Tingginya peran UMKM bagi perekonomian nasional dan penyerapan tenaga kerja dalam negeri mendorong komitmen pemerintah dalam mengembangkan UMKM. Pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014 – 2019, kebijakan pengembangan UMKM didorong untuk meningkatkan daya saing UMKM dan koperasi agar menjadi usaha berkelanjutan dan berskala besar.
Sedangkan pada periode 2020 – 2024, arah kebijakan pengembangan UMKM dilakukan untuk menguatkan kewirausahaan dan UMKM guna meningkatkan nilai tambah ekonomi, lapangan kerja, investasi, ekspor dan daya saing perekonomian melalui lima area prioritas, yaitu mengembangkan sumber daya manusia (SDM), meningkatkan akses ke jasa keuangan, meningkatkan nilai tambah produk UMKM di pasar domestik dan internasional, memperkuat kemitraan, serta memperbaiki peraturan dan kebijakan yang memengaruhi keberlangsungan UMKM.
Sebagai bentuk implementasi arah kebijakan pengembangan UMKM, pemerintah telah menggulirkan berbagai program pemberdayaan atau pengembangan UMKM. Program tersebut dilaksanakan berbagai kementerian/lembaga (K/L) dengan beberapa area fokus3, yakni meningkatkan akses ke pasar; meningkatkan akses ke jasa layanan keuangan; meningkatkan kualitas SDM melalui pelatihan kompetensi dan pendampingan; serta memperbaiki kebijakan untuk menciptakan ekosistem usaha yang kondusif seperti kemudahan perizinan. Namun, pelaksanaan program UMKM tersebut dipandang masih belum mendukung pengembangan UMKM.
Agar program pengembangan UMKM berjalan, diperlukan program pemberdayaan UMKM yang dilakukan secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan UMKM dan menyertakan seluruh stakeholder yang berhubungan dengan ekosistem bisnis UMKM di Indonesia. Program pemberdayaan UMKM dilakukan berdasarkan tiga pilar utama, yakni UMKM, lembaga keuangan, dan ekosistem yang mendukung UMKM di Indonesia4. Ketiga pilar utama ini ditujukan untuk:
3 Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
4 ibid
1. Meningkatkan kapasitas usaha dan kompetensi UMKM, 2. Mendorong lembaga keuangan agar ramah bagi UMKM, dan
3. Meningkatkan koordinasi lintas sektor untuk mendukung ekosistem UMKM, termasuk perizinan.
Pada setiap pilar kebijakan pemberdayaan UMKM, disusun strategi berupa rencana aksi yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Terdapat enam strategi yang disusun, antara lain:
1. Perluasan akses pasar 2. Peningkatan daya saing
3. Pengembangan kewirausahaan 4. Akselerasi pembiayaan dan investasi 5. Kemudahan dan kesempatan berusaha 6. Koordinasi lintas sektor
Gambar 3. Kerangka Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Sumber: Presentasi “Kerangka Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah”
(Sekretariat Wakil Presiden RI, 2020)
Pada pilar pertama, strategi peningkatan kapasitas usaha dan kompetensi UMKM dilakukan melalui rencana aksi pemberdayaan berupa perluasan akses pasar, peningkatan daya saing, dan pengembangan kewirausahaan.
Pada pilar kedua, strategi mendorong lembaga keuangan agar ramah bagi UMKM dilakukan melalui rencana aksi pemberdayaan berupa akselerasi pembiayaan dan investasi dengan cara memperkuat soft infrastructure pembiayaan dan pembiayaan nonbank. Sedangkan Pada pilar ketiga, strategi peningkatan koordinasi lintas sektor untuk mendukung ekosistem UMKM dilakukan melalui rencana aksi pemberdayaan yang berbentuk fasilitasi kemudahan dan kesempatan berusaha, disetasi upaya penguatan koordinasi lintas sektor pemangku kepentingan yang terlibat dalam UMKM.
Selain itu, di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang juga memberikan guncangan bagi UMKM nasional, pemerintah juga menggulirkan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Program ini dijalankan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
1. Subsidi bunga/ margin bagi UMKM;
2. Belanja Imbal Jasa Penjaminan (IJP);
3. Penempatan dana pemerintah di perbankan;
4. Penjaminan loss limit kredit UMKM;
5. Pajak penghasilan final UMKM ditanggung oleh pemerintah;
6. Pembiayaan investasi kepada koperasi melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM;
7. Program Bantuan Presiden (Banpres) produktif kepada usaha mikro;
Untuk mendorong peningkatan daya saing produk nasional, pemerintah juga menciptakan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI). Gernas BBI bertujuan untuk mendorong national branding produk lokal unggulan, sehingga menciptakan industri, kreasi dan inovasi baru serta pasar yang lebih besar agar dapat menjangkau pasar yang lebih besar. Gerakan ini juga dilakukan untuk mempersiapkan transformasi ekonomi menuju digitalisasi. Pada tahun 2020, Gernas BBI telah berhasil mengikutsertakan 3,7 juta unit UMKM untuk bergabung dengan platform online untuk memasarkan produknya (Kementerian Keuangan, 2021).
Pemasaran produk UMKM melalui kanal online diharapkan mampu menciptakan multiplier effects yang memberikan manfaat lebih besar dan lebih luas bagi para pelaku UMKM.
Selain mendorong daya saing produk UMKM lokal, gerakan ini juga ditujukan untuk mendorong masyarakat membeli produk-produk buatan UMKM dan ultra mikro agar dapat mendukung keberlangsungan bisnisnya. Kampanye Gernas BBI dilakukan dengan tema #KitaBelaKitaBeli di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
Pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2021 tentang Kemudahan, Perlindungan dan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM.
Melalui peraturan ini, pemerintah mendefinisikan kriteria jenis usaha berdasarkan tujuannya. Untuk tujuan pendaftaran atau pendirian, jenis usaha didefinisikan berdasarkan besaran modal usahanya. Modal usaha adalah modal sendiri dan modal pinjaman untuk menjalankan kegiatan usaha. Definisi jenis usaha berdasarkan modal usahanya adalah sebagai berikut:
1. Usaha Mikro adalah usaha yang memiliki modal usaha kurang dari Rp 1 miliar;
2. Usaha Kecil adalah usaha yang memiliki modal usaha lebih dari Rp 1 Miliar sampai dengan Rp 5 miliar;
3. Usaha Menengah adalah usaha yang memiliki modal usaha lebih dari Rp 5 Miliar sampai dengan Rp 10 miliar;
4. Usaha Besar adalah usaha yang memiliki modal usaha lebih dari Rp 10 Miliar.
Sedangkan untuk tujuan pemberian kemudahan, perlindungan dan pemberdayaan, definisi jenis usaha dilakukan berdasarkan hasil penjualan tahunan.
Definisi jenis usaha untuk kriteria ini adalah sebagai berikut:
1. Usaha Mikro adalah usaha yang memiliki hasil penjualan tahunan kurang dari Rp 2 miliar;
2. Usaha Kecil adalah usaha yang memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2 Miliar sampai dengan Rp 15 miliar;
3. Usaha Menengah adalah usaha yang memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 12 Miliar sampai dengan Rp 50 miliar;
4. Usaha Besar adalah usaha yang memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 50 Miliar.
Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2021 juga mengatur pemberian kemudahan perizinan yang dilakukan melalui portal Online Single Submission – Risk Based Assessment (OSS RBA), di mana pada UMKM dengan risiko rendah, perizinan cukup menggunakan Nomor Induk Berusaha (NIB) sebagai perizinan tunggalnya.
Kemudian pada peraturan yang sama, pemerintah juga memberikan pembinaan melalui:
Fasilitasi dan pendampingan bantuan hukum di dalam dan luar pengadilan;
1. Penyediaan tempat promosi dan pengembangan UMKM paling sedikit 30%
dari total luas lahan area komersial, luas tempat perbelanjaan dan/ atau tempat promosi yang strategis pada infrastruktur publik;
2. Pemulihan usaha UMK dalam keadaan darurat melalui program-program rehabilitasi;
3. Pengelolaan UMKM secara terpadu melalui klaster dan terkait rantai pasok yang didorong dalam wadah koperasi;
4. Pemberian kredit program dengan jaminan kredit program pemerintah;
5. Alokasi 40% pengadaan barang jasa pemerintah pusat dan daerah melalui UMK;
6. Fasilitasi pelatihan dan pendampingan, serta penyediaan aplikasi laporan keuangan sederhana bagi UMK;
7. Program inkubasi dan standardisasi lembaga inkubator, fasilitas inkubasi disertai pemantauan dan evaluasi;
8. Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pemberdayaan dan pengembangan UMKM dan koperasi.