• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan Pembangunan Daerah, Kendala yang dihadapi, Strategi

BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN

4.2 Belanja Daerah

4.2.3 Kebijakan Pembangunan Daerah, Kendala yang dihadapi, Strategi

secara terintegrasi dengan Kebijakan dan Prioritas Pembangunan Nasional yang akan dilaksanakan di Daerah.

Tujuan pembangunan daerah pada hakekatnya untuk meningkatkan taraf hidup/kesejahteraan dan kualitas pelayanan masyarakat. Untuk mencapai tujuan pembangunan dimaksud, Pemerintah Kota Magelang telah menetapkan arah kebijakan umum yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Magelang, sebagai acuan Pemerintah Kota Magelang untuk menetapkan kebijakan dalam

rangka melaksanakan pembangunan daerah yang

berkesinambungan. Tujuan pembangunan jangka panjang tahun 2005-2025 adalah “Mewujudkan Kota Jasa yang berbudaya, maju dan berdaya saing dalam masyarakat madani”.

Tahun Anggaran 2016 menjadi tahun yang sangat penting bagi Kota Magelang karena akan terjadi pergantian Kepala Daerah yang akan dipilih pada tahun 2015. Sehingga KUA Tahun 2016 merupakan KUA transisi yang disusun oleh Kepala Daerah Periode 2010-2015 untuk dilaksanakan Kepala Daerah yang baru. Kebijakan Pembangunan Daerah yang akan dilakukan pada tahun

50 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH | KUA TA 2016

2016 adalah berdasar pada: (1) hasil evaluasi RPJMD Kota Magelang tahun 2011 – 2015, hal ini digunakan untuk menjaga kesinambungan pembangunan di Kota Magelang. (2) sinkronisasi dengan program prioritas Jawa Tengah dan Nasional, agar pembangunan daerah Kota Magelang terintegrasi dengan pembangunan Provinsi Jawa Tengah dan Nasional.

Isu Strategis yang menjadi prioritas Pemerintah Kota Magelang untuk ditangani Tahun 2016 adalah sebagai berikut:

1. Bidang Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama

Tantangan dan permasalahan yang harus diselesaikan pada sektor Pendidikan di Tahun 2016 adalah sebagai berikut:

a. Masih terbatasnya sarana prasarana, akses, pemerataan, kualitas layanan, kualifikasi serta kompetensi tenaga pendidikan pada jenjang pendidikan anak usia dini;

b. Belum optimalnya ketersediaan, kualitas, kualifikasi dan kompetensi tenaga pendidik serta distribusi pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan dasar;

c. Transisi pengelolaan pendidikan luar biasa dan pendidikan menengah dari pemerintah kota magelang ke pemerintah Provinsi Jawa Tengah;

d. Belum optimalnya pengelolaan perpustakaan dan laboratorium sekolah;

e. Perlunyan kesiapan implementasi kurikulum 2013 dalam penyediaan sarana, peyiapan tenaga pendidik, aspek pemahaman, pembelajaran, penilaian dan pemanfaatan media;

f. Belum efektifnya pendidikan karakter di sekolah diindikasikan dengan masih adanya vandalisme, kurangnya ketertiban dan kedisiplinan siswa;

g. Kurangnya ketersediaan dan akurasi data pendidikan; dan h. Masih perlunya optimalisasi pemenuhan pemenuhan

hak-hak anak.

Sementara itu di sektor Kesehatan, beberapa

permasalahan ke depan yang memerlukan perhatian antara lain:

51 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH | KUA TA 2016

menular dan upaya penanganan pasien penyakit menular; b. Masih minimnya upaya deteksi dini penyakit tidak menular

melalui pemberdayaan kader kesehatan;

c. Kurangnya koordinasi lintas sektoral dalam upaya promosi kesehatan masyarakat;

d. Belum optimalnya peningkatan kesadaran masyarakat akan PHBS;

e. Masih perlunya optimalisasi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak;

f. Belum optimalnya angka usia harapan hidup ;

g. Masih rendahnya produktivitas dan kesehatan kaum lansia;

h. Kurangnya penyediaan data sarana, tenaga medis dan kondisi kesehatan masyarakat yang selalu up to date;

i. Masih adanya prevalensi angka balita bergizi;

j. Minimnya registrasi dan sertifikasi tenaga kesehatan;

k. Rendahnya pemanfaatan peralatan medis berteknologi terkini dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan;

l. Belum optimalnya penyediaan elektronik data tenaga kesehatan dan sarana kesehatan yang akurat dan terpercaya;

m. Kurangnya tenaga kesehatan yang mencukupi dan sesuai spesialisasi yang dibutuhkan; dan

n. Perlunya peningkatan pelayanan kesehatan melalui skema

BPJS.

Isu strategis lainnya yang muncul dari bidang ini adalah terkait Penanggulangan Kemiskinan. Tingkat kemiskinan cenderung menurun. Namun demikian permasalahan dan tantangan yang harus dihadapi untuk mempercepat turunnya tingkat kemiskinan pada tahun 2016 adalah sebagai berikut:

a. Optimalisasi peran Balai Latihan Kerja (BLK) setelah

penyelesaian pembangunan tahun 2015 untuk

menciptakan tenaga kerja terampil;

b. Perlunya pemantapan kualitas dan akses layanan pemenuhan kebutuhan dasar bagi masyarakat miskin termarginalkan untuk mengembangkan kehidupan mereka

52 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH | KUA TA 2016

secara layak;

c. Tingkat pengangguran terbuka yang masih cukup tinggi. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah kota magelang untuk terus mendorong pertumbuhan lapangan kerja dan penyerapan tenaga kerja;

d. Perlunya pendekatan integratif untuk penanggulangan kemiskinan daerah sehingga program–program dan

penanganan kemiskinan yang diupayakan dapat

mendorong akselerasi dan efektitas penurunan jumlah penduduk miskin, anatara lain melalui pendekatan pembangunan kewilayahan dan fokus pada pemberdayaan masyarakat;

e. Perlunya keterpaduan antar SKPD dalam upaya percepatan pengentasan kemiskinan; dan

f. Pemanfaatan scheme bantuan permodalan seperti KUR masih belum dapat menyerap tenaga kerja seperti yang diharapkan.

2. Bidang Ekonomi

Berbagai permasalahan dan tantangan yang harus diselesaikan pada tahun 2016 di bidang ekonomi terkait dengan upaya peningkatan ketahanan pangan dan lanjutan revitalisasi pertanian adalah sebagai berikut:

a. Maraknya alih fungsi pertanian menjadi non pertanian, sehingga berdampak negatif pada ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau;

b. Belum optimalnya pemanfaatan lahan pekarangan di rumah tangga untuk budidaya tanaman pangan;

c. Belum adanya cadangan pangan di Kota Magelang;

d. Belum optimalnya upaya yang dilakukan untuk stabilisasi pasokan dan harga pangan pokok, sehingga harga bahan pangan masih fluktuatif;

e. Masih tingginya jumlah penduduk miskin di kota magelang yang berpotensi meningkatkan kerawanan pangan dan gizi; f. Budaya dan kebiasaan makan penduduk kota magelang

yang kurang mendukung konsumsi pangan b2sa (beragam, bergizi, seimbang, dan aman); dan

53 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH | KUA TA 2016

g. Masih adanya penggunaan zat aditif berupa penyedap, pewarna, pemanis, pengawet, pengental, pemucat, dan anti gumpal pada bahan makanan.

Isu strategis lainnya yang mendesak untuk diselesaikan pada urusan ketenagakerjaan, yaitu:

a. Sebagian pengusahan memberi upah kepada pekerja dibawah umk.

b. Disnakertransos Kota Magelang belum memiliki instruktur, pada pelaksanaan kegiatan bekerjasama dengan BLK Kabupaten Magelang sehingga jadwal pelatihan mengikuti BLK Kabupaten Magelang;

c. Belum tersertifikasi kompetensi para peserta pelatihan; d. Masih adanya pelanggaran pelaksanaan UMK di beberapa

dunia usaha/industri;

e. Masih tingginya angka perselisihan antara pengusaha dengan pekerja;

f. Masih dijadikannya UMK sebagai standar pengupahan secara umum;

g. Kurang berminatnya pencari kerja untuk bekerja di luar negeri;

h. Rendahnya animo dunia industri untuk menjalankan sertifikasi K3 dikarenakan biaya pengujian yang cukup besar, sementara standar pelayanan minimal sertifikasi K3 adalah 50 persen;

i. Peningkatan iklim investasi belum dibarengi dengan pelaksanaan norma ketenagakerjaan (keselamatan dan perlindungan tenaga kerja) akibat kurangnya koordinasi antara stakeholder terkait;

j. Belum terakreditasinya lembaga pelatihan kerja swasta

yang ada di Kota Magelang sehingga mutu

pendidikan/pelatihan dan peserta didik kurang optimal yang pada akhirnya berimbas pada daya saing peserta didik di pasar kerja;

k. Kurangnya kesadaran akan pentingnya sertifikasi kompetensi di pasar kerja;

l. Rendahnya produktivitas dan etos kerja para pencari kerja; dan

54 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH | KUA TA 2016

m. Tantangan dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Isu di dalam urusan Koperasi dan UKM dan kesjahteraan masyarakat yang layak diperhatikan antara lain a. Rendahnya manajemen usaha, seringkali ada yang belum

melakukan pemisahan antara bisnis/usaha dan rumah tangga;

b. Belum memiliki legitimasi tempat usaha serta legitimasi hukum atas asset, sehingga terjadi kesulitan dalam mengakses kredit perbankan;

c. Rendahnya kualitas SDM, sehingga pola kemitraan sulit diterapkan baik di bidang produksi, pemasaran maupun teknologi;

d. Rendahnya ketersediaan skim permodalan secara khusus bagi UKM;

e. Tindak lanjut dari agenda ayo ke magelang tahun 2015 dalam upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan daya tarik wisata Kota Magelang;

f. Rendahnya kunjungan wisata sebagai akibat lemahnya promosi, informasidan pemasaran pariwisata, kurang memadainya sarana dan prasaranakepariwisataan;

g. Kurangnya inovasi, kreativitas, kreasi, atraksi destinasi pariwisata danberbagai fasilitas pendukung destinasi pariwisata, serta masih rendahnyasumber daya manusia pengelola pariwisata;

h. Kurangnya penyelenggaraan even pariwisata yang dilaksanakan secara periodik yang dikemas dalam atraksi yang menarik dan atraktif serta berskala luas sehingga mampu menarik wisatawan berkunjung;

i. Perlunya intensifikasi image branding yang telah dilaksanakan sejauh ini.Peningkatan kualitas produk dan jasa pariwisata, dan ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai di lingkungan obyek dan daya tarik wisata, masih rendahnya kualitas SDMpengelola obyek dan daya tarik wisata, pramuwisata maupun para pelaku pariwisatalainnya;

j. Sebagai kota jasa, perlu terus untuk mendorong agar kota magelang dapat menjadi ajang bagi pendatang untuk

55 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH | KUA TA 2016

aktivitas Meeting, Incentive, Conference and Exhibition

(MICE) yang akan mampu menghadirkan pemasukan bagi

daerah dan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung;

k. Sumbangan sektor pariwisata terhadap pad harus semakin dioptimalkan. Hal ini disebabkan oleh belum optimalnya promosi yang dilakukan, baik di dalam maupun luar negeri, sehingga jumlah kunjungan, lama tinggal dan pengeluaran belanja wisatawan masih relatif kecil;

l. Kecenderungan menurunnya prestasi dan pemasyarakatan olahraga disebabkan oleh lemahnya pembibitan, pembinaan, pemanduan dan pemasyarakatan olahraga serta tidak adanya penelitian dan pengembangan keolahragaan; dan

m. Masih rendahnya partisipasi pemuda dalam pembangunan daerah yang diantaranya disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan, daya tangkal, kepedulian terhadap masalah-masalah pembangunan, keterbatasan akses dan kemitraan.

Sementara itu di sektor pertanian, beberapa isu yang patut di kedepankan antara lain:

a. Sebagian besar petani kota magelang adalah petani penggarap, sehingga program diversifikasi usaha tani menjadi kurang optimal;

b. Petani belum menggunakan sarana produksi yang sesuai dengan teknologi pertanian;

c. Semakin berkurangnya lahan pertanian produktif sebagai akibat dari alihfungsi lahan pertanian menjadi non pertanian;

d. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang budidaya tanaman hortikultura;

e. Rendahnya pengetahuan masyarakat dalam budidaya florikultur, sehingga budidaya tanaman hias dan bunga belum berkembang di masyarakat;

f. Masyarakat membudidaya tanaman hias dan bunga masih sebatas hobi, belum menjadi mata pencaharian;

56 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH | KUA TA 2016

pertanian, menyebabkan tidak adanya regenerasi dalam bidang pertanian; dan

h. Belum berkembangnya urban farming di Kota Magelang;

3. Bidang ilmu Pengetahuan dan Teknologi

a. Masih rendahnya peran aktif dan kemampuan masyarakat dalam berkreativitas dan inovasi serta pendayagunaan teknologi tepat guna untuk mengembangkan keunggulan komparatif dan kompetitif; dan

b. Perlunya optimalisasi sistem inovasi daerah (SIDA) secara efektif dan efisien.

4. Bidang Sarana dan Prasarana

Permasalahan dan tantangan pokok yang dihadapi bidang sarana dan prasarana antara lain adalah:

a. Belum optimalnya fungsi prasarana dan sarana drainase pengendalian banjir pada musim penghujan;

b. Masih adanya jalan dan jembatan yang rusak. Prasarana

jalan dan jembatan senantiasa membutuhkan

pemeliharaan dan peningkatan;

c. Belum terpenuhinya semua kebutuhan pengelolaan jaringan irigasi dan jaringan pengairan lainnya dalam mendukung pembangunan pertanian dan penyediaan air baku;

d. Terbatasnya sumber air bersih di Kota Magelang;

e. Rendahnya kualitas pembangunan dan pengelolaan bangunan gedung pemerintah diakibatkan tidak dipatuhinya Norma Standar Prosedur Manual (NSPM) dan rendahnya sosialisasi serta pengawasan pelaksanaan NSPM;

f. Masih adanya pemukiman kumuh dan rumah tidak layak huni di Kota Magelang;

g. Belum optimalnya pengembangan kawasan strategis dan cepat tumbuh;

h. Perlunya mengakomodir hak hak masyarakat rentan termarginalkan dalam desain sarpras kota;

i. Tingginya volume pergerakan/mobilitas terutama pada jam-jam sibuk yang tidak didukung oleh sarana prasarana jaringan jalan sehingga mengakibatkan kecenderungan

57 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH | KUA TA 2016

untuk terjadinya kemacetan dan peningkatan kecelakaan lalu lintas; dan

j. Belum optimalnya jangkauan dan akses komunikasi informasi yang disebabkan masih terbatasnya sarana dan prasarana serta pengembangan komunikasi informasi.

5. Bidang Politik

Beberapa permasalahan dan tantangan pokok yang dihadapi di bidang politik, hukum dan keamanan antara lain adalah perlunya antisipasi paska pelaksanaan Pilkada tahun 2015, agar situasi tetap kondusif dan ketertiban umum tetap terjaga.

6. Bidang Pertahanan dan Keamanan

a. Masih adanya ancaman terorisme, konflik SARA (baik vertikal maupun horizontal) dan gerakan yang bersifat radikalisme yang kadang bersifat laten dengan daya destruktif yang tinggi.

b. Masih terdapatnya berbagai penyakit masyarakat

7. Bidang Hukum dan Aparatur

Dalam rangka khususnya pencapaian terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik, tantangan dan permasalahan yang harus diselesaikan di tahun 2016 adalah sebagai berikut:

a. Belum optimalnya penyelenggaraan pemerintahan umum dalam pelayanan publik yang disebabkan oleh kurangnya kapasitas, kompetensi dan profesionalitas sdm aparatur berikut sarana dan prasarana yang dibutuhkan (perlunya optimalisasi pelayanan yang berbasis pada ‘menghadirkan

pemerintah sedekat mungkin dengan masyarakat’);

b. Masih perlu intensifikasi penerapan e-government di seluruh skpd dengan memaksimalkan sistem informasi, penggunaan wan dan penggunaan website;

c. Belum optimalnya ketersediaan data dan statistik daerah valid dan akurat sebagai bahan penyusunan kebijakan dan perencanaan;

d. Belum optimalnya penyelamatan dan pelestarian

dokumen/arsip daerah yang disebabkan oleh

58 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH | KUA TA 2016

SDM yang menangani, dan belum dikembangkannya digitalisasi arsip daerah;

e. Persiapan SDM dan implementasi pelaksanaan

Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN) perlu mendapat

perhatian yang serius;

f. Belum optimalnya pengelolaan administrasi keuangan dan pertanggungjawabannya, termasuk eksistensi aset daerah di mana hasil opini BPK untuk laporan keuangan tahun 2014 adalah WDP dan perlu dicari model yang cocok untuk transparansi informasi dan publikasi anggaran belanja daerah kepada masyarakat umum sehingga masyarakat memahami kondisi keuangan daerah, sehingga status

Wajar Tanpa Pengecualian dapat tercapai;

g. Masih perlu akselerasi implementasi sistem perencanaan dan penganggaran berbasis kinerja secara optimal salah satunya implementasi Analisa Standar Belanja (ASB) dan

penentuan pagu indikatif kewilayahan (kecamatan & kelurahan) dan pagu indikatif SKPD;

h. Perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah yang masih belum konsisten yang perlu untuk terus dilakukan minimalisasi deviasi, antara lain dengan integrasi sistem informasi perencanaan, penganggaran dan evaluasi;

i. Sinergisitas proses perencanaan pembangunan daerah dari pendekatan politik (proses politik) ke pendekatan teknokratik perlu dilakukan dengan pemahaman yang sama antara lain terkait perumusan pokok-pokok pikiran DPRD; dan

j. Masih perlu optimalisasi implementasi RAD

pemberantasan korupsi (RAD PK). 8. Bidang Wilayah dan Tata Ruang

Beberapa permasalahan yang dihadapi antara lain:

a. Masih belum selesainya permasalhan batas wilayah dengan Kabupaten Magelang;

b. Masih perlunya pengendalian pemanfaatan tata ruang kota; dan

c. Perlunya intensifikasi pembangunan berbasis kewilayahan secara terpadu dengan pembangunan

59 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH | KUA TA 2016 sektoral.

9. Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan

Beberapa permasalahan dan tantangan pokok yang dihadapi dalam upaya menjaga Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana antara lain adalah:

a. Pengelolaan manajemen persampahan masih belum optimal;

b. Masih banyaknya perusahaan/kegiatan industri yang belum memiliki Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL);

c. Umur teknis TPA yang akan segera berakhir;

d. Perlu terus untuk diupayakan pengelolaan sampah dari sumbernya yang berbasis pada masyarakat antara lain optimalisasi program kampung organik, dan model pengelolaan manajemen persampahan berbasis masyarakat lainnya;

e. Kurangnya lahan terbuka hijau (RTH);

f. Banyaknya kegiatan industri atau kegiatan usaha yang belum memilki dokumen lingkungan AMDAL, UKL-UPL , DPPL; dan

g. Masih perlunya pembinaan petugas penanggulangan bencana alam.

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas guna mendukung upaya percepatan pertumbuhan ekonomi dan pemantapan stabilitas

ekonomi daerah, penyelenggaraan pemerintahan dan

pembangunan daerah serta pelayanan umum kepada masyarakat, maka kebijakan anggaran dalam tahun 2016 di Kota Magelang diarahkan untuk:

1. Melakukan sinkronisasi program kegiatan Pemerintah Kota Magelang dengan Kebijakan Pusat dan Kebijakan Provinsi Jawa Tengah,

2. Melaksanakan program dan kegiatan sesuai dengan kebutuhan pemerintahan daerah, berdasarkan urusan dan kewenangannya (diutamakan urusan wajib dan urusan pilihan),

3. Tetap melaksanakan dan memperhatikan prioritas kegiatan-kegiatan yang mendukung program pro growth, pro poor, pro

60 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH | KUA TA 2016

4. Menyelenggarakan urusan pemerintahan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan dan kesehatan.

5. Berupaya untuk terus meningkatkan jumlah besaran belanja

modal dalam rangka meningkatkan produktifitas

perekonomian, dimana diharapkan dengan besarnya belanja modal maka akan tercipta pertumbuhan ekonomi yang lebih baik serta peningkatan kesempatan kerja.

6. Peningkatan kemampuan pembiayaan penyelenggaraan pelayanan dasar (terutama untuk kelompok rentan termajinalkan) yang bersumber dari APBD maupun kemitraan. Tujuan dari kebijakan ini adalah meningkatkan Pendapatan per Kapita. Adapun upaya-upaya yang dilakukan untuk mencapai prioritas ini antara lain:

(a) Meningkatkan SDM Kota Magelang dengan pendidikan yang terjangkau oleh semua penduduk.

(b) Meningkatkan pelayanan di bidang kesehatan khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

(c) Meningkatkan keamanan pangan untuk mencukupi kebutuhan pangan penduduk.

7. Tetap melaksanakan dan melanjutkan prioritas kegiatan-kegiatan tahun 2015 yang belum dilaksanakan secara maksimal guna mendukung program Penanggulangan

Kemiskinan, Kota Layak Anak, Penguatan Implementasi Manajemen Persampahan, Penguatan Implementasi Masterplan Magelang Kota Sejuta Bunga, Penguatan Implementasi Rad Masyarakat Ekonomi Asean, Pengembangan E-Government secara Komprehensif dan Integral: Menuju Smart City, dan Sustainable Development Goals

Tema RKP 2016 adalah “Mempercepat Pembangunan

Infrastruktur untuk Melatakkan Fondasi Pembangunan yang Berkualitas”.

61 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH | KUA TA 2016

Sasaran Pokok RKP Tahun 2016 disusun sebagai berikut: 1. Sasaran Makro;

2. Sasaran Pembangunan Manusia dan Masyarakat; 3. Sasaran Pembangunan Sektor Unggulan;

4. Sasaran Dimensi Pemerataan;

5. Sasaran Pembangunan Wilayah dan Antar Wilayah; 6. Sasaran Politik, Hukum, Pertahanan dan Keamanan.

Dalam kaitan itu, prioritas pembangunan disusun sebagai penjabaran operasional dari Strategi Pembangunan yang digariskan dalam RPJMN 2015-2019 dalam upaya melaksanakan Agenda Pembangunan Nasional untuk memenuhi Nawa Cita, yaitu:

1. Cita 1

Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara;

2. Cita 2

Mengembangkan tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya;

3. Cita 3

Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan; 4. Cita 4

Memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya;

5. Cita 5

Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia; 6. Cita 6

Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar Internasional;

62 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH | KUA TA 2016

7. Cita 7

Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik;

8. Cita 8

Melakukan revolusi karakter bangsa; dan 9. Cita 9

Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

Nawa Cita tersebut merupakan rangkuman program-program yang tertuang dalam Visi-Misi Presiden dan Wakil Presiden yang dijabarkan dalam strategi pembangunan yang digariskan dalam RPJMN 2015-2019, terdiri dari empat bagian utama yakni: (1) norma pembangunan; (2) tiga dimensi pembangunan; (3) kondisi yang diperlukan agar pembangunan dapat berlangsung; serta (4) program-program quick wins. Tiga dimensi pembangunan dan kondisi yang diperlukan dimaksud memuat sektor-sektor yang menjadi prioritas dalam pelaksanaan RPJMN 2015-2019 yang selanjutnya dijabarkan dalam RKP Tahun 2016.

Keterkaitan antara dimensi pembangunan dengan Nawa Cita dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Dimensi Pembangunan Manusia dengan prioritas: sektor pendidikan dengan melaksanakan program Indonesia pintar, sektor kesehatan dengan melaksanakan program Indonesia sehat, perumahan rakyat, melaksanakan revolusi karakter bangsa, memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia, dan melaksanakan revolusi mental. Program-program pembangunan dalam dimensi ini adalah penjabaran dari Cita Kelima, Cita Kedelapan, dan Cita Kesembilan dari Nawa Cita.

2. Dimensi Pembangunan Sektor Unggulan dengan prioritas kedaulatan pangan, kedaulatan energi dan ketenaga-listrikan, kemaritiman, pariwisata, industri dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Program-program pembangunan dalam dimensi ini

63 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH | KUA TA 2016

adalah penjabaran dari Cita Pertama, Cita Keenam, dan Cita Ketujuh dari Nawa Cita.

3. Dimensi Pembangunan Pemerataan dan Kewilayahan dengan prioritas pada upaya pemerataan antar kelompok pendapatan, pengurangan kesenjangan pembangunan antar wilayah. Program-program pembangunan dalam dimensi ini merupakan penjabaran dari Cita Ketiga, Cita Kelima, dan Cita Keenam. 4. Kondisi yang diperlukan memuat program untuk peningkatan

kepastian dan penegakan hukum, keamanan dan ketertiban, politik dan demokrasi, tata kelola dan reformasi birokrasi. Program-program pembangunan untuk menciptakan kondisi ini merupakan penjabaran dari Cita Pertama, Cita Kedua, dan Cita Keempat.

Selanjutnya, 3 (tiga) dimensi pembangunan dan kondisi yang diperlukan tersebut di atas dijabarkan ke dalam 1 (satu) lintas bidang dan 9 (sembilan) bidang pembangunan sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025, dengan isu-isu strategis pada masing-masing bidang sebagai berikut:

1. Pengarusutamaan dan Pembangunan Lintas Bidang: a. Pengarusutamaan

1) Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan berkelanjutan difokuskan pada upaya tetap menjaga pertumbuhan ekonomi pada yang dapat menjaga stabilitas makro, pertumbuhan ekonomi yang meluas dan terutama percepatan pertumbuhan di luar pulau Jawa dan khususnya wilayah perbatasan, pembangunan sosial yang meningkat, serta efisiensi pemanfaatan sumber daya alam dan tetap menjaga kualitas lingkungan hidup, serta pelestarian alam.

2) Pengarusutamaan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik Diarahkan untuk penguatan kapasitas pemerintah dan perluasan ruang partisipasi masyarakat, dengan penekanan pada:

64 BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA DAN PEMBIAYAAN DAERAH | KUA TA 2016

a) Peningkatan keterbukaan informasi dan komunikasi publik;

b) Peningkatan partisipasi masyarakat dalam perumusan kebijakan;

c) Peningkatan kapasitas birokrasi melalui

Dokumen terkait