Tugas-tugas Bank Sentral
2.3 TUJUAN DAN TUGAS POKOK BANK INDONESIA
2.3.2.1 Tugas Menetapkan dan Melaksanakan Kebijakan Moneter Pada dasarnya, kebijakan moneter yang ditempuh oleh otoritas moneter
merupakan salah satu bagian integral dari kebijakan ekonomi makro dan berpengaruh besar terhadap berbagai aktivitas ekonomi dan keuangan yang dilakukan masyarakat. Sejalan dengan itu, amandemen UU No. 3 Tahun 2004 menekankan agar kebijakan moneter Bank Indonesia dilaksanakan secara berkelanjutan, konsisten, transparan, dan harus mempertimbangkan stabilitas nilai rupiah terutama berlangsung melalui sistem perbankan. Dengan keterkaitan pelaksanaan ketiga tugas secara saling mendukung tersebut, maka pencapaian tujuan Bank Indonesia akan berhasil dengan baik.
kebijakan umum Pemerintah di bidang perekonomian. Ketentuan ini dimaksukan agar kebijakan moneter yang diambil Bank Indonesia dapat dijadikan acuan yang pasti dan jelas bagi dunia usaha dan masyarakat lainnya. Di samping itu, hal tersebut juga dimaksudkan agar kebijakan moneter Bank Indonesia sudah mempertimbangkan dan dapat dikoordinasikan secara baik dengan kebijakan fiskal dan kebijakan ekonomi lainnya yang ditempuh Pemerintah sehingga mampu menciptakan kondisi ekonomi makro yang baik, seperti stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi, dan perluasan kesempatan kerja.
Dalam rangka melaksanakan tugas menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter tersebut, Bank Indonesia diberi kewenangan penuh untuk menetapkan sasaran-sasaran moneter dengan memperhatikan sasaran laju inflasi dan untuk melakukan pengendalian moneter dengan menggunakan berbagai instrumen kebijakan moneter. Dalam kaitan ini, sesuai dengan UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004, sasaran laju inflasi sebagai sasaran akhir kebijakan moneter yang semula ditetapkan oleh Bank Indonesia telah diubah menjadi ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia. Perubahan ini dimaksudkan untuk semakin meningkatkan koordinasi antara kebijakan moneter Bank Indonesia dengan kebijakan fiskal dan ekonomi lainnya yang ditempuh Pemerintah dalam mencapai sasaran ekonomi makro. Di samping itu, perubahan tersebut dimaksudkan pula untuk memperkuat komitmen dan dukungan Pemerintah dalam pencapaian sasaran inflasi oleh Bank Indonesia.
Untuk mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan, Bank Indonesia menentukan sasaran-sasaran moneter yang dapat berupa besaran moneter dan atau suku bunga sesuai dengan perkembangan dan arah pergerakan ekonomi dan keuangan ke depan.1 Sasaran-sasaran moneter tersebut dicapai melalui pengendalian moneter yang dilakukan Bank Indonesia dengan menggunakan berbagai instrumen moneter yang umum dipakai oleh bank sentral. Instrumen moneter yang saat ini digunakan oleh Bank Indonesia adalah instrumen tidak langsung yang meliputi operasi pasar terbuka, fasilitas diskonto, penetapan giro wajib minimum, dan imbauan, yang dalam pelaksanaannya dapat dilakukan secara bersama-sama atau sendiri-2.3 Tujuan dan Tugas Pokok Bank Indonesia
1
Dalam hal ini, besaran moneter (monetary aggregates) antara lain dapat berupa uang beredar, uang primer, atau kredit perbankan. Untuk selengkapnya, baca buku Seri Kebanksentralan No. 2, Statistik
sendiri. Sementara itu, instrumen langsung yang pernah digunakan seperti penetapan pagu kredit dan penetapan suku bunga tidak dilakukan lagi mengingat instrumen tersebut kurang efektif dan tidak berorientasi pasar.2
Agar pelaksanaan kebijakan moneter dapat secara efektif mencapai sasaran inflasi yang telah ditetapkan, maka harus dihindari penciptaan uang beredar yang dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar pertimbangan moneter. Pengalaman di masa orde lama maupun selama masa krisis menunjukkan bahwa penggunaan kebijakan moneter untuk membiayai pengeluaran Pemerintah telah berdampak buruk pada peningkatan laju inflasi dan kegiatan perekonomian secara keseluruhan. Sejalan dengan itu, berdasarkan UU No. 23 Tahun 1999 ditetapkan bahwa Bank Indonesia dilarang memberikan pinjaman kepada Pemerintah untuk membiayai pengeluaran APBN baik secara langsung maupun melalui pembelian surat utang negara. Sesuai dengan amandemen UU No. 3 Tahun 2004, pengecualian diperkenankan kepada Bank Indonesia untuk membeli surat utang negara guna pendanaan fasilitas pembiayaan darurat yang dilakukan Pemerintah dalam rangka mengatasi kesulitan perbankan yang berdampak sistemik pada seluruh sistem keuangan dan perekonomian.
Selanjutnya, pelaksanaan kebijakan moneter tidak dapat dilepaskan dari sistem nilai tukar dan sistem devisa yang ditetapkan. Dalam hal sistem nilai tukar, sejak 14 Agustus 1997 Pemerintah menetapkan sistem nilai tukar yang dianut adalah sistem nilai tukar mengambang dan Bank Indonesia melaksanakan kebijakan berdasarkan sistem nilai tukar yang telah ditetapkan. Pada sistem mengambang, pergerakan nilai tukar rupiah ditentukan oleh besarnya permintaan dan penawaran valuta asing di pasar. Dalam hubungan ini, kebijakan nilai tukar yang ditempuh oleh Bank Indonesia berupa intervensi di pasar valuta asing dimaksudkan agar pergerakan nilai tukar di pasar dapat berlangsung stabil. Intervensi valuta asing dimaksud tidak diarahkan untuk mencapai suatu tingkat atau kisaran nilai tukar rupiah tertentu. Di samping itu, stabilisasi nilai tukar rupiah sangat penting agar pengaruh nilai tukar terhadap kenaikan harga-harga, khususnya harga barang dan jasa yang diimpor dari luar negeri, dapat terkendali sehingga mendukung upaya pencapaian sasaran inflasi.3 2
Uraian yang lebih komprehensif mengenai instrumen pengendalian moneter terdapat pada buku Seri Kebanksentralan No. 3, Instrumen-instrumen Pengendalian Moneter, oleh Ascarya, PPSK Bank Indonesia (2002).
3
Pelaksanaan kebijakan moneter juga tidak dapat dilepaskan dari sistem devisa yang dianut. Dalam hal ini, pemilihan sistem devisa oleh suatu negara akan tergantung pada kondisi negara yang bersangkutan, khususnya keterbukaan ekonominya dalam arti seberapa jauh negara yang bersangkutan ingin mengintegrasikan ekonominya dengan ekonomi global. Untuk Indonesia, sesuai UU No. 24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Nilai Tukar dianut sistem devisa bebas, yang berarti masyarakat dapat secara bebas memperoleh dan menggunakan devisa. Akan tetapi, agar lalu lintas devisa tersebut dapat mendukung pembangunan ekonomi dan tidak menyulitkan pelaksanaan kebijakan moneter, maka sesuai UU dimaksud Bank Indonesia diberi kewenangan untuk melakukan monitoring dan mengeluarkan ketentuan kehati-hatian terhadap lalu lintas devisa yang masuk dan keluar Indonesia. Sehubungan dengan itu, sejak tahun 2000 Bank Indonesia telah mengeluarkan ketentuan monitoring lalu lintas devisa tersebut dan memantau perkembangan yang terjadi.4
2.3.2.2 Tugas Mengatur dan Menjaga Kelancaran Sistem Pembayaran