• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan

Dalam dokumen Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan (Halaman 38-53)

BAB II. KEBIJAKAN DAN STRATEGI

A. Kebijakan Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan

suatu kesatuan dari kebijakan kesehatan bagi anak secara umum. Arah kebijakan difokuskan pada upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup anak dalam rangka pemenuhan hak-hak anak. Upaya pemenuhan hak anak dilaksanakan berdasarkan 4 prinsip hak anak dalam konvensi hak anak, yaitu: a. Non-diskriminasi

b. Kepentingan yang terbaik bagi anak

c. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan perkembangan

d. Penghargaan terhadap pendapat anak

Pelayanan kesehatan anak jalanan diselenggarakan melalui jaringan pelayanan upaya kesehatan dasar. Pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berkeadilan bagi anak jalanan diselenggarakan dengan pendekatan siklus hidup (Continuum of Care), yang meliputi: a. Pelayanan kesehatan bayi

b. Pelayanan kesehatan balita dan anak pra sekolah c. Pelayanan kesehatan anak usia sekolah dan remaja

29

Penanganan anak jalanan difokuskan pada upaya promotif dan preventif agar anak terlantar dan rentan tidak jatuh menjadi anak jalanan, tanpa meninggalkan upaya kuratif dan rehabilitatif.

Pembinaan kesehatan anak jalanan disesuaikan dengan kebutuhan dan proses tumbuh kembang yang dilaksanakan secara terpadu lintas program dan membangun jejaring dengan lintas sektor dan

masyarakat (dunia usaha, LSM/organisasi

kemasyarakatan, dll) berdasarkan prinsip kemitraan. B. Strategi dan Kegiatan Pelayanan Kesehatan Anak

Jalanan

Masalah anak jalanan adalah masalah sosial yang

cukup rumit dan kompleks, sehingga upaya

penanganan kesehatannya tidak dapat dilakukan oleh Kementerian Kesehatan saja, akan tetapi perlu kerjasama dengan sector terkait, masyarakat termasuk dunia usaha, LSM, dll. Oleh karena itu dalam memberikan informasi kesehatan, mereka harus dilibatkan guna mendukung pelaksanaan di lapangan.

Dalam rangka memudahkan pelaksanaan

intervensinya, perlu dirumuskan strategi pelayanan kesehatan anak jalanan, yang terdiri dari :

30

1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan anak jalanan.

2. Melaksanakan pendekatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)

3. Memperkuat mekanisme kemitraan dan jejaring 4. Meningkatkan pembiayaan pelayanan kesehatan

anak jalanan

5. Memfasilitasi kearifan lokal (local wisdom)

Strategi ini merupakan strategi konvensional yang selama ini sudah dilaksanakan dan masih akan tetap digunakan unutk mendukung pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi anak jalanan dengan berbagai penguatan dan lebih fokus dalam implementasinya. Startegi ke 4, merupakan upaya terobosan karena dapat segera dilaksanakan dengan memanfaatkan segala potensi masyarakat setempat, termasuk pemanfaatn CSR dunia usaha. Pelaksanaan kegiatan dapat menggunakan potensi budaya, agama, adat istiadat dan nilai-nilai lokal.

Kegiatan Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan 1. Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas

Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan

a. Melatih tenaga kesehatan pengelola program bagi anak jalanan

31

b. Melaksanakan orientasi dan sosialisasi tentang program kesehatan bagi anak jalanan

2. Melaksanakan Pendekatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)

Usia remaja merupakan proporsi terbesar pada populasi anak jalanan, sehingga pelayanan kesehatan dilakukan dengan pendekatan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR).

a. Memberikan pelatihan PKPR untuk puskesmas yang belum terlatih PKPR dan peningkatan

strata puskesmas yang mampu

menyelenggarakan PKPR menggunakan SN PKPR

b. Memfasilitasi pelatihan kader kesehatan di luar sekolah (kader kesehatan karang taruna, masjid/gereja dan konselor sebaya)

c. Meningkatkan kegiatan PKPR di luar gedung, misalnya melalui Posyandu Remaja (referensi: Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Posyandu Remaja, Kemenkes 2018)

3. Memperkuat Mekanisme Kemitraan dan Jejaring

Pembentukan kemitraan dan jejaring pelayanan kesehatan anak jalanan dapat diinisiasi melalui pelaksanaan program kesehatan anak agar semua

32

mitra yang terkait dalam jejaring ini secara spontan dapat berbagi peran yang setara, mitra

terkait antara lain Kementerian Sosial,

Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak, BKKBN, BNP dan LSM terkait.

Jejaring pelayanan kesehatan anak jalanan meliputi lintas program, lintas sektor, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, institusi pendidikan, pihak swasta serta mitra potensial lain yang ditujukan untuk mengatasi masalah yang terkait dengan kesehatan anak jalanan di suatu wilayah tertentu. Adapaun kegiatan yang dapat dilakukan dalam upaya memperkuat mekanisme kemitraan dan jejaring antara lain:

a. Mengembangkan Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yaitu posyandu remaja, kelompok remaja

b. Melakukan penguatan mekanisme kemitraan antara pemerintah dan masyarakat di bidang kesejahteraan anak dan keluarga antara lain: komisi nasional perlindungan anak (komnas PA), lembaga perlindungan anak (LPA), dan lembaga konsultasi kesejahteraan keluarga (LK3)

33

c. Melakukan orientasi dan sosialisasi kegiatan pelayanan anak jalanan kepada pimpinan panti, pendamping panti, kantong anak jalanan, kelompok pendukung / koordinator anak jalanan.

d. Memperluas jangkauan pelayanan kesehatan

anak jalanan melalui daerah

tangkapan/saluran, antara lain:

- Organisasi sosial (orsos) bidang

kesejahteraan anak.

- Rumah belajar anak jalanan. - Mobil sahabat anak.

- Institusi pendidikan non formal (PKBM). - Organisasi kemasyarakatan/LSM/swasta. e. Melaksanakan pertemuan rutin antar anggota

jejaring. Dilakukan secara periodik, bersama-

sama secara bergantian sebagai ajang

pertukaran informasi dan pengalaman, dalam bentuk rapat, pertemuan, atau lokakarya. f. Membangun komunikasi berkala melalui

sarana komunikasi seperti: telepon, fax, email, telekonferen, internet, aplikasi gadget seperti BBM, WA, FB, Twitter, dan sebagainya. Perkembangan di bidang teknologi informasi sangat membantu kecepatan dan efisiensi kerja suatu organisasi.

34

g. Memanfaatkan informasi dasar nasional

tentang berbagai kegiatan yang terkait dengan upaya kesehatan remaja, termasuk anak jalanan. Jejaring harus mendorong dan memfasilitasi adanya data dasar nasional sebagai dokumentasi dan bukti atas upaya yang sudah dilaksanakan.

h. Memfasilitasi peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan infrastruktur sesama

anggota jejaring. Jejaring menyiapkan

informasi yang dapat diakses oleh setiap anggota jejaring untuk memperoleh bantuan

teknis dan pendampingan dalam

pengembangan dan pelaksanaan upaya terkait dengan kesehatan remaja, termasuk anak jalanan.

Langkah-langkah kegiatan yang dilakukan dalam pelayanan kesehatan anak jalanan dapat dilakukan melalui pendekatan edukatif, yaitu suatu rangkaian kegiatan yang sistematis, terencana dan terarah dengan partisipasi stake holder dan anak jalanan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan menggunakan potensi yang dimiliki, langkah- langkah tersebut sebagai berikut:

1. Analisa situasi, untuk memperoleh gambaran tentang masalah dan potensi yang dimiliki

35

masyarakat setempat (mapping dan

pendataan).

2. Pengkajian hasil analisa situasi, guna membahas hasil temuan dalam analisa situasi, yang meliputi: rumusan masalah, prioritas

masalah, alternatif pemecahan masalah,

sumber daya yang digunakan dan rencana waktu pelaksanaan kegiatan.

3. Pendekatan sosial, yang ditunjukkan kepada

penentu kebijakan untuk memperoleh

dukungan agar kegiatan yang telah

direncanakan dapat terlaksana. Bentuk

pendekatan sosial, antara lain: anjang sana, seminar, lokakarya, dll.

4. Pelaksanaan kegiatan, yang merupakan

intervensi untuk memecahkan masalah yang ada sesuai dengan potensi yang dimiliki. Bentuk intervensi kegiatan, antara lain: orientasi peningkatan kemampuan petugas,

sosialisasi, penyuluhan, pendampingan,

pemberdayaan, dll.

5. Pembinaan, dapat dilakukan dengan mengkaji laporan yang masuk, monitoring, evaluasi. 6. Kesinambungan program melalui peningkatan

jejaring dan kemitraan.

7. Pengembangan program dalam peningkatan jangkauan pelayanan kesehatan anak jalanan.

36

Peran dari masing – masing sektor sebagai berikut:

No Sasaran Peran 1 Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota - menyediakan data fasilitas pelayanan kesehatan - menyediakan data-data tentang masalah kesehatan - melaksanakan pelayanan

kesehatan yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif 2 Dinas Sosial

Kabupaten /Kota

- menyediakan data anak

jalanan

- menyediakan data

pekerja sosial

- menyediakan data

rumah singgah, Non Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA), Taman Anak Sejahtera (TAS), titik titik rawan PMKS, dll

3 Dinas

Pendidikan

- menyediakan data

37 Kabupaten/ Kota

formal lainnya

- menyediakan data anak

jalanan yang bersekolah

- menyediakan data anak

jalanan usia sekolah yang tidak bersekolah

4 Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten/ Kota

- menyediakan data Balai Latihan Kerja (BLK),

- menyediakan data anak

jalanan yang bekerja

5 Kantor Kementerian Agama Kabupaten/ Kota - menyediakan data Pondok Pesantren

- menyediakan data anak

jalanan yang berada di Pondok Pesantren 6 Institusi yang menangani pemberdayaan perempuan, pemuda dan olahraga - menyediakan data Lembaga Perlindungan Anak/Perempuan, P2TP2A

- menyediakan data kasus

kekerasan dan

perlakukan salah lainnya yang ditangani oleh

38 Lembaga Perlindungan Anak/Perempuan, P2TP2A - Menyediakan data terkait organisasi pemuda

4. Meningkatkan Pembiayaan Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan

Pembiayaan dalam pelaksanaan pelayanan

kesehatan bagi anak jalanan berasal dari Anggaran

Pendapatan dan Belanja Negara (APBN),

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Dana BOK dan sumber dana lainnya yang tidak mengikat.

Dalam rangka meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan anak jalanan maka perlu dilakukan perencanaan secara terpadu di tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang melibatkan semua unsur terkait yang memberikan pelayanan kepada anak jalanan. Perencanaan ini disusun untuk kebutuhan satu tahun dan dilaksanakan

secara efisien, efektif dan dapat

dipertanggungjawabkan. Perencanaan pembiayaan bertujuan agar dapat melakukan penyelarasan

39

program dan efisiensi pemanfaatan dana di setiap sektor terkait sehingga pelayanan kesehatan anak jalanan dapat terlaksana tepat sasaran.

Sesuai Undang Undang Dasar 1945 Pasal 34, mengatakan bahwa; fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, hal tersebut juga diperkuat dengan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin, Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2012 tentang Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan, Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2016 tentang Jaminan Kesehatan Nasional dan Keputusan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 146 Tahun 2013 tentang Penetapan Kriteria dan Pendataan Fakir Miskin dan Orang Tidak Mampu serta Keputusan Menteri Sosial Nomor 170 Tahun 2015 tentang Penetapan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan.

Pada intinya bahwa semua fakir miskin dan orang tidak mampu (termasuk gelandangan, pengemis, anak terlantar dan anak jalanan, perempuan rawan sosial ekonomi, penghuni Rutan/Lapas/LPKA) baik yang teregister maupun yang belum teregister

40

berhak mendapat pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Apabila fakir miskin dan orang tidak mampu belum teregister, maka

menjadi kewenangan pemerintah dan/atau

pemerintah daerah, terkait penentuan siapa saja yang berhak menjadi penerima bantuan iuran. Pendamping anak jalanan melalui Dinas Sosial dapat mengusulkan identitas kependudukan bagi anak jalanan yang belum terdaftar dan belum ada nomor induk kependudukan (NIK) bekerjasama dengan dukcapil (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil). Apabila anak jalanan tersebut dinilai memenuhi syarat sebagai PBI, maka BPJS Kesehatan akan menerbitkan Kartu Indonesia Sehat (persyaratan sesuai dengan Permensos Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pelaksanaan PP Nomor 76 Tahun 2015 tentang Perubahan atas PP Nomor 101 Tahun 2012 tentang PBI Jaminan Kesehatan).

Untuk memperoleh pengobatan di Puskesmas atau FKRTL/Rumah Sakit, bagi anak jalanan yang sudah masuk dalam daftar penetapan PBI biaya

pengobatannya ditanggung oleh Jaminan

Kesehatan Nasional (JKN) sedangkan bagi anak jalanan yang belum masuk dalam daftar penetapan

41

PBI didorong untuk menjadi tanggungan

pemerintah daerah.

5. Memfasilitasi Kearifan Lokal (Local Wisdom) a. Mengoptimalkan pemnafaatan CSR sesuai

kondisi lapangan

b. Pemanfaatan pendekatan keagamaan untuk pesan dalam rangka penyampaian pesan

kesehatan termasuk perilaku berisiko,

kesehatan reproduksi

c. Memanfaatkan nilai-nilai local, budaya local dan acara keagamaan

d. Membuat kebijakan inovatif local yang memiliki daya ungkit terhadap pembinaan dan peningkatan pelayanan kesehatan bagi anak jalanan

43

Dalam dokumen Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak Jalanan (Halaman 38-53)

Dokumen terkait