HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Kepemilikan Manajerial
Dengan bantuan program komputer maka diperoleh hasil analisis persamaan kepemilikan manajerial seperti ditunjukkan pada Tabel 5.5 berikut:
Tabel 5.5. Hasil Regresi 2 SLS Persamaan Kepemilikan Manajerial (MOWN) Variabel B SE B Beta T Sig T
IOWN 0,489510 0,041270 0,590642 11,861 0,0000 RISK -2,571555 0,257033 -0,598888 -10,005 0,0000 DEBT -0,021588 0,005265 -0,189342 -4,100 0,0001 DIVD 0,114231 0,054651 0,191829 2,090 0,0383 ROA -0,045614 0,013389 -0,167540 -3,407 0,0008 IOS -0,000123 0,000256 -0,043469 -0,482 0,6304 Constant 0,450926 0,039434 11,435 0,0000
F = 76,25569 Signif F = 0,0000 Adjusted R Square 0,74079 Sumber: Lampiran 8
Pada Tabel 5.5 dapat dilihat bahwa persamaan kepemilikan manajerial memiliki nilai Adjusted R squared sebesar 0,74079. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara serempak variabel; IOWN, RISK, DEBT, DIVD, ROA dan IOS mempengaruhi MOWN sebesar 0,74079. Pengaruh secara bersama-sama tersebut signifikan, terbukti dengan tingkat probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0000. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 8.
a. Simultanitas Kebijakan Kepemilikan Manajerial dan Kebijakan Kepemilikan Institusional
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.5 kepemilikan institusional secara statistik berpengaruh positif signifikan terhadap kepemilikan manajerial pada nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0000. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H1a diterima. Nilai koefisien kepemilikan institusional sebesar
0,489510. Artinya bahwa setiap kenaikan sebesar 1% kepemilikan institusional, maka akan meningkatkan kepemilikan manajerial sebesar 0,489510%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah (one-tailed test) dengan nilai t hitung sebesar 11,861. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 8. Shleifer dan Vishny (1986) dalam Theresia (2002) menemukan kepemilikan institusional berpengaruh secara positif terhadap kepemilikan manajerial. Kepemilikan institusional secara mayoritas akan mengurangi kemungkinan perusahaan untuk diakuisisi, sehingga meningkatkan keinginan manajer untuk memperbesar kepemilikan pada perusahaan. Namun sebaliknya, menurut Fitri dan Mamduh (2003) semakin tinggi kepemilikan institusional maka akan semakin meningkatkan pengawasan pihak eksternal terhadap perusahaan. Andil dalam pembuatan keputusan atau hak bicara manajer akan berkurang apabila persentase saham milik manajer menjadi lebih kecil sebagai akibatnya bertambahnya saham institusional. Manajer tidak menginginkan apabila tidak mempunyai hak suara dalam perusahaan yang dikelolanya. Hal ini menunjukkan bahwa semakin meningkatnya kepemilikan institusional maka manajer juga berusaha meningkatkan kepemilikan sahamnya.
b. Simultanitas Kebijakan Pengambilan Risiko dan Kebijakan Kepemilikan Manajerial
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.5, kebijakan pengambilan risiko secara statistik berpengaruh negatif signifikan terhadap kepemilikan manajerial pada nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0000. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H1b diterima. Nilai koefisien kebijakan pengambilan risiko
sebesar -2,571555. Artinya bahwa setiap kenaikan sebesar 1% kebijakan pengambilan risiko, maka akan mengurangi kepemilikan manajerial sebesar 2,571555%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah (one-tailed test) dengan nilai t hitung sebesar -10,005. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 8. Pengaruh negatif kebijakan pengambilan risiko terhadap kepemilikan manajerial ini sesuai dengan penelitian Wahidahwati (2002) namun tidak sesuai dengan hasil penelitian Crutchley dan Hansen (1989) serta Chen dan Steiner (1999). Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa di Indonesia, khususnya pada perusahaan-perusahaan yang menjadi sampel penelitian, pada tingkat risiko yang masih rendah sekalipun manajer sudah mempunyai sifat enggan terhadap risiko (risk averse).
c. Simultanitas Kebijakan Hutang dan Kebijakan Kepemilikan Manajerial
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.5, kebijakan hutang secara statistik berpengaruh negatif signifikan terhadap kepemilikan manajerial pada nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0001. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H1c diterima. Nilai koefisien kebijakan hutang -0,021588. Artinya
kepemilikan manajerial sebesar 0,021588%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah (one-tailed test) dengan nilai t hitung sebesar -4,100. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 8. Proporsi hutang yang besar akan menempatkan manajer di bawah pengawasan debtholders dan manajer cenderung tidak menyukai pengawasan oleh debtholders tersebut, sehingga pengaruh kebijakan hutang terhadap kepemilikan manajerial adalah negatif. Estimasi parameter yang negatif berlawanan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fitri dan Mamduh (2003), Wahidahwati (2002) namun sesuai dengan penelitian Sartono (2001), Chen dan Steiner (1999) yang menyatakan bahwa dengan level hutang yang tinggi bisa menyebabkan risiko kebangkrutan yang berarti meningkatkan risiko yang tidak dapat didiversifikasi bagi manajer. Sebagai respon balik, manajer akan mengurangi tingkat kepemilikan sahamnya.
d. Simultanitas Kebijakan Dividen dan Kebijakan Kepemilikan Manajerial
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.5, kebijakan dividen secara statistik berpengaruh positif signifikan terhadap kepemilikan manajerial pada nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0383. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H1d diterima. Nilai koefisien kebijakan dividen sebesar 0,114231.
Artinya bahwa setiap kenaikan sebesar 1% kebijakan dividen, maka akan meningkatkan kepemilikan manajerial sebesar 0,114231%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah (one-tailed test) dengan nilai t hitung sebesar 2,090. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 8. Pengaruh dividen terhadap kepemilikan manajerial dapat dijelaskan melalui free cash flow hypothesis (FCF)
(Jensen, 1986). Melalui hipotesis ini kebijakan dividen digunakan untuk mempengaruhi kepemilikan manajerial sehingga mengurangi biaya keagenan yang berkaitan dengan FCF. Penelitian tersebut membuktikan bahwa terdapat hubungan substitusi antara kebijakan dividen dan kepemilikan manajerial. Hasil ini sesuai dengan penelitian Wahidahwati (2002) dan dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi tingkat rasio dividen, maka mengindikasikan tingkat kepercayaan manajer atas tingkat earning masa depan, sehingga manajer menginginkan keuntungan dari pembayaran dividen dimasa depan dan akan segera meningkatkan kepemilikan sahamnya. Manajer menganggap risiko dividen lebih kecil daripada capital gain yang akan diterima.
e. Pengaruh Kebijakan Perputaran Aktiva dan Kebijakan Kepemilikan Manajerial
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.5, kebijakan perputaran aktiva secara statistik berpengaruh negatif signifikan terhadap kepemilikan manajerial pada nilai probabilitas yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,0008. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H6a ditolak. Nilai koefisien kebijakan perputaran aktiva sebesar
-0,045614. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 8. Artinya bahwa setiap kenaikan sebesar 1% kebijakan perputaran aktiva, maka akan mengurangi kepemilikan manajerial sebesar -0, 045614%. Nilai ini secara parsial signifikan pada level 5% uji satu arah (one-tailed test) dengan nilai t hitung sebesar -3.407. Dengan tingginya aktiva tetap yang dimiliki perusahaan menunjukkan bahwa perusahaan dalam kondisi stabil dan apabila perputaran aktiva berisiko tinggi maka manajer akan
mengurangi kepemilikannya dalam perusahaan karena enggan mengambil risiko dan kemungkinan disebabkan variabel asset turnover tidak dapat sepenuhnya menangkap ukuran kinerja yang dievaluasi oleh pihak manajerial ketika mengevaluasi kinerja perusahaan.
f. Pengaruh Kebijakan Set Kesempatan Investasi dan Kebijakan Kepemilikan Manajerial
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 5.5, kebijakan set kesempatan investasi secara statistik tidak berpengaruh terhadap kepemilikan manajerial. Berdasarkan hasil tersebut hipotesis H6b ditolak. Kondisi ini tidak konsisten dengan
pendapat Myers (1977), Jensen (1981) dan Long et.al (1995), yang menyatakan
masalah underinvestment mengakibatkan perusahaan dengan tingkat pertumbuhan tinggi (ditandai dengan kesempatan investasi yang tinggi), cenderung menggunakan dana internal daripada menggunakan hutang. Sebaliknya perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang rendah (ditandai dengan tingkat kesempatan investasi yang rendah) akan menggunakan hutang yang tinggi untuk mengontrol masalah over
investment.