• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Moneter Periode Selama Krisis Ekonomi 1997

Dalam dokumen Bank Sentral Republik Indonesia (Halaman 107-110)

Tugas-tugas Bank Sentral

DAFTAR PUSTAKA

3.2 KEBIJAKAN MONETER DI INDONESIA

3.2.2 Kebijakan Moneter Periode Selama Krisis Ekonomi 1997

Krisis yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah menimbulkan berbagai permasalahan yang demikian sulit dan kompleks di berbagai bidang. Krisis yang mulanya berasal dari krisis moneter telah berubah cepat menjadi krisis ekonomi, krisis sosial budaya, krisis politik, dan menjadi “krisis multidimensi”. Pemicu utama krisis moneter tersebut adalah serangan spekulasi terhadap mata uang baht Thailand yang kemudian berdampak menjalar (contagion effect) ke mata uang rupiah Indonesia. Melemahnya rupiah telah mendorong investor luar negeri menarik dananya pada waktu bersamaan dari Indonesia yang diinvestasikan dalam bentuk portofolio surat-surat berharga seperti commercial papers, promissory notes, dan

medium-term notes maupun saham dan obligasi.27 Kepanikan kemudian terjadi di pasar valuta asing terutama karena perusahaan dan bank-bank di dalam negeri ingin memborong devisa untuk membayar atau melindungi kewajiban luar negerinya dari risiko nilai tukar. Akibatnya, nilai rupiah semakin merosot hingga pernah mencapai tingkat terendah sekitar Rp15.000 per dolar AS pada awal tahun 1998.

Menghadapi tekanan yang begitu besar terhadap melemahnya nilai tukar rupiah, pada awalnya Bank Indonesia, sesuai sistem nilai tukar mengambang terkendali yang berlaku pada waktu itu, melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk mempertahankan kisaran nilai tukar yang ditetapkan. Demikian besarnya pembelian valuta asing di pasar mengharuskan Bank Indonesia menyelamatkan jumlah cadangan devisa yang tersedia dengan tetap berupaya menstabilkan rupiah, antara lain dengan beberapa kali memperlebar kisaran intervensi nilai tukar rupiah dan terus mengendalikan likuiditas di pasar. Akan tetapi, tekanan yang sangat kuat dan demikian cepat terhadap melemahnya nilai tukar rupiah yang disertai dengan penurunan cadangan devisa dalam jumlah yang cukup besar akhirnya memaksa Pemerintah untuk mengubah sistem nilai tukar

27

Surat-surat berharga dimaksud merupakan surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan-perusahaan Indonesia yang diperjualbelikan kepada investor khususnya dari luar negeri yang ingin mendapatkan keuntungan dari tingginya perbedaan suku bunga di dalam negeri dengan suku bunga internasional Perbedaannya terletak pada jangka waktu surat berharga tersebut. Umumnya, commercial papers berjangka waktu kurang dari satu tahun, prommissory notes berjangka waktu antara satu sampai tiga tahun, dan medium-term notes berjangka waktu antara tiga sampai lima tahun.

yang berlaku. Selanjutnya, sejak tanggal 14 Agustus 1997 Indonesia menganut sistem nilai tukar mengambang.28 Selain itu, Pemerintah Indonesia kemudian meminta bantuan pendanaan dengan mengikuti program IMF.

Tantangan yang selanjutnya terjadi dalam pelaksanaan kebijakan moneter selama krisis adalah terjadinya kelangkaan dana perbankan sebagai akibat penarikan dana oleh masyarakat yang sangat besar (rush). Perkembangan ini terjadi setelah Pemerintah menutup sejumlah bank yang dinilai tidak sehat sesuai dengan langkah-langkah yang ditetapkan dalam program IMF.29 Ditambah dengan semakin melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS, kepercayaan masyarakat terhadap rupiah semakin berkurang sehingga nilai tukar rupiah terus mengalami penurunan yang sangat tajam. Untuk mencegah kehancuran sektor perbankan, sesuai dengan program penjaminan kewajiban bank-bank, Pemerintah melalui Bank Indonesia melakukan pembayaran atas penarikan dana oleh masyarakat dari perbankan dan kewajiban bank lainnya dalam jumlah yang sangat besar yang berakibat pada meningkatnya jumlah uang beredar. Untuk mengatasi tekanan atas melonjaknya laju inflasi baik karena melemahnya nilai tukar maupun meningkatnya jumlah uang beredar, Bank Indonesia harus menyerap kelebihan likuiditas di masyarakat melalui kebijakan moneter kontraktif, yang berakibat pada naiknya suku bunga dan persoalan lain di pasar keuangan secara keseluruhan. Laju inflasi pernah mencapai 77,63% pada tahun 1998 sementara suku bunga SBI berjangka waktu 1 bulan mencapai 38,44% pada tahun yang sama.

Kompleksitas permasalahan kemudian meningkat karena krisis moneter perbankan tersebut disertai dengan berbagai permasalahan baik di bidang ekonomi maupun di bidang lain yang sebenarnya telah ada pada periode sebelum krisis. Di bidang ekonomi, struktur perekonomian yang bertumpu pada konglomerasi perusahaan-perusahaan besar dengan jumlah hutang yang demikian besar, baik dari kredit perbankan dalam negeri maupun dari hutang luar negeri, telah memperburuk pelemahan nilai tukar rupiah yang pada gilirannya mendorong terjadinya krisis hutang swasta dan krisis ekonomi secara keseluruhan. Di bidang sosial politik, pergantian 28

Baca lebih lanjut pada subbagian sistem nilai tukar yang akan dijelaskan kemudian dalam bab ini. 29

pemerintahan yang kemudian terjadi beberapa kali dalam transisi demokrasi yang menyertai krisis ekonomi tersebut tidak saja menyebabkan penanganan krisis lebih sulit, tetapi juga memunculkan berbagai permasalahan sosial politik di Indonesia. Rentetan krisis seperti itu mengakibatkan perluasan krisis di Indonesia dari krisis moneter menjadi ”krisis multidimensi” seperti dikemukakan di atas.

Uraian krisis seperti di atas menunjukkan bahwa pembangunan nasional pada periode sebelumnya mengandung banyak kelemahan dalam struktur dan sistem perekonomian maupun dalam sistem hukum dan politik yang menimbulkan penyimpangan-penyimpangan atau distorsi ekonomi. Kondisi ini telah menyebabkan lemah dan tidak sehatnya fundamental perekonomian nasional dengan dominasi konglomerasi dalam ekonomi, besarnya utang luar negeri khususnya swasta, praktek tata kelola usaha yang buruk, dan praktek-praktek KKN yang menimbulkan inefisiensi dan distorsi ekonomi. Di sisi lain, perkembangan ekonomi internasional mengalami perubahan yang cepat dan mendasar menuju kepada sistem ekonomi global yang ditandai dengan semakin terintegrasinya pasar keuangan dunia yang memudahkan pergerakan aliran dana luar negeri disertai dengan semakin ketatnya persaingan di dunia internasional. Selain menguntungkan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, pergerakan aliran dana luar negeri juga meningkatkan kerentanan perekonomian nasional. Kelemahan-kelemahan dalam perekonomian seperti dikemukakan di atas mengakibatkan rentannya Indonesia terhadap kejutan eksternal dari luar negeri, seperti tercermin pada serangan spekulasi terhadap nilai tukar rupiah.

Penanganan krisis tidak cukup diatasi dengan kebijakan moneter dan fiskal yang berhati-hati (prudent), tetapi harus dibarengi dengan kebijakan di bidang lain, khususnya hukum dan politik. Langkah-langkah tersebut sangat penting tidak saja diperlukan untuk mengatasi berbagai permasalahan yang muncul, tetapi juga sekaligus dapat meletakkan landasan perekonomian nasional yang kukuh ke depan. Langkah-langkah dimaksud mencakup berbagai kebijakan yang diperlukan untuk mempercepat pemulihan nasional serta penataan kelembagaan pemerintahan melalui strategi pembangunan yang tepat dalam rangka mewujudkan perekonomian nasional yang mampu bersaing di kancah perekonomian internasional. Arah strategi dan berbagai kebijakan yang ditempuh telah dituangkan dalam 3.2 Kebijakan Moneter di Indonesia

GBHN Tahun 1999-2004 beserta penjabarannya dalam Propenas Tahun 2000-2004 dan dalam Repeta sebagai pelaksanaannya. Di samping itu, berbagai langkah kebijakan juga dirumuskan dalam sejumlah program dan rencana aksi dalam Letter of Intent yang disepakati bersama antara Pemerintah dan IMF. Komitmen yang tinggi dari Pemerintah dan pelaksanaan secara konsisten berbagai langkah yang dirumuskan tersebut merupakan kunci kerberhasilan dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

Dalam dokumen Bank Sentral Republik Indonesia (Halaman 107-110)