengaruh negatif signifikan terhadap kepemilikan institusional pada nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0332. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H2c diterima. Nilai koefisien kebijakan hutang sebesar -0,115153.
Artinya bahwa setiap kenaikan sebesar 1% kebijakan hutang, maka akan mengurangi kepemilikan institusional sebesar 0,115153%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah (one-tailed test) dengan nilai t hitung sebesar -2.149. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 9. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Fitri dan Mamduh (2003) dan bertentangan dengan Crutchley et al (1999) bahwa pengaruh kebijakan hutang terhadap kepemilikan institusional adalah positif. Kebijakan hutang
yang tinggi menyebabkan perusahaan dimonitor oleh pihak debtholders. Karena monitoring dalam perusahaan yang ketat tadi menyebabkan manajer akan bertindak sesuai dengan kepentingan debtholders dan shareholders, sehingga kondisi ini akan menarik masuknya kepemilikan institusional. Kebijakan hutang yang tinggi menyebabkan perusahaan dimonitor oleh pihak debtholders. Monitoring dalam perusahaan yang ketat, mendorong institusi untuk meningkatkan sahamnya pada perusahaan yang bersangkutan.
d. Simultanitas Kebijakan Dividen dan Kebijakan Kepemilikan Institusional
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.6, kebijakan dividen secara statistik berpengaruh negatif signifikan terhadap kepemilikan institusional pada nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0000. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H2d diterima. Nilai koefisien kebijakan dividen sebesar
-1.968929. Artinya bahwa setiap kenaikan sebesar 1% kebijakan dividen, maka akan mengurangi kepemilikan institusional sebesar 1.968929%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah (one-tailed test) dengan nilai t hitung sebesar -7.250. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 9. Hasil ini sesuai dengan penelitian Fitri dan Mamduh (2003) faktor substitusi antara dividen dan kepemilikan institusional melandasi hubungan negatif antara kebijakan dividen dan kepemilikan institusional. Dengan pembayaran dividen yang tinggi akan mengurangi agency cost, sehingga keberadaan institusi sebagai mekanisme monitoring sudah tidak dibutuhkan lagi, namun bertentangan dengan estimasi variabel kebijakan dividen mempunyai
pengaruh positif terhadap kepemilikan institusional. Dari sudut pandang investor, investor institusional mungkin akan lebih tertarik untuk berinvestasi pada saham dengan dividen yang tinggi dan mekanisme monitoring yang ketat.
e. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Kebijakan Kepemilikan Institusional
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.6, ukuran perusahaan secara statistik berpengaruh positif signifikan terhadap kepemilikan institusional pada nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0054. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H6c diterima. Nilai koefisien ukuran perusahaan sebesar 0,078386.
Artinya bahwa setiap kenaikan sebesar 1% ukuran perusahaan, maka akan menambah kepemilikan institusional sebesar 0,078386%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah (one-tailed test) dengan nilai t hitung sebesar 2,820. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 9. Hasil penelitian ini relevan dengan penelitian Brigham dan Gapenski (1999) dalam Masdupi (2005), menyatakan bahwa perusahaan, yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi cenderung membutuhkan dana dari sumber eksternal yang besar.
f. Pengaruh Profitabilitas Perusahaan terhadap Kebijakan Kepemilikan Institusional
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.6, profitabilitas perusahaan secara statistik tidak berpengaruh terhadap kepemilikan institusional. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H6d ditolak. Hasil perhitungan dapat dilihat pada
berpengaruh signifikan terhadap kepemilikan institusional. Keuntungan yang tinggi dimanfaatkan oleh manajer sehingga mengurangi proporsi kepemilikan institusional.